
Akhirnya Anna dan Bu Sari sampai di rumah. Bang Muin meletakkan barang belanjaannya di dapur.
"Nih bang muin ongkosnya sekalian bonusnya." Bu Sari memberikan dua lembar uang ratusan ribu pada bang muin.
"Makasih Bu Sari. Nanti kalau ke pasar lagi, panggil saja Abang. Abang pasti siap mengantar Bu sari sepenuh hati." Ucap Bang Muin gembira seraya mengedipkan sebelah mata-nya pada Bu Sari.
"Iya. Pasti itu!" Ucap Bu Sari jutek.
"Nduk Anna, Bu Sari saya pamit." Ucap Bang Muin keluar rumah seraya melambaikan tangan lalu memberikan cium jauh pada Bu Sari. Bu Sari bergidik lalu menatap Bang Muin garang. Tapi itu tak membuat Bang Muin takut justru ia melebarkan senyumnya dan berlari membawa becaknya karena Bu Sari sudah bersiap melayangkan sapunya ke arah Bang Muin.
"Hati-Hati Bang Muin!" Teriak Anna yang melihat pelarian Bang Muin.
"Ya," Balas Bang Muin seraya berteriak.
Anna membantu Bu Sari mengeluarkan barang belanjaannya.
"Nduk Anna!" Ucap Bu sari dengan lembut.
"Iya Bu, Ada apa?" Tanya Anna tanpa menoleh ia masih tetap melakukan kerjaannya yang belum selesai. Bu Sari menghela nafas.
"Kamu sudah dua minggu disini nduk, nanti keluargamu mencarimu bagaimana?" Tanya Bu Sari.
Anna baru menyadari bahwa dirinya sudah terlalu lama disini. Ia menghentikan gerakan tangannya.
"Bukan maksud ibu buat ngusir kamu nduk. Tapi, ibu cuma mengingatkan." Ucap Bu Sari.
"Gak apa apa buk." Anna melanjutkan mengeluarkan belanjaan lalu menatanya di atas meja.
"Oiya, Ibu ada arisan sebentar, Aku tinggal ya." Tiba tiba Bu Sari teringat kalau ada arisan di tempatnya Bu Imah.
"Iya Bu." Jawab Anna.
Bu Sari kembali masuk ke dalam kamar mengganti pakaiannya sekaligus membawa dompet.
Di tempatnya Bu Imah, rumah sudah seramai pasar. Bu Sari bercerita kalau di tempat kontrakannya ada seorang pria tampan. Bagi para ibu-ibu yang dominan ibu penebar gosip memasang kuping mereka lebar lebar.
Dan kebetulan sekali, terlihat dari jendela samping Arsya baru saja selesai mandi. Karena tidak membawa baju ganti jadi memakai kaus dalaman saja.
Semua ibu-ibu yang melihat langsung menganga. Kulit yang bersih, tubuh yang bagus serta tinggi badan yang menjulang. Para ibu ibu ini hampir meneteskan air liur nya.
"Wah, pria ini bagai artis. tapi saya kok gak pernah liat dia masuk tipi sih?" Celetuk bu Sofi.
"Heeh. Saya juga belum liat dia masuk tipi. Tapi kalao diliat liat dia cukup tampan dan mempesona. sangat pantas jadi menantuku." Sahut Bu Dian.
"Heh, tidak cocok sama anakmu Bu Dian. lebih baik cocok sama saya. Saya kan cantik." Ujar Bu Erna percaya diri.
"Heh, cantik dari mana-nya? mentang mentang Bu Erna jandes. Bu Erna pengen jadi istrinya. Gak cocok lah Bu, ingat umur udah tua. mana mau dia sama jandes kayak bu Erna." Balas Bu Dian sengit.
"Jangan menghina ya, Saya ini masih muda kok, umur boleh tua tapi dalemannya masih muda kok." Balas Bu Erna tak kalah sengit.
__ADS_1
"Sudah--Sudah--Lebih baik kita mulai saja arisannya." Terdengar suara Bu Imah menengahi.
Bu Sari yang mendengar celotehan celotehan para ibu ibu penggosip hanya menggeleng. Tapi apa yang diceritakan para ibu ibu ini memang benar adanya. Pria itu sangat tampan dan proposional tubuhnya juga sangat bagus, pasti dia datang dari kota.
Seusai menggelar arisan, para ibu ibu menoleh ke arah Arsya yang masih berada di teras menatap layar ponselnya. Merasa ada kegaduhan di depannya Arsya mengalihkan pandangannya.
Terlihat ibu ibu itu melambaikan tangan dan tersenyum genit. Bulu kuduk Arsya malah merinding. Inilah Arsya yang selalu tidak ingin tampil di publik. Selalu digilai para wanita. Dan ia merasa sangat risih.
Tapi ini adalah di desa, jadi sebagaimana ia harus berkarakter ramah kepada para penduduk desa. Lantas ia tersenyum dan mengangguk.
"Euh...Senyumnya....Bikin saya kelepek kelepek...." Ujar Bu Erna senyam senyum sendiri dengan kedua tangan berada di dada.
"Duh, manisnya..."Kini Bu dian juga ikut tersenyum menimpali.
"Uh, pria tampan." Tiba tiba Bu sofi juga menyusul mereka dan itu membuat keduanya terkejut. Sehingga Bu Dian dan Bu Erna pun segera meninggalkan Bu Sofi.
"Loh, kok malah ditinggalin." Ucap Bu sofi lalu mengejar Bu Dian dan Bu Erna.
"Bu Imah, ini saya bayar arisannya." Ucap Bu Sari pada Bu Imah.
"Eh Bu Sari." Bu Imah tersenyum dan menerima uang arisan lalu menyelipkannya ke dalam buku.
"Oh iya Bu Sari, Kata penduduk di tempatnya Bu Sari ada anak kota juga ya?" Tanya Bu Imah penasaran.
"Iya, memang kenapa ya?" Tanya Bu Sari.
"Eh, enggak kok cuma nanya. Disini juga ada lelaki yang kesasar lalu meminta menginap disini beberapa hari katanya." Ujar Bu Imah bercerita.
"Oh..."
"Ya udah bu Imah, saya harus segera memasak buat jualan diwarung. saya permisi bu imah." Ujar Bu Sari berpamitan. Bu Imah mengangguk.
Sesampainya di rumah, Bu Sari bercerita kepada Anna tentang kedatangan seorang pria di tempatnya bu Imah. Ia juga berasal dari kota yang kesasar. Anna hanya menanggapinya dengan manggut manggut saja.
Saat jam dua siang, seperti biasa Anna akan membantu Bu Sari berjualan di warung yang berada di pinggiran desa, warung itu di bangun dipinggir jalan desa di tepian sawah sawah. Suasananya memang agak ramai karena banyak yang melewati jalan itu.
Apalagi banyak penduduk yang berlalu lalang untuk pergi ke sawah tentu saja mereka akan mampir ke warung untuk menyegarkan tenggorokan mereka saat lelah bekerja di sawah.
Arsya yang memang baru pertama kali datang ke desa itu belum terlalu mengenal situasi di sana. Sekarang sudah jam makan siang, tetapi ia tak tau membeli makanan di mana.
Kalau di kota tempatnya tinggal biasanya langsung menuju restoran termahal. Tetapi di desa pasti akan kesulitan mencari restoran besar seperti itu.
"Pak Bagas!" Arsya menghampiri pak Bagas yang merupakan pemilik kontrakan.
"Eh, nak Arsya. iya ada apa?" Jawab Pak Bagas dengan ramah.
"Kalau mau beli makan di mana ya pak?"
"Oh, di pinggiran desa ada warung nak Arsya. jualan nasi uduk. Mau saya antar? kebetulan saya juga mau kesana mau nyari gorengan anget anget."
__ADS_1
"Oke, pak bagas."
Pak Bagas pun mengeluarkan motor pespa kesayangannya. "Ayo nak Arsya."
Arsya segera membonceng motor pespa milik pak Bagas. Menikmati rindangnya pepohonan yang berjajar disepanjang jalan. Pak Bagas juga sering menyapa para penduduk yang lewat.
"Nah ini nak Arsya, dijamin enak." Ujar Pak Bagas.
Arsya masuk ke dalam warung. "Buk nasi uduknya." Ucap Arsya memesan makanan.
"Oiya den bagus. tunggu sebentar, minumnya sekalian?" Ujar Bu Sari.
"Emm Teh anget aja bu, disini udaranya dingin."
Bu sari pun berteriak. "Nduk tolong buatin teh anget satu. kalau pak Bagas mau teh anget sekalian?" Ucap Bu sari bertanya pada pak bagas.
"Enggak usah bu Sari, saya mau ambil gorengan aja." Sahut Pak Bagas lantas mengambil gorengan bakwan dan mendoan ke dalam plastik.
Pak Bagas dan Arsya pun mengambil tempat duduk. Tak lama teh anget yang dibuatkan Anna sudah jadi. Anna segera keluar dengan membawa nampan yang diatasnya ada segelas teh anget.
"Permisi, ini tehnya."
Deg
Suara itu! Suara itu sangat familiar bagi Arsya. Arsya yang duduk membelakangi langsung menoleh. Seorang gadis cantik dengan rambut diurai panjang. Gadis yang selama ini ia cari kemana mana. Gadis yang sudah dua minggu memghilang. Apa ini mimpi. tapi kenapa ia tidak memakai kursi roda. Dia berjalan secara normal.
"Anna!" Lirih Arsya.
Jantung Anna terasa ingin keluar dari tempatnya. Dia sangat terkejut kenapa dia bisa ada disini? Dia yang ingin ia hindari. Pria yang sangat ia benci. Anna membeku saat Arsya beranjak dari kursinya. Ingin ia lari tapi seolah kaki ini tak bisa bergerak sama sekali.
"Ar....Arsya." Ucapnya pelan Bahkan ia berdiri membeku saat menatap Arsya yang kini sudah berdiri menatapnya.
Baik pak Bagas maupun Bu Sari hanya saling berpandangan.
Belum sempat Anna berlari, sebuah tangan kekar menariknya ke dalam pelukannya.
"Le...lepas Arsya. Aku benci sama kamu." Anna meronta setelah pelukan itu terasa erat memeluk tubuhnya.
"Enggak. Saya nggak akan lepasin kamu. Bagaimanapun Saya ini suami kamu." Ujar Arsya.
"Aku Benci kamu, Kamu yang sudah membuat kakiku tak bisa berjalan. Dimana hati nurani kamu Arsya. Bahkan maaf pun tiada terucap dari bibirmu." Ucap Anna dengan diujung kalimatnya memelan karena tangisan yang tak dapat ia bendung.
"Oke, aku minta maaf, aku memang salah. Tapi bisakah kamu kembali ke kota sekarang. Aku akan dalam masalah besar jika kamu tidak pergi denganku." Ucap Arsya.
Mendengar Ucapan Arsya Anna merasa terpukul. Sungguh Arsya tidak berperasaan. Dia mencarinya karena keegoisannya. Sungguh Anna sangat kecewa dengan sikap Arsya ini.
Tiba tiba Anna tertawa keras, tapi air matanya terus mengalir. "Ckckck, Aku sudah seperti ini. kamu masih memikirkan hal lain. Kamu memang berengsek Arsya." Ujar Anna marah dan mendorong dada Arsya hingga mundur dua langkah.
"Ya, aku memang berengsek. Aku memang egois. Tapi bisakah kamu mengerti diriku. Jawaban apa yang ku berikan pada kakek jika tidak ada kamu di sana. Apa kamu tega nyawaku melayang karena kemarahan kakek."
__ADS_1
"Itu bukan urusanku Arsya. lebih baik kamu pulang." Ucap Anna seraya mengusap air mata yang mengering, tangan kanannya pun menunjuk arah luar.