
Seusai makan siang, Mister Geraldo berpamitan terlebih dulu.
"Enak?" Tanya Arsya menyadarkan Anna yang sedang menikmati makanan.
"Ya." Jawab Anna dengan tangan yang penuh minyak. "Mau?" Arsya menggeleng.
"Setelah ini cuci piring sampai bersih."
"Ah." Seketika Anna menghentikan tangannya, Lobster itu hanya tinggal sedikit di tangannya.
"Tap--tapi, aku bukan pelayan disini." Tolak Anna.
"Kalau begitu kamu yang bayar!" Ucap Arsya datar.
"Itu tidak mungkin Arsya, kamu jangan bercanda, aku sedang miskin sekarang gak punya uang sama sekali." Ucap Anna dengan mengiba.
Tetapi Arsya tidak terpengaruh dengan raut muka Anna yang mengiba. Ia mengendikkan dagu-nya kepada manager yang berdiri disana. lalu berjalan keluar dari ruangan itu dengan santainya.
"Yach, ditinggalin. Arsya!" Pekik Anna ingin mengejar Arsya tetapi langkahnya terhenti tatkala sang manager menghadangnya.
"Maaf Nona Anda harus melakukan pembayaran. totalnya 120 juta untuk makanan lobster." Ucap manager itu memberikan bill kepada Anna.
"Ha! 120 juta. Kamu gila ya, ini semua yang pesan Arsya kenapa aku harus bayar?" Anna memarahi manager itu.
"Maaf nona, itu tuan Arsya sendiri yang mengharuskan nona membayar makanan yang anda makan." Ucap Manager itu menundukkan kepala takut.
Anna menggerutu kesal saat manager itu memperlihatkan bill kepada Anna. Sialan! Aku mana mungkin punya uang.
"Jika Nona tidak mampu membayar, kami ada pilihan lain." Seakan Anna menemukan oase saat berada ditengah gurun pasir. Seketika matanya berbinar.
"Cepat katakan, apa pilihannya?" Tanya Anna antusias.
"Mencuci piring." Balas Manager itu.
Raut muka Anna berubah cemberut. "Ini sama saja naik dari dasar kolam renang masuk ke dalam air comberan." Gerutu Anna.
"Baiklah, dari pada aku harus membayar uang segitu lebih baik aku mencuci piring saja." Ucap Anna tanpa semangat.
"Mari Nona saya antar ke belakang." Manager itu membungkuk hormat lalu berjalan di depan sembari memimpin jalan.
Sementara Arsya duduk diam dijok belakang mobil dengan tenang. "Pak Arsya, bukankah ini keterlaluan. Bagaimana jika nona muda mengadu pada tuab besar." Ucap Dani.
"Dia tak akan berani, biarkan saja dia. ini belum seberapa. Karena dia berani kabur dan berani menantangku. Ini baru permulaan." Ucap Arsya datar.
__ADS_1
Anna merasa tangannya seakan patah, di restoran itu piring piring kotor itu selalu memenuhi bak pencucian. Selalu datang tanpa perhitungan. Ia ingin sekali memarahi Arsya yang sudah seenaknya saja pada dirinya.
Sudah jam 9 malam, akhirnya manager restoran mengatakan jika restoran akan tutup jadi dia sudah boleh berhenti.
"Huh, tanganku..." Anna meratapi tangannya yang mulus kini tampak kemerahan.
Saat berjalan keluar dari restoran, Arsya sudah menunggunya di dalam mobil mewah miliknya. Tepat saat Anna berada disisi jalan Mobil mewah itu berhenti tepat di samping Anna.
Anna mengernyitkan alisnya, tapi saat Arsya keluar dari mobil, ia semakin cemberut.
"Kenapa kamu datang kesini?" Tanya Anna ketus.
"Menjemputmu." Ucap Arsya datar dengan membukakan pintu samping.
"Tidak mau!" Ucap anna memalingkan muka, ia ingin sekali marah pada pria itu.
"Oke." Arsya kembali menutup pintu mobil dan berjalan memutari mobil dan masuk ke dalam mobil dibelakang kemudi.
"Eh,"Anna terperanjak saat mobil itu pergi meninggalkannya.
"Bukannya dibujuk, pergi gitu aja. Suami macam apa itu. menyebalkan." Gerutu Anna saat mobil sudah melesat menjauh.
Anna berdiam diri di trotoar jalan. Sudah malam, tidak ada bus lewat sama sekali. Bahkan kakinya terasa kaku karena berdiri sekian lama. Mau naik taksi, ongkos tidak punya.
Ia berjongkok, siapa yang kira kira bisa ia hubungi. Ia mengeluarkan ponsel genggamnya. Ia mencari nama kontak yang ia simpan. tetapi ia ragu saat ingin menghubunginya.
Tetapi pada akhirnya, ia menekan tombol telepon.
"Halo." Dari sebrang terdengar suara serak mungkin dia sedang tidur dan terbangun saar mendengar deringan telepon dengan malas ia menerima panggilan itu.
Anna tersenyum gembira. "Hallo, Leya. ini aku." Anna berteriak kencang saking senengnya.
"Aku siapa?" Tanya Leya dengan linglung.
"Aku, Anna temanmu!" Ucap Anna memberitaukan nama dirinya.
Leya membeliyak lalu melihat layar telepon dan benar saja di sana tertera nama Anna.
"Hei Anna, benarkah itu kamu. kenapa kamu sulit sekali dihubungi. di mana kamu sekarang?" Tanya Leya dengan menggebu.
"Ya, Ini Aku. Aku berada di restoran Bintang. Kamu bisa kesini jemput aku. Nanti aku ceritakan." Balas Anna.
"Oke-Aku kesana." Ujar Leya.
__ADS_1
Telepon ditutup. Anna masih berjongkok di tepi trotoar. Akhirnya ada orang yang mau menjemputnya.
Setelah Leya mendapatkan kabar Anna, ia segera mengganti pakaiannya lalu mengambil dua jaket miliknya. Ia turun ke lantai bawah dan menuju garasi.
Ia mengeluarkan motor matik miliknya, agar papa dan mamanya tidak mengetahui kepergiannya. Saat melewati pos satpam, Leya harus mengalihkan Pak Sapri agar ia aman melewati. Leya melontarkan batu kerikil ke arah pepohonan hingga terjadi grasak grusuk.
"Siapa disana?" Ujar Pak Sapri lalu mengejar batu kerikil yang terjatuh di antara pepohonan.
Leya segera menuntun motor matiknya melewati gerbang, barulah ia menstarter motor miliknya keluar komplek.
"Anna!" Pekik Leya saat sudah berada dihadapan Anna.
"Leya!" Anna langsung berdiri dan tersenyum senang.
"Duh akhirnya, aku bisa menemukanmu." Balas Leya senang lalu memeluknya. "Ngomong-ngomong kenapa sudah selarut ini kamu disini?" Tanya Leya setelah melepas pelukannya.
"Nanti aja ceritanya. Lebih baik kita pulang dulu." Ujar Anna.
Leya pun segera naik ke atas motor, Namun sebelum Anna naik ia memberikan jaket yang ia bawa tadi. Anna mengenakan jaket lalu duduk dijok belakang motor Leya. Leya pun segera menstarter motor matiknya dan melesat pergi.
"Aku mau nginep ditempatmu Leya." Ujar Anna setengah berteriak karena suaranya di terpa angin.
"Iya." Balas Leya.
Akhirnya motor matik Leya memasuki komplek perumahan. Dia segera mematikan mesin tatkala berada di depan gerbang rumahnya.
"Kenapa gak langsung masuk saja?" Tanya Anna heran.
"Gila! nanti kalau aku ketahuan sama papa dan mama matilah aku. Kemarin aku ketahuan bohong karena pergi ke bar. Jika papa dan mama tau kalau aku keluar bisa bisa digorok." Ucap Leya menceritakan.
"Oh." Jawab Anna manggut manggut.
"Sekarang bantuin ngalihin posisi pak Sapri sekaligus bantu dorong motor aku." Ucap Leya.
"Ok."
Mereka berdua pun bekerja sama agar bisa masuk ke dalam rumah. Anna melontarkan batu kerikil ke arah pohon mangga yang berada di sebelahnya.
"Siapa di sana?" Pak Sapri pun berlari ke arah sumber suara. Setelah pak Sapri teralihkan Leya segera masuk di bantu Anna yang mendorongnya hingga masuk garasi.
"Fyuh." Leya menghembuskan nafas lega. Dahinya ia elap dengan lengan kirinya.
"Yuk masuk!" Ajak Leya.
__ADS_1