
"Akhirnya aku sampai juga di negaraku." Li Xuyi menyunggingkan senyuman cerah. Li Xuyi baru saja keluar dari bandara. Dia telah lama meninggalkan negaranya selama lima tahun. Setelah kembali dia merasa tercengang dengan keadaan negaranya yang sudah berubah.
Sampai di luar bandara, Ia mencegat taksi. Tak berapa lama sebuah mobil taksi menghampirinya. Ia segera masuk sementara tas besar miliknya sudah masuk ke dalam bagasi yang di bantu oleh sang sopir.
"Apartemen Floral." Ungkap Li Xuyi kepada Sang sopir. Li Xuyi tak lagi memperhatikan sopir itu lalu mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Sopir taksi itu menanggapinya dengan lirikan mata bibirnya ia katupkan dengan rapat.
Tak lama mobil taksi bergerak meninggalkan halaman bandara. Li Xuyi segera menghubungi salah satu temannya.
"Hallo Iwan."
"Siapa?" Tanya seseorang yang berada di sebrang telepon.
"Li....Xuyi." Ungkap Li Xuyi menyebutkan namanya.
"Hah. Ini benaran kamu?" tanya seseorang dari sebrang dengan tak percaya.
"Benar." Li Xuyi menyunggingkan senyuman tipis lanjut berkata. "Aku sebentar lagi sampai di apartemenmu."
"Apa? Kenapa tiba tiba."
"Ah, sudahlah. Ceritanya sangat panjang. Sekarang aku butuh rumah buat istirahat. Dan aku sangat lelah." Ujar Li Xuyi menyela.
"Oke...Oke..." Tak lama telepon segera tertutup.
Sang sopir melirik ke arah jok belakang. Wajahnya tidak terlalu terlihat karena ada topi yang menutupi sebagian wajahnya. Hanya terlihat bibir dan hidungnya.
"Anda sepertinya bukan orang sini?" Tanya Jo dengan basa basi.
"Bukan begitu, aku beneran orang sini. Hanya saja aku terlalu lama meninggalkan negara ini selama lima tahun." Ujar Li Xuyi tersenyum.
"Oh." Mobil melaju dengan cepat. Sampai di lampu merah. Taksi itu kembali berhenti. Jo segera bertanya lagi.
"Jadi anda pergi merantau?"
"Ya bisa di bilang seperti itu. Tapi juga bukan perantau. Aku hanya di paksa pergi."
"Oh,." Lampu merah telah berganti hijau. Jo melajukan mobilnya dengan tenang. Ia tak lagi bertanya selain fokus pada jalanan.
Li Xuyi sudah lama tidak pernah kesini. Juga sudah lupa pada jalanan yang pernah ia lewati. Jo segera membelokkan mobilnya saat berada di perempatan.
Li Xuyi tidak tau apa apa. Karena lelah ia pun tertidur. Jo melirik melalui kaca spion di depannya. Saat melihat Li Xuyi yang tertidur. Jo menyunggingkan sudut bibirnya.
Di sebuah rumah tua. Tangan dan kaki terikat di sebuah kursi dakwaan. Jo segera mengeluarkan ponselnya lalu menelepon Arsya.
__ADS_1
"Bos, Li Xuyi sudah saya tangkap." Ujar Jo.
Arsya menyunggingkan sudut bibirnya. "Kerja bagus."
Telepon segera ditutup.
...----------------...
Di sisi bersamaan. Linda mengundang WO atas rekomendasi temannya. Dia adalah Risa. Perancang Weding Organizer yang terkenal.
"Nona Risa. Silahkan." Elsa segera menyambut saat Risa datang. Risa dipersilahkan masuk ke dalam ruangan tamu. Di sana ada Linda yang sudah menunggu.
"Nona Risa. Halo." Ujar Linda segera bangkit saat Risa datang.
"Nona Linda. Halo." Sahut Risa berjalan menghampiri. Elsa setelah mempersilahkan, langsung menuju ke belakang menyiapkan minuman.
"Nona Linda. Sungguh keberuntungan bisa bertemu dengan anda. Saya mendengar, anda adalah orang hebat. Selain mampu menjalankan bisnis. Anda juga sangat terkenal bisa menginspirasi semua wanita di negara ini." Risa kagum akan jiwa Linda yang mampu menjalankan bisnis.
"Hem, anda terlalu memuji. Saya bukanlah apa apa. Itu hanya sebuah keberuntungan saja bisa mengelola bisnis."
"Oh." Risa segera menutup mulutnya. Tak lama setelahnya Elsa menyeduhkan cangkir teh dan berdiri di belakang Linda.
Ricky dari kejauhan melihat situasi di Villa itu. Lalu melaporkam kepada Arsya.
"Terima kasih nona Linda. Anda terlalu memuji." Ujar Risa merasa malu sekaligus tersanjung dengan pujian Linda.
"Baiklah, kita mulai saja." Ujar Linda.
Setelah itu Linda mulai bercerita jika pernikahan impiannya ini akan di adakan di tepi pantai. Tepatnya adalah di out door. Di sekelilingnya ia ingin di dekor dengan bunga bunga kesukaannya yaitu bunga yang masih segar dan hidup.
Risa mengangguk dan mencatat poin poin penting. Semua harus di persiapkan dengan matang. Lalu soal makanan. Makanan yang Linda inginkan adalah rendang daging yang paling utama. dan yang lainnya terserah pihak WO yang menyediakan.
Kemudian soal undangan. Risa mengeluarkan beberapa contoh sebagai reverensi. Linda mengamatinya mana yang lebih bagus.
"Nona Risa, sepertinya soal undangan ini. Saya perlu pertimbangan dengan calon suamiku." Ujar Linda.
"Baiklah." Sahut Risa.
Semua poin poin telah ia rangka sesuai pemikiran Linda. "Sepertinya hanya itu saja." Ujar Linda setelah tak ada lagi.
"Oke." Sahut Risa. "Semuanya akan beres dalam tiga bulan." lanjutnya.
"Bagus." Linda merasa puas kemudian mempersilahkan meminum cangkir teh yang disediakan. Setelah beberapa saat Risa berpamitan pulang. Elsa mengantar Risa hingga ke depan pintu. Saat berbalik, ia menemukan Ricky sedang menatapnya. Ricky segera menundukkan kepalanya seolah sedang tak melihatnya saat ia ketahuan melihat Elsa.
__ADS_1
Elsa menyunggingkan senyuman tipis dan berlalu masuk ke dalam Villa.
"Elsa, bantu aku mandi." Perintah Linda saat Elsa telah kembali ke hadapan Linda.
"Baik."
Elsa membantu Linda menaiki tangga hingga ke lantai dua. Saat berada di dalam kamar. Elsa segera menyiapkan air hangat sementara Linda menunggu air hangat siap. Ia sedang menggulir layar ponselnya.
Tak lama, ia menemukan sebuah nomer baru yang tak ia kenal melakukan panggilan tak terjawab. Linda mengerutkan kening. Ia tak ingin menghiraukan lagi nomer itu tapi nomer yang sama sedang melakukan panggilan ulang. Linda dengan ragu mengangkat telepon.
"Halo, nona Linda. Ini aku. Li Xuyi." saat sambungan terangkat Li Xuyi segera berbicara.
Linda terbelak. Li Xuyi! Kenapa kembali. Ia merasa marah dan kesal. "Li Xuyi!" Ujar Linda dengan suara rendah.
"Benar. Nona Linda. Aku sedang di sekap di sebuah rumah tua. Tapi aku melarikan diri. Dan sekarang aku berada di jalan entah dimana. Semuanya hutan." Ujar Li Xuyi dengan panik.
"Di hutan. Tunggu! Kamu sudah kembali?" Tanya Linda.
"Iya. Anda tidak lagi mengirimiku uang. Aku tak punya tabungan lagi. Dan aku di sana terbelit hutang. Jadi aku memutuskan pulang. Untuk melarikan diri. Jika tidak aku bisa dibunuh oleh mereka." Ujar Li Xuyi.
"Bodoh. Siapa yang menyuruhmu pulang. Dengar bajingan. Kau telah aku bayar mahal. Buat apa kau pulang? Sekarang kau harus kembali ke negara itu." Ujar Linda dengan kesal.
"Nona Linda. Aku tidak bisa kembali. Aku benar benar tidak punya uang. Asalkan nona Linda memberiku uang. Aku akan pergi lagi."
Linda tidak menyahut ucapan Li Xuyi tapi langsung mematikan telepon. Elsa setelah menyiapkan air hangat ia segera keluar.
"Nona Linda, air hangat anda sudah siap?" Ujar Elsa.
Saat Elsa keluar, Elsa menemukan Linda memijat keningnya. Lalu bergegas mendekat. "Nona Linda, apa anda sakit. Aku akan menelepon dokter." Ujar Elsa khawatir.
"Li Xuyi kembali." Ujar Linda.
"Apa!" Elsa kaget saat tau Li Xuyi kembali.
"Elsa, kau pergi temui bajingan itu berada. jangan sampai bajingan itu tertangkap oleh Arsya. Kalau tidak. Kita tidak akan punya kesempatan emas seperti ini lagi."
"Baik." Sahut Elsa.
Linda bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan mandi dengan air hangat. Sementara Elsa menghubungi seseorang agar segera membereskan Li Xuyi.
Li Xuyi tersesat di dalam hutan. Ia kehilangan arah dan hanya mampu meringkuk di bawah pohon besar. Ia takut jika ada seseorang berbahaya membunuhnya.
Linda adalah orang yang kejam, bahkan bawahan Li Xuyi telah ia bunuh tanpa sisa. Hanya dia seorang yang masih hidup. Seharusnya ia tidak kembali saja jika tau seperti ini. Tapi jika terus hidup di luar negeri, ia juga butuh uang.
__ADS_1
Sekarang ia merasa dilema. Dalam Kegelapan, ia terus melihat kesana kemari dengan awas. Jika lengah bisa saja ia akan di bunuh. Ia hanya menunggu suruhan Linda datang untuk menyelamatkan.