
Pada keesokan harinya. Anna terbangun, seperti biasanya, setiap pagi ia tak menemukan Arsya di sampingnya. Ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Setelahnya mengganti pakaiannya dengan seragam.
Setelah siap ia akan menuruni tangga, dan Ricky akan menyambutnya dibawah tangga. Pelayan akan menghidangkan sarapan pagi di meja makan.
"Apakah Arsya sudah berangkat?" tanya Anna kepada Ricky yang sedang menyambutnya.
Ricky mengerutkan keningnya. Saat Anna melewati tubuhnya, Ricky segera berjalan dibelakangnya.
"Sepertinya tuan muda tidak pulang semalam." Ricky mengingat semalam, ia berjaga sepanjang malam di depan pintu.
Anna masuk ke dalam ruang makan. Piring itu bahkan tak tersentuh piring itu masih posisi tengkurap. Anna duduk di bangku yang biasa ia duduki.
"Pasti bersama Linda kan!" Dalam hati Anna mencibir. Ricky tak menyahut apapun. Ia masih berdiri di belakang Anna seperti pelayan yang lainnya.
Anna memakan makanan paginya dengan hati yang kacau. Sesuai dengan surat perjanjian pranikah dulu. Ia tak akan bercerai jika ia mampu membuatnya jatuh cinta.
Tapi semua itu hanyalah perjanjian semata. Pada kenyataannya, pria itu berpihak pada perempuan ular itu bahkan selalu bermalam dengan wanita itu.
"Nona muda. Mungkin tuan muda sedang ada rapat mendadak jadi ia tak sempat pulang." Ricky mencoba menenangkan tuduhan Anna.
"Apakah dia ada kabar?" kata Anna.
Ricky merasa tersudut, memang sejak semalam ia tak mendapat kabar apapun. Karena biasanya pria itu meskipun pulang terlambat akan selalu memberinya kabar. Ricky tak bisa menjelaskan apapun selain terdiam.
Ricky menundukkan wajahnya dalam dan menggelengkan kepala.
"Sudahlah, aku selesai. Aku pergi dulu." ucap Anna datar. Ricky akan mengantarnya ke depan. Sementara ke empat pengawal sudah berjaga di depan. Salah satu pelayan akan pergi membawakan tas sekolah hingga masuk ke dalam mobil.
Perlahan mobil phantom pergi menjauh meninggalkan kediaman Villa.
Disisi lain, di jalur selatan. Arsya tidak sadarkan diri selama semalam. Ia dirawat oleh dokter Angga dan diberi obat penenang untuk menekan rasa sakit yang ia rasakan. Ke enam pengawal terus berjaga secara bergantian.
Saat ini reimond tidak pernah meninggalkan ruangan pribadi yang disiapkan oleh dokter Angga kepada Arsya. Reimond sejak semalam yang berjaga semalaman. Bahkan ia tak tidur semalaman.
Dokter Angga mengetuk pintu di ikuti dua perawat di belakangnya. Reimond menoleh ke arah pintu dan bergegas membuka pintu.
"Dokter Angga!"
Dokter Angga tersenyum, mengulurkan tangan dan menepuk nepuk bahunya. "Istirahatlah, tuanmu tidak akan terjadi apa apa." ujar dokter Angga.
Reimond yang sejak semalam merasa sangat khawatir. Sekarang agak begitu lega. Reimond melangkah ke samping memberikan jalan kepada dokter Angga.
Dokter Angga memeriksa keadaan Arsya. Dua perawat dibelakangnya mengecek denyut nadi dan juga infus yang menancap di tangan kanannya.
Dokter Angga memasukkan stetoskop ke saku jas putihnya dan berbalik.
"Bagaimana dokter?" Tanya Reimond.
__ADS_1
"Dia sudah stabil. Mungkin setelah obatnya menghilang, dia akan tertidur untuk istirahat. Dia adalah orang yang kuat. Dia pasti akan baik baik saja." ucap dokter itu lalu meninggalkan ruangan pribadi Arsya bersama kedua perawat mengikutinya dibelakang.
Reimond bernafas lega. Baru bisa meninggalkan ruangan itu untuk beristirahat. Ia memberikan perintah kepada enam pengawal untuk menjaganya dan jangan sampai ada orang yang mencurigakan masuk ke dalam.
*
*
Di sekolah, Anna sudah tidak sabar menantikan hari terakhir ujian. Ia menatap jam dipergelangan tangannya. Masih ada sisa waktu lima belas menit. Ia kembali meneliti hasil jawaban pada lembar jawaban.
Tepat di saat ini bel berdering menandakan jam ujian telah berakhir. Banyak di antaranya para siswa berteriak girang karena ujian mereka akhinya selesai.
"Akhirnya, selesai juga." Leya sangat bahagia.
Akhirnya hari hari menegangkan itu terlewati begitu saja. Meskipun ia agak kesulitan dalam mengerjakan tetapi ia merasa lega karena hari ini adalah hari terakhir mengerjakan ujian.
"Anak anak, letakkan lembar jawaban dan lembar soal disisi kanan dan sisi kiri." guru yang mengawasi memberi perintah.
"Baik bu...." para siswa serentak menjawab. Mereka meletakkan apa yang di instruksikan oleh guru itu baru satu persatu keluar dari dalam kelas.
"Yeah!" Leya berteriak senang lalu mendekati Anna yang menarik tas ke bahunya.
"Akhirnya lega juga." Leya bergumam seraya tersenyum.
"Ayo ke kantin." Anna menarik lengan Leya masuk ke dalam kantin. Selama seminggu ini sangat penat harus belajar dan belajar.
Pada akhirnya, hari ini adalah hari terakhir, dan mereka akan merasakan kebebasan yang hakiki.
"Kau benar. Aku juga merasa jenuh. Bahkan sudah hampir satu bulan aku dikurung." Anna menimpali dengan gumaman pelan. Leya menoleh.
"Apa! Satu bulan!" Leya hampir tak percaya. Anna berada dirumah selama satu bulan dikurung.
"Ya." Anna mengangguk. "Dia memberiku les pribadi dan membawa guru ke rumah. Aku bahkan hampir gila. Karena kesukaanku disita olehnya."
"Astaga, kejam sekali." Leya sangat kesal, ternyata dibalik sosok pria tampan itu adalah pria yang sangat kejam.
"Sudahlah, itu juga sudah berakhir hari ini." Anna segera menenangkan.
Kedua sahabat itu memulai makan siang mereka setelah pesanan mereka di antarkan ke meja. Daren dari luar kantin segera melangkah lebar tatkala dua sahabat itu berada di sana. Tanpa kata permisi ia langsung duduk di hadapan mereka.
"Hai." Daren tersenyum lebar dan melambaikan tangan.
"Daren!" pekik Leya.
Anna menoleh kanan dan kiri, melihat suasana kantin juga melihat pengawal yang akan selalu mengawasinya.
"Leya lihatlah di sana, ini tidak baik untukku." Anna segera menarik lengan Leya dan berbisik di samping telinga kirinya.
__ADS_1
"Apa!" Leya mengedarkan pandangannya. Dan benar saja, pengawal itu sedang melihat ke arah mereka. Leya mendelik, bahkan bakso yang baru saja ia kunyah sangat sulit untuk ia telan.
"Daren, sepertinya...."
"Kalian sedang apa?" Daren menyela perkataannya dan menoleh ke kanan dan kiri. Ia tidak dapat melihat apapun selain siswa siswa lain yang duduk dan juga yang sedang memesan makanan.
Leya menjadi salah tingkah, bagaimana dia mengatakan alasan yang tepat seperti waktu awal mereka bertemu. Dan bisa menghindarkan bencana pada Anna saat Daren yang menemuinya.
"Eh tidak apa apa." Leya segera menggelengkan kepalanya dan merasa bingung ingin berkata apa.
"Anna, dulu kau bilang jika aku boleh datang kerumah setelah selesai ujian. Ini sudah selesai, bolehkah aku pergi ke tempatmu?" Daren tak sabar setelah menunggu beberapa bulan. Akhirnya ada hari yang cerah setelah menahannya beberapa bulan.
"Ugh." Anna tertegun sejenak. Ia kira sudah melupakannya. Ternyata pria itu masih mengingatnya dengan baik apa yang pernah ia katakan.
Terlihat sorot mata berbinar dan penuh harap pada tatapan Daren kepada Anna. Anna berkeringat dingin, bagaimana mencari alasan yang tepat agar Daren tidak curiga.
"Ini....!" Anna kesulitan menjawab.
"Daren, kau ini sudah lama tidak pergi ke tempatku. Papa dan mamaku rindu ingin bertemu. Kenapa kau tak datang? Mereka mempertanyakanmu terus menerus. Dulu kita tetanggaan. Sekarang meski kau tinggal di apartemen, apakah kau sudah melupakan kami." tiba tiba Leya menyela dan bercerita panjang lebar dengan semangat. Akhirnya Anna bisa bernafas lega.
"Kau ini...Baru seminggu yang lalu aku datang kerumah. Masa udah kangen lagi." Daren mengerutkan keningnya.
Leya terbelak begitu juga Anna melotot sempurna. Mereka saling melirik dan menyedot minuman jus yang tersedia.
"Itu kan minggu lalu. Lagian besok juga sudah libur lagi. Oiya, papa dan mama juga bilang mau pergi ke Bali. Kau ini kan sudah bertahun tahun berada di sana. Tidakkah kau kembali ke sana dan menunjukkan jalan."
"Tante dan Om, mau ke Bali?" Tanya Daren.
"Iya dong. Masa kamu gak tau sih. Mereka gak bilang sama kamu?"
"Enggak, kebetulan kalau begitu. Papa dan mamaku juga akan pergi ke sana. Gimana kalau kita barengan perginya. Sudah lama tidak berlibur seperti ini."
Akhirnya Anna merasa lega, karena obrolan mereka teralihkan. Anna tersenyum tipis dan menyedot minumannya lalu menyuap bakso ke dalam mulutnya.
"Na, sepertinya aku mau ke tempat kamu harus tertunda lagi deh. Lain kali aku akan pergi oke. Aku harus pulang, papa dan mama sudah menelepon." Daren melihat layar telepon dengan gelisah.
Awalnya ia ingin mampir ke tempat Anna sebentar, tetapi ternyata liburannya maju menjadi hari ini.
"Oh. Oke, gak apa apa. Masih ada waktu luang kok." Anna tersenyum dan terlihat sangat tenang meski di dalam hati sangat cemas dan panik.
"Baguslah! Leya. Aku akan pergi lebih dulu. Jika sudah sampai di Bali. Kau hubungi aku, aku siap menunjukkan tempat terbaik yang ada di sana." Daren mengangguk kepada Anna lalu mengalihkan pandangannya kepada Leya.
"Oke."
Daren mengangguk dan pergi dari sana. Setelah Daren sudah pergi menjauh. Kedua sahabat itu bernafas lega. Seperti tindihan batu yang berat terlepas begitu saja.
"Akhirnya pergi juga." Leya menghela nafas.
__ADS_1
"Kamu memang sahabat aku." Anna memuji perjuangan Leya.
"Iya dong...." Keduanya saling melempar senyum dan melanjutkan makan yang tersisa.