Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Tujuh Belas


__ADS_3

Pegawai itu merasa lega, Anna melangkah masuk dengan santainya.


Di saat Linda sedang mengambil gaun berwarna merah muda, Anna juga kesana mengulurkan tangan hendak menyentuh gaun tersebut. Linda menoleh.


"Hei gadis kecil, siapa yang menyuruhmu masuk?" Sinis Linda memandang rendah Anna.


Anna dengan tegasnya berdiri menatap Linda. "Aku sendiri. kenapa? Bukankah ini milik umum?" Ucap Anna dengan berani.


Linda merasa kesal. " Pengawal!" Lirih Linda.


Para pengawal yang mendengar teriakan Linda segera berlari menghampiri Linda.


"Seret gadis ini keluar!" Perintah Linda pada pengawal itu.


Anna menatap pengawal itu dengan santai. Pengawal itu hanya berdiam diri saja dan menundukkan kepala.


"Kenapa kalian diam. Anak kecil seperti dia kalian tidak berani." Ucap Linda sinis.


"Heh, dia saja tidak berani. Aku juga pelanggan toko disini. jangan mentang mentang anda orang kaya lalu orang awam sepertiku tidak boleh masuk." Ucap Anna tersenyum lalu melangkah ke arah kanan.


Linda semakin geram dengan tingkah laku gadis ini yang seenaknya. Linda bergegas menyusulnya dan menarik rambut Anna dengan brutal.


"Hei, sialan!" Pekik Anna menahan tangan Linda yang menarik rambutnya. Ia meringis kesakitan.


"Disini tidak ada yang berani denganku, kamu gadis bau kencur saja sudah berani melawanku." Pekik Linda.


Pengawal yang tadi dipanggil Linda terkejut saat tiba tiba Linda menarik rambut nona mudanya. Ia bergegas lari menuju ke arah Arsya yang sedang duduk menunggunya di sofa utama sambil menatap layar tipis miliknya.


"Lapor tuan, nona muda di dalam sedang berkelahi dengan nona Linda!" Lapor pengawal itu.


"Apa!" Arsya terkejut mendengar hal ini. "Di mana mereka?" Tanya Arsya panik.


"Di dalam tuan." Jawab pengawal itu.


Arsya segera menyimpan benda tipis itu di saku celananya dan berlari ke arah Anna dan Linda didalam.


Saat Arsya tiba, Anna menangis. "Huhuhu sakit...." Rintih Anna.


"Linda!" Arsya segera menarik tangan Linda yang menarik rambut Anna.


"Ar--Arsya!" Ucap Linda gugup saat sifat kejinya diketahui oleh Arsya.


Anna merapikan rambutnya yang acak-acakan serta mengelus kulit kepalanya yang terasa sakit.


"Anna! kenapa kamu ada disini?" Kini tatapan Arsya beralih ke Anna yang berdiri didepannya.


"Aku hanya ingin membeli gaun saja, apa tidak boleh?" Ucap Anna lalu melirik Linda yang terdiam.


"Oke, pergilah." Ucap Arsya datar. Kemudian membawa Linda untuk duduk di sofa yang tak jauh darinya.


"Ah sial, bukannya aku yang diajak malah perempuan itu." Gumam Anna.


"Siapa perempuan itu Sya?" Tanya Linda saat sudah duduk di sofa.

__ADS_1


Anna yang awalnya melangkah menuju rak gantungan di sebelah, diam diam ia mendekati gaun yang berada dekat dengan sofa. Dengan begini ia bisa mendengarkan percakapan mereka.


"Dia anak kesayangan Wiryo, kerabat jauh kakek." Ucap Arsya lugas.


Saat Anna sedang mendengar percakapan ini, seorang pelayan maju ke depan.


"Nona, ini adalah gaun rancangan toko kami yang terbaru." Ucap pelayan itu.


"Ssstttt!" Anna meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri. Pelayan itu pun terdiam lalu melihat arah pandang Anna yang sedang mengintip Linda dan Arsya yang duduk di sofa.


"Arsya, jadi kamu kenal sama dia?" Tanya Linda merajuk agar Arsya lebih memperhatikan dirinya.


"Ya." Arsya mengangguk. "Kenapa kalian bisa bertengakar?" Kini tatapan Arsya menatap Linda penuh kelembutan.


"Dia mengambil gaun yang aku suka." Ucap Linda mengerucutkan bibirnya.


"Jadi karena gaun itu kamu bertengkar dengannya." Arsya mengangguk.


"Nanti malam ada pesta di tempat Om Rendra. Aku harus memakai gaun apa. Gaun itu sudah dipilih gadis itu." Ucap Linda.


"Carilah gaun yang lain, aku yang membayarkan." Ucap Arsya.


"Ah benarkah!" Mata Linda berbinar terang.


Arsya mengangguk. Anna yang berada di balik rak Berseru kesal. Ia menghentakkan kakinya.


"Nona...Nona....Gaun ini tidak jadi ambil?" Ucap pelayan itu sembari mengeraskan suaranya.


"Tidak." Balas Anna cuek lalu meninggalkan pelayan itu.


"Leya!" Pekik Anna.


Leya yang masih menunggu kedatangan Anna pun berseru senang.


"Anna!" Leya melambaikan tangannya. "Kamu kemana aja? Lama sekali?" Tanya Leya.


"Ke toilet bentar, kebetulan perutku agak kurang enak. sorry ya." Anna meminta maaf karena dirinya terlalu lama.


"Sudahlah, ayo segera pesan." Daren menyela.


Pelayan segera datang dengan menu di tangannya. Lalu menyerahkan kepada Leya, Anna dan Daren.


Ketiganya sama sama membaca buku menu itu. Diam diam Anna mengerutkan kening. 'Ini mahal sekali.' Jiwa miskin Anna meronta.


Tak berapa lama Leya berceletuk memesan makanan untuk dirinya sendiri. Anna yang mendengarkan pesanan Leya, ia membulatkan mata sembari melirik harga makanan yang tertera.


Setelah selesai mengucapkan giliran Daren yang memesan. Anna semakin membeliak. Daftar harga ini yang paling mahal.


"Anna, kamu mau pesan apa?" Tanya Daren setelah selesai mengucapkan.


Anna masih fokus dengan buku menu mencari makanan yang paling murah diantaranya. Pelayan itu masih sabar menunggu. Karena Anna belum menemukan makanan apa yang termurah Daren segera menimpali.


"Pesankan dia sama sepertiku mbak." Ucap Daren. Pelayan itu mengangguk lalu membawa buku menu ke pengunjung yang lain.

__ADS_1


Anna memelototkan mata. Bagaimana dia akan membayarnya. dulu saat bersama Arsya, ia harus membayar sendiri makanan yang ia makan, Sejak kabur dari rumah Arsya. Uang pemberian Arsya ditarik kembali.


Bahkan kini saldo Atm miliknya sudah sangat kosong. Daren yang melihat sikap Anna yang gelisah langsung berkata. "Tenang saja, aku yang bayarkan." Ucap Daren.


Anna langsung merubah wajahnya dengan tersenyum sementara Leya sudah tertawa senang. lalu menepuk bahu lebar Daren.


"Bagus--bagus, kamu memang temanku." Ucap Leya.


Daren hanya tersenyum. Kini tatapan Daren beralih ke arah Anna yang sedang fokus pada ponselnya. Dalam hatinya tersemat senyuman jahat. Ia menjatuhkan pulpen di saku bajunya.


Segera ia berjongkok. terlihat paha Anna yang putih mulus. Ia mengulurkan tangannya tetapi tak mencapai dan menggantung diudara.


Bersamaan itu pelayan datang menyajikan makanan yang mereka pesan.


"Wuah...."Leya seakan meneteskan air liurnya.


Saat itu tiba, Arsya langsung menarik tangan Anna, Hingga Anna yang duduk membelakangi terkejut dengan sikap Arsya.


"Arsya!" Pekik Anna spontan.


"Diam! ikut aku sekarang." Anna belum sempat merespon lengannya ditarik keluar dari restoran.


Anna meronta kesakitan karena cengkraman Arsya terlalu kuat. Sementara Leya membalak seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Daren hanya terdiam duduk di tempatnya.


"Daren, coba cubit aku. Apa aku sedang bermimpi?....Aw, sakit Ren...!" Ucap Leya memerintah disertai memekik saat lengannya dicubit Daren. "Ternyata ini beneran.


"Iya, memang nyatakan?" Timpal Daren yang hanya biasa aja.


Di luar restoran, Anna dibanting masuk ke dalam mobil.


"Arsya, kamu apa-apaan?" Pekik Anna dengan marah.


"Kamu yang apa apaan!" Teriak Arsya membalas.


"Apa maksud kamu? Oh--aku tau, kamu marah karena aku udah mengganggu kencan kamu...." Ucap Anna menebak isi pikiran Arsya.


Arsya menarik nafas dalam lalu menatap Anna dengan memindai seluruh tubuhnya.


"Lihat, kamu memakai rok pendek seperti ini. Apa kamu ingin pamer?" Arsya menunjuk rok Anna yang panjangnya di atas paha. terlihat jelas paha yang putih mulus itu.


"Tidak, memang seperti ini penampilanku. Memang kenapa, kamu gak terima kalau aku terlihat seksi." Ucap Anna.


Arsya memijat pelipisnya, sungguh sangat kesal dengan gadis ini yang selalu keras kepala.


"Siapa lelaki itu?" Arsya mengalihkan pembicaraannya tidak ingin membahas lebih lanjut soal ini, itu akan membuatnya sakit kepala.


"Dia temanku. Memang kenapa?--Eh. kamu jangan macam macam sama dia. Cukup keluargaku yang kamu ancam." Ucap Anna menunjuk wajah Arsya.


Arsya yang dituduh pun langsung menggenggam jari telunjuk Anna dan menurunkannya.


"Dia bukan pria yang baik."Ucap Arsya.


"Baik atau bukan, itu bukan urusanmu." Jawab Anna.

__ADS_1


Arsya tidak ingin memperpanjang urusan, lalu memerintahkan sopir untuk melajukan mobil Limosin.


__ADS_2