
Arsya merasa lemas tatkala semua isi makanan yang berada di dalam perutnya ia tumpahkan. Ia terkulai lemas di sandaran kursi di ruang kerjanya. Ia berkeringat sampai membanjiri seluruh tubuhnya.
Setelah beberapa lama, ia sudah merasa lebih baik. Kemudian ia pergi mandi karena tubuhnya terasa lengket. Seusai mandi ia masih mengenakan wardrob dan naik ke lantai dua. Mengganti pakaian.
Ia mengenakan kemeja dan celana bahan. Kemudian ia kembali turun. Ia memerintahkan Rendi untuk menyiapkan mobil dan hanya membawa dua pengawal saja.
Sampai di lantai bawah Linda sedang menonton televisi. Linda menyadari kedatangan Arsya, ia segera melempar camilan di tangannya ke meja. Karena camilan itu tidak ia tutup rapat. Maka sebagian makanan ringan itu tercecer hingga ke lantai.
Linda tak perduli. Elsa hanya mengerutkan keningnya dan segera berjongkok memungut makanan yang tercecer lalu membuangnya ke dalam sampah.
Linda berlari mendekati Arsya dengan perutnya yang besar membuat larinya sedikit melambat.
"Arsya mau kemana. Tadi aku berencana mengajakmu makan malam. Aku bahkan belum bersiap kenapa kamu sudah serapi ini?" Tanya Linda menggebu.
"Kau jangan berlari lari seperti ini. Aku tak bisa menemanimu makan malam. Aku akan pulang larut. Kau makan malam sendiri saja." Ujar Arsya.
Linda merasa kecewa. Ia kira seharian ini Arsya akan berada di rumah dan menemaninya. Tapi ternyata ia salah.
"Baiklah." Jawab Linda. Arsya mengusap pucuk rambutnya dengan lembut. Kemudian ia berlalu pergi. Linda menyimpan rasa kecewanya di hatinya. Ia menaiki tangga menuju lantai dua.
Di dalam kamar. Ia menelpon seseorang. Saat sambungan telepon tersambung ia segera memerintahkan kemana saja Arsya pergi. Ia harus membuat persiapan jika saja gadis itu suatu saat kembali.
*
Arsya di dalam mobil duduk di jok belakang dengan tenang. Ia mengarahkan Reimond untuk membawanya ke panti asuhan Bunda Kasih. Ia juga membawa foto yang ia temukan sebelumnya.
Setelah menempuh beberapa jam menuju ke jalan Merpati, akhirnya mereka telah sampai. Dua mobil berhenti di pinggir jalan. Raimond menyadari sesuatu. Tetapi ia tak berani mengatakan apapun. Arsya terdiam lama di dalam mobil.
"Tuan. Apakah mau turun?" Tanya Raimond.
"Tidak." Sahut Arsya. Ia kembali lagi melihat panti asuhan itu dan kembali melihat foto yang ia bawa.
__ADS_1
Rumah panti asuhan itu sama persis dengan yang ada di foto. Bedanya, hanya ada sedikit perubahan pada bangunan yang sepertinya di perluas.
Suasana panti asuhan itu terlihat ramai. Banyak anak anak yang sedang bermain di taman. Arsya melihat sekilas masa masa dulu, ia di paksa Hanis untuk pergi ke sana. Saat itu ia merajuk. Ia tak suka jika anak yang lain selalu mengerubutinya karena ia terlalu tampan. Hingga suatu saat ia penah bertemu dengan Anzel.
Ia dilewati gadis itu begitu saja tanpa meliriknya. Di tangannya ada sebuah kado. Waktu itu Arsya sudah masa SMA. Sepertinya Anzel juga sudah masa SMA. Ia melambai pada anak perempuan seumuran lima tahunan.
Ya sepertinya itu adalah Anna. Sekilas balik, ia juga melihat betapa sayangnya Anzel pada Anna. Dia sekilas juga pernah mendengar sedikit tentang percakapan keduanya saat mereka sedang duduk di taman.
Kado itu terlihat besar. Saat di buka itu adalah sebuah boneka beruang berwarna coklat. Setiap malam Anna tidak bisa tidur. Karena guling yang biasa menemaninya di ambil oleh teman lainnya. Ia merasa sedih. Jadi Anzel membelikannya sebuah boneka.
Anna terlihat sangat senang. Ia juga berceloteh. Akan ikut bersama Anzel. Tetapi Anzel menolaknya. Saat itu Anzel memang sudah SMA. Ia keluar dari panti asuhan dan hidup di luar. Ia ingin mandiri dengan bekerja paruh waktu.
"Anna, jika kau ikut kakak, kau akan sendirian. Lebih baik kau berada disini kakak akan merasa tenang. Tunggu kakak sampai punya uang banyak setelah itu kakak akan menjemputmu." Ujar Anzel kala itu.
Anna terlihat cemberut dan ingin menangis. Tangan Anzel segera mengusap pipinya lalu meletakkan kepala Anna di pahanya. "Tunggu kau besar. Saat itu kakak sudah mempunyai banyak uang. Dan kita akan berkumpul lagi seperti dulu." Ujar Anzel menghiburnya.
"Lihat. Binatang yang terang itu. Lalu di sana." Anzel menunjuk dengan jarinya ke arah bintang yang bersinar terang. "Itu adalah ayah dan itu adalah ibu. Mereka sedang melihat kita."
Anna hanya mengedipkan matanya lalu melihat langit luas di atas sana. Ia belum mengerti maksud kata kata Anzel. Tapi ia hanya mampu mengangguk.
"Hem, apakah mereka juga sedang melihat kita?" tanya Anna dengan polosnya.
"Tentu saja. Mereka akan melihat kita. Sudah malam. Kamu pergilah tidur. Kakak akan temani."
"Yeay." Anna tertawa girang lalu menarik tangan Anzel masuk ke dalam.
Arsya sempat mengikuti mereka berdua masuk ke dalam. Pintu kamar mereka tidak tertutup rapat. Arsya dapat melihatnya melalui celah pintu. Kedua kakak beradik itu terlihat akrab dan rukun satu sama lain. Anzel membacakan buku dongeng hingga Anna tertidur pulas. Barulah ia pergi keluar.
Arsya kala itu langsung pergi dan bersembunyi saat Anzel keluar. Anzel hanya melihat sebuah bayangan yang pergi. Tapi ia tak menghiraukannya kemudian ia menemui ibu kepala panti asuhan dan berbicara sebentar kemudian pergi.
Semua ingatan itu tercetak jelas di dalam ingatannya. Tanpa sadar sudut mata Arsya basah. Seorang anak kecil terlihat mengetuk pintu kaca mobil. Arsya menoleh.
__ADS_1
Arsya mengusap sudut matanya yang basar, Lalu menurunkan kaca mobilnya.
"Wah. Sejak tadi saya melihat mobil anda? Apakah anda donatur di panti ini?" Tanya anak lelaki itu dengan polosnya.
Arsya segera membuka pintu mobil dan menutupnya kembali. Terlihat anak lelaki itu sedikit menyingkir. Arsya berjongkok agar sejajar dengan anak lelaki itu.
"Siapa namamu?" Tanya Arsya.
"Luki." Jawab Anak lelaki itu dengan wajah datar.
"Luki. Kau kelas berapa?" tanya Arsya.
"Satu, sekolah dasar." Jawab Luki. Arsya menepuk kepala kecilnya dengan lembut.
"Luki. Luki. Luki." terlihat seorang wanita paruh baya keluar dari panti lalu memanggil Luki.
Arsya dan Luki sama sama menoleh ke arah sumber suara. Tangan Arsya yang masih mengelus kepala kecilnya langsung ia tarik.
"Sepertinya ada yang mencarimu." Ujar Arsya.
"Hem, dia ibu panti. Oiya. Sejak tadi anda belum menyebutkan nama. Siapa nama anda?" tanya Luki dengan serius.
"Arsya. Panggil aku Kakak." Ujar Arsya.
"Baiklah." Ujar bocah lelaki kecil itu lalu berlari masuk ke dalam panti.
Terdengar ibu panti berceloteh banyak dan menasehatinya. Tetapi anak lelaki itu tampak diam dan berjalan di gandeng ibu panti di pundaknya.
Arsya menatap bocah itu sebentar kemudian ia masuk ke dalam mobil.
"Jalan!" Perintah Arsya kepada Raimond.
__ADS_1
Dua mobil beriringan pergi. Luki melihatnya dua mobil beriringan pergi dari sebrang jalan.
"Luki, ayo segera masuk. Cepat cuci kakimu dan tanganmu lalu segera tidur." Ujar Ibu panti mengingatkan. Luki menutup jendela lalu masuk ke dalam.