Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Tujuh


__ADS_3

Ada begitu banyak makanan yang tersaji di atas meja makan. Anna melihat secara cermat makanan di atas meja. Apakah satu orang mampu menghabiskan makanan banyak seperti ini? Ia kemudian menoleh pada Ricky yang masih berbaris menunggu di belakang kursinya.


"Ricky!" Dengan segera Ricky maju.


"Ya Nona."


"Apakah hidangan ini hanya untuk saya seorang?"


"Ya ,nona." Ricky menjawab tanpa keraguan.


Anna mengambil dua macam masakan yang telah disajikan. Lalu memakannya hingga tandas. Seharian ini ia melewatkan sarapan dan makan siangnya jadi ia terlalu lapar.


Setelah menghabiskan makan malamnya, Anna membelokkan kursi rodanya menuju ruang televisi. Sedangkan para pelayan langsung menyimpan makanan yang tersisa dan membereskan piring kotor.


Selama seminggu ini, Villa kediaman Arsya begitu damai dan tenang, begitu juga Anna yang sudah mulai terbiasa hidup di sana. Ia menjalani hari-harinya seperti biasa. pergi ke sekolah dan pulang. Hanya saja, dirumah itu ia tidak mempunyai teman sama sekali.


Setelah melakukan kegiatan para pelayan akan bergegas kembali ke belakang. Jika mereka sedang bekerja di salah satu ruangan saat melihat Anna mendekat, mereka akan pergi dengan teratur.


"Huft...." Anna menghela nafas berat saat dia datang para pelayan akan langsung meninggalkannya. Karena para pelayan itu mengerti akan menjaga privasi majikannya.


Hari ini adalah hari minggu, jadi Anna berdiam diri dirumah saja. Tidak ada hal spesial di hari harinya, sepulang sekolah ia tak pernah melakukan hal hal lainnya selain belajar lalu tidur.


"Sepi" Anna bergumam pelan. Ia mengamati ponsel miliknya menggulir ke atas-bawah hingga bosan. Keluar rumah pun tetap bosan. Tidak ada yang bisa di ajaknya ngobrol. Percuma.


Akhirnya Anna berniat pergi ke taman, mencoba menghibur diri sendiri dengan memandangi bunga-bunga. Pada saat menuju ke sana, di sampingnya ada kolam renang di situ juga ada sebuah pergerakan. Awalnya Anna hanya mengabaikan tapi semakin lama gerakan itu semakin kuat.


Bulrb


Arsya muncul di permukaan kolam lalu menatap sekitar, ia dapat melihat Anna yang sedang memandangnya. Ia pun segera menepi.


"Sudah bangun!" Arsya naik kepermukaan meraih handuk kimono di kursi panjang dan mengenakannya.


Anna menatap Arsya tanpa berkedip apalagi di bagian dadanya yang masih terlihat dengan jelas karena Arsya tidak mengaitkan bagian atasnya tidak rapi. Sesaat kemudian Anna menarik pandangannya ke alam nyata.


"Kau! Kapan kembali?" tanya Anna.

__ADS_1


"Kenapa? Rindu?" Tanya Arsya dengan dingin, Anna menggeleng kuat.


"Ya sudah, kau lanjutkan pekerjaanmu." Ujar Arsya. Anna baru saja berbalik dan melanjutkan menuju taman, tetapi kursi rodanya sudah ditarik oleh Arsya.


Tiba tiba, Arsya teringat jika ia belum sarapan, dari pada ia duduk sendiri menghabiskan sarapannya lebih baik ia menarik Anna untuk menemaninya sarapan. Apalagi sekarang dia teringat jika dirinya telah beristri. Mengucapkan kata istri saja. Arsya merasa geli sendiri.


"Hei apa yang kau lakukan?" Teriak Anna.


"Sarapan pagi." Jawab Arsya dengan entengnya lalu mendorongnya masuk ke dalam.


Di ruang makan, seperti biasa Ricky akan datang menyambut. Ricky segera mendekat.


"Tuan muda. Nona muda. Apakah akan sarapan sekarang?" Tanya Ricky.


"Ya." sahut Arsya datar.


Ricky menepuk tangannya sekali. Semua pelayan yang berada di dapur segera menyajikan masakan di atas meja dengan berbagai ragam masakan.


"Hei, kenapa kau diam saja. Cepat kau ambilkan makananku." tegur Arsya.


"Terima kasih." Sahutnya dengan tersenyum ringan.


Setelah itu Anna hanya menonton Arsya yang sedang menghabiskan sarapannya sampai selesai makan.


"Saya akan ke kamar." Celetuk Anna saat Arsya menyuapkan sendok terakhir di mulutnya.


"Pergilah!" Anna mendengkus kemudian pergi meninggalkan Arsya yang masih di tempatnya.


"Ini masih pagi Anna, jangan sampai mood kamu hilang karena pria itu." Monolog Anna seraya menggerakkan kursi rodanya menuju ke kamar.


Di dalam kamar ia melanjutkan kegiatannya dengan mandi air hangat, siapa tau mood-nya perlahan membaik. Mungkin berendam akan lebih baik. batin Anna.


Ia pun bersusah payah masuk ke dalam buthup setelah mengatur suhu air di dalamnya. Terasa melegakan. batin Anna tersenyum.


"Aish, bocah ini kenapa mandi begitu lama." Arsya merasa gelisah saat ia menunggu hampir satu jam di depan pintu kamar mandi. Tentu saja Anna menguncinya dari dalam agar tidak ada siapapun yang mengganggunya saat berendam.

__ADS_1


Saat Herman mengetahui kepulangan cucu-nya, Ia segera menelepon Arsya agar segera membawa istrinya itu ke Villa kediamannya. Jadi Arsya masuk ke kamar Anna tanpa mengetuk pintu.Saat mencari ke seluruh ruangan, ia tidak menemukan Anna kemudian berniat mencari ke kamar mandi, dan ternyata pintunya terkunci. Ia hanya bisa sabar menunggu, tetapi ini sudah satu jam Anna berada di dalam sana.


Arsya merasa gelisah dan memanggil Ricky. " Ricky, cepat carikan kunci cadangan kamar mandi."


"Baik Tuan, apakah Nona Muda ada di dalam?"


"Haist, jangan bertanya lagi, cepat pergi!" Perintah Arsya dengan nada marah.


Ricky keluar kamar dan mencari kunci cadangan yang ia simpan di dalam gudang. Setelah mendapat apa yang ia cari Ricky kembali berlari menemui majikannya.


"Ini tuan." Ricky memberikan kunci itu kepada Arsya. Arsya segera mengunci pintu kamar mandi hingga terbuka.


Saat melihat Anna tertidur di dalam buthup Arsya langsung melangkah maju dan mengangkatnya, andai sedetik saja ia tidak datang tepat waktu mungkin Anna akan tenggelam di dalam kamar mandi. Karena posisinya yang bersandar perlahan meluruh ke dalam.


Arsya segera menyelimuti tubuh Anna dengan handuk kimono lalu membaringkannya ke atas ranjang.


"Cepat panggilkan dokter." perintah Arsya pada Ricky yang masih berada di sana.


"Baik." Ricky pun langsung menghubungi dokter pribadi keluarga.


Perlahan kesadaran Anna mulai kembali. Anna menatap linglung pada ruangan sekitar. "Arsya.!" Ucap Anna saat menyadari Arsya berdiri di sana.


Mendengar namanya di sebut, Arsya segera mendekat. "Kau ingin mati ya!" Ucap Arsya begitu kesal.


"Aku sangat ngantuk dan gak sengaja tertidur." Pungkas Anna.


"Gak sengaja katamu! Jika aku tidak datang tepat waktu mungkin kau sudah berada di neraka."


Anna memandang wajah Arsya yang memerah. "Maafkan aku!" wajah Anna tertunduk.


"Tuan, Sepuluh menit dokter Henry segera tiba." Arsya mengalihkan tatapannya pada Ricky yang datang di depan pintu. Ricky yang menyadari kemarahan sang majikan menundukkan kepala.


Suasana di ruangan itu mendadak berubah mencekam, Ricky merasa bulu kuduknya berdiri melihat tatapan Arsya yang begitu tajam.


"Maaf, saya akan menyambut dokter Henry." Ricky pun segera menarik pintu hingga tertutup kemudian berjalan tergesa menuju pintu utama. Saat sudah berada di luar ruangan tangannya menyentuh leher belakang lalu mengusapnya. membayangkan bagaimana tadi tatapan Arsya yang seakan mengulitinya habis habisan.

__ADS_1


__ADS_2