
Mobil Limosin meluncur meninggalkan pelataran mall. Tepat di saat ini hari sudah gelap. Anna tidak menyadari waktu yang ia habiskan sudah terlalu lama.
Anna merasa kesal serta malas berbicara dengan Arsya, ia lebih baik duduk diam dengan memandang keluar jendela. Sementara Arsya duduk tegak di sampingnya.
Mobil tiba di Villa Arsya. Tepat saat ini berhenti di depan pintu utama, pengawal yang berjaga segera mendekat dan membukakan pintu mobil.
Arsya keluar terlebih dahulu, tetapi ia berjalan ke arah samping dan membukakan pintu samping yang di duduki Anna.
Anna dengan cemberut menurunkan kakinya dan Arsya menahan kepalanya agar tidak terbentur.
Hanis yang mendengar menantunya datang segera berjalan menuju pintu utama.
"Arsya!" Lirih Hanis dengan senang.
Seketika Anna membeku ditempatnya. Belum terbayangkan jika ia akan bertemu dengan mama mertua-nya. Apa yang akan ia lakukan kalau mama mertuanya tau jika dirinya kabur dari rumah.
"Mama!" Ucap Arsya lalu berjalan mendekat. Di belakangnya Anna bersembunyi di balik punggung Arsya.
Saat sudah dekat, Arsya menyamping membuat tubuh Anna yang tertutupi langsung terlihat jelas. Anna membeku ditempatnya. Apakah ada lubang agar ia bisa masuk ke dalam, sungguh Anna merasa sangat malu.
Bukannya marah, tetapi wanita paruh baya itu malah tersenyum. Dia tidak menyalahkan sebuah pernikahan akibat oerjodohan. Apalagi menikah dengan gadis yang menurutnya masih labil itu pasti sangat sulit untuk menerima kenyataan.
"Anna, ayo sini." Hanis menarik lengannya untuk ia rengkuh.
"Hehe!" Anna memaksakan senyuman agar terlihat santai.
"Ayo masuk, kalian pasti sangat lelah." Ucap Hanis merangkul bahu Anna memasuki rumah.
Yang dilakukan Anna saat ini hanya menurut, tapi di dalam hatinya merasa tegang.
"Ma, Aku akan mengganti pakaian. Kalian berdua pergilah ke ruang makan." Ucap Arsya memerintah.
"Ya. menantuku pasti belum makan." Ucap Hanis dan membelokkan kakinya menuju ruang makan.
"Anna, kenapa wajahmu tegang. Apa aku terlalu menakutkan.
Anna yang terdiam memutuskan pemikirannya. langsung tersenyum lebar
__ADS_1
"Hehe, tidak ma. Hanya tadi ada pelajaran yang tidak aku mengerti jadi kebawa sampai rumah." Ucap Anna menetralisir perasaannya.
"Oh.."
Di ruang makan Hanis mendudukkan Anna di samping tempat duduk Arsya.
"Aku tidak tau, kamu menyukai apa. Tapi kata Rani, kau suka semuanya. jadi aku hanya memasak daging rendang." Ucap Hanis lalu meletakkan daging itu di atas piring Anna. "Semoga kamu suka." Ucap Hanis penuh kelembutan.
Sampai disini, hati Anna merasa tersentuh. Dia hanya mengangguk dan menerima daging yang di letakkan ke atas piringnya oleh Hanis.
Tak berapa lama Arsya menuruni tangga dengan wajah yang lebih segar dan fresh. Lalu ikut bergabung di ruang meja makan. Melihat pemandangan harmonis seperti ini seolah ia merasakan keluarga yang sebenarnya.
Diam diam ia tersenyum tipis. "Mama, Anna kalian seperti mama dan anak yang rukun. kedepannya aku tidak akan khawatir lagi." Ucap Arsya.
"Kamu ini, bicara apa. Aku mamamu, dan kalian adalah anakku. Mana mungkin aku membedakannya." Hanis menepuk bahu Arsya dan tersenyum.
"Ya."
Mereka bertiga makan hidangan yang tersaji. Anna tergiur dengan makanan ini, hari ini ia belum sempat mencicipi hidangan di restoran tadi. Meski dalam hati kesal tapi ini sudah terbalaskan. Ia merasa perutnya terlalu kenyang.
Selesai makan, Hanis menyuruh keduanya segera beristirahat. Anna berjalan menuju kamarnya di bawah, sementara Arsya menuju ruang kerjanya.
Haist Anna ingin sekali menangis sekaligus marah. Dia telah di permainkan seperti ini. Ia kemudian bergegas ke ruangan samping yang merupakan ruang kerja Arsya.
Anna langsung mendorong pintu itu hingga terbuka. Nafasnya naik turun saking kesalnya.
"Arsya!" Pekik Anna bahkan pintu itu hampir ia banting.
"Hemph!" Arsya tidak memedulikan ia terus meneliti dokumen satu persatu.
"Kamarku kenapa kosong, kamu ingin mengusirku dengan cara seperti ini." Ucap Anna dengan marah.
Di saat ini, seorang pengawal menerobos masuk karena pintu terbuka lebar.
"Tuan, perintah anda sudah kami laksanakan." Ucap pengawal itu.
Sedetik kemudian, Anna dapat melihat koper miliknya dibawa ke atas oleh pelayan. Anna mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Hemph. keluarlah!" Ucap Arsya kepada pengawal itu. Pengawal itu membungkuk hormat dan berlalu keluar.
Anna menggertakkan giginya. "Kamu...Kamu...Memindahkan koperku ke atas!" Anna hampir melompat ingin mencekik pria ini yang seenaknya.
"Mama ada disini, jika tidur di tempat berbeda. Apa yang akan dipikirkan mama." Ucap Arsya santai, matanya terus memandangi kertas kertas di depannya.
Anna hanya mampu mengepalkan tangannya. lalu menghentakkan kaki keluar dari ruangan itu. Ia menaiki tangga hingga menemukan sebuah pintu berbahan jati dengan ukiran yang istimewa.
Ia mendorong pintu hingga terbuka. Segera tercium aroma maskulin yang menguar masuk ke indra penciumannya. Anna merasa pria ini lebih dingin dari gunung es yang berada di kutub utara.
Anna masuk ke dalam dan menutup pintu. Ruangan kamar ini berdominasi warna gelap dan ruangan itu selalu gelap akan cahaya saat disiang hari.
Setelah memindai seluruh ruangan ia menggerakkan kepalanya ke kiri dan kekanan. Hari ini terasa sangat lelah, tubuhnya juga terasa sangat lengket. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah menghabiskan waktu selama 15 menit, ia keluar. Betapa kaget dirinya menemukan Arsya yang sudah duduk manis di atas ranjang yang bersandar pada papan ranjang.
"Ka--kamu?" Tanya Anna gagap, ia merapatkan lengannya menutupi dadanya.
Arsya hanya cuek masih memandang benda tipis di tangannya. Yang bisa Anna lakukan adalah segera mencari pakaian ganti di dalam walk in closet lalu menguncinya rapat.
Akhirnya ia bisa bernafas lega, lalu mencari pakaian miliknya yang sudah tertata rapi si bagian kiri yang ternyata di kosongkan untuk menyimpan pakaian-nya.
Di sana ada banyak pakaian wanita sesuai dengan ukuran. Selain pakaian yang dulu yang ia simpan di kamar sebelumnya juga berada di sana, masih ada pakaian baru yang belum pernah ia lihat.
Semuanya terlihat mewah dan harganya mahal. Anna tersenyum satu tangannya ia julurkan menyentuh satu persatu dari gaun tersebut. Kemudian beralih ke lemari di sebelahnya yang merupakan pakaian yang terlipat sangat rapi sesuai dengan warna.
Belum sampai disitu, di dalamnya tertata aneka macam jam tangan wanita sesuai dengan merk yang terkenal. Setelah puas dengan isi lemari itu ia-pun segera mengambil pakaian ganti dengan piyama berbahan satin panjang berwarna navy.
Setelah berganti pakaian, ia berjalan ke sampingnya ruangan yang menyatu dengan ruang rias. Di sana ada banyak perlengkapan alat make-up yang lengkap bahkan disediakan satu set scincare yang biasa digunakan.
Anna memindai seluruh isi meja tersebut tangan kanannya menjulur mengambil set scincare dan menggunakan di wajahnya. lalu mengoleskan hand and body lotion di seluruh tangan dan kakinya.
Setelah selesai, ia tersenyum puas. Kini wajahnya tampak berseri seri. tanpa sengaja ia menyenggol bagian laci hingga terbuka. Matanya berbinar saat melihat ada banyak perhiasan di dalamnya.
"Astaga, perhiasan ini sangat menarik." Gumam Anna. Setiap di dalam kotak perhiasan ada satu set berupa kalung dan anting.
"Perhiasan mama juga banyak tapi tidak sebagus ini, selain itu ini juga hanya ada satu didunia. Orang ini mendapatkannya dari mana?" Gumam pelan Anna.
__ADS_1
Hatinya merasa tersentuh melihat isi lemari yang ditunjukkan padanya. Dia terlalu menghargai wanita begitu dalam. Dibalik sikapnya yang kejam ternyata memiliki sisi baik dan hangat.