Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 64


__ADS_3

Pagi mulai menjelang. Matahari mulai merangkak naik. Jam sudah menunjuk angka 9.


Anna menggerakkan kelopak matanya tetapi sangat sulit untuk terbuka. Akhirnya ia hanya bisa memindahkan tangan kanannya. Kepalanya berputar ke kiri. Lanjut tidur kembali karena kepalanya masih terlalu pusing.


Namun ia mulai merasakan sebuah perbedaan meski dalam keadaan tidak sadar. Pergerakannya sangat terbatas.


Ia memaksa tubuhnya untuk bangkit, tapi anehnya di bagian perutnya sangat berat. Ia bergumam, mengucek mata. Menguap, merentangkan ototnya yang kaku.


Otot ototnya sudah mulai rileks, perlahan membuka matanya. Nampak sebuah wajah yang sangat dekat tanpa jarak dihadapannya. Tertidur pulas dengan nyaman di sampingnya.


Anna menundukkan kepala, melihat bagian perut yang berat ternyata tangan Arsya yang telah merangkulnya dengan erat. Dia merasa emosi. Tentu saja ini adalah sebuah kesempatan dalam kesempitan.


"Aaaaaaaa......!!!!!!"Anna berteriak dengan kencang. Membuat Arsya yang tengah tertidur lelappun segera bangkit terduduk melihat ada apa yang sedang terjadi. Ia pun ikut panik mendengar jeritan Anna.


"Ada apa?" Tanya Arsya dengan linglung.


"Kamu sungguh berengsek!" Anna menampar wajah putih Arsya dengan kencang.


Plak!


Arsya semakin bingung. Wajahnya yang putih langsung memerah. Ia mengelus wajahnya yang terasa perih. Ia mengernyitkan alisnya.


"Kamu menggunakan kesempatan dalam kesempitan di saat aku mabuk." Anna sangat marah.


Arsya semakin bingung. Kesempatan apa?

__ADS_1


"Anna, kenapa kamu marah. Apa yang sudah aku perbuat. Aku sedang tidur. Tidak ngapa ngapain kamu?" tanyanya dengan wajah heran.


Semenjak semalam, dia tidak melakukan apapun. Terlebih pria itu sangat mengantuk karena tidur hingga dini hari. Dan pagi ini tiba tiba Anna memarahinya.


"Kamu....kamu....." belum sempat wanita itu melanjutkan penjelasannya malah sudah menangis. Arsya segera mendekat dan mendekapnya ke dada bidangnya.


Setelah beberapa saat tangis Anna terhenti. "Meskipun kita akan menikah, seharusnya kamu menjaga dulu sikapmu." Ucap Anna dengan masih terbata.


"Iya aku tau akan batasanku." Ucapnya dengan lembut. Tetapi Anna semakin marah lalu mendorong dadanya hingga pria itu hampir terjerembab.


"Jika kamu tau batasan? Kenapa kamu tidur seperti itu di sampingku." Anna menunjuk bagian dada yang terbuka lebar. Terlebih pria itu masih mengenakan kimono handuk mandi hotel. Pria itu menundukkan kepalanya. Menghembuskan nafasnya dengan pelan.


"Soal ini aku bisa jelaskan. Semalam kamu sangat lelap. Aku menyelimutimu agar kamu tidak kedingianan. Tetapi kamu menarikku sebelum aku berganti pakaian. Lihatlah, kamu sendiri masih lengkap berpakaian." Arsya menatapnya dengan lembut, menjelaskannya dengan sabar.


Anna menundukkan kepalanya memeriksa pakaiannya yang masih utuh. "Sudahlah, ayo bangun dan sarapan. Kita harus pergi ke ladang akan memerlukan banyak waktu. Nanti kita tidak sempat sebelum kembali ke negara kita." Ujar Arsya segera turun dari ranjang.


Brak!


Pintu ditutup dengan kencang. Arsya mengelus dada agar tetap sabar menghadapi makhluk yang bernama wanita. Akhirnya ia menuju ke sofa mengambil i-pad memeriksa laporan yang dikirim oleh Danni.


Danni melaporkan perihal baku tembak yang terjadi setelah kedatangan Arsya di bandara. Kemungkinan terbesar dalam baku tembak itu memang orang suruhan Anita. Hanya saja saat itu bersamaan dengan keberangkatan nona Eli yang ternyata akan pergi ke luar negeri. Dia memblokir tembakan itu di punggungnya.


Kini orang suruhan Anita sudah ditangkap hanya saja orang itu tidak mau bicara sama sekali. Justru menyiksa dirinya sendiri hingga mati. Dan Arsya tidak mendapatkan jawaban apapun. Tapi dengan cepat Danni sudah menemukan data yang akurat. Sehingga prediksi Arsya sangat tepat sasaran.


"Ternyata benar Anita. Demi kakek, aku tidak akan kalah dan mundur." Ungkapnya pada dirinya sendiri. Ia pun mengepalkan tangannya dengan erat.

__ADS_1


Pintu kamar mandi terbuka. Tercium aroma sabun yang sangat wangi. Atensi Arsya pun tertuju pada wanita yang berbalut gaun terusan bermotif batik itu keluar dari kamar mandi.


"Cepat mandi Arsya! Kita tidak boleh terlambat." Ujar Anna seraya melokasikan dirinya duduk di kursi depan meja rias. Mengambil berbagai peralatan kosmetik. Membukanya dan mengoleskan krim ke berbagai seluruh wajahnya.


"Kenapa terlambat. Kita masih punya banyak waktu." Pria itu bangkit dan mendekati Anna.


"Oh ya, berati kau membohongiku." Anna melotot tajam.


"Juga tidak. Kita disini akan tinggal sehari lagi. Dan ini masih pagi. Seharusnya kepergian kita kali ini juga merupakan bulan madu." Ujar Arsya tang telah berdiri di belakang punggung Anna. Menatapnya melalui pantulan kaca.


"Kita belum menikah, kenapa bulan madu?" tanya Anna heran.


"Karena aku takut, setelah menikah kita tidak sempat. Jadi menggunakan waktu sebelum menikah saja." Sahut Arsya santai.


"Sudahlah, jangan membual. Kau mau kemana memangnya. Meski kau ini CEO tetapi aku lihat kau sangat santai. Masih ada Danni yang membantu pekerjaanmu. Kita akan bulan madu ke maldives setelah menikah. Itu adalah negara impianku." Ujar Anna.


Melihat wajah Anna yang bertekad. Akhirnya Arsya hanya bisa pasrah. "Oke baiklah tuan putri, sesuai keinginanmu. Nanti akan aku atur."


"Cepatlah mandi. Aku sudah tidak sabar bertemu dengan mereka." Suruh Anna.


Arsya mencium pucuk kepalanya sebelum pergi mandi.


Waktu beranjak mulai siang. Setelah selesai menyelesaikan cek out dan sarapan. Mereka pun pergi ke ladang. Sepanjang perjalanan Anna sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan kelima pegawainya. Ia juga rindu dengan perkebunan yang sudah lama ia tinggalkan selama dua bulan ini. Apakah masih sama dengan sebelumnya atau sudah berkembang dengan baik.


Arsya menemaninya. Duduk memangku satu kaki kanannya. Dia menatap jalanan melalui samping jendela.

__ADS_1


Mobil terhenti di pintu masuk ladang. Kelima mobil mercedes ben berjajar di pinggiran jalan. Semua yang berada di dalam ladang tercengang. Namun mereka terkejut dan terharu ketika Anna atau yang mereka kenal dengan Noni akhirnya kembali. Kelimanya berurai air mata dan meninggalkan pekerjaan mereka.


"Noni!"


__ADS_2