Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 65 Aku kembali


__ADS_3

Elmo adalah orang yang pertama. Saat dia melihat kedatangan Anna, Elmo tak bisa berpikir sama sekali. Langsung berlari dan saat berada dihadapan Anna ia terhenti sebentar sebelum akhirnya pria itu merangkul Anna dengan erat.


Laura, Laila, pedro, dan Eva juga ikut menubruk tubuh Anna yang ramping. Meneteskan air mata mereka dengan bahagia. Mereka kira mereka tidak akan lagi bertemu dengan Anna. Dan setelah melihat hari ini, mereka tidak bisa membayangkannya.


Anna berada di tengah tengah mereka saling mengerubuti tanpa memiliki celah sama sekali kepada Arsya.


Anna tertegun untuk sesaat hingga akhirnya ia membalas rangkulan itu. Lalu tangannya bergerak mengelus punggung Elmo dengan lembut. Lalu beralih kepada Laura, Laila, pedro, dan Eva. Mereka menyalurkan rasa bahagia itu dengan saling merangkul satu sama lain.


"Akhirnya kamu kembali." lirih pria itu. Anna mengulas senyum. Begitu juga Laura, Laila, pedro, dan Eva. Membalas senyuman Anna dan merangkul lebih erat lagi.


Sementara Arsya yang berada di sana juga ikut tercengang. Tetapi emosinya lebih besar ketika melihat Anna memilih merangkul mereka dari pada bersamanya. Ia berdehem dengan kuat hingga Elmo menyadari.


"Eh, tuan Arsya!" lirih pria itu ketika menyadari bahwa Anna datang tidak sendiri. Masih ada Tuan Arsya dan beberapa pengawal lainnya.


Elmo sedikit mundur dan tersenyum kikuk setelah mengusap air mata di pipinya. Begitu juga Laura, Laila, pedro, dan Eva. Mereka langsung berdiri tegak memecah kerumunan mereka dengan melempar senyum kepada Arsya.


"Tuan Arsya!" Laura, Laila, pedro, dan Eva juga berucap serempak.


Arsya tetap acuh lalu berjalan lurus menuju Anna. Laura, Laila, pedro, dan Eva menyisakan jalan sehingga Arsya dapat menghampiri Anna dengan mudah. Pria itu segera merangkul bahu Anna dan mengecup keningnya.


"Kalian ambillah hadiah di mobil dan berikan kepada mereka." perintah Arsya kepada salah satu anak buahnya.


"Baik tuan." sahut salah satu pengawal. Pengawal itu bergegas ke mobil dan mengeluarkan seluruh hadiah yang telah mereka beli sebelumnya.


Setelah semua hadiah di keluarkan. Satu persatu membaginya dengan adil.


Anna maju menghampiri Elmo. Dia tau, di antara para pegawainya yang lain Elmo adalah orang yang tidak memiliki apapun untuk dapat ia banggakan. Setiap kali pria itu selalu dicemooh oleh keluarga dari istrinya. Ia merasa iba melihat Elmo yang seperti itu.


"Elmo!" Panggil Anna. Seketika Elmo mendongak. Anna tampak tersenyum. "Ini untuk istri dan anakmu. Mereka pasti suka." ucap Anna menebak hadiah yang akan ia berikan kepada keluarga Elmo.


Elmo menerima hadiah itu. Tampak sebuah boneka dan set pakaian mahal. Elmo terharu dan kembali meneteskan air mata. Selama sisa hidupnya ia tak pernah membelikan pakaian bagus. Elmo tampak senang. Bahkan dia hampir berlutut dihadapan Anna saking senangnya.


"Ini juga ada sebuah tiket menonton. Kamu bawalah anak dan istrimu pergi. Hari ini kalian sudah bekerja keras. Membantuku merawat kebun mawar ini sampai bunga mawar ini tumbuh subur." ucap Anna kepada Elmo kemudian menatap satu persatu kepada Laura, Laila, pedro, dan Eva.

__ADS_1


Laura, Laila, pedro, dan Eva juga nampak terharu dengan kebaikan Anna. Selama sisa hidupnya mereka di perlakukan dengan baik bahkan menganggap mereka adalah satu keluarga.


"Terima kasih Noni." Laura mewakili ke empat lainnya mengucapkan terima kasih selain perasaan senang dan bahagianya.


"Emm. Kalian akan saya liburkan beberapa hari." celetuk Arsya seraya merangkul bahu Anna.


Tampak mereka berteriak dengan semangat. Setelah hadiah dibagikan, satu persatu mereka pergi dan kembali pulang. Mereka akan mempersiapkan pesta untuk keluarga masing masing. Dan menikmati momen mereka bersama keluarganya.


Anna nampak tersenyum melihat punggung mereka menghilang.


"Bagaimana? Apa kamu senang?" ucap Arsya Widodo Adiyaksa.


"Haist. Selama ini aku memperlakukan mereka seperti keluargaku." Ucap Anna, ia mendongak menatap wajah Arsya yang tegas.


Cup


Sebuah kecupan mendarat di bibir Anna. Anna tersipu dan tersenyum malu malu.


"Ayo kita masuk, hari sudah mulai panas. Kita nikmati siang ini dengan secangkir kopi."


Sementara Anita duduk di kantor dengan wajah kesal setelah mendapat laporan bahwa Arsya lolos dari kematian.


"Sial." Gumam Anita seraya menggebrak meja. Tangannya mengepal erat karena amarah.


Pengawal itu menundukkan kepalanya tidak berani. "Nyonya apa yang akan kita lakukan?" tanya pengawal itu meminta sebuah tugas baru.


Anita menoleh sekilas lalu duduk bersandar dengan tenang. Ia memikirkan cara lain untuk membunuh Arsya. Dia sudah melakukan banyak cara tetapi pria itu selalu bisa terlepas dari jeratannya.


"Hm, kita tunggu mereka kembali pulang dulu. Biarkan mereka bersenang senang. Setelah mereka kembali kita melakukan aksi lagi." Ada kerutan tipis di sudut bibirnya dengan misterius. Pengawal itu bergidik. Setelah menunduk, pengawal itu keluar.


"Sebentar lagi Arsya akan melakukan pernikahan ulang." gumam Anita, wanita itu mempunyai ide dan moment yang tepat untuk membunuhnya. "Tunggu saja hadiah dari ku Arsya." ucapnya seraya tersenyum miring.


*

__ADS_1


**


"Cuaca di Amsterdam benar benar panas." gumam Arsya melihat cuaca melalui jendela. Ia tengah berdiri di depan jendela seraya menyibak gorden.


Terlihat Anna menyeruput kopi di tangannya. "Ini sudah biasa." lalu gadis itu duduk di kursi kayu di samping jendela.


"Hm, pantas saja kamu tidak mau pulang. Jadi sudah terbiasa ya." Arsya beralih duduk di kursi samping Anna yang berjarak dengan meja.


Anna mengulas senyum. "Bagaimana tidak, ini rumahku."


"Rumah? Bagaimana dengan aku?" tanya Arsya dengan kening berkerut.


"Kau sudah ada disini. Apa yang perlu aku tanyakan kepadamu lagi."


"Hm, kau benar benar tidak pernah memikirkanku lagi setelah apa yang telah aku lakukan padamu." Arsya tampak kecewa.


"Ayo kita ke kebun. Kita jalan jalan, aku sudah lama tidak melihat kebunku." Ucap Anna mengalihkan topik. Gadis itu hendak bangkit ketika sebuah tangan menangkap pergelangan tangannya membuat dia menoleh.


"Apa aku benar benar tidak ada dihatimu?" tanya Arsya dengan tatapan pahit.


"Apa yang kamu tanyakan lagi Sya. Kita sudah mau menikah...."


"Tapi kamu tidak memiliki perasaan itu terhadapku.." anna mengerutkan keningnya.


"Disini hanya aku yang mengejarmu, pernahkah kamu perduli dengan aku."


Deg


Meskipun Arsya selama ini diam, dia merasakan kepahitan di dasar hatinya yang paling dalam. Kebaikannya seolah hanyalah kedok.


"Aku sudah menyetujui kita akan menikah. Apalagi yang kamu ragukan dariku?" tanya Anna dengan meninggikan suaranya.


"Kamu setuju karena paksaan. Aku benar benar tidak melihat kau bersungguh sungguh denganku." Balas Arsya.

__ADS_1


Entah kenapa pria itu berubah. Anna tercengang dengan sikap Arsya. Pria itu pergi keluar dan terdengar sebuah mobil melaju meninggalkan pekarangan rumahnya.


"Kenapa dengan Arsya?" gumam Anna melihat pergerakan mobil yang semakin menjauh.


__ADS_2