
Fendi berlutut di hadapan brankar Arsya yang kini terbaring lemah. Ia meneteskan air mata tanpa daya.
"Tuan, maafkan aku. Aku rela mati demimu. Anda bertahanlah sampai aku kembali." Kata Fendi dengan lirih.
Setelah itu melakukan penyesuaian penjagaan. Sementara dirinya bergegas kembali ke indonesia.
Rendi segera mendengar bahwa Fendi benar benar melakukan perjalanan ke indonesia dan akan menemui Anita. Ia merasa marah.
"Fendi, kau akan mati jika kau tidak setia kawan." Rendi mengepalkan tangannya sembari matanya memerah.
"Rendi, tolong bantu menyirami bunga yang di sebelah sana." pekik Anna yang berada di tengah tengah kebun.
"Baik Nyonya." Balas Rendi sembari menoleh. Anna kembali menunduk dan melanjutkan menyirami bunga bunga di bantu dengan pegawai yang lainnya.
Setelah semalaman akhirnya Fendi telah sampai di indonesia. Dia bergegas mencari Anita di kediamannya.
"Nyonya, itu adalah pengawal tuan Arsya. Ia ingin bertemu anda." kata salah satu pengawal yang berjaga di gerbang depan.
Anita menoleh dan melihat melalui kaca teve yang terhubung langsung dengan cctv. Ia tersenyum miring. "Untuk apa ia kemari?" kata Anita sambil menggoyangkan gelas di tangannya. Ia duduk di atas sofa single dan menggoyangkan kakinya yang mulus. Ia duduk begitu elegan.
"Nyonya, saya dengar tuan Arsya masuk ke rumah sakit terkena racun yang mematikan. Mungkin ini alasannya datang kemari."
"Hahahaha....." Anita tertawa mendengar hal ini. "Apakah dia ingin obat penawar dariku. Itu tidak mungkin. Biarkan saja dia sekarat. Dan di malam pernikahannya aku ingin melihat dia mati di depanku. Berapa lama ia akan bertahan."
"Benar nyonya, ini kesempatan anda menduduki kursi pemimpin."
Anita melirik ke arah pelayan sebentar sebelum ia kembali melihat layar dihadapannya.
"Biarkan dia masuk." kata Anita.
Pelayan itu terbelak. "Tapi nyonya..."
"Ini kesempatan aku untuk bekerja sama dengannya. Arsya! Bocah itu pasti akan menyerahkan kursinya dengan sukarela." kata Anita dengan senyuman misterius.
"Baik nyonya."
Pelayan itu bergegas keluar dan membukakan pintu. Fendi terlihat sangat berkeringat. Saat pintu terbuka ia langsung tersenyum.
"nyonya sudah menunggu anda. Masuklah!" perintah pelayan itu.
Fendi langsung masuk dan di bawa ke sebuah taman yang berada di samping. Di bagian kiri Villa itu ada kolam renang dan di tepiannya ada beberapa hewan liar yang sedang di kurung di sana.
__ADS_1
Fendi terbiasa akan hewan langka seperti itu. Hanya saja hewan ini sangat ganas. Ia tetap duduk tenang sambil menunggu sang pemilik Villa datang.
"Bagus sekali. Kau adalah pengawal Arsya. Bagaimana mungkin kau berani datang kepadaku. Ini adalah hal langka yang pernah aku lihat. Katakan anak muda. Apa yang kau inginkan?" tanya Anita seraya berjalan ke arah taman.
Terdengar suara tepuk tangan dari dalam villa bersamaan dengan suara sepatu hak tinggi yang melangkah anggun. Seketika Fendi menoleh dan segera berdiri.
"Nyonya Anita." Sapa Fendi dengan sedikit gemetar.
Anita tersenyum tipis. "Silahkan duduk. Kau pasti sangat lelah. Semalaman berada di dalam pesawat. Pelayanku akan menuangkan teh untukmu." kata Anita. Wanita itu langsung duduk anggun di sebuah kursi kayu yang beratapkan payung lebar.
Fendi sedikit canggung dan segera duduk. "Terima kasih nyonya." balas Fendi.
Tak berapa lama pelayan datang sambil menuangkan teh.
"Kau pasti tidak mudah menjadi pengawal Arsya selama ini. Makanya kau datang padaku. Benarkah itu." kata Anita sambil memandang kolam renang yang terpancar cahaya panas matahari.
"Nyonya, saya tau anda sangat berbakat dalam pencarian pengawal. Saya adalah orang yang setia."
Anita meminum tehnya dan melirik sekilas kepada Fendi yang terlihat teguh.
"Hehe, aku sudah melihat bakatmu selama ini. Katakan! Apa tujuanmu datang kemari? Aku yakin kau tidak sekedar datang kepadaku." Anita sudah tau rencana pria itu datang.
Fendi menundukkan kepalanya dengan merendahkan harkat dan martabatnya Fendi segera berlutut. "Nyonya benar. Aku berani setia kepada anda, asalkan anda beri aku obat penawar."
"Nyonya demi penawar itu, saya rela berbuat apa saja." cepat Fendi berkata.
Anita beranjak dari duduknya, melipat tangannya di perut mengintari Fendi yang tengah berlutut.
"Kau memang berbakat dalam hal IT. Aku memang membutuhkan seseorang untuk bekerja sama denganku dalam hal ini." kata Anita sambil mendongakkan kepalanya berpikir pekerjaan apa yang ia butuhkan.
"Dan kau, harus membajak komputer Arsya. Aku akan memberikan obat penawarnya." kata Anita.
Fendi mendongak menatap ke arah Anita yang berdiri di hadapannya. "Itu hanyalah hal mudah, tetapi aku mempunyai satu permintaan."
Alis Anita terangkat. "Bukankah kau menginginkan obat penawar. Mengapa meminta permintaan lagi."
"Dalam hal ini selain obat penawar. Aku menginginkan sebuah uang."
"Apakah Arsya tidak memberikanmu uang? Mengapa kau meminta gaji tinggi. Fendi, menurutmu apakah aku harus percaya padamu." kata Anita seraya tertawa mencemooh.
"Nyonya, di dalam hal IT, aku membutuhkan perlindungan. Jika aku tertangkap kemungkinan besar anda yang akan menjadi sasaran."
__ADS_1
Brak
Anita melempar gelas ke lantai. "Kau mengancamku?" tanya Anita.
Terlihat Fendi tersenyum tipis. "Anda adalah orang yang pintar. Seharusnya tau akan kekacauan seperti ini."
"Kamu."
"Nyonya Anita, penawaran anda sangat bagus. Tetapi saya juga bukan orang bodoh. Proyek yang dimiliki tuan Arsya sangat menjamin kehidupan anda. Tetapi ketika tuan Arsya tau jika aku bekerja sama dengan anda. Bukan saya seorang yang akan mati. Dia juga ahli dalam bidang haker. Akan sangat mudah baginya untuk menemukan biang di balik setiap kejadian. Selain obat penawar anda juga harus melindungi diri anda sendiri."
Anita mengepalkan tangannya erat. "Asal mampu menggeser Arsya dari kursi kepemimpinannya. Aku akan memberimu uang."
Fendi mengangguk. "Kapan pekerjaan ini saya mulai nyonya." tanya Fendi.
"Malam ini." kata Anita.
Setelah itu Fendi pergi. Kemudian pelayan datang. "Nyonya, bukankah terlalu berbahaya terlalu yakin dengan musuh. Ini bisa saja jebakan." kata pelayan itu.
"Kau benar. Jika dia berani. Selain mati dia tidak akan bisa hidup tenang. Siapkan saja obat penawarnya."
"Tapi nyonya."
Anita menatap tajam kepada pelayan itu. Pelayan itu bergidik dan menundukkan kepalanya.
"Baik nyonya." kata pelayan itu menurut.
Anita berlalu menuju ke dalam villa.
Malam semakin panjang. Fendi bersembunyi di sebuah gudang yang tidak berpenghuni. Ia melakukan pembajakan yang diminta oleh Anita. Dalam semalam semua pasar saham anjlok dengan tiba tiba. Membuat suasana perusahaan kacau balau. Para dewan direksi merasa tidak puas. Bergegas ke perusahaan untuk meminta keadilan.
"Hal ini karena tuan Arsya tidak bertanggung jawab. Sebagai CEO. Dia tidak pernah berada di dalam kantor. Sekarang ada keributan besar."
"Ya benar, perusahaan kacau balau beberapa kali. Ini membuat kita merasa cemas. Takutnya investasi kita hilang begitu saja tanpa mendapatkan modal lagi."
"Ceo kita tidak bertanggumg jawab sama sekali. Di saat seperti ini dia masih bisa berjalan jalan di luar negeri."
Semua yang mendengar bahwa Arsya berada di luar negeri merasa kesal.
"Apa!"
"Seharusnya dia tidak berleha leha. Perusahaan belum benar benar stabil dia sudah pergi begitu saja."
__ADS_1
Begitulah para dewan direksi yang tidak puas dengan kinerja Arsya.