
Arsya terbangun dari tidurnya kala mendengar ada suara dari arah dapur. Ia terduduk di sofa sebentar untuk memulihkan tenaga dari rasa kantuknya, barulah ia berjalan ke arah dapur. Saat melihat Anna begitu lahap memakan hasil masakannya, Arsya tersenyum tipis.
"Enak?" sebuah suara yang familar membuat Anna terkejut. Karena terlalu fokus dengan makanannya. sampai Anna tak menyadari kedatangan Arsya. Ia segera meminum segelas air putih untuk menelan semua makanan yang masih terasa dilidah sambil mendongak ke arah sumber suara.
"Kau! Sejak kapan kau berada di sana?" tanya Anna dengan panik. Bersamaan makanan yang ia telan telah luruh ke dalam perutnya.
Arsya melirik ke arah Anna sekilas lalu berjalan menuju tempat meja makan. "Ku kira ada kucing, jadi aku terbangun dan ternyata malah kau." Arsya tak segera menjawab pertanyaan itu dan ia justru mencibir sikap Anna.
Mata Anna membola tapi juga sangat malu.
"Apakah rasanya enak. Ini pertama kalinya aku memasak." Arsya memasang wajah rumit menatap semua makanan.
"Apa!" Anna tertegun sejenak.
Arsya yang melihat ekspresi wajah Anna, ia tersenyum tipis. "Tidak akan ada racunnya kok. Aku bisa jamin." Lalu Arsya duduk di hadapan Anna seraya mengambil mangkuk dan menyendokkan secentong nasi.
Anna merasa lega. Tapi menurutnya rasanya lumayan meski sedikit asin dan hambar. Anna kembali menenggak minumannya. Sementara Arsya memulai makan. Ia menikmati masakannya yang mungkin jauh dari kata enak. Tapi dia harus tetap merasa bangga karena orang yang pertama mencicipi masakannya adalah orang yang sangat ia kasihi.
"Rasanya lumayan meski sedikit asin." Arsya mengomentari masakannya sendiri sembari menganggukkan kepala. Kemudian menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
Anna menatapnya dengan perasaan kesal. Dia melihat Arsya yang begitu santai berada di rumahnya. Ia pun beranjak dari duduknya.
"Selesai makan, kau harus membersihkannya lalu segera pergi dari sini." ujar Anna lalu melenggang pergi.
Arsya hanya tertawa lalu melihat kaki jenjang Anna yang putih, apalagi dia masih mengenakan wardrop putih seperti itu. Pikirannya langsung berkelana.
"Ah sial!" Arsya mendesis lalu kembali mengalihkan pikirannya dan terus makan. Sebagai pria normal tentu saja melihat hal seperti itu bisa membangkitkan nafsu birahinya. Tetapi Arsya harus menahannya.
"Tunggu sampai kau jadi milikku Anna. Akan ku habiskan seluruh tubuhmu untuk ku nikmati." Arsya menyeringai.
Selepas menghabiskan makanannya. Arsya langsung merapikan meja makan kemudian mencucinya. Tepat saat itu dering telepon berbunyi.
__ADS_1
"Halo. Ada apa dengan mama?" tanya Arsya seraya menaikkan alisnya sebelah.
"Maaf tuan muda. Nyonya sakit. Dia tidak mau dibawa ke rumah sakit. Jadi menelepon tuan muda agar mau membujuknya." Suara pelayan itu terdengar sedih.
"Baik. Malam ini saya akan kesana. Kebetulan saya berada di Amsterdam. Akan sedikit memerlukan waktu." Ujar Arsya. Mata pelayan itu berbinar terang.
"Baiklah tuan muda." setelah itu Arsya menutup telepon.
Ia kemudian mengabari Danni untuk memesankan tiket juga mengemasi barang barangnya untuk terbang ke tempat Hanis. Sebelum pergi ia melirik ke arah pintu kamar Anna yang tertutup. Lalu melihat pot yang terjungkir. Barulah ia pergi dari rumah Anna.
Anna merasa lega saat mendengar pintu terbuka dan tertutup. Ia membuka pintu memberi sedikit celah untuk mengintip. Sepertinya benar jika Arsya telah pergi dari rumahnya. Ia merasa lega. Kemudian ia kembali menutup pintu kamar dan tidur dengan tenang.
Berbeda dengan Arsya yang langsung pergi ke tempat Hanis. Dia adalah satu satunya orang tua yang ia miliki. Meskipun sekarang Hanis memilih hidup sendiri dan menjual bunga sebagai penghasilannya. Setidaknya sebagai putra dia juga harus merawatnya.
Sebelum pergi, ia memerintahkan Rendi dan temannya untuk tetap tinggal juga berjaga jaga jikalau Anna dalam kesulitan atau hal apapun. Jadi Rendi siap membantu kapanpun. Dengan begitu Arsya merasa tenang.
Saat keesokan harinya. Anna memandang kartu kecil ditangannya. Dahinya berkerut dalam memikirkan sesuatu.
Dulu sewaktu masih berstatus istri. Pria itu enggan memberikan kartu itu kepadanya. Bahkan ia selalu kesusahan karena tak membolehkan menarik uang pemberian ayahnya. Dia juga selalu berhemat dari uang pemberiannya karena selalu ingin keluar dari rumah itu.
"Halo." Suara Anna terdengar lembut di telinga Roni sehingga Roni menyunggingkan senyum lebar meski tak terlihat oleh Anna.
"Halo. Noni. Apa kabar?" tanya Roni dari sebrang sana dengan gembira. Pasalnya selama beberapa hari ini pria itu sibuk menangani masalah konstruksi.
"Baik, bagaimana dengan pak Roni." Balas Anna.
"Aku juga baik baik saja. Oiya. Presdir Arsya tidak mempersulitmu kan?" Roni teringat jika presdir Arsya masih berada di Amsterdam. Entah sedang melakukan apa? Tiba tiba memutuskan tinggal di sana.
"Tidak." Sahut Anna.
"Baguslah. Presdir ini sangat aneh. Sudah banyak gadis yang aku sodorkan kepadanya karena aku merasa kasihan karena dia selalu memikirkan istrinya yang kabur itu. Entah kenapa sekarang malah berbalik dan mengganggumu." Direktur Roni berkata dengan polos.
__ADS_1
Anna terkesiap mendengar kalimat yang diucapkan Roni. Tapi jika dipikir, kenapa dia malah memikirkan dirinya. Bukankah sudah ada Linda yang berada di sampingnya.
"Hehe, mungkin dia karena sudah mengenalku. Jadi dia menggangguku."
"Oh...iya, aku lupa jika kalian saling mengenal. Baiklah. Tadi aku hanya ingin bertanya kabarmu saja. Dan aku sudah merasa tenang jika kau baik baik saja. Aku akan kembali bekerja. Bye."
"Oke. Bye."
Telepon pun tertutup. Anna meletakkan kembali ponselnya disamping. Lalu ia melirik kartu hitam yang ia genggam di tangan kirinya. Setelah mengambil uangnya ia harus mengembalikan kartu itu. Ya, seperti itu.
Anna pun bergegas keluar sambil membawa mobilnya. Ia mengambil uang bagiannya saja lalu akan mengembalikan kartu itu lagi. Anna pun tersenyum riang.
Berbeda dengan Arsya yang kini tengah membujuk Hanis agar mau di rawat di rumah sakit. Pasalnya wanita paruh baya itu tidak mau di rawat. Sementara tubuhnya masih terasa panas dan melemah.
"Ma, kita ke runah sakit. Badan mama panas." Ujar Arsya membujuk sang mama yang tengah terbujur lemah di atas ranjangnya.
"Tidak Sya. Mama hanya demam biasa. Bik Lili ya yang memberi taumu." Ujar Hanis melirik ke arah Bik Lili pelayannya yang tengah berdiri di belakang Arsya.
Bik Lili tidak berani menjawab hanya terus menundukkan kepalanya.
"Huh." Arsya menarik nafas dalam. Bersamaan dengan nada notif pesan masuk. Saat membuka ponselnya ia tersenyum tipis. Anna melakukan penarikan uang dari kartu atmnya. Hanya saja ia merasa kecewa ketika yang ia tarik cukup uang yang pernah membelanjakan keperluannya.
Arsya menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku mantelnya, kemudian ia menarik tangan Hanis dalam genggamannya.
"Ma, dengarkan Arsya. Jika mama sakit seperti ini dan tidak mau dirawat bagaimana mama akan sembuh. Apa mama tidak mau lihat bagaimana cucu-cucu mama kelak?"
Hanis kembali membuka matanya kala matanya terpejam. Lalu menatap putranya. "Kau sudah mau punya anak, apakah Anna hamil?" tanya Hanis.
"Belum, Tapi saat ini Arsya sedang berjuang. Maka dari itu Arsya butuh dukungan dari mama."
Hanis mencemberutkan bibirnya kesal lalu menarik tangannya. Dan kembali memejamkan matanya. "Itu berarti kau belum sepenuhnya mendapatkan hati Anna. Coba saja waktu itu kau tidak membawa Linda ke dalam rumahmu. Pasti saat itu Anna akan tetap bertahan." Sahut Hanis.
__ADS_1
"Ma..."
"Sudahlah, mama hanya demam biasa. Tak perlu di rawat. Nanti juga sembuh." Ujar Hanis melengos.