Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Empat Puluh Lima


__ADS_3

Anna masuk ke dalam mobil dengan perasaan benci dan marah. Lagi lagi, pria itu selalu memanfaatkannya. Entah sampai kapan pria itu akan bersikap seperti itu. Kadang kejam kadang baik. Semua itu membuat perasaan Anna jungkir balik dengan sendirinya.


Pria itu selalu menggodanya, tetapi diluar sana juga menggoda perempuan lain. Jika dibandingkan dirinya hampir tidak memiliki ruang sementara Arsya selalu mengurusi kehidupan pribadinya.


Dia benar benar merasa ditekan, sementara Arsya hidup bebas diluar sana. Sungguh keterlaluan! Anna menggelengkan kepala karena terlalu memikirkan Arsya yang begitu licik. Ia mencengkram kuat setir mobil lalu menambahkan laju kecepatan mobil.


Angin menderu di sekitar mobil, daun daun kering berterbangan di samping. Pada saat ini terdengar suara deringan telepon. Telepon ini dengan otomatis tersambung di mobil. Tertera nama si penelpon. Dengan mudah Anna memencet dan mengangkat telepon.


"Halo."


"Anna, Halo. Kamu dimana?" Dari sebrang terdengar suara riang dari Leya. Dan keributan disekitarnya.


"Aku dijalan."


"Wah kebetulan, hari ini aku sedang mengikuti balapan mobil. Cepat kemarilah."


"Oke!" telepon secara otomatis mati. Anna mengendalikan mobil secepat kilat dan bergegas menyusul ke arena balap di kota Apel. Tidak membutuhkan waktu yang lama Anna telah sampai di kota Apel.


Saat sampai, semua orang sudah berkumpul. Sekian banyak orang telah berdiskusi. Sebuah kaki yang ramping turun dari mobil. Lengkap dengan kaca mata hitam, Anna segera keluar dari mobil. Rambutnya yang panjang bergerak ke belakang diterpa angin sepoi sepoi.


Saat menyadari seseorang telah datang, Leya menoleh. Ia segera tersenyum bahagia dan pergi menyambutnya.


"Akhirnya sampai juga." pekikan Leya membuat Anna membuat Risih. Ia menggerakkan tangannya membuka kaca mata hitamnya yang menutupi mata indahnya.


"Tentu saja." jawab Anna.


Leya telah berganti pakaian dengan seragam yang bertuliskan ducati di punggungnya. Seragam itu khusus dikenakan oleh pembalap sedangkan para staf juga memiliki seragam yang sama persis dengannya, bedanya para staf itu hanya memiliki kaos dan celana sementara miliknya adalah seragam terusan kemeja dan celana bersambung.


"Bagus sekali. Balapan kali ini hadiahnya dua ratus jutaan. Sangat menarik. Doakan aku semoga aku menang, maka aku akan mentraktirmu makan dan menonton bioskop." ungkap leya.


"Dua ratus juta....banyak sekali." Anna tak bisa tak tercengang. Hadiah ini sangat menggiurkan.


"Iya." balas Leya singkat.


Saat Leya dan Anna saling ngobrol, saat ini staf berjalan menghampiri.


"Leya, sudah saatnya." Staf itu mengangkat tangannya dan menunjukkan jam ditangannya.


"Oke." Jawab Leya. Kemudian ia menoleh menatap Anna disampingnya.


"Tunggu aku disini, oke. Aku pasti membawakanmu piala besar itu." Leya menunjuk ke arah panggung dengan piala besar di atas meja.


"Ya, tentu saja kamu harus menang. Sebagai sahabat aku akan menyemangatimu."

__ADS_1


Terdengar kata tulus didalam kalimatnya, Leya sangat senang sekaligus bahagia. Leya tersenyum dan berbalik pergi.


Di arena balap sudah tersedia sepuluh mobil yang bersiap bersaing. Staf memberikan helm fullface kepada Leya. Leya menerima dan memakai. Sebelum masuk ke dalam mobil, leya melirik Anna yang sedang menatapnya barulah ia masuk ke dalam.


Seorang navigator pria duduk disebelahnya. Leya mengencangkan sabuk pengamannya. Di depan seorang wanita cantik berpakaian pendek memutar mutar bendera. Leya menginjak gas dengan dalam hingga menyemburkan suara yang keras.


Terdengar deruan suara mobil yang bersautan. Leya menatap kedepan dengan tajam, di kuping kanannya terselip handset yang menyambungkan dengan suara staf di belakang layar.


Wanita di depan memutar mutar bendera dan berjalan ke tengah tengah. Di dalam keramaian wanita itu menghitung.


"3.....2.....1......" Bendera diangkat ke atas.


Ke sepuluh pembalap menginjak gas dengan dalam dan mobil berpacu melewati gadis itu dengan kencang. Bahkan rok nya hampir naik jika tangannya tak segera menahan rok bawahnya.


Vrooommm Vrommmm Vrooommmmm


Leya memacu mobilnya dengan kecepatan 150 km/jam. Ia tidak mau kalah meskipun di antara sekian orang dia anak perempuan sendiri.


Mobil berwarna merah mengencangkan laju mobilnya. Leya tak mau kalah, ia menginjak gas mobil lebih dalam bahkan kecepatannya melampui 170km/jam.


Navigator terus berbicara, mengatakan kondisi kecepatan dan jalan yang baik. Leya melirik ke mobil di samping. Ia tersenyum menyeringai. Mobil berwarna biru metalik melaju didepan mobil merah. Pembalap di samping mengumpat kesal.


Leya tak bisa menyembunyikan kesempatannya. Ia duduk tenang sementara telinganya mendengarkan navigator terus berbicara. Tepat di km 90, mobil berbelok kembali. Leya membelokkan roda mobil dengan apik. Navigator secara tenang membacakan kecepatan mobil.


"Yeah." pekik leya senang dengan mengepalkan tangan kirinya yang menganggur. Navigator tersenyum cerah dan memuji kelihaian Leya.


"Bagus Leya, kamu memang yang paling handal." puji navigatot dengan tulus.


"Terima kasih, Sean." Leya tersenyum.


Perlahan laju mobil mulai melambat dan berhenti, para staf segera mendekat dan mendorong mobil masuk ke area. para staf segera tersenyum dan mengucapkan selamat kepada Leya.


Leya dan Sean adalah dua pasangan yang handal di arena balap. Leya dan Sean bergantian mendapatkan ucapan selamat. Leya menelisik seluruh arena, Seorang gadis cantik yang ramping berjalan ke arahnya.


Leya segera menyambutnya, "Leya, kamu menang." Bisik Anna dan tersenyum bangga.


"Tentu saja, siapa dulu dong." Leya menepuk dadanya dengan bangga.


Anna mengangguk, tak berapa lama penyelenggara adu balap segera membacakan pemenang. Dan saat juara pertama disebutkan adalah nama Leya.


"Anna, aku pergi dulu, aku bawakan piala ini untukmu." Leya segera berbalik dan naik ke atas panggung.


Leya mendapatkan juara pertama, sementara juara kedua adalah Maxi dan juara ketiga adalah Leondra. Leya mengangkat piala itu tinggi tinggi dengan bangga menatap Anna. Anna mengangguk. Tetapi di dalam hatinya ia merasa iri karena Leya sudah mendapatkan penghasilan sendiri. Sementara dirinya hanya bisa menonton.

__ADS_1


Dengan kalung emas dilehernya dan piala besar ditangannya, Leya segera turun dari panggung. Hal pertama yang ia lakukan adalah membuka tutup botol bir dan menyembur keluar, setelah itu ia segera menemui Anna.


"Anna. Ini janjiku padamu." leya memberikan piala besarnya kepada Anna.


"Ugh berat sekali." Saat Anna menerimanya tubuh Anna ikut menunduk karena berat piala itu hampir 1kg.


"Hahahaha...."Leya merasa sangat lucu dan menertawakan Anna. Anna merasa malu lalu Leya segera menangkapnya dan mengangkatnya ke atas. Dua orang gadis mengangkat piala dengan satu tangan masing masing.


Andra, segera maju ke depan dan memotret mereka berdua, Leya tersenyum lebar dan Anna hanya menampilkan senyuman manis. Sungguh dua sahabat yang mesra dan manis.


Setelah sesi penutupan Acara, manager Leya segera melapor. Mobil biru yang bertuliskan ducati itu akan masuk ke dalam garasi dan secara berkala akan diperbaiki oleh staf. Leya bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian yang ia pakai sebelumnya.


Kemudian ia pergi menemui Anna yang menunggunya.


"Aku turut senang kamu memenangkan kompetisi balap ini." Ungkap Anna dengan perasaan senang.


"Terima kasih."


Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam mobil Anna. Leya tercengang sesaat karena biasanya gadis itu akan selalu dikawal dan selalu di sopiri. Tapi kali ini gadis itu pergi mengenderai mobilnya sendiri.


"Kenapa?" tanya Anna saat mimik wajah Leya berbeda dari sebelumnya.


"Biasanya kamu pulang pergi di antar sopir. Ini...." Leya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Anna tersenyum miring.


"Ya, hari ini aku sangat marah sama Arsya. Aku diam diam membawa mobil sendiri dan pergi."


Mulut Leya ternganga lebar. Arsya adalah pria terkuat di negaranya. Bahkan selalu ada pengawal di sampingnya. Dia juga tidak pernah memberikan ruang kepada Anna kemanapun gadis itu pergi. Tapi melihat pemandangan ini ia merasa kaget.


"Apakah dia tau?" Tanya Leya penasaran.


Anna menggeleng, karena ia juga tidak tau apakah kepergiannya diketahui atau tidak. Tapi ia yakin dari sekian banyak pengawal yang berjaga pasti akan ada yang melaporkan. Tapi sampai saat ini ia tidak melihat pengawal yang mengintainya, ia pun bisa duduk tenang.


"Tapi kurasa, salah satu pengawal ada yang melaporkan. Tapi entahlah."


"Ya, aku rasa juga begitu. Oh ya, kamu marah karena apa?" Leya mengetuk ngetuk pelipisnya kemudian mendongak menatap Anna.


"Ya, ada aja lah, setiap suami istri gak selamanya rukun terus. Ada kalanya juga bertengkar." Anna menyampaikannya dengan mata tetap fokus ke depan.


Jika dipikir ini juga sangat logis. Leya tak memikirkannya lagi dan fokus pada jalanan didepannya.


Mobil terhenti tepat di sebuah mall Citra Emas. Anna dan Leya segera turun dan masuk ke dalam mall. Kebetulan hari libur seperti ini kondisi mall sangat ramai.


Leya menggandeng tangan Anna menuju ke sebuah antrean tiket yang mengular bagai rel kereta. Kebetulan ada film baru yang sedang dirilis. Setelah mengantre beberapa jam akhirnya mereka mendapatkan tiket.

__ADS_1


Dengan gembira keduanya masuk ke dalam dan menyaksikan film secara VIP.


__ADS_2