
Setelah berdebat sepanjang pagi, kini Anna dan Arsya pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan. Rumah sakit itu adalah rumah sakit yang berada dibawah naungan Adiyaksa Group. Mereka tak perlu mengantre terlalu lama di luar untuk menunggu giliran.
Tadi pagi Dokter Wendi sudah memberitaukan kepada dokter Mela jika tuan Arsya akan datang. Jadi dokter Mela segera menyambut kedatangan mereka dengan ramah.
"Selamat pagi tuan Arsya." Sapa dokter Mela ramah.
Arsya berdehem seraya mengangguk. Kemudian menuntun Anna untuk duduk di sebuah kursi yang berada di depan meja kerja dokter Mela. Kemudian ia juga duduk di sampingnya.
Dokter Mela pun segera duduk di kursinya. Lalu mengeluarkan sebuah buku berwarna pink. Ia meminta ktp keduanya untuk dijadikan keterangan di buku itu.
Setelah selesai, Anna dipersilahkan untuk berbaring di ranjang. Memeriksa tensi darah dan denyut nadinya. Juga bertanya apa keluhan yang dirasakan. Setelah itu ia membuka sedikit perut Anna mengolesinya gel anti radiasi. Kemudian mengarahkan probe di atas perutnya.
Di dalam layar komputer dokter dapat melihat jelas perkembangan janin di dalam perut. Anna dan Arsya juga ikut menyaksikan. Dokter dengan sabar menjelaskan jika janin yang berada di dalam perut Anna sangat sehat.
Arsya tersenyum dan berkali kali mengecup kening Anna. Karena terlalu bahagia
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan. Dokter Mela kembali duduk di kursinya. Menulis beberapa resep obat lalu memberinya kepada Arsya.
"Tuan, ini adalah resep obat yang harus anda tebus. Disini saya hanya menambahkan suplemen dan vitamin pada bayi agar tetap sehat." Ucap Mela.
"Terima kasih dokter." Anna dan Arsya berpamitan kemudian segera pergi.
Arsya merasa bahagia dapat melihat si bayi didalam perut Anna. Ia merangkul bahu Anna di sepanjang koridor seolah menjaga anak kecil. Sangat posesif.
Anna merasa malu saat ia dirangkul dan perutnya selalu di elus setiap melewati orang orang yang berlalu lalang di sana.
"Arsya, berhentilah mengusap perutku. Aku malu diliat orang orang." Anna menasehatinya dengan suara kecil.
"Di umurku yang ke tiga puluh ini, baru pertama kali memiliki anak. Aku sangat bahagia."
"Iya, aku tau. Tapi lihatlah! Ini di tempat umum." Sahut Anna dengan wajah cemberut.
"Biarkan saja. Mereka memiliki mata." Sahut Arsya acuh. Anna memelototkan mata lebih kesal.
Arsya bukannya melepas tapi memelototi mereka yang sedang menatapnya.
Sampai di mobil, Arsya tetap bersikap posesif. Dan Anna hanya mampu menghela nafas.
"Aku akan mengantarmu pulang terlebih dahulu. Setelah itu, aku akan pergi ke kantor."
"Terserah kau." Sahut Anna sudah merasa sangat kesal. Jadi menjawab seadanya.
Mobil melaju meninggalkan area rumah sakit menaiki jalas aspal menuju Villa. Di sepanjang jalan Arsya membaringkan kepalanya di pangkuan Anna agar lebih dekat dengan perut Anna. Ia berucap dengan pelan dan tersenyum sendiri.
__ADS_1
Setelah menghabiskan satu jam perjalanan. Mobil terhenti di sebuah Villa mewah dijalan bahagia. Arsya mengantarkan Anna masuk ke dalam rumah. Berpesan kepada seluruh pengawal berjaga lebih ketat. Setelah itu ia pergi ke kantor dengan tenang.
Sampi di Adiyaksa group. Merlin memberitaukan jika West Corp ingin melakukan janji temu dengan Arsya.
"Oke. Siang ini kau jadwalkan untuk pertemuanku dengan presdir West Corp." Sahut Arsya. Merlin mengangguk dan mengulang jadwal yang telah ia susun.
Arsya mulai bekerja dengan memeriksa banyak dokumen yang menumpuk di atas meja kerjanya.
Sementara Anita sendiri. Setelah menunggu dua/tiga hari. Akhirnya ia merasa lega. Proyek yang ia ajukan kepada Albert telah disetujui. Siang ini mereka akan melakukan pertemuan dan membahas hal selanjutnya.
Di sebuah restoran merah hati, Anita dan Eli melakukan pertemuan.
"Anita?" Anita yang tengah duduk menunggu segera menoleh ke arah sumber suara yang ia tebak adalah perempuan. Anita mengernyitkan dahinya merasa tidak kenal dengan wanita itu. Lantas Eli tersenyum dan segera memperkenalkan diri.
"Saya Eli yang akan menindaklanjuti proyek ini ke depannya."
Anita berbinar terang, ternyata sangat mudah untuk menarik Eli keluar. "Nona Eli silahkan duduk." Anita segera mempersilahkan duduk.
Eli segera duduk berhadapan dengan Anita. "Nona Eli sudah makan? Bagaimana kita mendiskusikan hal ini sambil makan." Anita memberi tawaran.
"Begitu juga bagus," Eli mengangguk menyetujui tawaran Eli.
Anita segera melambaikan tangan kepada pelayan dan memesan makanan. Setelah makanan tiba mereka berdiskusi sebentar. Setelah Eli merasa cukup puas dengan presentasi Anita. Mereka segera melanjutkan makan dengan ngobrol sebentar.
"Nona Eli, saya dengar anda sedang hamil? Benar?" Anita memulai aksinya.
Anita tersenyum. "Dan aku dengar, itu anak dari Arsya."
"Anda tau?" Tanya Eli.
"Arsya adalah keponakanku, bagaimana saya tidak tau."
"Benarkah?" Mata Eli berbinar terang seolah mempunyai harapan untuk bertemu dengan Arsya dan meminta pertanggungjawabannya.
"Ya." Anita mengangguk pasti.
"Tetapi dia sudah mempunyai istri. Bagaimanapun saya tidak bisa memaksanya untuk bertanggung jawab meski ini adalah anaknya." Namun Eli teringat jika Arsya sudah mempunyai istri meskipun berita itu terdengar ambigu akan kebenarannya.
"Jangan khawatir. Meskipun dia sudah punya istri. Tetapi istrinya kabur dan sekarang belum kembali. Dia menceraikannya enam tahun yang lalu." Anita memberitaunya tentang kebenaran lalu.
"Kabur?"
Anita mengangguk. "Meskipun saya selalu tinggal di luar negeri tetapi berita ini selalu terekspos. Dan pada saat ini para dewan direksi mendesak tentang penerus perusahaan. Mungkin Nona Eli bisa mendapatkan kesempatan ini untuk menempati posisi ini."
__ADS_1
"Tetapi saya tidak yakin. Ayahku tidak ingin saya pergi menemuinya apalagi mencarinya untuk bertanggung jawab."
"Jika itu masalahmu, mudah saja. Keponakanku sangat tunduk dengan kakeknya. Saya akan mengatakan hal ini pada Kakeknya dan aku menjamin, Jika Kakeknya akan memaksanya untuk bertanggung jawab."
Setelah Anita mengatakan hal itu, mata Eli seolah mendapat pengharapan. Anita tersenyum, sepertinya dia berhasil membujuk Eli untuk tetap meminta pertanggungan dari Arsya.
Eli menundukkan kepalanya dan mengelus perutnya yang masih rata dengan pelan.
Anita segera mengangkat tangannya melihat jam. "Nona Eli, sepertinya saya harus segera pergi. Masih ada banyak pekerjaan yang harus saya tangani." Anita segera berdiri dan pergi.
Eli menatap punggung Anita dengan keraguan, meski Anita memberi keyakinan penuh untuk bisa mendapatkan Arsya. Tetapi pada konferensi pers yang pernah dia lihat, sudah jelas Arsya menerangkan jika dirinya telah beristri dan akan segera memiliki penerus.
Tiba tiba hatinya terasa goyah. Eli kemudian teringat jika siang ini ia akan menemui seorang dokter. Jadi ia bergegas pergi dan meninggalkan restoran.
Di Kantor Arsya.
Danni menemukan sebuah kabar, jika saat ini Anita tengah melakukan kerja sama dengan perusahaan Albert.
"Presdir. Nyonya Anita melakukan kerja sama dengan Perusahaan Albert."
"Kerja sama! Aku kira, Anita pergi ke sana sedang memainkan sebuah trik tak di sangka juga melakukan sebuah kerja sama." Arsya bergumam tidak jelas.
"Kerja sama apa yang dia lakukan?" Tanya Arsya.
"Sepertinya, nyonya Anita bekerja sama soal rekonstruksi perusahaan cabang tuan Albert."
Arsya mengerutkan kening. "Rekonstruksi. Dia tidak memiliki kemampuan untuk mendesain. Coba selidiki, dari mana dia mendapatkan gambar itu."
"Baik." danni kembali menuju ke tempatnya.
Arsya memijit pangkal hidungnya yang terasa lelah setelah seharian ini menatap layar komputer.
Apalagi yang dilakukan Anita. Sepertinya wanita itu berulah lagi. Gumam Arsya dalam hati.
Tengah malam, Arsya baru saja kembali. Sampai di Villa, terdengar suara grusak grusuk di dapur. Ia menajamkan telinganya dan membelokkan langkahnya menuju dapur.
Di dapur lampunya menyala dengan cahaya temaram. Tidak jelas siapa yang ada di sana. Namun dengan intuisinya yang bagus, ia merasakan sebuah pergerakan.
Sebuah pisau melayang ke arah Arsya. Arsya dengan cepat menghindar. Tepat saat lampu menyala, orang itu melintas dan melompat melalui jendela. Arsya berburu ke arah jendela. Namun orang itu menghilang dengan cepat.
Pengawal yang sedang menyalakan lampu terkejut kala Arsya pergi menuju ke arah jendela.
"Tuan muda, apa yang terjadi?" Tanya pengawal itu dengan mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Sepertinya ada orang yang diam diam ingin membunuhku." Ucap Arsya. "Kamu perketat penjagaan. Mungkin selama aku tidak berada disini. Ada orang yang telah mengintai."
"Baik tuan."