
Sesampainya dirumah sakit. Arsya sedikit berlari masuk ke dalam. Ia bertanya kepada perawat yang berjaga. Lalu menunjukkan bahwa memang ada pasien yang baru saja datang karena kecelakaan dan menunjukkan arah ruang operasi.
Arsya diikuti ke empat pengawal menuju ruang operasi. Saat sampai di sana lampu emergenci masih menyala, itu tandanya dokter sedang melakukan operasi.
Hampir dua jam ia menunggu, lampu emergency akhirnya padam. Seluruh dokter keluar dari ruang operasi bersamaan brankar pasien didorong keluar.
Arsya segera mendekati dan bertanya pada dokter. "Dokter bagaimana keadaannya?" bersamaan itu seorang pasien tertutup selimut hingga kepala juga keluar.
Dokter menggelengkan kepalanya, Arsya merasa dadanya sesak. Ia menoleh ke arah brankar. Kakinya seolah lemas melihat pasien yang tertutup selimut.
"Tidak mungkin. Dokter katakan bahwa dia baik baik saja." Arsya secara emosional mencengkeram kerah dokter. Semua pengawal dibelakangnya menjadi sendu. Juga perawat yang mendorong brankar merasa kasihan.
"Maaf tuan ini kenyataannya!" Dokter itu kembali menggelengkan kepala dan memegang pundak Arsya. Kemudian dengan paksa menarik tangan Arsya dari kerah bajunya. Dokter pergi meninggalkannya bersamaan brankar pasien didorong keluar menuju ruang jenazah.
Arsya sangat tak berdaya melihat pasien itu pergi. Hatinya berkecamuk memikirkan hal ini. Ini kedua kalinya dia ditinggal oleh orang kesayangannya.
Arsya meratapi kepergian Anna. Tak lama terdengar suara langkah kaki. Rendi mendekat. "Tuan muda!" Arsya masih terbelenggu dengan kesedihannya. Rendi merasa ini adalah salah paham.
"Nona muda masih hidup, dia dirawat diruang 215." lapor Rendi.
Arsya membelalak. Ia menatap Rendi dengan tak percaya. "Apa katamu!" sarkas Arsya.
"Nona muda masih hidup." Ulang Rendi.
Arsya bernafas dengan lega. Ia tersenyum cerah. "Cepat tunjukkan padaku." Arsya merapikan mantelnya. Rendi segera berbalik dan menuju ruang rawat inap Anna.
Segerombolan manusia masuk ke dalam lift menuju lantai 7. Arsya merasa sangat lega. Kenapa dia begitu bodoh tidak menanyakan lebih detail. Untung saja Rendi bertindak lebih cepat dan menemukan keberadaan Anna.
__ADS_1
Diluar, Indri mendapat kabar terbaru tentang kecelakaan yang menimpa Anna. Ia bergegas ke rumah sakit. Dia memastikan apakah benar Anna dirawat dirumah sakit itu. Setelah mendapatkan informasi ia tersenyum licik.
Dia harus berhati hati, selama wanita itu tinggal disisi Arsya, akan ada banyak pengawal yang berjaga. Jadi bagaimanapun untuk masuk ke dalam dia harus melakukan penyamaran.
Sampai di lantai 7, Arsya meneliti satu persatu ruangan dan akhirnya menemukan kamar 215. Dia segera bergegas ke sana dan masuk.
Ia terpana saat masih melihat gadis yang telah mengisi relung hatinya selama ini masih hidup. Meski terbujur di atas brankar dengan memejamkan mata. Hanya ada goresan kecil didahinya dan itu tidak terlalu parah.
Rendi beserta sekawanan pengawal yang lain berjaga di depan pintu. Indri melihat dari kejauhan, ternyata benar dengan dugaannya. Ia masuk ke dalam sebuah ruangan lalu mengganti pakaiannya dengan baju perawat. Juga tak lupa mengenakan masker menutupi sebagian wajahnya.
Ia harus menunggu beberapa saat agar pengawal yang berjaga sedikit lengah maka ia akan beraksi.
Di dalam ruangan, Anna tertidur dengan damai. Meskipun ada jarum infus yang tertancap di lengan kirinya. Arsya tersenyum dan mendekati disisi ranjang. Dia mengelus dahinya dan merasa lega.
Berita dengan cepat segera menyebar. Dan berita itu sudah masuk ke telinga Herman dengan segera menyuruh Ferdi sang asisten untuk menelepon. Tepat saat wajah Arsya berseri seri suara deringan telepon berbunyi. Arsya melirik ke saku dan tangan kanannya meraba ke dalam kantong mengeluarkan benda pipih itu.
"Bagaimana keadaan cucu menantuku?" tanya Herman langsung pada intinya.
"Dia baik baik saja. Sekarang dia sedang istirahat. Aku akan menutupnya takut mengganggunya tidur." ujar Arsya.
"Baiklah. Kau jaga dia baik baik. Jangan sampai kejadian tempo lalu kau ulangi lagi. Juga kau jauhi wanita licik itu."
"Kakek! Aku bersama Linda hanya untuk membuka kejadian lima tahun lalu. Tidak akan ada apa apa aku dengannya." Ujar Arsya lebih meyakinkan Herman.
Herman merasa sakit kepala.
"Bocah tengik. Apa yang kau ingin buktikan. Sudahlah, bagaimanapun kau lebih baik jauhi dia dan kau urus cucu menantuku dengan baik." Ujar Herman disertai menutup telepon.
__ADS_1
Herman menyodorkan telepon kepada Ferdi. "Tuan besar, tuan muda mempunyai alasan sendiri untuk hal ini. Lebih baik anda jangan mencampuri urusannya. Asalkan hubungan nya dengan menantu baik baik saja. Itu akan lebih baik." Ferdi segera menerima telepon dan lekas menasehati.
"Benar! Asalkan mereka masih bersama maka hubungannya akan baik baik saja. Tapi aku terlalu cemas. Karena anak sialan itu masih tetap bersama wanita licik itu.
Seharusnya dia juga tak perlu membuktikan apapun. Karena masih ada budi yang harus dibalas. Seharusnya berdiri berdampingan akan lebih baik. Tetapi kenapa harus hidup bersamanya dan mengumumkan pertunangan palsu tetap membuatku khawatir." Ujar Herman dengan nada lesu.
"Tuan besar. Lebih baik anda istirahat saja. Biar ini tuan muda yang menyelesaikan. Jika anda terlalu pikiran takutnya jantung anda akan kumat." Ferdi segera mengalihkan topik dan menasehati Herman terus menerus.
Akhirnya Herman di dorong masuk ke dalam kamar dan beristirahat. Memikirkan cucunya itu memang sakit kepala. Dengan tidur sejenak mungkin akan lebih baik.
Arsya menyimpan kembali ponselnya dan kembali menatap wajah Anna yang tampak pucat. "Dasar bodoh!" Arsya mencibir dirinya sendiri dan tersenyum.
Kebetulan hujan badai di luar sudah mereda. Hari juga sudah gelap. Ia duduk di sofa sebentar menatap i-pad. Ia meneliti gambar terakhir yang sedang ia gambar.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Ia mendongak Anna yang tertidur sepanjang malam. Lalu menyimpan I-padnya di saku mantel. Ia sudah sangat mengantuk. Ia pergi ke sisi Anna dan naik ke atas ranjang.
Arsya tertidur di atas ranjang dengan wajah menghadap Anna. Tangan kanannya terulur lalu mencubit hidung mancung Anna dengan pelan. Tak berapa dengkuran halus sudah mulai terdengar. Arsya tertidur dengan nyaman saling memeluk satu sama lain.
Diluar para pengawal berjaga bergantian. Itu tidak memberikan Indri kesempatan apapun. Wajahnya memerah karena amarah. Ia benar benar selalu gagal menjalankan aksinya.
Dia hampir menyerah, tetapi karena tekadnya yang kuat ia tetap bertahan. Jadi ia pulang dengan tangan kosong. Dan dengan lesu masuk ke dalam kontrakan kecil yang di sewa Ardan. Meski tak semewah rumahnya dulu tetapi sudah lumayan nyaman.
Dia juga bisa bersembunyi dari tagihan hutang yang ditinggalkan kedua orang tuanya. Memikirkan kedua orang tuanya. Ia merasa rindu tapi juga benci. Tapi bagaimana lagi. Ini adalah balasan setimpal yang dia lakukan dan juga menjadi sebab hancurnya perusahaan keluarganya.
Menyesal!
Itu adalah kalimat terakhir yang seharusnya ia sandang. Tetapi di dalam hatinya masih tersemat rasa kebencian yang teramat dalam kepada Anna. Dengan resiko ini, akhirnya melangkah ke arah yang salah.
__ADS_1
"Anna! Aku tidak akan lupa dengan perlakuanmu dulu." Indri menggertakkan giginya. Kebencian sudah melekat pada dirinya. Bagaimanapun harus segera terbalaskan.