
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, Selesai membahas bisnis dengan direktur Soni. Arsya segera undur diri. Ia merasa jengkel dengan direktur Soni yang mengatur dua gadis di sampingnya. Ia bergegas ke hotel terdekat membersihkan dirinya di sana.
Danni memberikan set pakaian. Arsya membuang pakaian yang ia pakai dan mengenakan set pakaian baru. Usai mengganti pakaiannya, ia berdiri sebentar di teras balkon hotel.
Kebetulan cuaca malam ini terasa dingin. Apalagi ia sedang berdiri di lantai 50. Ia melihat suasana malam di sekitar gedung gedung tinggi itu. Lalu melihat langit yang tampak berkilauan.
Tak lama Danni keluar dan memberikan mantel. "Presdir, cuaca malam ini dingin sekali." Ujar Danni.
"Hem." Arsya mengenakan mantel tapi masih berdiri di sana. "Kau benar. Malam ini sangat dingin." sahut Arsya.
Di paris
Anna mengenakan mantelnya hingga dua kali lipat. Flu yang dideritanya tak kunjung sembuh.
"menyebalkan sekali. Kenapa dulu aku memilih hidup disini jika sedingin ini." gerutu Anna. Hidungnya memerah dan tersumbat pilek.
Tapi apalah daya. Ia harus tetap bertahan sampai sekolahnya selesai lalu pergi dari tempat itu dan mencari tempat yang cocok untuk dirinya.
Tepat saat ini Leya sedang bertelepon padahal di sana sudah malam. Sementara di tempat Anna masih siang. Perbedaan jam antara leya dan Anna dua belas jam.
"Anna!" pekik leya kegirangan. Ini pertama kalinya Leya bisa berbicara dengan Anna di luar negeri.
"Leya." Balas Anna tak kalah semangat. mereka berdua sedang melakukan Video call tentu saja wajah mereka tampak terlihat.
"Hai. Anna kenapa kau memakai jaket setebal itu? Kau sakit?" Tanya Leya.
"Iya." Anna mengerutkan bibirnya berpura menyedihkan.
"Kasihan sekali." leya juga menatap sendu.
"Hai, kau meneleponku ada apa?" Anna segera bertanya mengalihkan rasa ibanya.
"Hem, tentu saja merindukanmu."
"benarkah. Bukankah kau sudah mendapatkan yang baru." Ujar Anna.
"Ugh. Kau ini tidak asik." Leya menunjukkan wajah kesalnya. Anna tersenyum di ujung sebrang. "Itu karna kau meninggalkanku. Dan kau tau. Aku sungguh susah mencari teman disini." Ujar Leya memberitau.
__ADS_1
"Hahahaha...." Anna tertawa.
"Hei, kau tertawa?"
"Leya, lihatlah dirimu. Kupingmu memerah."
"Sial, kau selalu meledekku." Sahut leya.
"Baiklah. Ada kabar apa di sana?" Tanya Anna mengalah.
"Tidak ada. Hanya teman teman saja yang mempertanyakan dirimu karena tidak ikut menghadiri acara perpisahan di sekolah. Dan aku sangat kesal sama Dea dan Kesya. Mereka mengatakan jika kau tengah hamil dan tidak berani keluar karena malu bertemu orang orang." Cerita Leya.
"Hem, dua orang itu sama seperti Indri. Selalu membuat kesimpulan sendiri." Gumam Anna.
"Ya. Tapi untunglah saat ini aku tak bertemu dengan mereka lagi. Jika ketemu, aku ingin sekali menyiramnya dengan air biar kompor di mulutnya meledak." Ujar Leya.
"Hahaha...biarkan saja. Lalu apalagi?" Tanya Anna.
"Aku semalam mendapatkan tropi kejuaraan. Lihatlah." Leya menunjukkan kalung emas dan memakainya di dadanya. "Ini berkat doamu tempo hari. Aku bisa juara dalam lomba balap mobil."
"Wah selamat. Kau memang juara." Anna memujinya.
"Leya, ada orang. Mungkin itu Max."
"Wow. Kau pasti mempunyai teman bule." Ujar Leya antusias.
"Ya, nanti aku akan mengenalkanmu. Aku hari ini janjian akan pergi belajar bersama. Leya. Bye." Ujar Anna.
"Baiklah. Kau jaga dirimu. Sampai jumpa. Bye." Mereka sama sama mematikan telepon. Anna segera meletakkan ponselnya di atas nakas lalu menuju pintu dan membukanya. Benar saja itu adalah Max.
"Halo Max!" Sapa Anna. "masuklah." Anna mempersilahkan masuk.
"Apartemenmu lumayan luas." Ucap max seraya masuk ke dalam apartemen. Anna segera menutup pintu apartemennya. Dan masuk mengambilkan minuman bir dua kaleng. Itu akan menghangatkan tubuh mereka.
"Kau tampak lesu? Apa kau sakit?" tanya Max menatap raut wajah Anna yang memucat.
"Hanya flu biasa. Nanti akan sembuh jika musim semi datang."
__ADS_1
Max mengangguk. "Baiklah, kita mulai mencatat saja. Tadi ada banyak pelajaran. Dan ini ada beberapa point penting kau harus mempelajarinya karena ini akan mempengaruhi penilaianmu."
"Baik, aku mengerti."
...----------------...
Di Villa kediaman Arsya
Arsya baru saja menapakkan kakinya masuk ke dalam. Ricky segera menyambut. Membawakan mantel serta tas kerja. Lalu berjalan di belakang Arsya.
"Nona Linda sudah tidur?" Tanya Arsya kepada Ricky.
"Iya tuan." Jawab Ricky.
Ricky ingin mengatakan jika semua pelayan sudah merasa tidak tahan dengan sikap Linda. Ia membuka mulutnya tetapi kemudian mengatupkan bibirnya kembali. Ia menelan kata katanya yang ingin keluar.
Saat masuk ke dalam, Ricky segera meletakkan tas dan mantelnya di tempat seperti biasa. Setelah itu undur diri. Ricky melirik gadis yang tengah tertidur dengan lelap di atas ranjang. Kemudian menarik kembali pandangannya dan kembali keluar.
Arsya duduk di sofa, sembari menyandarkan punggungnya. Baru setelah beberapa lama ia mencari pakaian tidur dan keluar dari kamar utama. Linda di balik selimut kembali membuka mata. Lalu memandang pintu yang telah tertutup.
Ternyata perjuangannya selama ini seakan sia sia. Dia sudah mengusir pokok permasalahan yang menjadi penghalangnya. Tetapi tetap saja Arsya tidak meliriknya. Bahkan ia sampai rela hamil.
Linda kembali menutup matanya. Perutnya yang besar tidak bisa bergerak dengan bebas seperti biasa.
Sementara Arsya menuju ke tempat tidur tamu yang ditempati Anna. Di sana ia tengah berdiri memandangi semua ruangan. Ia membayangkan bagaimana Anna berlari kesana kemari. Rbutnya yang panjang mengayun kesana kemari bersebrangan dengan tubuhnya yang aktif.
Lalu beralih ke meja belajar yang biasa di gunakan Anna setiap kali belajar. Dia selalu menggertaknya dengan penggaris panjang setiap kali Anna mengantuk. Dan itu membuat Anna kelabakan dengan memanyunkan bibirnya.
Semua itu tampak jelas di ingatannya. Terdengar suara dering ponsel dari saku celana Arsya. Ia segera merogoh dan mengeluarkannya. Itu adalah Jo yang sedang melakukam panggilan.
"Katakan!" Ujar Arsya to the point.
"Tuan. Ada satu kemungkinan yang masih hidup. Dia pergi keluar negeri. Jika tuan berkenan malam ini saya akan pergi." ujar Jo dari sebrang telepon.
"Hem, Kau harus mencarinya sampai dapat. Lalu seret dia kembali ke sini. Jadikan dia tahanan setelah kau mendapatkannya." Ucap Arsya.
"Baik."
__ADS_1
Setelah itu sambungan telepon ditutup. Arsya meremas ponselnya hingga layarnya letak. Biarlah ia merasa tuli akan sikap Linda selama ini. Dia akan terus mencari jejak akan kebusukan Linda. Dan saat itu tiba, ia akan membawanya ke jalur hukum.
Maka ia tak perlu lagi memikirkan soal jasa yang pernah dilakukan Bramantyo saat dulu kala. Karena ia hanya akan menghukum orang yang salah sebagai hukuman.