
Di kediaman Villa Herman
Arsya mendorong kursi roda Anna hingga masuk ke dalam ruangan tengah. Di sana Herman sedang membaca koran. Saat pengawal mengatakan bahwa tuan muda datang, Herman segera melipat korannya dan meletakkannya di meja sampingnya.
"Halo Kakek." Anna tersenyum lebar memyapanya.
"hahaha, cucu-ku akhirnya kau datang." Herman tertawa bahagia. Anna mencium punggung tangan Herman.
"Semoga berbahagia Nak." Doa Herman bersamaan tangan kirinya mengelus pucuk rambut Anna.
Arsya mendorong kursi Anna di samping sofa, lalu memindahkan Anna hingga duduk di sofa. Arsya pun ikut duduk bersampingan dengan Anna.
"Bagaimana keadaan kakek?" Tanya Anna.
"Haha, kamu memang pantas jadi cucu menantuku. Kau sangat peduli sama kakek. Kakek baik baik saja. Lalu bagaimana denganmu? Apakah bocah tengil ini mengganggumu?" Tanya Sang kakek lalu memelototi cucu lelakinya. Sedangkan Arsya hanya diam acuh tak acuh.
Anna melirik sekilas lalu tersenyum. "Tidak kek, dia baik sekali." Balas Anna.
"Syukurlah, jika dia berani mengganggumu katakan pada kakek. Kakek akan menghajarnya."
Anna pun ikut tertawa bahagia. Jam sudah menunjukkan 8 malam, Ketiga orang dewasa itu masuk ke ruang makan dan memulai makan malamnya.
"Makanlah nak, Aku memerintahkan koki terbaik untuk memasak semua makanan ini untuk menjaga kesehatanmu." Ujar sang kakek.
Anna mengamati hidangan di atas meja, Ini terlalu berlebihan.
"Sewaktu Arsya kecil, dia tidak terlalu menyukai makanan. Dia terlalu pilih makanan kadang jika dimasakkan ini, dia meminta yang lain. jadi Kami selalu memasakkan banyak untuk disukainya. Ini...cicipilah." Herman menyumpitkan Daging lobster ke mangkuk Anna.
"Terima kasih kek. Ini enak."
"Hahaha...."
Di sepanjang malam itu Lelaki tua dan gadis remaja itu saling tertawa tidak menghiraukan Arsya yang hanya diam acuh tak acuh. Dan itu membuat Arsya kesal.
"Kek, kami pulang dulu." Arsya menghentikan tawa mereka saat mengobrol.
"Bocah sialan, Aku baru ingat jika kau masih disini." Geram herman saat suara Arsya menyuarakan.
"Hahh. Ngantuk." Arsya menguap dengan santainya seakan mengejek ucapan Herman.
"Ah, sangat tidak sopan. Aku ingin sekali memukul pantatmu. Kau pengantin baru malah meninggalkan istrimu ini di rumah sendirian. Dan kau malah bersenang senang diluaran sana dengan wanita lain. Aku tidak mengajarkanmu hal yang tidak baik." Herman marah ingin memukul pantatnya.
"Tuan besar, jaga emosimu. Nanti penyakit anda kumat." Sang asisten Ferdi mengingatkan. Terlihat nafas Herman tersendat naik turun karena marah.
"Kakek terlalu memaksaku. Dan memang kebetulan ada pekerjaan di sana."
"Sialan, masih bisa jawab." Herman hampir memukul kepalanya.
__ADS_1
Ferdi melangkah maju dan segera menghentikan aksi Herman
"Pak Ferdi jaga kakek dengan baik, aku akan pulang. Selamat malam kakek." Arsya memindahkan Anna ke kursi rodanya.
"Kakek, jaga kesehatan kakek. Anna pulang dulu." Anna tersenyum lembut dan menyalimi tangan Herman.
Melihat kesopanan Anna, Herman menjadi lebih baik. "Baik...baik...pergilah dan hati hati dijalan." Kemudian melihat Arsya yang tak bergeming. "Kendarai mobil dengan hati hati, jaga istrimu dengan baik."
"Aku tau apa yang harus aku lakukan." Kemudian mendorong kursi roda Anna keluar.
Arsya mengendari mobil Roll Royce itu dengan kecepatan sedang. Satu jam kemudian mereka sudah sampai di Villa. Anna sudah merasa mengantuk. Jadi ia memejamkan matanya tanpa sadar.Arsya Melihat Anna sudah tidak ada pergerakan Arsya pun menunduk.
"Dasar bocah. Begitu saja sudah tertidur." Gumam Arsya lalu memindahkan tubuh Anna ke ranjang lalu menyelimuti.
Sepanjang malam terlewati begitu saja, saat sudah bangun Anna segera mengambil ponsel. Sudah pukul Enam. Seperti biasa ia akan bangun dan mempersiapkan dirinya untuk pergi ke sekolah. Setelah selesai bersiap siap, pelayan akan mendorongnya hingga ke meja makan.
Di sana Arsya sudah memakai pakaian kantornya dengan rapi, sambil membaca koran dan di hadapannya ada secangkir kopi yang masih panas.
"Selamat pagi." Sapa Anna dengan riang.
Mendengar suara yang familiar, Arsya melipat korannya dan memberikan ke pelayan.
"Apa kau menungguku?" Tanya Anna.
"Tentu saja." Balas Arsya cuek kemudian membalikkan piringnya memandangi satu persatu hidangan di atas meja. Sementara Anna dengan santainya mengambil roti sandwich.
"Kau istriku, cepat ambilkan makanan untukku." perintah Arsya.
"Apa kata ayahmu, kau harus menuruti kata suamimu, jika tidak akan menjadi dosa besar bagimu." Ucap Arsya mengingatkan.
Anna melotot, lalu meletakkan rotinya yang masih separuh dipiring. "Ya." jawab Anna dengan semakin kesal.
Ia mengambil piring Arsya mengambilkan nasi. "Kau ingin lauk yang mana?" Tanya Anna.
"Ikan goreng, sayur Gori, sambal matah, kerupuk." Jawab Arsya.
Anna dengan cekatan mengambilkannya meskipun ia bersusah payah karena jauh dari jangkauannya. Setelah mendapatkannya ia meletakkan piring di hadapan Arsya. Arsya tersenyum gembira.
"Hari ini aku ada ulangan, aku pergi dulu." Ucap Anna setelah mengelap bibirnya dengan tisu.
"Saya antar."
Anna menaikkan alisnya sebelah. "Kita tidak sejalan."
"Ckckck. Pokoknya saya antar, saya mau tau keadaan sekolahmu." Balas Arsya lalu berdiri dan memakai jas yang ia sampirkan di sandaran kursi.
Setelah siap Arsya mendorong kursi Anna hingga ke mobil. Melihat mobil Limosin yang berada terparkir dihadapannya, mendadak ia kaget. Plat yang sama, dan mobil yang sama.
__ADS_1
"Tunggu sebentar!" Langkah Arsya terhenti.
"Kenapa?" Tanya Arsya bingung. "Ada sesuatu yang ketinggalan?" lanjutnya.
Anna menggeleng kuat. "Apa ini mobilmu?" Tanya Anna. Arsya semakin bingung.
"Tentu saja, ini mobilku." Pernyataan yang dilontarkan Arsya barusan membuat Anna mengingat kecelakaan tempo hari.
"Jadi kau yang telah menabrakku!" Wajah Anna memerah karena marah hingga gemetar.
"Apa maksudmu? Kau menuduhku."
"Ya, tidak semua orang mampu membeli mobil ini, dan ini adalah plat yang sama dengan waktu itu."
"Apa, jadi kau...."
"Aku benci kamu...." Anna menekan tombol kursi rodanya menjauh, Ia pun melajukan kursi rodanya ke arah mobil phantom yang terparkir di sebelahnya.
"Pak antarkan aku." Ucap Anna lantang.
Pak Jaki yang menyaksikan pertengkaran pagi ini dibuat linglung.
"Pak!" teriak Anna menyembulkan kepalanya dari jendela, Pak Jaki pun tersadar.
"Eh, iya Nona!" Pak Jaki melirik majikannya diam tak bergeming di tempatnya tetapi tatapannya begitu tajam sampai sampai ia merinding meliahtanya. Tetapi melihat nona mudanya yang mendesaknya ia buru buru masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi.
Arsya yang terkejutpun diam ditempat memandangi mobil phantom melintasi dirinya.
"Pak Arsya!" Danni baru saja tiba langsung menghampiri Arsya yang berdiri di depan mobil.
"Danni, kapan kau datang?" Tanya Arsya setelah rasa keterkejutannya menghilang.
"Barusan pak, maaf pak saya telat."
"Hem, jangan ulangi lagi, hari ini kita adakan meeting." Arsya mengucapkan hal itu bersamaan masuk ke dalam mobil.
"Hah." Danni terbengong.
"Ayo, cepat." Danni pun menoleh ke arah sumber suara dan buru buru masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, Danni segera menghubungi Merin untuk mempersiapkan meeting pagi ini. Kemudian menyuruhnya untuk mengumpulkan para petinggi staf di dalam aula.
Di sepanjang perjalanan menuju sekolah, Anna merasa gelisah. Dia yang menabraknya justru dia yang menjadi suaminya. Takdir macam apa yang telah mempermainkannya. Dia sangat membenci dirinya sendiri. kenapa bisa seperti ini? Lelaki itu tak punya perasaan sama sekali. Sudah menabraknya dan tidak meminta maaf sama sekali. Tempramennya yang buruk membuat dirinya merasa sangat membenci pria itu.
"Pak, kita pergi ke taman saja." Ucap Anna. Pak Jaki yang mendengar perintah yang mendadak ini menaikkan alisnya.
"Tapi ini sudah dekat dengan sekolah nona."
__ADS_1
"Putar balik saja, saya sedang malas ke sekolah." Balas Anna.
Pak Jaki pun memutar balik mobil yang ia kendarai menuju taman.