Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Enam Puluh Empat


__ADS_3

Di malam harinya, Arsya pulang tengah malam. Dia menyelinap masuk ke kamar Anna. Sejak Linda datang, dia tak ingin bersamanya. Arsya memeluk tubuh Anna penuh kehangatan.


Dia tak bisa tidur tanpa Anna di sampingnya, entah kenapa ia begitu suka menghirup aroma cheri pada tubuh Anna. Benar benar memabukkan.


Sepanjang malam dua manusia saling berpelukan satu sama lain. Anna merasa tidurnya juga sangat nyenyak. Arsya ingin waktu berhenti berputar. Menghentikan waktu untuk menahan Anna terus berada di sampingnya. Tidak ingin ia pergi karena kesalahpahaman.


Waktu alarm mengingatkan Arsya agar segera bangun. Arsya melirik ke arah ponsel yang ia letakkan di atas nakas. Tepat jam 5 pagi. Sebelum pergi ia mencium kening Anna seperti biasa. Menata selimutnya hingga ke atas dada. Setelah itu ia pergi tak lupa menutup pintu dengan rapat.


Arsya menuruni tangga dan pergi ke ruang kerja. Dia mandi dengan air shower di sana setelah itu pergi untuk melakukan lari pagi ke sekeliling halaman.


Anna terbangun saat jam alarm berbunyi keras. Sepertinya ia tidur terlalu nyaman sampai ia begitu enggan bangun. Terdengar suara ketukan di pintu dengan keras dan tergesa.


Anna merasa terusik dengan ketukan itu. Dengan kesal ia membuka pintu. Ternyata itu adalah Linda.


"Ada apa pagi pagi berisik sekali?" Tanya Anna dengan ketus.


"Gak usah banyak tanya. Kau sembunyikan Arsya di mana? Semalam dia gak masuk ke kamar." Ujar Linda sinis.


"Mana aku tau!" Anna mengendikkan bahu acuh.


"Minggir! Kau pasti yang menyembunyikannya kan?" Linda mendorong pintu hingga terbuka lebar. Bahkan menyenggol bahu Anna dengan keras.


Anna hanya bisa menyingkir dan mengusap bahunya yang kesakitan. Ia memandang Linda dengan bersedekap di dada dengan punggung menempel di tembok.


Linda kesana kemari memeriksa bagian setiap ruangan di kamar Anna. Ia mencari jejak jika benar Arsya tidur di sana semalam bahkan mencium bau parfum Arsya yang biasa ia pakai. Pasti meninggalkan bekas.


Kemudian ia mencium semua bantal yang digunakan Anna semalam. Benar benar tidak menemukan apa apa. Linda merasa kesal kemudian berbalik menatap Anna. Dia berjalan pelan menuju pintu.


"Kenapa? Gak ketemu?" Ujar Anna.


"Setelah aku menemukan jika Arsya tidur disini, jangan harap kau bisa tinggal disini lagi." Ucap Linda mengancam.


"Coba saja. Toh surat cerai yang kau beri juga sudah aku tanda tangani. Kau tak perlu repot repot mengusirku dengan seperti itu. Aku juga malas melihat kalian di sini. Kalian sangat menjijikkan." Ujar Anna dengan lugas.

__ADS_1


Plak


Linda seketika menampar wajah Anna hingga darah segar muncrat di sudut bibirnya. Pipinya yang nampak putih berubah kemerahan juga ada bekas kelima jari Linda.


Anna tersenyum sinis dan menatap Linda. "Wanita baik baik tidak akan hamil di luar nikah. Lihatlah bagaimana netizen berkomentar. Kau itu duri dalam rumah tangga orang." Ujar Anna.


Kedua kalinya Linda menampar wajah Anna di bagian kirinya. "Kaulah duri yang sebenarnya. Karena kau yang merusak hubungan ku dengan Arsya sebelumnya." Ujar Linda dengan kemarahan yang mendalam.


Anna menaikkan sudut bibirnya. Meski pipinya merasa kebas oleh tamparan Linda. Ia tetap menyunggingkan senyuman. "Tetapi pada kenyataannya aku adalah istri sahnya. Jadi kau lah orang yang sudah merusak hubungan ku dengan Arsya."


"Kau...." Linda begitu emosi karena ucapan Anna begitu menusuk di pendengarannya.


"Tunggu saja pembalasanku!" Linda berseru marah dan keluar dari kamar Anna.


Anna menutup pintu kamarnya lalu menuju kamar mandi. Ia menatap dirinya melalui pantulan kaca. Benar benar merasa nyeri. Apalagi jari Linda begitu tercetak jelas di pipinya.


Anna menekan pipinya, ia meringis karena terasa perih. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan berendam air hangat.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Arsya baru saja selesai lari pagi. Rendi memberikan sebotol air minum. "Tuan muda. Ada seorang pemuda yang sudah dua hari ini mengintip di luar gerbang." Lapor Rendi.


Arsya melangkah masuk ke dalam Villa, lalu menemukan Linda menyuruh pelayan berjongkok di hadapan Linda. Saat mendongak, Linda menemukan Arsya baru kembali. Linda merubah wajahnya dengan senyuman cerah.


"Arsya! Kau dari mana, sejak semalam aku tak menemukanmu. Aku baru saja mencarimu." Linda berjalan ke arahnya dan meraih lengannya memeluknya dengan mesra.


"Pergi jogging." Balas Arsya datar. Tetapi matanya melirik ke arah kamar Anna yang masih tertutup rapat. Kemudian ia melirik pelayan yang masih berjongkok.


Linda segera mengangkat pandangannya lalu memberi kode kepada Elsa. "Tuan muda. Pelayan ini menyiram tangan nona muda dengan air panas. Jadi kami menghukumnya." Ujar Elsa.


"Tidak tuan! Kami hanya tidak sengaja. Benar benar tidak melakukannya. Kami berjalan tapi kaki kami tidak stabil dan terjatuh. air panas ini tidak sengaja mengenainya." Ujar pelayan itu buru buru menjelaskan.


"Diam! Jelas jelas kau sengaja." pekik Linda penuh amarah. "Arsya lihatlah, tanganku memerah karena ulah pelayan ini. Kau pecatlah dia." Ujar Linda dengan manja dan memperlihatkan tangan kirinya yang memerah tersiram air panas.


"Kau pergilah, bekerjalah dengan hati hati. Jangan ulangi lagi." ujar Arsya.

__ADS_1


Linda geram dengan Arsya yang malah menyegani pelayan ini. Dia pada awalnya ingin mencari perhatian dengannya, malah bertindak lembut. "Sya, kenapa kau terlalu berbaik hati dengan pelayan seperti itu. Lebih baik kau memecatnya." Ujar Linda.


"Sudah sepuluh tahun dia bekerja padaku. Aku tau apa yang harus aku lakukan. Ricky, ambilkan kotak obat." Arsya segera menjelaskan lalu memanggil Ricky.


Ricky segera berlari membawakan kotak obat. Arsya menarik Linda duduk di sofa. Ricky meletakkan kotak obat di atas meja. Arsya membuka kotak obat itu dan mencari salep anti nyeri. Ia mengoleskannya dengan hati hati.


"Hati-hati Arsya. Perih tau." Ujar Linda dengan wajah meringis saat tangan Arsya menyentuh luka bakar di tangannya.


Arsya terdiam dan terus melakukan mengoleskan salep lalu meniupnya penuh perhatian. Anna yang melihat dari lantai atas. Dia merasa sangat jijik. Tetapi dia tetap menuruni tangga. Tepat di bawah tangga Ricky datang menyambut saat ia melihat nona mudanya keluar dari dalam kamar.


"Nona muda, apakah akan sarapan sekarang?" Tany Ricky saat langkah Anna sudah berada di tangga terakhir.


"Hem."


"Baik!" Ricky segera pergi dan memerintahkan pelayan menyiapkan makan. Sebelum masuk ke ruang makan, ia melirik ke arah ruang tengah, di sofa Arsya masih meniup tangan Linda. Elsa melirik ke arah Anna berdiri.


"Nona, tuan. Apakah akan pergi sarapan sekarang?" Tanya Elsa dengan hati hati.


Linda menoleh ke arah Elsa. Elsa dengan kode mata memberitaukan jika ada Anna di sana. Linda segera memasang wajah penuh kesedihan.


"Arsya. Sepertinya bayi kita sudah lapar. Ayo kita sarapan."


Anna yang mendengar kalimat manja itu merasa muak. Ia segera pergi dari sana. Linda melirik ke arah Anna yang pergi. Arsya meletakkan jemari Linda di pahanya.


"Kau pergilah dulu, aku akan mandi sebentar." Ujar Arsya.


"Baiklah, jangan lama lama. Nanti anak kita menanyakan papanya gimana." Ujar Linda.


Arsya segera mengelus perut rata Linda. "Jangan nakal sama mommy, papa mandi dulu." Ucap Arsya. Lalu mengusap puncak kepala Linda dengan ringan.


"Kau jaga baik baik bayimu. Aku pergi dulu."


"Hm. Baiklah. Jangan terlalu lama."

__ADS_1


"Ya."


__ADS_2