
Anna terperangah dengan jawaban Arsya. Arsya Dengan jari telunjuknya, Ia mendorong kening Anna hingga mundur.
Arsya bangkit dari tempat duduknya, Ia menuju ke ruang kerjanya. Namun sebelum sampai di ruang kerjanya, ia menghentikan langkahnya.
"Mulai besok pagi. Aku akan mendisiplinkanmu." Arsya berucap tanpa menoleh ke belakang. Setelah mengatakannya Arsya segera masuk ke dalam ruangan kerja.
Anna menatap punggung Arsya tanpa berkedip, hingga akhirnya punggung Arsya menghilang dibalik pintu berwarna coklat itu barulah Anna tersadar dengan kata terakhir Arsya.
"Matilah aku." Anna menepuk dahinya kemudian turun dari atas sofa dan berlari ke arah kamar utama.
Sementara Arsya saat masuk ke dalam ruang kerjanya, Ia menekan dadanya yang berdetak dengan keras. Punggungnya bersandar di balik pintu.
"Astaga! Kenapa jantungku kencang sekali." Arsya membayangkan betapa dekat wajah Anna tadi. Bahkan ia dapat merasakan hembusan nafasnya pada kulit wajahnya.
"Haruskah aku pergi ke dokter angga." Arsya mengerutkan keningnya. Tepat di saat ini telepon berdering. Arsya merogoh ponselnya yang ia simpan di saku celananya.
"Linda!" Ujar Arsya datar saat layar ponselnya menampilkan nama Linda. Arsya menekan tombol hijau dan mendekatkan pada telinga kanannya.
"Halo!"
"Ugh. Arsya! Ini aku Helen, teman Linda. Linda mabuk berat. Dia bilang untuk meneleponmu untuk menjemputnya."
"tunggu sebentar." Jawab Arsya dengan suara dingin.
"Ya, cepatlah." Tepat selesai mengatakannya telepon mati. Arsya menyimpan teleponnya kembali ke dalam saku celananya, ia bergegas menuju kamar utama sekedar mandi dan berganti pakaian.
Anna telah selesai mandi dan berganti pakaian. Anna berjalan kesana kemari bagai setrikaan.
Tiba tiba pintu terbuka, sosok jangkung dengan tubuh tegap masuk ke dalam kamar. Jantung Anna berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Ia menatap pergerakan Arsya yang berjalan tegak menuju ke kamar mandi.
"Duh. Matilah aku. Matilah aku!" Batin Anna terus merutuk terus menerus.
Anna berpura pura, Kemudian ia keluar kamar. Berharap Arsya lupa dan tidak jadi memberinya pengajaran. Sampai di lantai bawah Ricky segera mendekat.
"Nona muda, makan malam anda sudah disiapkan. Apakah akan makan sekarang."
"Ya." Jawab Anna dengan cepat.
Ricky menunduk hormat dan mempersilahkan masuk ke dalam ruang makan. Anna segera masuk ke sana, pelayan segera menata peralatan makan.
Anna tidak menunggu Arsya datang makan bersama. Dirinya sudah gugup saat ini jadi mengambil nasi dan lauknya kemudian makan dengan cepat.
Arsya menuruni tangga, Saat Ricky mendekat Arsya mengerutkan keningnya. Dengan lambaian tangannya Ricky segera menyingkir.
Di sana Anna masih memakan makanannya dengan cepat, Ia seakan melihat hantu yang ingin menerkamnya. Saat suapan terakhir, ia merasa lega. Ia buru buru keluar agar tidak berpapasan dengan Arsya. Saat keluar dari ruang makan, Anna yakin jika Arsya pasti akan makan malam tapi tak disangka, ia malah dilewati begitu saja oleh Arsya.
Anna terheran, kenapa Arsya begitu tergesa dan meninggalkan makan malamnya. Atau jangan jangan, dia sedang ada pertemuan. Tapi kenapa dia tidak mengatakan apa apa.
Mobil Liumosin segera mendekat tatkala Arsya keluar dari pintu utama. Pengawal segera membuka pintu, Arsya segera masuk ke dalam mobil dan mobil melesat pergi dari pekarangan Villa.
__ADS_1
Tepat di saat ini Ricky masuk ke dalam ruangan. "Ricky! Arsya mau pergi kemana?" Tanya Anna.
"Tuan muda sedang pergi menemui temannya." Ucap Ricky kemudian menunduk dan pergi.
Anna menatap keluar rumah. Pekarangan Vila sudah kosong. Sebagian pengawal sudah pergi bersamanya. Hanya tinggal pengawal wanita yang berjumlah empat orang dan sisanya adalah pengawal yang memang bertugas untuk berjaga didepan villa.
Anna kembali ke kamar utama. Berganti pakaian dengan piyama panjang bergambar keropi dan merebahkan tubuhnya bersiap tidur.
*
Bar Bintang
Sosok pria jangkung dengan sepatu kulit mengkilap dan kaki yang panjang serta punggung yang tegap turun dari dalam mobil. Dibelakangnya empat pria bertubuh besar berjalan mengikuti. Satu pengawal maju menyampirkan mantel ke bahu Arsya.
Ke empat pria jangkung itu masuk bersamaan. Di dalam bar, suasana sangat ramai. Asap rokok bercampur bau alkohol menyatu melayang di udara. Arsya tak terbiasa masuk ke dalam sana. Ia terbatuk sekali.
"Uhuk."
Tepat saat ini, seorang wanita datang dengan tergesa. "Ini, Arsya kan?" Tanya wanita itu menatap lekat ke arah wajah Arsya yang tertutup kabut.
Ke dua pengawal segera maju, mencekal lengan wanita itu dengan erat.
"Jangan ganggu tuan muda kami!" Ucap salah satu pengawal itu memberi peringatan.
"Ugh, aku tidak mengganggu. Benar! Aku hanya memastikan jika dia benar Arsya yang dikatakan Linda." Wanita itu merogoh ponselnya dan memperlihatkan wajah Arsya kehadapan para pengawal.
Pengawal itu mengerutkan keningnya. "Tuan muda!"
"Tunjukkan di mana dia!" Arsya buru buru mempertanyakan. Seketika ketakutan itu tergantikan dengan kelegaan. Ia kira pria ini akan memarahinya dan memakinya. Seperti pria pria yang biasa menjemput Linda sebelumnya. Tak di sangka malah berbalik untuk melihatnya tanpa ada kemarahan di matanya. Gadis itu segera tersenyum.
"Dia duduk seorang diri di sana!" Ia menunjuk sebuah ruangan yang terbiasa ia gunakan untuk menikmati minuman beralkohol itu seorang diri di saat dirinya merasa tertekan atau butuh teman.
"Tapi lepaskan dulu tanganku, aku akan mengantar kalian ke sana." Pengawal itu melihat ekspresi Arsya yang datar. Arsya mengangguk. Kedua pengawal itu menurunkan tangannya tetapi matanya tetap waspada memperhatikan tingkah gadis itu.
"Lewat sini." Gadis itu berjalan didepan menunjukkan jalan menuju sebuah ruangan pribadi. Diam diam gadis itu tersenyum. 'pantas saja Linda begitu bersikeras untuk membuatnya datang, meskipun sikapnya sangat arogan dan sombong tetapi pria ini sangat tampan. Bahkan melebihi aktor boliwood sekalipun.' batin Gadis itu.
Pengawal dapat melihat ekspresi wajah gadis itu. "Cepat jalan dan jangan berpikir macam macam. jika kamu berbohong saya akan memukulmu tanpa ampun." Peringat sang pengawal yang berjalan di sampingnya.
Gadis itu menaikkan keloak matanya dan terbelalak. Ia menarik pikirannya agar tersadar kembali dengan kenyataan. Dia tampak seperti gangster yang sangat menakutkan. Gadis itu tidak berani berpikir lagi.
"Aku tidak berbohong." Jawab gadis itu dengan ketakutan. Ia menambah kecepatan langkahnya agar segera sampai.
Tepat di saat ini mereka telah sampai di depan sebuah pintu yang tertutup.
"Disini. Iya, Linda ada di dalam." Gadis itu memberitaukan. Setelah itu ia segera berpamitan dan pergi dari sana.
Pengawal itu maju ke depan dan mengulurkan tangannya dan mengetuk pintu.
"Siapa?" Terdengar suara dari dalam ruangan sangat lemah. Pengawal itu kembali melirik ke belakang. Arsya hanya menegakkan punggungnya. Pengawal itu segera mendorong pintu hingga terbuka.
__ADS_1
Seorang wanita duduk dengan lemah, punggungnya bersandar di sandaran sofa. Satu tangannya memegang botol minuman bersiap untuk meminum.
Sosok pria jangkung membelakangi cahaya dibelakangnya, sisi gelap pria itu terlihat sangat tampan dengan wajah yang arogan dan mendominasi.
Linda terbengong dengan penglihatannya yang kabur akibat minum terlalu banyak membuat kepalanya sangat pening. Ia tersenyum dingin dan melambaikan tangannya.
"Ugh pria tampan." Linda ingin segera bangkit dari tempat duduknya, berjalan kesana dengan sempoyongan.
Arsya melirik pengawal yang berdiri di sana, segera pengawal itu mundur dan menutup pintu.
Di dalam ruangan itu seorang wanita mabuk dan pria jangkung yang tampan. Pria itu tidak bergerak selain menatap wanita itu berjalan kearahnya dengan senyuman yang menggoda. Saat sudah hampir sampai, tubuh Linda limbung, Arsya segera menangkapnya.
Linda menyipitkan matanya, bayangan wajah pria itu seakan memiliki banyak. Linda mengulurkan tangan dan menekan rahang Arsya dengan telunjuknya.
"Hahaha, ternyata keras juga." linda berbicara tanpa sadar. Tangan Arsya menangkap jari telunjuknya dan menekannya kebawah.
Linda sangat marah. "Ugh, dasar pria nakal. Kenapa tidak boleh menyentuh. Hihihi!" Terdengar umpatan kemudian sebuah tawa keluar dari mulut Linda.
Arsya membawanya keluar dari ruangan, pengawal segera berdiri tegap membantu. "Bawa dia. Kemudian antarkan ke hotel terdekat." Kata Arsya memberi perintah.
"Baik!" Pengawal itu menyambutnya. Dua pengawal yang lain berjalan mengikuti langkah Arsya hingga keluar Bar.
Kedua pengawal yang membawa tubuh Linda segera masuk ke dalam mobil. Sebelum pergi Arsya berpesan kepada kedua pengawal yang ditugaskan untuk mengantarkan Linda agar membawanya dengan selamat.
Setelah itu Arsya juga meninggalkan pelataran Bar bersama kedua pengawal yang lain
Pengawal itu mengangguk dan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Saat di dalam mobil, tak di sangka Linda terbangun. "Panas!"
Pengawal itu tidak menghiraukan gerak Linda yang pakaiannya sudah hampir setengah telanjang. Sebuah tangan ramping meraba ke depan. Kedua pengawal itu terkejut, saat menoleh, ia menemukan Linda sudah setengah telanjang.
Kedua pengawal itu pun panik. Bagaimana ini? Pengawal itu menepikan mobilnya. Saat tiba tiba Linda sudah bersiap menerjang, mobil terhenti mendadak. Rem mobil pun diinjak dengan keras karena panik. Tubuh Linda terpental ke belakang dan kepalanya terbentur di kursi.
"Aduh!"
Pengawal menoleh saat mobil sudah terhenti, suara mengaduh itu terdengar menyakitkan. Kedua pengawal itu ketakutan dan mengeluarkan ponselnya bersiap menelepon presdir Arsya. Namun gerakannya terhenti ketika sebuah layar menampilkan presdir Arsya.
"Tuan muda!"
"Sudah sampai?" Tanya Arsya di balik telepon.
"Belum, masih kurang 100 meter lagi kami sampai, tapi...." Raut wajah pengawal itu meringis saat menoleh kebelakang. Penampilan Linda sudah telanjang sepenuhnya.
Di balik telepon tidak sabar menunggu dan buru buru bertanya.
"Tapi....apa?" Tanya Arsya penuh tekanan.
Pengawal itu kembali menatap ke depan dengan panik segera menjelaskan. "Maaf tuan, kami salah. Nona Linda merobek pakaiannya dan kami panik sehingga menghentikan mobil..."
"Bodoh!" Arsya segera menyela.
__ADS_1
Pengawal menyusutkan tubuhnya. "Cepat antarkan dia! Bagaimanapun kamu harus pergi membawanya dengan selamat." Ucap Arsya dengan suara yang dalam.
"Baik!" Telepon ditutup. Kedua pengawal itu menoleh kebelakang. Sepertinya Nona Linda sedang pingsan jadi mereka terburu buru menyalakan mobil dan menuju ke hotel Royal yang paling dekat dengan Bar.