Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Dua Belas


__ADS_3

Mata Arsya memandang tajam ke arah Anna. Tapi Anna tak begitu takut. Ia balas menatap Arsya sama kejamnya.


"Oke, Aku akan pulang. Tapi kau harus ingat satu hal Anna. Keluargamu ada ditanganku. Sekali saja kamu memberontak, kamu akan tau akibatnya." Arsya keluar dengan perasaan marah.


Pak Bagas menatap Bu sari. Bu Sari hanya menganggukkan dagunya sebagai jawaban. Pak Bagas pun keluar lalu mengendarai motor pespasnya meninggalkan warung.


Arsya tak berminat lagi untuk makan, padahal dirinya memang sangat lapar.


"Pak Bagas, tolong kabari saya jika terjadi sesuatu pada Anna." Ucap Arsya setelah turun dari motor.


Pak Bagas mengangguk meski ia kebingungan, ia tak mengerti apa masalah mereka berdua. Tapi menurut yang ia dengar Anna yang merupakan anak angkat Bu sari adalah istrinya Arsya.


Arsya segera memakai kemeja yang semalam ia pakai. lalu berpamitan kepada pak Bagas. Pak Bagas memandang punggung lebar Arsya hingga masuk ke dalam mobil mewah miliknya.


Perasaan marah, sedih dan kecewa bercampur jadi satu. Ia mengendarai mobil Limosin itu keluar dari desa. Entah alasan apa yang akan ia berikan pada kakeknya nanti, tapi ia sudah merangkai kata untuk menghadapi kakeknya.


"Bagaimana nak?" Tanya Hanis saat mengetahui kepulangan putranya.


"Sudah ketemu." Ujar Arsya datar.


"Oh, dimana dia?" Hanis menolehkan kepala mencari keberadaan menantunya.


"Dia didesa Gaharu." Jawab Arsya.


"Loh, apa maksudnya Arsya, kenapa gak di ajak pulang?" geram Hanis tak bisa berpikir atas sikap Arsya ini.


"Anna marah sama Arsya. Dan tidak mau pulang sama Arsya." Jelas Arsya. "Sudahlah ma, jangan bahas lagi." lanjut Arsya.


Arsya beranjak dari tempat duduknya dan menaiki tangga. Ia merasa sangat lelah hari ini. Semoga saja dengan mengguyur tubuhnya dengan air dingin akan mengurangi rasa lelahnya.


Di desa


Anna duduk termenung di dekat jendela sama persis dengan keadaan dia sewaktu dia datang. Hatinya sangat sedih. Tapi dia tak punya pilihan selain pergi darinya, lebih cepat lebih baik.


Satu minggu kemudian, Tak seperti biasanya Anna akan mendapatkan telepon dari Wiryo. Anna menyunggingkan senyum bahagia di raut wajahnya.


Sudah hampir sebulan ia meninggalkan Villa, baru kali ini papa-nya menelepon.


"Halo papa." Ucap Anna.


"Halo sayang, Nak dengarkan papa. Katakan sama Arsya untuk tidak menghentikan proyek ini. Sekarang mama-mu sedang sakit. Papa tidak tau lagi apa yang harus papa lakukan. Investor itu tiba tiba menarik semua sahamnya. Sekarang hanya kamu satu satunya penolong papa."


"Tapi papa, dia yang sudah menabrak kakiku hingga seperti ini. Bisakah papa mengerti.."


"Ya papa mengerti. Tapi kamu juga harus mengerti papa. Sekarang dalam keadaan darurat. Sudah ya nak, papa masih ada urusan." Panggilan telepon ditutup.


Anna terdiam mendengar perkataan Papa-nya. Papa-nya memang sangat egois. Tapi mama-nya sedang sakit. Memikirkan hal ini membuat Anna khawatir terhadap mama-nya. 'Oke, aku akan pulang' tekad Anna. Kini ia harus mencari Bu Sari.

__ADS_1


"Bu....Bu Sari," Anna mencari keberadaan Bu Sari, ia berjalan tergesa gesa karena tak lekas menemukan Bu Sari.


"Bu..." Panggilan itu terhenti karena kakinya yang cidera tersandung kaki kursi. Ia meringis menahan sakit di kakinya.


"Loh, nduk Anna kenapa kamu nduk?" Bu Sari masuk ke dalam rumah dan menemukan Anna yang terduduk di lantai dengan terisak.


Bu Sari segera berjongkok dan membawa Anna duduk di kursi.


"Bu, Tolong Anna." Ucap Anna dengan tergesa.


"Iya, nduk. Ibu Pasti bantu. Tapi kamu tenang dulu, ada apa?" Tanya Bu Sari.


"Papa dan Mama, buk. Aku harus pulang." Anna menarik tangan Bu sari. Raut wajahnya terlihat sangat mengkhawatirkan Dewi.


"Tapi ini sudah malam nduk." Kata Bu Sari.


"Tapi ini penting. Mama sakit. Dan aku harus ketemu sama mama."


"Ya, tunggu besok pagi, Ibu akan carikan angkutan buat mengantar kamu ke terminal, sekarang kamu tenang ya nduk. Istirahat dulu kakimu masih sakit kan?" Ucap Bu Sari memberi nasehat.


Anna mengangguk, Bu Sari merangkul bahunya dan membawanya masuk ke dalam kamar. Bu Sari ikut berbaring di samping Anna satu tangannya menepuk nepuk lengan Anna. Sepanjang malam Anna terlihat gelisah memikirkan kedua orang tuanya.


Di kantor Arsya


Sudah berapa kali Wiryo menghubungi Arsya, tapi tak kunjung di angkat oleh sang pemilik. Menghubungi Herman tak Bisa. Kali ini Herman sedang jalan jalan di kota Swiss.


Hanya Dengan cara menelepon Anak kesayangannya perusahaannya mungkin akan kembali berdiri.


"Pak Arsya, anda menghentikan konstruksi di Bena. Kenapa?" Tanya Danni.


Arsya tersenyum tipis. "Cari pengganti." Ucap Arsya datar.


"Hah, bukankah pekerjaan Wirawan Group sudah bagus. kenapa dicarikan pengganti." Ujar Danni kebingungan dengan pemikiran bosnya ini.


Arsya menatap dingin ke arah Danni, melihat tatapan bagai singa lapar itu membuat bulu kuduk Danni merinding.


"Maaf Boss." Danni tak berani bertanya, menundukkan kepala.


"Lebih baik kau keluar saja." Ucap Arsya dingin.


Danni segera meninggalkan ruangan CEO.


*


*


*

__ADS_1


Anna bergerak gelisah saat menaiki minbus hingga sampao ke kota. Pikirannya membuat dia tak waras karena keegoisan Arsya. Bahkan ia telah membuat keluarganya di ambang kehancuran. Anna mengepalkan tangannya erat erat.


Setelah menaiki bus sampai di terminal, Anna menghentikan taksi menuju Adiyaksa group.


"Nona! Anda ingin bertemu siapa?" Seorang resepsionist menghentikan langkahnya.


"Saya ingin bertemu CEO kalian. Jangan halangi saya." Ucap Anna dengan marah bahkan ia berani menatap tajam ke arah resepsionis itu.


Meskipun resepsionis itu merasa takut dengan tatapannya, tapi sebagai bawahan ia harus bersikap profesional.


"Maaf Nona, Tapi peraturan disini harus melakukan perjanjian terlebih dahulu. Apakah nona suah melakukannya?" Tanya resepsionist itu.


Anna menggeleng.


"Maaf Nona, sebaiknya anda melakukan perjanjian untuk bertemu terlebih dahulu."


"Dea, ada apa ini?" Salah satu resepsionist lainnya datang menghampiri saat melihat ada perdebatan di depan lobi.


"Nona ini meminta ingin bertemu dengan CEO." jelas Resepsionist yang bernama Dea.


Yanti sebagai rekan resepsionist menelisik penampilan Anna dari bawah ke atas. Pakaian sederhana dan penampilan yang biasa. memang kulitnya terlihat halus dan putih bersih. Tapi tak menunjang apapun untuk bisa bertemu dengan CEO.


"Mbak, melihat dari penampilanmu saja kamu ini perempuan yang tidak masuk integritas CEO. Kalau CEO melihat mbak pasti sudah mengusirnya. lebih baik mbak pergi saja dari sini sebelum pak CEO mengusir mbak." Ujar Yanti dengan sinis.


Anna tercengang, tapi melihat penampilannya memang sangat sederhana. memakai celana jeans dan kaos oblong. sangat tidak menunjang jika bertemu dengan CEO.


"Lagian ya mbak, setiap wanita yang datang kesini akan mengenakan gaun yang indah. Sedangkan mbak ini.....Atau jangan jangan menggunakan...."


"Hust, jangan sembarangan ngomong." Dea menghentikan perkataan Yanti hingga cemberut.


"Nona, Jika anda mengenal CEO kami, anda bisa meneleponnya terlebih dahulu." Dea masih tetap ramah memberitaukan.


"Tapi saya tidak punya nomer teleponnya." Jawab Anna.


"Kalau begitu silahkan tunggu diruangan, saya akan mengonfirmasi ke sekertaris pak CEO."


"Saya tidak bisa menunggu, dan katakan jika saya istrinya."


Mendengar pengakuan istri, Yanti melangkah maju. "Ckckckck. Mbak jangan bermimpi terlalu tinggi ya, banyak disini perempuan yang mengaku calon istrinya pak CEO. dan pak CEO sudah mengusirnya."


"Ada apa ini!" Terdengar suara tegas dari arah pintu lift.


Salah satu resepsionist yang bernama Yanti membeku ditempat mendengar sebuah teriakan dari arah pintu lift. Tetapi di dalam hatinya menyeringai.


"Maaf pak, nona ini ingin menerobos masuk." Ucap Yanti memberikan jawaban.


"Diam!" Bentak Arsya membuat kedua wanita itu ketakutan.

__ADS_1


Kini tatapan Arsya tertuju pada Anna. Kedua pegawainya langsung menunduk hormat.


__ADS_2