Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Tujuh Puluh Sembilan


__ADS_3

Di belahan dunia yang lain.


Dua manusia yang sudah lanjut usia itu sedang duduk di teras belakanh seraya melihat lapangan luas di depannya. Herman berkali kali mengambil nafas dengan panjang. Kemudian ia mendesah pelan.


"Aku tak habis pikir. Kenapa Arsya begitu bodoh melepaskan berlian mahal dan malah memelihara Linda." Gumam Herman.


"Apa gunanya juga setiap malam malah pergi ke tempat Wiryo. Ferdi. Ada kabar apa dari tempat Arsya?" Tanya Herman seraya menoleh ke arah Ferdi yang ikut duduk di samping pak tua itu.


"Tuan Arsya dan Nona Linda akan menggelar pernikahan dua bulan lagi." Ujar Ferdi seraya memberikan berita yang ia tahu selama ini.


"Dasar bocah tengik. Apa yang dia pikirkan dengan menggelar pernikahan. Para Direktur pasti mengeluh?" Ujar Herman.


"Benar. Para direktur banyak yang mengeluh bahkan perusahaan hampir anjlok. Tapi dengan kelihaian tuan muda perusahaan yang sempat terguncang kini sudah kembali naik."


"Tetapi...." Ferdi melirik ke arah Herman dengan takut takut.


"Apa!" Herman tak sabar karena ucapan Ferdi berhenti.


"Nona Linda sedang hamil. Mungkin karena itulah tuan muda menyelenggarakan sebuah pernikahan untuk mengakui janin yang dikandung nona Linda." lanjut Ferdi.


"Omong kosong." Herman emosi saat mendengar kata kata ini. Bahkan urat ditangannya berubah biru karena syok. "Seharusnya tak perlu menyiapkan pernikahan. Jika benar yang dikandung Linda adalah anaknya. Tanpa harus melaksanakan pernikahan masih bisa mengakuinya."


"Bagaimana bisa?" Tanya Ferdi tak mengerti.


"Tentu bisa. Jika benar itu adalah anak Arsya. Ambil saja anaknya dan soal Linda. Aku yang akan turun tangan."


"Mana mungkin bisa begitu tuan. Nona Linda pasti tidak akan setuju."


"Setuju atau tidak setuju. Dia harus terima." ujar Herman dengan percaya diri. Ferdi mendesah pelan.


"Tuan Bramantyo pasti tidak akan setuju mengenai jasa yang pernah dia berikan kepada keluarga kita."

__ADS_1


"Tidak perlu cemas. Meskipun dia mengungkit soal jasa. Aku sudah mempunyai pemikiran sendiri."


Seketika suasana menjadi hening.


Ferdi juga tak mengatakan apapun lagi lalu menyesap kopinya yang hampir mendingin. Herman kembali mendesah pelan lalu menyimpan cangkir kopi ke sampingnya.


"Dulu saat tuan muda masih muda. Nona Linda memang sangat menyukainya. Dan pada saat insiden lima tahun lalu tuan muda agak sedikit menjauh dengan nona Linda. Lalu tuan segera menikahkan tuan muda dengan nona muda. Di saat itulah nona Linda menampilkan dirinya kembali. Seperti insiden lima tahun lalu." Ferdi teringat kejadian insiden lima tahun yang lalu.


"Maksud kamu?" Tanya Herman tak mengerti dengan perkataan Ferdi yang berbelit.


"Nona Linda adalah orang yang pendendam. Saat ini tuan muda sedang mengumpulkan bukti insiden lima tahun yang lalu. Tuan muda mengetahui jika yang merencanakan adalah nona Linda. Sekarang nona Linda tidak berani gegabah. Dengan melakukan hal yang sama dengan insiden lima tahun yang lalu. Jadi dengan membuat dirinya hamil akan membuat nona Linda berada disisinya dengan mudah. Mengingat tuan muda dan nona muda menikah dengan sebuah perjodohan. Perasaan antara tuan muda dan nona muda tidak bisa tumbuh. Dan tuan muda kembali bersama nona Linda." Ujar Ferdi


Mengingat kembali saat dulu kala memaksanya untuk menikah. Tetapi lelaki muda itu masih enggan dan menolak. Bahkan dihari pernikahannya Herman dan kedua orang tua Anna yang mengatur segala persiapannya.


"Jadi menurutmu Linda sudah tau. Jika Arsya sedang memburunya?" Tanya Herman.


"Benar. Sebab itu Nona Linda tidak berani melakukan apa apa dengan nona muda seperti melakukan hal keji kepada nona Anzel sebelumnya. Jika benar dia yang melakukan, Tuan muda akan dapat mengetahuinya lebih cepat. Jadi hanya bisa berencana membuat nona Anna pergi dengan sendirinya tanpa anda tau dan dia tidak merasa bersalah dalam hal ini." Ini pemikiran logis dari ferdi.


"Sebuah konspirasi yang hebat! Dulu aku yang terlalu memaksakan kehendak hanya demi melihatnya menikah. Dan aku kira dengan menjauhkan dia dengan Linda dan menikahkan dengan Anna bebanku akan berkurang. Tapi aku salah. Malah memiliki cara seperti ini agar aku menyetujuinya." Sekarang Herman hanya bisa mengakuinya.


"Tapi, aku pikir. Meskipun tuan muda tidak menyukai nona muda. Diam diam tuan muda melindunginya. Aku juga melihat dari tatapan sorot matanya ada sepercik rasa yang terpendam."


"Ah...benarkah." Tiba tiba Herman merasa ada sepercik harapan.


"Ya." Sahut Ferdi menngguk pasti.


"Jika benar seperti itu. Aku akan merasa lega. Kelak jika aku bertemu dengan kedua putraku, aku akan dengan bangga mengatakan bahwa mereka berdua telah hidup bersama dalam kebahagiaan." Ujar Herman dengan menyunggingkan senyuman.


"Benar." Kedua manusia lanjut usia itu sama sama tersenyum.


...----------------...

__ADS_1


Di Villa kediaman Arsya


Linda benar benar sibuk sedang menyiapkan segala persiapan pernikahan mereka. Linda merasa bahagia. Apalagi ini adalah pernikahan perdananya dengan Arsya. Orang yang ia cintai selama ini.


Di mulai dari undangan. Ia memilih sendiri undangan yang terbaik dan paling bagus. Dia juga merupakan putri dari Bramantyo setidaknya dia akan mengundang banyak tamu dan kolega dari mancanegara.


Terlebih lagi, Ada banyak direktur dan staf tertinggi yang bekerja denhan Arsya. Tentu saja dia juga menyiapkan undangan khsusus untuk tamu Arsya.


Untuk makanan, Linda juga menyiapkan banyak makanan. Terlebih adalah makanan khas di negara ini. Linda merasa dunia sedang berpihak padanya. Dia tanpa lelah mengatur segalanya agar kelak terlihat sempurna.


Linda tersenyum dan sedang menunggu kedatangan Arsya datang. Di kedua tangannya terselip dua undangan untuk mempertanyakan mana yang paling bagus kepada Arsya.


Setelah satu jam menunggu. Akhirnya terdengar suara deru mobil yang terhenti tepat di pintu utama. Linda menyunggingkan senyuman lebar.


"Arsya!" Lirih Linda melihat lantai bawah. Arsya sedang berjalan masuk dan menyerahkan tas kerja dan mantel kepada Ricky lalu tersenyum kearah Linda.


Linda segera berlari tanpa memperhatikan lantai. "Ach...." Linda terpeleset dan ia berguling dari lantai atas hingga bawah.


Arsya segera berlari menangkapnya. Tapi karena jarak antara pintu utama dan tangga sepuluh meter. Dia tidak bisa menolong Linda dengan cepat. Wanita itu merintih kesakitan.


"Linda." Arsya segera menarik tubuh Linda ke pelukannya.


"Arsya. Sakit sekali."


"Ach, darah." terdengar jeritan Elsa saat melihat darah yang keluar dari ************ Linda.


"Hah. Anak kita. Arsya. Tolong selamatkan anak kita." Ujar Linda masih merintih kesakitan di bagian perutnya.


"Tenanglah. Aku pasti akan menyelematkannya." Jawab Arsya menenangkan. Linda mengangguk tetapi kedua matanya berlinang air mata dengan rasa sakit yang ia rasakan.


Ricky segera menelepon ambulance untuk segera datang. Tak berapa lama, ambulance pun datang. Para perawat segera menarik brankar saat tubuh Linda berada di atasnya. Linda masih meringis kesakitan bahkan kesadarannya mulai menghilang akibat darah yang terus keluar dari selangkangannya.

__ADS_1


Arsya terus menggenggam tangan Linda hingga masuk ke dalam mobil Ambulance. Para Pengawal Arsya mengikuti menggunakan mobil lain di belakangnya.


__ADS_2