
Sesampainya dirumah.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" Tatkala masuk ke dalam rumah, Anna sudah dihadang dengan pertanyaan sarkasme dari balik sofa.
Anna memudarkan senyumnya dan saat melewati sofa ia menoleh.
"Lagian kenapa kamu dirumah? Bukankah kamu seharusnya berada di kantor?" Anna mengernyitkan kening, heran. Ia menilik jam masih jam 5 sore. Tetapi pria itu sekarang sudah dirumah.
"Apakah harus ada alasan?" pria itu melipat koran dan melemparnya ke atas meja. Ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Anna yang berdiri di dekat sofa.
Anna menaikkan alisnya sebelah. Menatap pria didepannya. Pria itu juga menatap Anna dengan seksama.
"Siapa lagi yang kau temui diluar sana?"
Anna terkesiap, ia mendongak. "Siapa?"
"Jangan bodoh!" setelah itu Arsya menaiki tangga.
Anna memutar bola matanya malas, lalu ikut menaiki tangga.
"Arsya!" Saat masuk ke dalam kamar Anna memekik. Arsya yang sedang meletakkan ponselnya segera menoleh.
"Apa!"
Anna berjalan cepat mendekati Arsya.
"Aku lama lama muak sama kamu! Kamu.....!" tiba tiba tenggorokannya tercekat begitu saja saat akan mengucapkannya. Ia kembali memikirkan orang orang disekitarnya yang selalu mendapatkan hukuman karena ulahnya. Lagi pula pernikahannya akan kandas setelah enam bulan lagi. Ia seharusnya bisa bersabar selama masih berada di samping Arsya.
Arsya menunggu ucapan selanjutnya, ia menaikkan alisnya sebelah. Anna masih menatap wajah Arsya dengan terbengong.
"Jika tidak ada yang dikatakan, lebih baik kamu mandi." Ucap Arsya. Anna kembali ke akal sehatnya.
Pria itu kembali keluar kamar. Anna menatap punggung lebar itu menghilang di balik pintu. Akhirnya ia berjalan pelan menuju meja belajar dan meletakkan barang barangnya di sana.
Di luar.
Arsya mendapatkan notifikasi sebuah pesan.
"Nanti malam, aku ingin mengundangmu makan malam." pesan itu dikirim langsung oleh Elan kepadanya.
Tiba tiba Elan ada waktu senggang mengajaknya makan malam. Alisnya naik ke atas.
"Aku sempatkan." Balas Arsya.
Elan yang mendapatkan balasan segera tersenyum kemudian menutup buku yang ia baca dan keluar dari ruang pribadinya.
Anna keluar dari kamar setelah selesai mandi dan berganti pakaian.
"Nona, makan malam anda sudah siap. Apakah makan sekarang?" Tanya Ricky.
"Nanti saja, oiya kemana Arsya?" Tanya Anna seraya mengedarkan pandangannya.
__ADS_1
"Tuan muda sedang keluar." Jawab Ricky.
"Kemana?" Tanya Anna.
"Saya tidak tau nona." Jawab Ricky.
Setelah itu, Ricky pergi dari sana. Anna termenung di sofa ruangan tengah. Pikirannya berkelana memikirkan Arsya yang sedang ketemuan dengan Linda.
'Selalu saja begitu.' batin Anna kesal.
Dia selalu dicurigai setiap kali pulang terlambat. Dia berkuasa layaknya hakim yang mengadili, sementara dirinya hanyalah gadis tak berdaya yang selalu diremehkan. Tanpa sadar Anna mengepalkan erat jemarinya.
Di luar tiba tiba hujan. Anna menoleh menatap jendela. Terdengar rintikan air yang mengenai bumi. Seolah dunia serasa damai.
Ia berjalan ke arah jendela dan menyibak gorden. Terlihat jelas air hujan turun dengan derasnya.
"Nona muda. Diluar hujan lebat juga ada guntur. Lebih baik nona masuk ke dalam." Bibik Laila segera memberi peringatan sekaligus menutup semua jendela dan gorden hingga tertutup.
Untung saja, Villa itu didesain kedap suara sehingga suara guntur yang keras tidak akan terdengar lebih keras.
Anna kemudian masuk ke dalam ruang makan untuk mengganjal perutnya yang memang sudah merasa lapar. Setelah selesai makan, ia kembali ke ruang tengah untuk membaca novel yang ia peroleh dari Elan tadi sore.
Berbeda dengan suasana di restoran Lentera di tengah kota. Elan tersenyum tatkala sahabatnya itu datang. Mereka duduk berhadapan dengan nyaman. Lalu memesan makanan sesuai dengan kesukaan mereka masing-masing.
"Sepertinya kamu sangat bahagia sekarang. Apa yang terjadi?" Arsya memperhatikan wajah Elan yang terlihat sangat bahagia jadi ia segera bertanya.
"Kamu tau aja." Elan segera menyeruput minuman anggur didepannya.
"Astaga! Kau sahabat ku terlaknat sedunia memang. Kau bahkan berani menganggap aku gila." Elan menjawab dengan jutek.
Arsya mengendikkan bahu acuh dan meminum anggur yang tersedia.
"Tapi tebakanmu memang benar. Aku sedang tergila gila pada seorang gadis." Ujar Elan berterus terang.
"Gadis mana lagi yang kau gilai. Disini bukan Perancis. Kau berhentilah dengan sifatmu yang bermain wanita."
"Hei, kau jangan menuduhku sembarangan." Elan tidak terima dan melotot ke arah Arsya, sejurus kemudian ia melanjutkan perkataannya. "Dia adalah gadis pertama yang membuatku mabuk cinta."
Arsya menaikkan alisnya sebelah. Ini pertama kalinya sahabatnya itu mengatakan hal yang tulus.
"Gadis mana, siapa namanya, bermarga apa? Aku akan datang melamarkannya untukmu." kali ini Arsya menegakkan punggungnya dan berkata dengan lugas. Sejurus kemudian Arsya mengernyitkan keningnya.
"Kamu serius!"
"Duh! Kamu bertanya kayak rel kereta api." Elan menggaruk belakang kepalanya, saat ia mendongak menatap Arsya, ada rasa takut yang menggerogoti tubuhnya. ia tak bisa menahan lagi. Ia pun lanjut berbicara.
"Dia panggilannya Anna. Tapi aku lupa dia bermarga apa, dan anak mana. Yang aku tau dia adalah anak gadis yang polos. Dan aku sangat serius. Tidak akan bermain wanita lagi jika aku mendapatkan gadis itu." Elan menggaruk pelipisnya dan tersenyum saat membayangkan wajah Anna. Ia pun berkata dengan serius.
"Anna...." Arsya mencoba menekan kecurigaannya. Siapa tau masih ada Anna yang lain selain istri kecilnya.
"Ya." Elan mengangguk dengan pasti. "Tetapi sayangnya, aku masih belum berani menyatakan cinta kepadanya. Aku masih harus berjuang dulu mendapatkan perhatiannya setelah itu baru mengatakan cinta kepadanya." Wajah Elan meringis.
__ADS_1
"Hmm." Arsya kembali meneguk anggurnya.
"Oiya sepertinya, sejak kau menikah kau tidak pernah mengekspos istrimu? Bahkan kau sangat menolak, aku menemui kakak ipar." tiba tiba Elan menyadari sesuatu jadi segera bertanya. Wajah Arsya menegang, tetapi ia masih bersikap tenang dan elegan.
"Dia sedang sibuk. Juga tidak suka di ekspos ke publik. Lagi pula kau itu playboy, takutnya kau akan menikungku dari belakang." Elan merasa sangat lucu. Meskipun ia adalah play boy, ia tak mungkin menusuk sahabatnya sendiri dari belakang jadi ia tertawa.
Arsya mengerutkan keningnya. Menatap Elan dengan horor. Elan menyadari tatapan Arsya dan segera menghentikan tawanya.
"Ya. Aku memang play boy. Tapi aku tak mungkin menikung istri sahabatku sendiri. Percayalah, aku ini sudah punya incaran gadis sendiri." Elan meneguk anggurnya lagi.
"Siapa tau seperti itu. Jadi aku tak mau mengenalkan istriku padamu." Arsya sangat angkuh dan arogan.
"Oke! baiklah. Tapi bagaimana dengan Linda. Bukankah dia adalah wanita yang sejak kecil menyukaimu." Elan tiba tiba teringat dengan gadis itu.
"Soal Linda. Aku tak menyukainya. Aku hanya menganggapnya sebagai teman dan sahabat." ucap Arsya.
Elan mengerutkan keningnya.
"Sudahlah jangan katakan lagi, kau tau aku sejak kecil dihatiku masih ada dia. Aku tak mungkin melupakannya." jawab Arsya.
Elan mengangguk, "Jangan terlalu dalam. Dia sudah gak ada didunia. Lebih baik kamu melupakannya dan jalani apa yang menjadi masa depanmu." elan sedikit membungkuk dan menepuk bahu Arsya.
Memang benar dengan apa yang dikatakan Elan. Ia harus melupakannya dan memikirkan masa depannya. Sedetik kemudian ia teringat dengan perjanjian pranikah dulu.
"Sepertinya aku harus pulang, sudah malam." Arsya menilik jam di pergelangan tangannya.
"Baru jam 11. Yakin mau pulang. Biasanya kau akan pulang jam 1 dini hari menemaniku."
"Kau tidak mengerti, dunia sebelum beristri dan sesudah menjadi suami itu berbeda." Arsya menepuk nepuk bahu Elan kemudian mengancingkan jasnya.
"Aku pulang." Arsya pergi dari hadapan Elan. Elan mencerna satu demi satu kata yang terucap dari bibir Arsya. Apa benar berbeda?
Elan mengernyitkan keningnya kemudian menenggak anggurnya hingga tandas.
Di perjalanan pulang, satu demi satu kata terngiang di otak Arsya. Pantas saja Anna selalu mengatakan waktu yang tersisa selama bersamanya. Dan selalu memberontak setiap kali dia mengatakan hal tak wajar kepadanya.
Dia kira, dia adalah orang paling berkuasa. Mungkinkah masih terbawa masa lalu yang selalu membuatnya terluka sehingga ingin mengikatnya disisinya.
Pecahan pecahan ingatan tergores di otaknya. Tiba tiba otaknya berdenyut nyeri. Jantungnya memompa dengan cepat, paru parunya merasa sempit.
"Pak Reimond, cepatlah sedikit."
Reimond menoleh sekilas. Melihat majikannya merasakan sakut yang luar biasa, ia pun menjadi panik.
"Tuan muda, tahanlah! Sebentar lagi sampai." ujar Reimond tergesa gesa.
"Cepatlah!" Arsya tak tahan dengan gelombang ingatan yang mendesaknya. Ia sangat kesakitan.
Reimond menginjak pedal gas-nya dalam dalam dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pengawal dibelakang mengikuti laju mobil didepan dengan kecepatan yang sama.
"Tunggu! Jangan pulang ke Vila. Pergi ke jalur selatan!" ucap Arsya masih memegangi kepala dan dada secara bergantian. Reimond mengerutkan keningnya, tetapi tidak berani mengatakan apa apa. Ia terus waspada menatap jalanan didepannya dan menyetir mobil dengan baik.
__ADS_1