Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Tujuh Puluh Lima


__ADS_3

"Jalan." Perintah Arsya.


Mobil mewah itu berlalu meninggalkan panti asuhan Bunda Kasih. Di perjalanan Arsya bertopang dagu melihat keluar jendela. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.


"Tuan. Kita pergi kemana?" tanya Raimond.


Arsya kembali duduk dengan tegak. Ia mengerutkan keningnya berpikir sejenak. Sejak Anna pergi, hari harinya tak ada yang spesial. Kemudian terlintas di benaknya tempat yang lama tak pernah ia kunjungi.


"Villa Wirawan." ujar Arsya sekilas tanpa sadar.


"Baik!"


Meskipun ia tau jika Anna keluar dari Villa belum tentu ia berada di kediamannya Wirawan. Ia hanya merindukan wanita itu. Mungkin jika ia dapat melihat foto tentang wanita itu, rasa rindunya akan segera terobati.


Raimond melajukan mobilnya menuju ke Villa kediaman Wirawan. Tak berapa lama mobil terhenti di depan gerbang hitam yang menjulang tinggi. Ia terdiam sejenak menimang kembali apakah ingin pergi atau tidak.


Dua mobil itu terhenti di sebrang jalan sehingga dapat terlihat jelas lantai atas Villa itu. Kamar yang menghadap jalan itu adalah kamar yang ditinggali Anna selama ia hidup di sana.


Tetapi sekilas kamar itu tampak sunyi. Lampunya juga terlihat padam. Hanya lampu teras yang menyala.


Proyek di Bena juga sepertinya sudah selesai. Dan kedua orang tua Anna sepertinya sudah kembali.


"Tuan, apakah mau masuk ke Villa Tuan Wirawan?" Tanya Raimond.


Arsya menoleh dan menatap Villa bergaya prancis itu dengan tatapan datar. "Kita masuk saja."


"Baik."


Raimond menjalankan mobilnya berbelok ke arah gerbang. Satpam yang berjaga langsung mendekat dan bertanya seputar kepentingannya.


Satpam pergi membuka gerbang setelah mendapat alasan yang tepat. Dua mobil bergegas masuk ke dalam pekarangan Villa.


Sepertinya sudah Dua belas bulan Arsya tak pernah menapakkan kakinya di sana. Dan ini kedua kalinya ia pergi ke sana. Tiba tiba rasa gugup menghampiri. Ia berpikir mungkin saja Anna berada di sana lalu bertemu. Pikirannya kalang kabut dan juga rumit jika saja mereka bertemu tanpa sengaja.


Raimond segera membukakan pintu mobil saat mobil telah sampai di pintu utama. Arsya sedikit mendongak, menatap pintu berbahan kayu jati ukiran itu dengan tatapan rumit.


Dengan satu tekad dan kepastian, akhirnya ia menurunkan kakinya dan berjalan keluar dari mobil. Ia sedikit merapikan mantelnya lalu dengan tegas menaiki tangga hingga ke pintu utama.


Para pengawal tetap berjaga di luar sementara Arsya naik ke tangga. Sejenak ia terdiam. Kemudian ia mengulurkan tangannya dan memencet bel di samping pintu.

__ADS_1


Di waktu yang bersamaan. Wiryo dan Dewi tengah menyaksikan televisi. Bik Ijah selaku pembantu di Villa itu bergegas ke arah pintu. Melalui layar di sebelah pintu, Bik Ijah bisa mengetahui tamu yang datang. Ia terkejut saat tau siapa yang datang. Ia lekas masuk dan memberi tau kedua majikannya yang sedang asik dengan layar lebar itu.


Mendengar langkah kaki yang tergesa, Dewi segera menoleh ke arah Bik Ijah.


"Tuan, Nyonya!" Ujar Bik Ijah dengan suara terbata. Karena sehabis berlarian dari pintu utama menuju ruang tengah.


"Bik Ijah. Ada apa?" Tanya Dewi seraya mendongak ke arah Bik Ijah yang terengah. Bik Ijah mengambil nafas panjang sebelum mengatakannya.


"Tuan, Nyonya. Di depan ada tuan Arsya." ujar Bik Ijah.


Dewi dan Wiryo saling berpandangan. Sangat terkejut dengan kedatangan Arsya yang tiba tiba. Apalagi di tengah malam seperti ini.


"Arsya? Bagaimana mungkin. Dia berkunjung di malam larut seperti ini." Ujar Wiryo tak percaya.


"Pa. Apa yang kita lakukan. Apa mungkin akan mengambil sesuatu dari kita." Ujar Dewi merasa panik.


"Hah. Jika benar seperti itu. Kita hanya bisa mempunyai satu harapan." Sahut Wiryo.


"Tapi itu milik Anna, Pa."


"Hanya itu satu satunya harta kita, jika Arsya berbuat sesuatu dan mengakusisi perusahaan." kemudian Wiryo mendongak ke arah Bik Ijah yang masih berdiri di sana.


"Baik, tuan." Bik Ijah pun menuju pintu utama. Sementara Wiryo menuju kamarnya dan berganti pakaian.


Arsya masih berdiri tegak di depan pintu. Lama tak ada gerakan apapun dari dalam. Ia kembali mengulurkan tangan ingin memencet bel kembali. Tapi, baru saja tangannya terulur pintu ukiran itu terbuka menampilkan sosok ibu paruh baya yang tersenyum sopan.


Baru saja Arsya ingin bertanya dan menyapa tetapi Bik Ijah sudah terlebih dahulu mempersilahkan masuk. Arsya mengerutkan keningnya tapi kakinya ia langkahkan masuk ke dalam.


Bik Ijah mempersilahkan duduk di ruang tamu sembari menunggu tuan Wiryo keluar, ia akan masuk ke belakang dan menyeduhkan minuman. Arsya mengangguk dan duduk di ruang tamu.


Arsya mengintari rumah mewah itu dengan seksama. Di dinding ia menangkap sebuah foto yang tergantung. Ia segera berdiri dan pergi ke sana. Ia menatapi foto itu.


"Ekhem...Nak Arsya." Terdengar suara Wiryo membuat Arsya yang di panggil segera menoleh. Kemudian ia kembali melihat foto dihadapannya.


Wiryo segera mendekati Arsya lalu menjelaskan foto yang baru saja di pandang Arsya. "Itu adalah foto keluarga kami dan Itu adalah Anna sewaktu masih SMp." Ujar Wiryo menunjuk Foto di sebelahnya.


"Bisakah aku pergi ke kamarnya?" Tanya Arsya dengan suara rendah.


Wiryo terkejut, tapi ia tetap menampilkan wajah datar. Saat Bik Ijah menyeduhkan teh di atas meja. Wiryo segera membuat gestur tangan. Bik Ijah tak mengatakan apa apa dan langsung pergi.

__ADS_1


"Baiklah."


Wiryo mengayunkan kakinya menuju ke lantai dua. Arsya juga berjalan mengikuti. Dia dapat melihat foto foto Anna yang terpajang di setiap dinding menuju lantai atas. Foto foto itu di buat frame kecil kecil.


Semua kenangan tentang Anna yang berlibur berada di sana semua. Sampai tak sadar kakinya telah menapaki tangga terakhir paling atas.


"Ini kamarnya." Ujar Wiryo. Lalu membuka pintu kamar pribadi Anna.


"Terima kasih." Setelah itu ia masuk.


"Nak Arsya. Aku akan berada di lantai bawah." Ujar Wiryo.


"Ya." Balas Arsya.


Wiryo kemudian berlalu dan pintu tertutup. Setelah sekian lama, Arsya baru pertama kalinya melihat kondisi kamar Anna. Kamar itu tertata begitu rapi. Warna biru muda yang membuat suasana kamar itu lebih terang.


Di samping pintu ada meja belajar. Arsya pergi ke sana dan melihat. Ada banyak buku novel dan komik yang tersusun rapi. Seperti meja belajar yang digunakan Anna saat berada di Villa miliknya.


Arsya terkekeh pelan. Sepertinya sifat buruk Anna tak bisa dirubah. Pantas saja nilainya semuanya jeblok. Mungkin karena gadis itu sering membaca novel atau komik.


Jika dilihat, buku pelajarannya juga hanya sedikit. Anna benar benar tak pernah menyentuh buku pelajarannya di banding buku buku novel yang tersusun rapi itu.


Untung saja pria itu segera membuat peraturan agar Anna semakin giat belajar. Jika tidak, mungkin gadis itu entah bisa lulus atau tidak karena seringnya membaca buku novel. Atau bisa saja dia malas belajar.


Dia teringat jelas. Bagaimana khawatirnya Anna saat Arsya memulai peraturannya dengan ketat. Ia melihat dari celah pintu yang tak tertutup. Saking takutnya ia bahkan menggigiti kukunya dan berjalan kesana kemari.


Arsya sempat menyunggingkan sudut bibirnya kala itu. Karena sikap polosnya membuat ia sedikit terhibur. Arsya menghela nafas lalu meletakkan buku novel yang ia pegang ke tempat semula.


Tak lama setelahnya ia mendapat telepon dari Jo. Ia segera mengangkat telepon.


"Halo." Ujar Arsya tatkala telepon telah tersambung.


"Tuan muda. Li Xuyi sudah bersiap di bandara. Mungkin dua belas jam lagi akan sampai di sana."


"Kerja bagus Jo. Kau awasi terus Li Xuyi. Dan dapatkan dia sebagai kunci saksi."


"Baik Boss."


Arsya kembali menyimpan teleponnya. Ia mengangkat tangannya dan melihat jam. Ternyata sudah pukul 1 dinihari. Ia pun mematikan lampu kamar Anna dan keluar.

__ADS_1


__ADS_2