
Sebuah kotak berbingkai emas tergeletak di atas meja. Arsya saat masuk ke dalam ruangannya sendiri mengerutkan keningnya. Ia bergegas menuju tempat duduknya dan melihat kotak itu dengan seksama.
Tak berapa lama Danni segera masuk dan melaporkan jadwal hari ini. Tetapi pikiran Arsya tidak fokus matanya tetap menatap kotak itu.
"Presdir." panggil danni.
"Hem." saat ini Arsya baru tersadar. "Untuk jadwal makan malam batalkan saja. Saya akan pergi ke tempat tuan Wiryo." Ujar Arsya.
"Tapi tuan! perjamuan ini sangat penting."
"Lakukan saja. Saya sedang tidak mood pergi ke perjamuan." jawab Arsya dingin.
"Baik." jawab Danni. Ia pun hanya bisa pergi dan mengatur ulang jadwal presdir.
Arsya menarik kotak berbingkai emas dan membukanya. Ia melihat ada botol parfum dan juga kertas kecil. Ia membuka kertas kecil dan membacanya.
"Presdir. Ini hadiah untuk anda. Aku memberikannya khusus. Terlebih sudah membuat anda marah. Mohon diterima." isi surat yang tertulis pada kertas kecil itu.
Ia mengambil botol parfum itu lalu mencium aromanya. Aroma itu sangat klasik dan mampu menenangkan pikiran. Arsya segera menyemprotkan parfum itu ditelapak tangannya. Aromanya sangat khas dan tidak terlalu menusuk.
Arsya menyunggingkan senyuman tipis. "Benar benar mampu membius orang." gumamnya pelan. Tetapi pujian itu bukan ditujukan untuk direktur Roni melainkan untuk aroma parfum itu sendiri. Kemudian ia menyimpan botol parfum itu dan mulai bekerja.
Ia mulai mengecek hasil laporan setiap bulan. Ia mengambil salah satu map yang nampak paling atas. Menariknya ke hadapannya dan membukanya. Ia mulai membaca satu persatu kata yang tertulis di dalam sana.
Ternyata dalam laporan itu adalah proyek dari amsterdam. Dalam proyek di amsterdam itu banyak menunjukkan pendanaan yang masih kurang. Arsya menggaruk pelipisnya. Padahal ia sudah mengirakan biaya yang akan dihabiskan akan mencapai satu triliun termasuk gaji pegawai. Tetapi disini tercatat ada kekurangan sebanyak dua miliar.
Apa yang terjadi?
Arsya menarik gagang interkom dan memanggil Danni. Tak lama setelahnya Danni pun masuk ke dalam ruangan.
"Presdir memanggil saya?" tanya Danni.
"Coba cek proyek yang berada di amsterdam. Apa kendalanya sampai harus kekurangan dana sampai dua milyar??" ujar Arsya.
"Apa? Dua miliyar. Apakah direktur Roni...."
"Jangan asal menuduh. Kau cek dulu apa kendalanya. Setelah itu segera laporkan padaku."
"Baik."
__ADS_1
Danni segera kembali ke ruangannya. Ia segera mengecek kendala permasalahan di amsterdam. Setelah menemukannya ia kembali melaporkan yang sudah ia temukan.
"Apa yang terjadi?" tanya Arsya.
"Selain bahan bangunan yang harganya meningkat. Ada salah satu pekerja yang melakukan korupsi. Terlebih di saat direktur Roni sedang lengah mereka menjual sebagian bahan bangunan untuk dijual." Lapor Danni.
"Siapkan tiket. Malam ini kita pergi ke amsterdam."
"Tapi presdir, bagaimana dengan kunjungan ke tempat tuan Wiryo?" tanya Danni.
"Undur sampai aku pulang dari amsterdam." jawab Arsya.
"Baik.
Setelah itu Danni kembali ke ruangannya dan mengatur ulang jadwal presdir. Ia tak lupa menyiapkan tiket menuju amsterdam termasuk penginapan dan segala kendaraan yang dibutuhkan.
Saat waktu yang sudah ditentukan. Arsya dan Danni segera terbang ke Amsterdam.
***
Sejak Direktur Roni menyatakan perasaannya. Ia tak pernah menyerah. Ia sering kali datang ke perkebunan. Selalu mencicipi teh mawar buatan Anna. Selalu menemaninya makan siang.
Tapi direktur Roni tak perduli anggapan Anna. Asalkan bisa terus bersama itu sudah membuatnya senang. Ia yakin jika perasaan ini terus di pupuk maka akan mendapatkan hasil.
Saat ini direktur Roni sedang libur. Jadi memanfaatkan waktu untuk menemani Anna di rumah penelitian.
"Selamat pagi Noni." sapa direktur Roni sopan. Ia tak lupa menyematkan senyuman hangat kepada Noni.
"Pagi pak Roni. Anda pagi sekali datang kemari?" ujar Noni sekaligus bertanya.
"Hehe. iya. Tadi sekaligus joging." memang benar saat ini pak Roni mengenakan kaos dan celana training.
Noni tersenyum mendengar jawaban direktur Roni. "sudah sarapan? ayo sarapan bersama. Aku sedang membuat sarapan dengan daging rendang."
Dengan senang direktur Roni duduk di kursi yang tersedia di ruangan. Anna menuangkan daging rendang yang ia buat tadi di atas piring. Ia juga tak lupa menambahkan nasi.
"Enak sekali. Noni sangat pintar memasak." Puji direktur Roni.
Anna hanya tersenyum sebagai tanggapan. Seusai makan sarapan. Anna dan direktur Roni berjalan jalan di sekitar kebun mawar.
__ADS_1
"Lahan konstruksi yang sedang anda kerjakan sepertinya sudah tampak 80 persen jadi." Ujar Anna sembari melihat gedung yang masih dalam pembangunan.
"Ya, gedung ini memiliki tempo dua bulan untuk mengerjakannya." saat mengatakan hal ini direktur Roni tampak sedih. Dua bulan rasanya masih tidak cukup untuk bisa bersama dengan Anna.
Anna tersenyum saat menoleh terlihat direktur Roni tampak sedih. "Ada apa?" tanya Anna mengerutkan keningnya.
"Tidak apa apa hehe. Dua bulan sepertinya cukup singkat ya." Jawab direktur Roni memaksakan senyumnya.
Anna kembali tersenyum. Saat di siang para pekerja berteduh ke sebuah pondok sedang melakukan makan siang. Anna tak sungkan untuk pergi ke sana dan ikut makan bersama. Ia juga menyediakan sarana persediaan makan siang untuk para pekerja. Jadi mereka bisa menghemat uang saku hanya untuk dijajakan makanan.
"Wah, aku baru tau jika disini juga menyediakan makanan." Ujar direktur Roni.
"Hem, ya. Disini sangat jauh dari restoran. Apa salahnya jika menyediakan hal seperti ini. Lagi pula mereka bisa memesan makanan kesukaan mereka." Anna menjelaskan.
"Mr Roni. Noni ayo makan bersama. Cuaca hari ini sangat panas. Kita sudah menyiapkan es sebagai penyegar." Ujar Laila kemudian menyeduhkan air sirup ke dalam dua gelas dan diberikan kepada direktur Roni dan Noni.
"Ya, ayo makan." sahut Anna dengan ramah.
Mereka bertujuh segera menyantap makan siang mereka. Dengan air es sirup sebagai pendingin.
Selama sedang menikmati makan siang. Lincoln berlari tergesa dari arah lahan rekonstruksi. Ia mendapat laporan jika presdir Arsya sedang berada di jalan menuju kemari.
"Mr. Roni!" panggil Lincoln. Semua yang berada di sana langsung menoleh ke arah Lincoln.
"Eh, ini teman pak Roni. Ayo sekalian makan." Ujar Laila saat Lincoln sampai di sana dengan nafas yang terengah.
"Tidak. Terima kasih nyonya. Saya hanya mau memberi tau Mr Roni. Presdir sedang di jalan menuju kemari." Ujar Lincoln.
"Apa. Kenapa mendadak?" tanya Direktur Roni panik.
"Saya tidak tau. Lebih baik segera kembali." ujar Lincoln memberi saran.
"Baiklah." direktur Roni menoleh ke arah semua orang yang berada di sana. "Maaf semua. Saya harus kembali. Terima kasih atas perjamuannya." ujar direktur Roni meminta maaf.
"Iya pak, lain kali kita makan bareng lagi." Sahut Laila.
"Noni. Saya pergi dulu. Semuanya saya duluan." ujar Direktur Roni berpamitan.
"Pergilah pak Roni." Sahut Anna.
__ADS_1
"Permisi semua." Lincoln segera berpamitan. Semua yang berada di sana pun mengangguk.