Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 13


__ADS_3

Melihat kemesraan Anna dan direktur Roni. Arsya mengurungkan niatnya untuk membayar. Ia memilih pergi ke toilet seraya Menunggu Anna selesai membayar.


Semua belanjaannya menghabiskan uang 15598,36 euro. Atau sekitar 250 juta. Termasuk semua belanjaan Arsya.


Anna begitu kesusahan membawa semua barang itu. Untung saja direktur Roni masih setia menunggu sampai pembayaran itu selesai. Direktur Roni segera menghampiri dan membantu membawa sebagian barang belanjaannya.


"Terima kasih pak Roni." Ujar Anna.


"Sama sama Noni." jawab direktur Roni.


Mereka berdua tak melihat keberadaan Arsya seusai pembayaran. Seharusnya pria itu juga andil membayar barang nya sendiri, lah ini malah ditinggal begitu saja. Membuat Anna semakin dongkol. Tak berapa lama Arsya keluar dari persembunyiannya.


"Sudah selesai?" tanya Arsya membuat langkah keduanya terhenti karena Arsya yang menghalangi jalan mereka.


"Loh presdir, dari mana saja. Aku baru mau mencari." sela Direktur Roni.


"Dari toilet bentar." Sahut Arsya santai.


Anna sudah tidak bisa menahan lagi barang bawaannya dan ia memberikan sebagian barang belanjaannya kepada Arsya.


"Karena kau sudah kembali, bawa sendiri barangmu." Ujar Anna.


"Tentu saja." Arsya menerima godie bag yang berisi barang belanjannya. Kemudian berjalan disisi kanan Anna sementara direktur Roni berada di sisi kiri.


Sampai di emperan pusat perbelanjaan. Direktur Roni mengambil mobil sementara Anna dan Arsya menunggu sambil membawa barang. Anna tetap berdiri diam sambil menunggu direktur Roni menjemput. Sedangkan Arsya melirik Anna saja tanpa mau membantu gadis itu. Ia malah asik bermain dengan ponselnya.


Tak berapa lama mobil direktur Roni tiba. Direktur Roni segera keluar dari dalam mobil dan membantu memasukkan semua barang ke dalam bagasi. Setelah semua barang masuk ke dalam mobil.


Arsya segera masuk ke dalam jok samping. Sementara Anna dan direktur Roni masuk belakangan. Direktur Roni masuk ke dalam kursi kemudi saat ia sudah selesai menata barang bawaannya. Sementara Anna sendiri saat membuka pintu samping, ia malah dikejutkan oleh Arsya yang duduk di sana lebih dulu.


"Duduk di belakang. Nanti kau menghalangi jalan." Ujar Arsya.

__ADS_1


Anna kembali menutup pintu dengan kasar. Tak ingin berdebat dengan Arsya, ia pun mengalah dan duduk di belakang. Arsya menyunggingkan senyuman tipis.


Mobil melaju meninggalkan pelataran pusat perbelanjaan. Tidak ada percakapan apapun di dalam mobil selain hening. Arsya sendiri duduk menyender dan menutupi matanya dengan kaca mata hitam besar. Sementara direktur Roni fokus pada jalanan didepannya. Anna lebih baik menolehkan kepalanya melihat keluar jendela.


"Noni. Kita makan siang sebentar ya." direktur Roni menatapnya melalui kaca spion depan.


"Ya, kebetulan aku juga lapar." sahut Anna.


Direktur Roni langsung membelokkan mobilnya ke salah satu restoran yang dilalui. Direktur Roni segera turun begitu juga Anna. Sementara Arsya ikut menyusul tatkala mobil yang ia tumpangi tampak terhenti.


Melihat Direktur Roni begitu menempel pada Anna, Arsya tanpa kata langsung merangkul bahu Anna yang membuat direktur Roni menjadi cemburu. Arsya tersenyum puas dalam hati.


"Arsya, kau ini apa apaan sih. Malu diliat orang." Gumam Anna dengan pelan.


"Kenapa? Merasa gak enak diliat orang atau takut sama Roni?" Sahut Arsya datar. Anna menggertakkan giginya dengan kuat.


"Tapi. Bagaimanapun hubungan kita telah berakhir. Kau jangan seperti ini. Berikan kesempatan kepada yang lain. Lagi pula kita tak mungkin bersama lagi." tegas Anna.


"Cih, siapa bilang kita tak ada hubungan. Kita masih sah sebagai pasangan suami istri. Lagi pula jika kita tak ada hubungan sekalipun aku tak akan melepaskanmu walau kau bersama Roni sekalipun." Sahut Arsya. Anna hanya mampu menggeram.


"Selamat siang. Silahkan." Seorang pelayan pergi menyapa dengan memberikan tiga buku menu ke setiap masing masing orang. Anna terlebih dulu memesankan makanan untuk dirinya sendiri di susul direktur Roni yang menyebutkan pesanannya dan yang terakhir adalah Arsya yang meminta untuk mengeluarkan hidangan terenak dan paling favorit di restoran itu.


Setelah memesan makanan pelayan itu segera pergi. Selama menunggu, direktur Roni tak ingin melewatkan kesempatannya untuk mendekati Anna. Ia lekas mengeluarkan cincin yang sudah ia siapkan sebelum pergi ke korea.


"Noni, besok pagi. Aku harus pergi ke korea. Sebagai imbalannya kau agar tetap setia. Aku menghadiahkanmu cincin."


Cincin itu sepertinya terbuat dari berlian yang memiliki permata di tengah tengahnya. Sangat terlihat sederhana. Arsya melirik Anna lalu tangannya ia ulurkan di bawah meja. Ia mengelus pahanya yang sekarang ini sedang mengenakan celana pendek. Sementara satu tangannya yang lain berpura pura sedang memainkan ponsel.


Tentu saja Anna merasa geli karena di elus seperti itu bahkan bulu kuduknya merinding. Tetapi ia tetap tersenyum menghadapi direktur Roni yang tampak serius.


"Emm..."

__ADS_1


Belum juga Anna menjawab atau menerima cincin itu, kaki Arsya yang panjang menendang kaki direktur Roni. Sehingga Direktur Roni yang belum siap langsung menjatuhkan cincinnya.


"Ugh." Dan cincin berlian itu menggelinding dan jatuh dari atas meja. "Eh, cincinnya." Direktur Roni langsung mencari keberadaan cincin itu yang malah menggelinding di bawah meja di sebelahnya.


Arsya tersenyum puas. Lalu melirik Anna yang tampak menganga karena ulah Arsya yang benar benar menyebalkan. Satu tangannya tadi yang ia gunakan untuk mengelus paha Anna langsung ia tarik tatkala pesanan mereka telah sampai.


"Arsya! Kau sengaja ya?" ujar Anna dengan suara rendah.


Bukannya Arsya menjawab pertanyaan Anna. Tetapi ia malah mengendikkan bahunya dengan acuh dan bersiap mengambil makanan itu dihadapannya.


Anna menoleh ke arah direktur Roni yang tampak mencari cincin itu.


"Pak Roni!" panggil Anna karena merasa kasihan dengan Roni yanv kesulitan mencari cincin.


"Sebentar Noni, cincinnya belum ketemu." Ujar Direktur Roni yang mencari dibawah kolong meja.


Anna mengusap wajahnya dengan kasar karena malu dengan semua kelakuan direktur Roni yang seperti ini. Terlebih saat ini direktur Roni menjadi tontonan publik dan terlihat sangat bodoh.


"Pak Roni, nanti cari lagi. Kita makan siang dulu." Ujar Anna dengan suara sepelan mungkin agar para pengunjung yang lain tak merasa terganggu.


Direktur Roni merasa sedih karena harus kehilangan cincin yang seharusnya menjadi momen terindah sebagai kenangan untuk Anna.


"Tapi..."


Anna segera bangkit dari duduknya dan berjongkok di samping direktur Roni. Ia mengangkat lengan sebelahnya agar direktur Roni segera duduk di tempatnya. Anna memberi kode isyarat mata jika saat ini ia sedang menjadi tontonan publik.


Direktur Roni merasa malu, dan ia segera bangkit dari lantai dan duduk di kursi.


"Maaf Noni. Aku..." direktur Roni tidak sanggup melanjutkan kata katanya, lalu melirik presdir Arsya yang sepertinya tadi menendang kakinya. Tetapi pria itu seakan acuh tak acuh dan terus menikmati makan siangnya.


Direktur Roni merasa geram. Tapi ia tak berani meluapkan emosinya. Jika berani, maka ia akan ditendang dari adiyaksa group atau di pindah ke afrika. Sungguh sangat menderita sekali. Direktur Roni hanya mengepalkan tangannya. Lalu menatap Noni.

__ADS_1


"Ayo pak Roni kita makan dulu." Ujar Anna.


Direktur Roni hanya mengangguk, sementara cincin itu sebenarnya berada di bawah telapak kaki Arsya.


__ADS_2