Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 31


__ADS_3

Tak membutuhkan waktu yang lama mobil yang ditumpangi Arsya telah sampai pada sebuah penginapan yang biasa di gunakan Arsya. Rumah ini tidak terlalu besar, apalagi mampu menampung semua pengawal yang datang secara mendadak.


"Sekarang kalian mau tinggal di mana. Di rumah ini tidak cukup muat untuk menampung puluhan orang." ujar Arsya dengan suara tegas.


Semua pengawal hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya. Tidak tau mau menjawab apa. Rendi dan Ari hanya menatap kejam ke pada seluruh bawahannya itu yang tanpa komando malah menyusul sang bos ke Amsterdam.


Arsya menghela nafas lalu meninggalkan semua pengawal itu dengan langkah lebar masuk ke dalam penginapan. Danni, Rendi dan Ari mengikuti masuk. Sementara puluhan pengawal langsung berjaga di luar pintu.


Sampai di dalam, Arsya mengeluarkan ponselnya dan menelepon Herman.


"Arsya! Tumben telepon? ada apa kau menghubungi pria tua sepertiku. Jika bukan aku yang menghubungimu lebih dulu? Apakah kau masih ingat dengan pria tua sepertiku?" Dari sebrang malah terdengar mengomel dengan marah.


"Kakek."


"Dasar bocah tengik! Ada apa menghubungiku?" kembali Herman mengomeli Arsya.


"Yach, Kakek. Kenapa kakek yang malah marah kepadaku. Seharusnya aku yang marah kepada kakek. Kenapa kakek malah mengirim banyak pengawal kemari?" tanya Arsya.


"Hem. Soal itu? Tentu saja agar menjagamu juga menjaga cucu menantuku." Ujar Herman tanpa rasa bersalah.


"Kek! Dulu Anna merasa tertekan karena pengawal ini. Malah kakek mengirim kemari. Jika Anna kabur lagi. Aku tak tau lagi." ucapnya kesal.


Herman : (……Tapi itu...."


"Sudahlah kek. Jangan bahas lagi. Aku bukan anak kecil yang terus dijaga. Apa gunanya aku belajar ilmu bela diri jika tak bisa melindungi diriku sendiri. Aku masih bisa melindungi Anna dengan caraku."


"Baiklah, kakek....hanya ingin kalian baik baik saja. Aku mengkhawatirkan kalian berdua. Terlebih jika ada serangan tak terduga dari pihak lain."


"Siapa?" tanya Arsya.


"Aku sudah membagi lima persen saham kepada bibi mu. Tetapi aku juga melarangnya pergi ke perusahaan. Dia saat itu pergi dengan rasa marah."


"Aku tau...."


"Sudah aku duga. Bibi mu memiliki tempramen yang suka iri. Brian adalah anak yang baik. Beruntung anak itu tidak meniru gaya hidup ibunya. Jika tidak. Perusahaan ini akan terpecah dan tidak semakmur sekarang. Untung saja, aku mendidik kau dengan baik agar perusahaan ini di kelola olehmu. Jika tidak. Maka perusahaan ini akan gulung tikar." Ujarnya dengan sedih.


"Hem, sekarang aku mengerti, yang di maksud pihak lain adalah bibi sendiri?" Ujar Arsya menebak pemikiran Herman.


"Kau cukup pintar." puji Herman dan terdengar tawa renyah.


"Jika Bibi benar berani melawanku aku akan dengan senang hati melawannya." sahut Arsya.


"Saudara tetaplah saudara. Jangan sampai ada pertumpahan darah. Kalian sudah aku didik dengan kekuatanku sendiri. Jika bibi mu berani melawanmu bagaimana dengan kakek. Apakah dia berani melawan kakek."


"Eh...."


"Sudahlah. Sekarang semua kekhawatiranku sedikit berkurang karena penjagaan kalian. Dan juga jangan terlalu lama berada di Amsterdam. Urusi perusahaan dengan benar. Jika tidak bibi mu akan meminta hak lebih dan mengambil alih perusahaan. Jika itu terjadi, usaha kakek akan berakhir sia sia."


"Baiklah Kek. Aku akan segera kembali."


"Hem."

__ADS_1


Setelah beberapa lama bertelpon dan mengucapkan kata saling menjaga, telepon di tutup.


Arsya meletakkan telepon dan menghela nafas. Waktu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa hari sudah malam. Ia memanggil Rendi masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Tuan muda!" Sapa Rendi sembari menunduk hormat.


"Sekarang kau atur semua pengawal agar tak terlalu mencolok di depan nona muda. Semua pengawal ada 30 orang. 10 orang tetap tinggal dan 15 orang kau sebar. Lima orang tetap kembali. Bagaimanapun Villa harus ada yang berjaga. Jika tidak! Bibi ku akan keluar masuk seenaknya dan menggunakan propertiku."


"Baik tuan muda. Saya mengerti." Sahut Rendi.


"Hem, sekarang pergilah!"


Rendi kemudian keluar dari ruang kerja. Kali ini ia memerintahkan Danni untuk menyiapkan pakaiannya karena mulai malam ini ia akan tinggal di tempat Anna.


Setelah beberapa saat, Arsya keluar dan Danni mendorong kopernya keluar. Reimond langsung menyiapkan mobil dan mengantarkan Arsya sampai di tempat Anna.


Tiba di tempat Anna. Lampu rumahnya masih benderang. Arsya mengerutkan keningnya sambil menatap ruangan yang lampunya masih menyala.


Danni mengeluarkan kopernya dan menghampiri Arsya yang masih tetap berdiri tak bergerak. Padahal sudah sampai.


"Presdir. Kenapa tidak masuk?" Tanya Danni. Arsya menoleh sekilas kemudian kembali menatap ruangan yang lampunya masih menyala.


"Menurutmu, kenapa lampunya masih menyala. Apakah dia sedang menungguku?" Tanya Arsya.


Danni menilik jam sudah jam 11 malam. "Tidak mungkin presdir. Ini sudah larut. Nona muda tidak tau jika presdir pulang."


"Ah ya benar. Aku kan gak memberi tau dia jika aku akan pulang." Arsya terkekeh sendiri.


"Em, mungkin saja. Baiklah, sekarang kalian pulang dan perintahkan Rendi dan Ari berjaga seperti biasanya."


"Baik."


Danni pun berbalik meninggalkan Arsya serta koper di halaman depan rumah Anna. Mobil berderu meninggalkan pekarangan. Arsya melangkah masuk sambil menyeret koper miliknya dengan enteng. Tepat saat ingin mengetuk pintu, pintu di buka dari dalam. Keduanya saling bersitatap dalam sekejap.


"Eh, Anna!"


"Arsya!"


"Duh, Noni. Aku sudah selesai aku sudah membereskannya." di belakang terdengar suara Direktur Roni. Arsya mengerutkan kening lalu menatap tajam kepada Anna.


"Kenapa ada suara lelaki di dalam? Apa yang kalian lakukan di dalam?" tanya Arsya dengan suara rendah dan itu membuat Anna menjadi merinding. Tetapi ketika Anna mengingat sesuatu tentang Arsya bagaimana sikapnya dulu terhadapnya. Lalu membawa perempuan lain ke dalam rumahnya. Hatinya menjadi gentar.


"Memangnya kenapa?" Tanyanya dengan suara setenang mungkin. Lalu melihat Arsya yang membawa koper disisi tubuhnya.


"Apa maksudmu membawa koper kemari?" lanjut Anna. Arsya melirik sekilas koper disisinya.


"Heh!" Arsya mendesis dengan kejam. "Sudah aku katakan sebelumnya setelah aku kembali aku akan mulai tinggal disini. Apa kau lupa?"


"Eh, apa kau berkata demikian?" Tanya Anna dengan menaikkan alisnya.


"Tentu saja!" balasnya dengan raut dingin. "Sekarang menyingkir dari pintu, aku akan masuk." lanjutnya.

__ADS_1


"Apa apan kau ini Sya!" Anna menggeram.


"Tidak perduli kau menolak atau tidak. Di dalam tubuhmu ada janin yang harus aku jaga."


Deg


Anna kembali teringat malam adegan panas itu. Apa iya, dia hamil anaknya. Arsya menyunggingkan senyuman tipis dan masuk melewati tubuh Anna begitu mudah.


Tapi Anna tidak merasakan apa apa jika dia hamil. Kenapa Arsya begitu percaya diri jika di dalam perutnya ada janin yang ia kandung. Ia menoleh ke dalam rumah.


Arsya menemukan Direktut Roni berada di dalam rumah Anna. "Direktur Roni!" ujar Arsya dengan suara pelan.


Direktur Roni yang sedang mengotak atik laptop milik Anna segera menoleh dan terkejut kala menemukan Arsya juga berada di sana.


"Presdir." Direktur Roni terkejut hingga tak sadar tubuhnya gemetar dan dengan sigap berdiri dan menunduk hormat.


Arsya melirik sekilas ke arah meja yang terletak laptop yang sudah bongkaran. "Apa yang kau lakukan disini larut malam begini?" tanya Arsya sambil menaikkan alisnya.


"Eh, itu...aku sedang...memper..."


"Dia aku suruh memperbaiki laptopku yang kena air tadi siang." sela Anna dengan cepat.


"Aku tidak bertanya kau. Aku tanya sama Direktur Roni." sahut Arsya yang juga tak mau mendengar penjelasan dari orang lain.


"Aku membantu Noni memperbaiki laptopnya." Sahut direktur Roni sambil menundukkan kepala.


"Apakah larut malam begini?"


"Arsya!" Lirih Anna. "Kenapa kau memperkeruh keadaan. Direktur Roni membantuku dari siang. Dan sampai malam belum bisa memperbaikinya. Apa salahnya." Sela Anna yang semakin kesal dengan sikap Arsya.


Arsya menghela nafas. "Dia sudah bekerja keras memperbaiki laptopku. Aku gak sengaja menumpahkan air di atasnya dan laptopku langsung mati. Kebetulan ada pak Roni jadi aku meminta bantuannya." terang Anna.


"Maaf Presdir. Aku sampai lupa waktu karena terlalu fokus. Jadi aku akan segera pergi. Selamat malam! Noni! Selamat malam. Aku pulang dulu." Direktur Roni buru buru berpamitan dengan presdir dan juga Noni lalu pulang dengan tergesa.


Hening


Mereka berdua hanya saling berdiri. Tak lama setelahnya Anna menghela nafas lalu mengunci pintunya.


"Sekarang kau mau tidur di mana? Aku tidak memiliki dua kamar."


"Tidur di kamarmu." Ujarnya santai lalu masuk ke dalam kamar. Di sana hanya ada ranjang kecil yang muat untuk seorang saja. Arsya meletakkan kopernya di pinggir lalu duduk di tepian ranjang.


Anna melihat gerakannya di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Jika kau tidur di sana. Aku tidur di mana? Kau adalah tamu seharusnya kau yang tidur di luar dan aku di kamar. Ranjangku tidak cukup muat untuk dua orang." Ujarnya.


"Hem."


Arsya berdehem lalu menelepon Danni untuk memesankan ranjang king size segera dikirim kemari. Setelah selesai, Arsya menyimpan telepon ke dalam sakunya lalu tersenyum manis sambil menatap Anna.


"Kau tenang saja. Sekarang kau istirahatlah!" Ujarnya santai sambil menepuk nepuk ranjang dengan pelan.

__ADS_1


Raut wajah Anna berubah. "Sial!" geramnya dalam hati.


__ADS_2