
Awalnya Arsya keluar dari ruangannya untuk melakukan perjalanan bisnis. Tetapi tak di sangka saat pintu lift terbuka ia menemukan Anna yang sedang di maki oleh pegawainya.
Di dalam hatinya mencibir tetapi ia kesal saat perempuan yang ia anggap istri itu di maki karyawan perusahaannya.
"Ada apa ini!" Seketika resepsionist ini mengatupkan bibirnya. Tetapi saat mengetahui bahwa yang datang adalah CEO ia pun berkata dengan menebalkan mukanya.
"Maaf pak Nona ini ingin menerobos masuk." Ucap wanita itu menyeringai.
Tatapan Arsya tertuju pada gadis yang tengah terdiam. Dengan Refleks ia menarik tangannya hingga keluar kantor. Seketika Anna terkejut dengan gerakan secepat kilat itu. Danni buru buru mengejarnya, saat melewati dua karyawan itu ia melirik tag name di dada keduanya.
Kedua wanita yang bekerja sebagai resepsionist itu semakin takut. Arsya melemparkan Anna ke dalam mobil jok belakang diikuti Arsya yang duduk di sebelahnya. Seketika mobil melaju meninggalkan pelataran Adiyaksa Group.
Di dalam mobil itu, Empat orang saling terdiam. Arsya duduk diam menegakkan punggungnya. Sementara Anna duduk gelisah.
"Ke pantai." Ujar Arsya tegas. Danni dan sopir disebelahnya tercengang.
"Tapi pak, bukankah bertemu klien satu jam lagi." Ujar Danni mengingatkan.
Arsya memandang Danni tajam. Danni tak berani bicara. Sang sopir melakukan perintahnya dan menuju ke pantai.
Anna termangu, Anna menautkan jari jemarinya takut. Apakah ia akan di bunuh dengan menenggelamkannya di laut. Oh tidak. Aku masih belum ingin mati.
"Arsya!" Anna memanggilnya dengan suara pelan.
Tetapi Arsya masih terdiam. Karena panggilannya tidak dihiruakan akhirnya Anna menghembuskan nafas panjang. Dengan sorot mata permohonan, ia menatap Arsya dengan menolehkan kepalanya.
"Papa-ku....butuh bantuanmu." Ucap Anna gugup.
"Aku tau." Ucap Arsya datar. Anna membelalakkan mata.
"Lalu kenapa kamu tidak membantunya?" Tanya Anna.
"Membantunya?" Terdengar tawa sinis yang keluar dari mulut Arsya.
Anna menundukkan kepalanya, setetes demi setetes air keluar dari matanya, dan pada akhirnya tetesan itu semakin banyak.
"Mama-ku sakit." Ujar Anna pelan.
Arsya yang melihat kesedihan Anna menjadi tatapan iba. Tapi Arsya yang kejam tetaplah Arsya. Ia belum memberikan perhitungan kepada gadis ini.
Tepat di saat ini mobil tiba ditepi pantai. Di pantai ini tidak terlalu ramai pengungjung. Jadi Arsya ingin menggunakan ketenangan ini untuk mendengarkan apa yang akan Anna bicarakan sampai harus mencarinya ke perusahaan.
Arsya diam bergeming, melalui tatapan matanya ia memerintahkan Danni dan sopir itu. mereka mengerti langsung keluar mobil dan berjaga diluar.
"Lalu apa hubungannya aku dengan mama-mu."
Anna menggeleng. "Tidak ada!"
__ADS_1
"Lalu."
"Aku hanya butuh bantuanmu. Papa-ku harus menangani masalah perusahaan sedangkan mama sedang sakit. Di saat seperti ini hanya kamu yang mampu membantunya. jika kamu memberikan sedikit bantuan, maka papa-ku akan lebih tenang menjaga mama." Ungkap Anna.
"Aku bisa membantumu, tetapi ada syaratnya." Ucap Arsya datar.
Seketika Anna memancarkan binar kebahagiaan. "Oke, aku akan mematuhinya asal kamu mau membantu papa."
"Pertama, jika kamu kabur lagi seperti dulu maka tiada ampun bagi orang terdekatmu."
"Kedua, kau adalah milikku, jadi kapanpun aku mau kau harus sedia."
"Tapi, aku masih sekolah. Bagaimana mungkin aku bersedia. Aku tidak mau hamil di saat aku masih sekolah." Ucap Anna memalingkan mukanya.
Arsya memang tidak berniat untuk menyentuh Anna sebelum lulus sekolah tapi ia hanya menakutinya saja. Biarkan ia berspekulasi sendiri. Arsya hanya memberikan perhitungan kepada Anna agar dia kembali secara sukarela.
"Kalau begitu aku membatalkan untuk membantu papa-mu."
Tubuh Anna langsung membeku dan raut mukanya menjadi kaku. Sudah susah payah ia pergi ke perusahaan Arsya untuk mendapatkan bantuan. tidak boleh, ini tidak boleh. jadi harus berhasil. batin Anna.
"Bagaimana?" Suara Arsya menyadarkan Anna.
"Beri aku..." Ucap Anna terhenti saat tangan Arsya bergerak ke dalam saku bajunya.
Arsya mengeluarkan telepon, Anna gelagapan takutnya ia menelepon seseorang untuk membunuh papa dan mamanya. Jadi ia menahan tangan Arsya.
"Bagus! good girls!" Arsya mengelus pucuk rambut Anna disertai senyuman ringan. Ia pun memasukkan kembali telepon genggamnya.
Jika bukan karena sang kakek, mungkin saat ini Arsya tidak begitu peduli dengan gadis ini. Ia hanya menghormati pilihan kakeknya.
Sepuluh kemudian sopir dan Asistennya kembali masuk ke dalam mobil. Mobil meluncur meninggalkan pantai, Lima belas menit kemudian mobil limosin yang mereka tumpangi telah sampai di salah satu restoran terkenal di tengah kota.
Anna ragu ingin ikut turun atau tidak. Arsya yang sedari tadi sudah berdiri di luar mobil mengernyitkan kening. Selanjutnya ia berjalan ke sebelah mobil dan membuka pintu samping tempat Anna duduk.
"Masih tidak turun!" Ucap Arsya dengan datar.
Anna memandangi dirinya sendiri. Pakaian yang dikenakan sangat sederhana. Sangat tidak cocok dengan penampilam Arsya yang selalu tampil rapi.
Terlalu lama menunggu akhirnya Arsya tidak sabar dan menarik tangannya. "Eh..." Anna mendesis kaget.
"Jika dibiarkan, kau akan kabur lagi." Ucap Arsya seraya melangkahkan kaki jenjangnya. Bahkan Anna tak mampu menyamakan langkah Arsya yang terlalu panjang. Ia pun berjalan terseok seok memasuki restoran tersebut.
Sampai di depan pintu, manager sudah berdiri di ambang pintu menyambutnya. "Selamat datang tuan Arsya!" Ucap manager itu seraya membungkukkan badan.
Arsya tidak peduli, tangan kirinya masih menggenggam Anna dengan erat sementara Anna tersenyum membalas sapaan pak manager. Manager itu mengernyit heran. Siapa wanita itu!
Alih alih bertanya, lebih baik ia mengejar Arsya dan menunjukkan ruangan VIP yang telah ia pesan. Sebuah kejutan besar bagi para orang awam seperti mereka untuk mengetahui sebuah berita besar seperti ini.
__ADS_1
Tetapi Manager itu tetap bungkam dan mengatupkan bibirnya. "Silahkan tuan, Tuan Geraldo sudah menunggu di dalam." Ucap Manager itu membukakan pintu, sembari tubuhnya tetap membungkuk hormat.
Arsya melangkah masuk dengan terus memaksa Anna mengikutinya. Danni pun tersenyum setelah melewati manager itu lalu mengejar langkah Arsya dibelakangnya.
Manager itu menutup pintu dan melayaninya sendiri tuan Arsya. "Halo Tuan Geraldo. Membuatmu repot bisa datang kesini." Ucap Arsya sembari berjalan masuk.
Geraldo menolehkan kepala dan lekas berdiri saat Arsya memasuki ruangan. "Halo tuan Arsya, tidak apa apa. Selain itu saya bisa mengenal wilayah ini." Ucap Geraldo tersenyum.
Bersamaan Geraldo menjawab Arsya telah sampai dihadapannya seraya menjabat tangan. Kemudian menarik tempat duduk disebelahnya untuk mempersilahkan Anna duduk terlebih dahulu baru dirinya duduk setelah kursinya ditarik Danni. Sementara Danni duduk di sebelah kiri Arsya.
"Ya." jawab Arsya.
Mister Geraldo pun mengangguk. Kini tatapannya beradu dengan wanita di sebelahnya. "Tuan Arsya tidak pernah menemuiku dengan membawa seorang wanita. kali ini....?"
"Ya, dia istriku." Arsya memotong perkataan Geraldo. Dan menekankan kata istri.
Raut wajah Geraldo berubah datar. Tetapi sesaat kemudian ia kembali tersenyum. "Oh Hallo nona Muda Adiyaksa." Geraldo segera menyapanya.
Anna pun tersenyum. "Hallo tuan." Jawab Anna.
Setelah itu mereka memulai acara meeting mereka dengan lancar.
"Saya suka dengan gagasan anda tuan Arsya. Sebab itu saya selalu tertarik dengan menjalin hubungan dengan perusahaan Anda." Ucap Geraldo seraya menutup dokumen miliknya. lalu menyerahkan kepada asisten yang duduk di sampingnya.
"Tentu saja." Balas Arsya.
Tak berapa lama, Danni segera menemui manager yang berada diluar pintu. Saat pintu terbuka para pelayan masuk dengan membawa berbagai menu makan siang.
"Tuan Geraldo, anda datang begitu jauh. Saya sudah menyiapkan beberapa menu yang terkenal dikota ini. Silahkan cicipilah." Ucap Arsya setelah para pelayan satu persatu meletakkan menu hidangan di atasnya.
"Wah, Tuan Arsya terlalu royal. terima kasih jamuannya." Ujar Mister Geraldo.
"Ya."
Anna yang memang sejak pagi belum sarapan ia pun meneteskan air liurnya, sudah dua minggu sejak ia kabur dari tempat Arsya, ia tidak pernah makan makanan lezat seperti ini.
"Bolehkah aku ikut makan?" Ucap Anna dengan tatapan menatap satu persatu hidangan yang ia sukai.
"Ya." Arsya langsung mengambilkan hidangan lobster terbesar di depan Anna.
Mata Anna semakin berbinar. dan tanpa basa basi langsung mengambilnya dengan tangan.
"Ugh...Enak sekali." Gumam Anna pelan.
Tuan Geraldo tertawa. "Nona muda Adiyaksa jangan sungkan lagi."
Anna pun tersenyum malu malu. "Ya, tuan. Anda makanlah."
__ADS_1