Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Lima Puluh Sembilan


__ADS_3

Sejak kepulangan Anna dari rumah sakit. Arsya tidak lagi memperdulikan Anna. Ia sibuk dengan pekerjaannya. Kebetulan orang yang memberi racun saat di rumah sakit sudah ditemukan.


Pengawal Arsya membawanya ke sebuah rumah tua yang berada di tengah hutan. Di tengah malam yang gelap sebuah cahaya remang memenuhi ruangan. Seorang gadis dengan tangan terikat duduk termenung seorang diri.


Ia seakan merasa gila karena di siksa berhari hari. Dia bahkan tidak diberi air setetespun. Ia merasa sangat kehausan. Terlihat seorang pria berjalan masuk membelakangi cahaya.


Gadis itu melihat ke arah orang itu lalu tertawa. Arsya yang datang tetap berjalan tegap dan duduk di sofa seraya menyilangkan kakinya. Ia menatap dengan arogan. Para pengawal tetap berjaga di kedua sisi Arsya.


Dengan gestur tangan Arsya memerintahkan untuk memulai introgasi.


"Siapa yang menyuruhmu!" Jo segera melayangkan pertanyaan yang sama kepada gadis itu.


Gadis itu masih tertawa dengan sinis. Entah sudah berapa kali pertanyaan yang sama di layangkan kepada gadis itu. Tetapi gadis itu tetap terdiam dan malah tertawa dengan terbahak. Entah apa yang dipikirkan gadis itu.


"Boss! Sepertinya dia gila. Sejak kemarin dia tak menjawab pertanyaanku bahkan dia terus tertawa." Ujar Jo dengan suara rendah.


"Hem, terus kau tanya dia sampai mau membuka suara." Arsya segera berdiri. Saat tengah melewati gadis itu tanpa sebab langsung meludah.


Jo yang berada di sampingnya segera menampar gadis itu hingga kepalanya terhuyung ke samping. Kemudian tertawa dengan keras. Mata Arsya memerah. Dan langkahnya terhenti.


"Gara gara kau, usaha ayahku menjadi bangkrut. Sedangkan dia masih hidup enak. Aku sungguh tak terima." Ujar gadis itu lalu tertawa diiringi air mata yang mengalir di pipinya.


Jo ingin memukul wanita itu lagi tapi Arsya menaikkan tangannya untuk tidak melakukannya. Ia berbalik dan melihat wanita itu dengan tajam.


"Ayahku dan ibuku pergi keluar negeri dan meninggalkan aku seorang diri disini. Untuk apa aku hidup, kalian! Cepat bunuh aku." Ucapnya.


"Apa motifmu ingin meracuninya?" Tanya Arsya dengan suara rendah.


"Tentu saja untuk membalas dendam. Aku sungguh tak terima diperlakukan seperti ini. Dia selalu yang terunggul dalam hal apapun. Sementara aku." Indri menundukkan wajahnya. "Hahahaha......Aku ingin dia lenyap dari bumi ini." Ujar Indri dengan tertawa terbahak.


"Siksa dia. lalu masukkan ke rumah sakit jiwa." Perintah Arsya dengan geram lalu berbalik pergi.


*


*


*


Sejak Anna membatasi kedekatannya dengan Arsya. Arsya tidak lagi mengurusinya. Ia hanya mendapatkan laporan saja tapi tidak melakukan apapun. Ia sangat menghormati keputusan Anna yang ingin hidup sendiri dan tidak saling bergantung sama lain.


Meskipun satu rumah. Tetapi tidak pernah bertemu. Arsya lebih sering pulang tengah malam. Juga sangat sibuk mengurusi perusahaannya. Saat di pagi hari, ia terbangun lebih awal dan menghabiskan sarapan di kantor.


Kening Danni berkerut. Sejak bos menikah, ia tak penah makan sarapan di kantor. Tetapi ini, Apakah mereka sedang bertengkar? Benak Danni meronta ingin bertanya tetapi ia tak berani.


Merlin segera menyenggol bahu Danni lalu melirik ke dalam kantor yang berdinding kaca. Danni menoleh sekilas. "Apakah presdir sedang marahan sama istrinya?" Tanya Merlin juga menatap ke arah yang sama dengan pandangan Danni.

__ADS_1


"Entahlah. Sudah hampir sebulan presdir makan sarapan di kantor." Balas Danni.


Arsya selesai sarapan segera melangkah. Danni dan Merlin terperajak ingin buru buru berlalu tetapi Arsya lebih dulu melihatnya.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Arsya begitu melihat mereka berdua berbalik.


"Presdir!" Ujar Danni menolehkan kepala. "Merlin bertanya 'siang ini mau makan di mana?' jadi kami berdiskusi tentang ini hehe." Lanjut Danni memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Hm." dehen Arsya kemudian berlalu pergi.


Merlin segera menaikkan kelopak matanya dan menatap punggung lebar itu dengan iba. "Kasihan sekali presdir." gumam Merlin dengan pelan yang tentu saja masih bisa di dengar Danni.


"Hust. Ayo segera kembali kerja." Marah Danni. Merlin pun kembali ke tempat duduknya. Sementara Danni sedang memikirkan sesuatu. Apa yang terjadi di antara mereka.


Tiga bulan berlalu dengan cepat. Anna semakin sibuk sekarang apalagi sekolah sedang mempersiapkan ujian. Hari hari Anna dipenuhi berbagai les tambahan.


Jika berada di rumah, ia akan pergi ke kamar setelah melaksanakan makan malam. Dia juga tak berharap bertemu dengan Arsya. Dengan begini dia tidak akan mengharapkan ketergantungannya.


Ia melihat saldo melalui M-banking diponselnya. Saldonya sudah mencapai satu miliar bahkan lebih. Dengan uang segini, ia pasti mampu memenuhi kehidupannya. Ia tidak peduli lagi dengan statusnya di usianya yang masih muda.


"Ugh, akhirnya sebentar lagi aku tak lagi terjerat dengan Arsya. Dan aku bisa segera pergi."


"Siapa yang mengijinkanmu pergi?" Tiba tiba Arsya masuk ke dalam kamar.


"Kenapa kau pulang?" Anna yang tadinya tiduran di kasur segera terduduk mendengar teguran Arsya.


"Siapa yang mengijinkanmu pergi?" Arsya mengulangi pertanyaannya.


"Anna!"


Anna mencebikkan bibirnya kesal. "Memangnya kenapa? Bukankah ini kesepakatan kita dari awal. Setelah lulus kita akan bercerai." Ucap Anna dengan tegas.


Arsya memijit ujung hidungnya. "Kau tidak membaca dengan teliti dengan kontrak kita yang baru."


"Kontrak! Kontrak apa?" Tiba tiba sebuah suara yang familiar terdengar. Arsya dan Anna sama sama menoleh ke arah pintu yang terbuka. Menampilkan Herman dengan tongkatnya berjalan masuk juga di dampingi Ferdi di sampingnya.


"Kakek!" Arsya berseru dan menghampirinya. Sementara Anna masih dalam keterkejutannya.


"Cepat katakan! Kontrak apa!" Ujar Herman tergesa dan menaikkan tongkatnya ingin memukul pria muda di sampingnya. Arsya melirik ke arah Anna.


Anna yang merasa ditatap segera melangkah ke arah kakek. "Kakek. Kenapa tidak bilang dulu jika mau datang." Ujar Anna segera mendekati Herman.


"Sebentar, kalian jangan mencoba membohongiku. Kontrak apa yang sedang kalian bicarakan?" Herman kini menunjuk Anna. Anna menghentikan langkahnya untuk mendekati Herman. Arsya segera menjelaskan kepada Herman agar tak curiga dengan kontrak yang sedang mereka bahas.


"Kek, ini soal kontrak kerja yang sedang berjalan dengan Hiyosi di jepang. Dan aku sedang memberitaunya karena aku akan pergi ke sana besok pagi." Jelas Arsya.

__ADS_1


"Benar yang dikatakan bocah tengik ini?" Tanya Herman menatap Anna mencari kebenaran di setiap perkataannya.


"I...iya kek." Jawab Anna gugup karena takut.


"Baiklah aku percaya!" Jawab Herman kemudian merubah wajahnya yang semula dingin menjadi ramah. "Kemarilah." Herman melambaikan tangan ke arah Anna. Lalu memelototi Arsya dengan dingin.


Anna kembali merubah wajahnya yang semula takut menjadi ramah. Ia segera mendekati Herman. Arsya yang dipelototi pun tak perduli. Anna dan Herman keluar dari kamar menuju lantai bawah.


"Kek, kenapa kakek datang tiba tiba. Aku akan memerintahkan Rani untuk menyiapkan makanan kesukaan kakek."


"Tidak perlu. Aku hanya berkunjung sebentar. Lagi pula sudah lama kau tidak pergi ke rumah kakek. Di Villa itu terlalu besar tapi tidak ada siapa siapa. Kakek hanya merindukanmu saja." Ujar Herman seraya melangkah.


"Maaf kek. Aku terlalu sibuk karena sebentar lagi ujian mau di adakan." ujar Anna.


"Baiklah, tidak apa apa." Ucap Herman tersenyum.


Anna dan Herman sama sama duduk di sofa panjang di ruang tengah. Herman melakukan gestur tangan ke arah Ferdi. Ferdi segera membuka tas dan mengambil sesuatu dari sana kemudian di berikan kepada Herman.


"Besok adalah malam tahun baru. Kebetulan aku tidak bisa pergi. Jadi aku memberimu sebuah hadiah." Ujar Herman mengambil sebuah amplop lalu di berikan kepada Anna.


"Apa ini kek?" Tanya Anna seraya menerima amplop itu.


"Buka saja." ucap Herman dengan nada perintah.


Anna membukanya, ia tertegun saat tau isinya. Sebuah kartu tipis berwarna hitam. Hanya orang orang tertentu saja yang memilik kartu itu. Ia menatap Herman tak percaya dengan isi pemberiannya.


"Ini..." Anna bahkan tak bisa berkata apapun karena kaget juga tak percaya.


"Kau bisa menggunakannya sesuka hatimu." ujarnya. Lalu ia mengangkat lengannya. Ferdi segera maju dan membantunya berdiri.


"Kakek masih ada urusan lain. Kakek pergi." Ujar Kakek yang menyadarkan Anna dari keterkejutannya. Anna segera berdiri dan menyalimi Herman.


"Kakek hati hati."


"Baik. Kau juga berhati-hatilah. Di keluarga Adiyaksa sangat tak mudah. Meski memiliki harta berlimpah tetapi keselamatan yang lebih penting." Ujar Herman kemudian berbalik pergi.


Anna menelan setiap kata yang diucapkan Herman barusan. Meski ia tak mengerti makna di balik perkataan itu. Tetapi dia hanya mengerti satu kata untuk tetap berhati hati menjaga keselamatannya.


Arsya setelah selesai mandi segera menuruni tangga. Tetapi ia tak menemukan Herman di sana.


"Dimana kakek?" Tanya Arsya.


Anna segera menoleh dan menatap pria itu yang berjalan ke arahnya.


"Sudah pergi." Sahut Anna kemudian berbalik pergi meninggalkan Arsya di sana.

__ADS_1


"Aih pergi! Kenapa begitu cepat?" Arsya mengikuti langkah Anna yang menaiki tangga.


Anna mengendikkan bahunya Acuh.


__ADS_2