
Rendi bergegas keluar dan mengejar pelayan wanita. Wanita itu terkejut ketika sebuah tangan menariknya dan membekapnya ke tembok.
"Diam dan ikut bersamaku." Ujar seorang pria. Pria itu memiliki postur wajah yang menakutkan. Terlebih dia memiliki tato di seluruh tubuhnya.
Wanita itu dalam diam dan mengikutinya. Sampai di sebuah lorong yang tersembunyi pria bertato itu langsung melempar segepok uang kepada wanita itu.
"Kerjamu sangat bagus. Ambillah. Itu upahmu." ucap pria itu dan mengisyarat untuk segera pergi.
Wanita itu mengambil uangnya dan ingin berlari. Pria bertato itu mengetahui di sudut ada seseorang yang datang. Demi menyembunyikan identitasnya pria bertato itu mengeluarkan pistol dan menembak wanita itu dari belakang.
Wanita itu terbelak dan langsung terhuyung ke belakang. Pria bertato itu tak perduli. Ia segera meninggalkan lorong dan bersembunyi.
"Bos, dia sudah mati." teriak Ari. Ari sudah memeriksa denyut nadi wanita itu.
Rendi mengepalkan tangannya. "Sial, dia membunuh wanita itu untuk menghilangkan jejak."
"Bos, lalu bagaimana dengan wanita itu?" tanya Ari.
"Kita kembali saja. Pasti ada orang yang akan menemukannya."
"Baik bos."
Segerombolan pengawal Arsya memilih kembali. Rendi segera melapor kepada Arsya. "Tuan! Pelayan itu sudah di tembak mati oleh mata mata. Sepertinya nyonya Anita menginginkan nyawa anda." ucap Rendi.
"Hm. Kalian pergilah ke rumah Anna. Jaga dia dua puluh empat jam. Sepertinya ini hanya rencana awal."
"Tapi bagaimana dengan anda?" tanya Rendi dengan raut khawatir.
"Aku masih ada Fendi. Kamu lindungi nyonya dengan baik. Sebelum kembali kita harus merencanakan sesuatu. Anita benar benar akan membunuhku di malam pernikahan." Kata Arsya.
Rendi membelalak. "Tuan."
"Pergilah." perintah Arsya.
Rendi dengan tak berdaya pergi ke tempat Anna.
Arsya duduk sambil menoleh ke arah jendela. Kebetulan hujan deras telah mengguyur sebagian kota. Arsya menampakkan wajah pucat. Selama dua hari ini ia memakan makanan yang mengandung racun. Denyut nadinya melemah.
"Tuan, anda harus pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Anda terlihat pucat." ucap Fendi.
"Hm, jangan katakan hal ini kepada nyonya." ucap Arsya. Lalu dia di papah menuju loby dan pergi ke rumah sakit.
*
"Nyonya, saya sudah membunuh pelayan itu. Sepertinya tuan Arsya sudah menyadari kedatanganku." ucap pria bertato itu. Ia bersembunyi dari pengawasan polisi.
__ADS_1
"Bagus. Jangan sampai kau tertangkap olehnya. Awasi dia."
"Baik nyonya. Sepertinya tuan Arsya tidak terselamatkan. Racun yang aku kirim setiap hari sudah masuk ke dalam nadinya."
"Hahahah....kerja bagus todi. Kau sangat pintar."
"Hm nyonya."
Segelah panggilan terputus, Bahu Todi melemah. Sudah beberapa hari ia tidak pernah tidur. Kali ini ia merasa mengantuk. Sepertinya tempat yang ia tinggali sementara tidak akan dapat di temukan.
Todi menyuntikkan beberapa obat obatan terlarang melalui lengannya. Setelah beberapa saat, pria itu langsung tertidur pulas.
*
*
Saat ini Anna tengah duduk di depan meja besar di dalam ruangannya. Ia termenung sendiri karena Arsya tidak dapat dihubungi. Ia merasa cemas.
"Arsya, kenapa kau tidak mau di telepon. Sudah beberapa hari kau juga tidak datang. Apa benar kamu memang tidak memikirkan aku lagi." gumam Anna pada diri sendiri.
Ia berdecak pelan sebelum akhirnya ia mengambil air untuk minum.
Tepat saat ini dua mobil datang bersamaan. Anna melihatnya. Ia bergegas keluar dan ingin menemui. Ia juga berharap yang datang adalah Arsya.
Namun harapan itu hanyalah kehampaan. Kenyataannya setelah keluar dia tidak melihat Arsya ikut datang.
Rendi menundukkan kepalanya.
"Rendi!" teriak Anna dengan suara keras.
"Nyonya, tuan masih ada kerjaan. Beliau menyuruh kami menjaga anda." kata pengawal yang lain.
"Tidak, aku tidak percaya. Dia tidak datang pasti menghindariku." kata Anna dengan mata memerah. Dia menatap satu persatu pengawal itu dengan tajam. "Dimana Arsya?" sekali lagi Anna membentak pengawal itu.
Pengawal itu tidak ada yang mau bersuara. Mereka menundukkan kepalanya.
"Dimana Arsya?" tanya Anna dengan dada bergemuruh hebat. Tetap saja mereka tidak ada yang mau menjawabnya. "Jika kalian tidak mengatakannya aku akan pergi sendiri mencari Arsya."
Seluruh pengawal yang di sana langsung kalang kabut. "Nyonya, tuan benar benar sibuk sekarang. Anda percaya padaku. Tuan belum bisa menemui anda. Maka dari itu kami di utus kemari untuk menjaga anda." ucap Rendi. Pria itu bergegas berlutut di ikuti teman lainnya.
Rendi merasa bersalah tapi di dalam pancaran matanya tersimpan rasa gentar. Melihat tatapan mata Rendi, Anna tidak ingin membahasnya lagi dan ia hanya mampu memberikan ancaman.
"Semoga kau tidak membohongiku." ucap Anna menatap tajam kepada Rendi.
Setelah Anna berbalik pergi Rendi merasa sedikit lega.
__ADS_1
Sementara di rumah sakit. Arsya mendapatkan perawatan intensif. Para dokter menemukan racun di dalam tubuh Arsya. Racun itu sudah menyebar di dalam nadi.
Para dokter berusaha keras untuk melakukan penyembuhannya. Hanya saja racun itu terlalu kuat. Sedikit saja terjadi kesalahan akan menyebabkan kematian.
"Bagaimana dokter?" tanya Fendi saat menjaga Arsya.
Dokter itu melirik Arsya yang kini terbaring lemah sambil memejamkan mata. Kemudian beralih memandang Fendi yang nampak cemas.
Dokter bernama clark itu menghela nafas. Ia terlihat pasrah sambil menggelengkan kepalanya. "Racun ini terlalu kuat meski hanya dalam takaran sedikit. Sepertinya racun ini hanya orang orang tertentu yang memilikinya." ucap dokter clark menepuk nepuk bahu Fendi sebelum dokter itu bergegas pergi.
Dari segi ucapan yang di lontarkan dokter itu berarti dokter itu tidak bisa menyembuhkannya. Hanya orang orang tertentu yang mempunyai penawar racun itu.
Tampak mata Fendi memerah. Racun ini berasal dari nyonya Anita. Ia yakin nyonya Anita memiliki penawarnya.
Fendi segera menelepon Rendi dan memberitau keadaan Arsya.
Rendi mencari tempat yang sepi untuk menjawab telepon.
"Fendi, bagaimana tuan Arsya?" tanya Rendi tidak sabar.
Fendi melirik ke arah ranjang dengan ekor matanya. "Tuan terkena racun mematikan. Dokter tidak bisa menanganinya."
Deg
Rendi merasakan degup jantungnya semakin cepat. "Apa yang harus kita lakukan. Nyonya saat ini merasa marah karena tuan tidak datang beberapa hari ini. Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan nona Anna setiap hari." kata Rendi dengan prustasi.
Fendi juga tidak tau bagaimana menjawab pertanyaan Rendi. Fendi mengusap pelipisnya. "Bos Rendi, dokter bilang, racun ini hanya orang tertentu yang memilikinya. Aku punya ide?"
"Apa itu?"
"Nyonya Anita!" cetus Fendi.
"Apa!" Rendi terkejut.
"Selama kita berlutut di depan nyonya Anita kita pasti bisa mendapatkan penawarnya."
"Apa kamu gila. Kau mau menghianati tuan?" Rendi berseru marah.
"Hanya ini satu satunya menyelamatkan tuan. Bos Rendi, kita tidak mungkin menunggu tuan mati mengenaskan seperti ini. Tuan sudah menyelamatkan nyawa kita, setidaknya mengorbankan nyawa kita untuk menyelamatkannya." kata Fendi berlinang air mata.
Rendi semakin kesal. "Fendi, jika aku tau kau bekerja sama dengan Anita. Aku akan membunuhmu." ancam Rendi.
"Bos, asalkan nyawa tuan bisa terselematkan, aku rela mati di tangan bos." ucap Fendi bertekad. Fendi mematikan telepon secara sepihak.
Rendi merasa kesal dan ingin marah. Ia menendang angin kosong dan duduk di sebuah bangku di bawah pohon. Menatap danau yang berkilauan dari pantulan cahaya matahari yang akan tenggelam.
__ADS_1
"Berengsek!" Gumam Rendi. Tangannya terkepal erat. Rahangnya mengeras. Dia teringat akan tuannya yang rela melindungi nyawanya. Sementara dirinya tidak bisa berbuat apa apa untuk menolong nyawa Arsya. Dia hanya bisa marah pada dirinya sendiri.