Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 26


__ADS_3

Mereka bertiga masuk ke dalam lift menuju lantai 15. Yang mana sedang di adakan pesta. Anna melepas tangannya dari lengan Arsya. Ia menghargai adanya Eli di sana. Terlebih saat ini Arsya menjalin hubungan dengan Eli.


"Ini adalah sebuah pesta perjamuan. Kalian jangan sungkan."


"Ya." Sahut Arsya.


Tak lama, lift sampai di lantai 15. Pintu lift terbuka. Ketiga manusia itu keluar dan menuju Aula. Eli di depan menunjukkan jalan.


"Tuan Arsya, aku akan menemuia ayahku. Anda bisa menikmati pesta ini."


"Hmph." Sahut Arsya berdehem. Sementara Eli pergi. Arsya menaikkan pandangannya. Ada tamu undangan sekitar 50 orang di aula ini. Dan Arsya hanya mengenali beberapa orang di sana.


Di tengah aula itu, Arsya dan Anna hanya terdiam. Lalu seorang pelayan mebawakan minuman. Arsya mengulurkan tangannya terlebih dahulu mengambil anggur kesukaannya.


"Jangan terlalu banyak minum." peringat Arsya dengan suara rendah.


Sembari mengambil minuman rendah alkohol. Anna bergumam pelan. "Jangan khawatir. Aku tau dengan diriku." sahut Anna.


Arsya masih berdiam diri sambil menikmati anggur di tangannya, tetapi tatapannya tertuju pada Eli yang berada disisi seorang pria yang ia kira sekitar 60 tahunan itu. Sepertinya itu adalah ayah yang di maksud Eli. Pria itu terlihat masih terlihat tampan di usianya yang memasuki kepala enam itu.


Anna menyesap sampanye di tangannya tetapi pandangannyajuga tertuju pada Eli. Persis dengan pandangan Arsya saat ini.


"Sepertinya nona Eli ikut datang ke pesta ini bukan mengikuti acaranya. Tetapi sepertinya dia malah dijodohkan dengan pria mapan pilihan ayahnya." Celetuk Anna sambil menggoyangkan gelasnya. Ia mengamatinya dengan seksama.


"Hmph. Aku kira juga seperti itu. Sebagai pengusaha tentu memiliki sebuah kedudukan tetapi jika seseorang di jodohkan dengan pria yang lebih mapan. Tentu kedudukan itu akan bertambah satu tingkat." sahut Arsya.


"Um." Anna menatap dengan bingung.


"Bagi mereka kedudukan adalah yang terpenting, tidak peduli anak mereka suka atau tidak. Mereka akan menganggap jika kedudukan mereka satu tingkat lebih tinggi juga akan memberi satu keuntungan dalam bisnis juga mendapat kehormatan yang sama tinggi."


Sampai disini, akhirnya Anna mengerti. Ternyata seperti itu dalam dunia bisnis. Pantas saja dia di nikahkan lebih awal dari usianya.


"Sebuah bisnis adalah medan perang. Siapapun yang bisa menambah tingkatan mereka tentu kekuatan mereka juga bertambah." lanjut Arsya.


"Tapi, aku setuju datang ke pesta ini. Bukan ini tujuan awalnya."


Anna mengernyitkan keningnya. "Aku sudah memeriksa jika di pesta ini akan kedatangan tuan Axcel."


"Siapa tuan Axcel?" tanya Anna masih tak mengerti.


"Pemilik pabrik tua di pinggiran kota."

__ADS_1


Anna mengagguk. Akhirnya dia mengerti maksud Arsya membawanya ke pesta ini. Lalu Arsya menggenggam tangan Anna dan membawanya ke sebuah kerumunan.


"Aku akan memperkenalkanmu pada seseorang." bisiknya pelan. Dengan langkah yang mantap Anna mengikuti Arsya.


"Selamat malam tuan Axcel!" sapa Arsya dengan ramah.


Tuan Axcel menoleh lalu membalikkan badannya. Keningnya mengernyit mencoba menebak siapa pria muda di hadapannya ini. Setelah sekian detik, ia baru ingat jika itu adalah Tuan muda dari Adiyaksa yang hampir merajai dunia dengan prestasinya.


"Tuan muda Adiyaksa. Sungguh sebuah keberuntungan bisa bertemu denganmu." Tuan Axcel sedikit tertawa.


"Hmph, terima kasih." sahut Arsya tersenyum. "Tuan Axcel kenalkan dia adalah saudara dekatku. Noni." Ujar Arsya sambil memperkenalkan Anna kepada Tuan Axcel.


Tuan Axcel melirik ke arah Anna. Dia terpana dengan kecantikannya apalagi melihat lekuk tubuhnya yang bagus. Ia tersenyum lalu menyodorkan tangannya.


"Halo, Noni. Saya Axcel." Ujar Tuan Axcel lalu mengedipkan matanya. Dan itu terlihat jelas di mata Arsya.


"Halo tuan Axcel saya Noni." sahut Anna sembari membalas jabatan tangan Axcel. Saat Anna akan menarik tangannya ternyata tuan Axcel tidak mau melepaskannya tatapannya terlihat seperti serigala yang lapar.


"Ekhem." dehem Arsya. Tuan Axcel melirik ke arah Arsya sekilas. Lalu melepas jabatan tangan itu. Anna tersenyum sedikit. Tetapi Tuan Axcel seolah masih enggan. Tatapannya membuat Anna risih.


"Tuan Arsya, saudaramu ini sangat cantik. Ini saudara dari siapa?" tanya Tuan Axcel ingin kejelasan kesaudaraan mereka.


"Itu, dari ibu." Jawab Arsya sekilas.


"Maaf tuan Axcel. Saya ingin pergi ke toilet sebentar." Ujar Anna yang tidak ingin di tatap oleh Axcel.


"Oke. Segera kembali Noni." Sahut tuan Axcel. Anna hanya mengangguk dan pergi dari sana.


Anna melangkahkan kakinya pergi ke kamar mandi yang berada di luar aula. Ia merasa kesal karena tatapan tuan Axcel yang seakan ingin menerkamnya. Terlebih dia adalah si pak tua yang gendut.


Tak berapa lama ia sudah memasuki toilet. Setelah membuang hajatnya disana. Ia keluar dan berdiri di depan wastafel. Ia melihat wajahnya dari pantulan kaca. Ia melihat dirinya sendiri.


Ternyata dia memang cantik saat ini. Apalagi mengenakan dress seperti ini. Kulitnya yang putih mulus terlihat sangat bercahaya. Pantas saja Arsya seakan tidak memperbolehkannya keluar. Saat memikirkan hal ini dia merasa malu sendiri.


Anna mengibaskan tangannya didepan wajahnya. Rasanya ia sangat gerah. Kemudian ia membuka kran air dan membasuh wajahnya. Tepat saat ini sebuah suara yang terdengar sangat familiar di telinganya.


Itu adalah Eli sedang menerima telepon. Tetapi Anna memilih untuk menulikan telinganya. Ia tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Tepat saat Anna sudah selesai membasuh wajahnya, Eli sudah berdiri di sampingnya.


"Ternyata Noni." Ujar Eli dengan suara rendah.


"Hmph." Dehem Anna. Lalu mengelap wajahnya dengan tisu.

__ADS_1


"Noni, saya harap anda tidak membocorkan hal ini kepada orang lain. Meskipun itu adalah tuan Arsya."


Anna menaikkan alisnya. "Nona Eli tenang saja."


"Jika berita ini terdengar keluar maka orang pertama yang saya cari adalah anda."meskipun nadanya terdengar santun tapi ada banyak ancaman di dalamnya.


Anna tersenyum sekilas lalu membung tisu yang telah ia gunakan ke dalam sampah. "Saya tidak janji tapi akan saya usahakan. Saya benar benar tidak mendengar ucapan anda tadi." Ujar Anna lalu ia menganggukkan kepalanya dan keluar dari dalam toilet.


Eli menatap punggung ramping itu keluar dari sana. Tangannya terkepal kuat. Untung saja pembicaraannya tadi hanya didengar oleh Noni. Tetapi ia juga tak menjamin, akan membocorkannya atau tidak. Jika itu orang lain mungkin nyawanya akan melayang.


Di dalam aula hotel.


Nampak Arsya masih bersama tuan Axcel. Tampaknya mereka sedang serius dalam obrolan mereka. Anna langsung melangkahkan kakinya ke sana.


"Maaf tuan Axcel, menunggu lama."


Tuan Axcel lantas tersenyum dan menatap Anna, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Arsya. "Tuan Arsya. Berbincang denganmu sungguh membuatku merasa puas. Anda memang pantas disebut nomer satu dalam dunia bisnis. Noni, nanti kita bisa bertemu lagi di lain waktu." Ujar Tuan Axcel.


"Terima kasih atas waktunya Tuan Axcel. Saya merasa malu. Anda berkata demikian. Seharusnya yang pantas di sebut orang yang pandai berbisnis adalah anda. Karena anda adalah senior saya." Ujar Arsya dengan rendah hati.


"Tuan Arsya tak perlu sungkan. Kalian anak muda lanjutkan pesta kalian. Saya masih ada kerjaan lain." Ujar Tuan Axcel lantas meninggalkan keduanya.


Anna mengernyitkan dahinya heran kala tuan Axcel bersimpatik dengan Arsya. Apa yang diucapkan pria itu sehingga mampu menarik tuan Axcel.


"Sya. Kenapa tuan Axcel begitu gembira saat bertemu denganmu." Tanya Anna penasaran.


"Aku hanya mengatakan sepatah kata, dan dia sudah merasa senang. Pikiran pak tua itu memang sulit ditebak." Arsya menggoyangkan gelas anggurnya dan lanjut berkata. "Aku hanya berkata di sebelah utara ada Bar dan aku secara sengaja mengundangnya. Selain itu aku hanya menambahkan sedikit bisnis. Dan dia merasa tertarik."


"Begitu saja?"


"Ya." rasanya tak percaya dengan kata kata Arsya.


"Kau masih tak percaya?" Tanya Arsya. Anna segera mendongakkan kepalanya.


"Pak tua itu suka sekali bermain wanita. Dan aku mengundangnya pergi ke Bar lusa. Aku juga mengatakan memiliki bisnis yang sangat menguntungkan jika pak tua itu mau bekerja sama maka dia akan memiliki keuntungan lebih banyak. Dan tak ku sangka pak tua itu langsung setuju." Ujar Arsya.


"Memang kau pandai merayu, selain itu kau memang pantas di sebut Ceo." Sahut Anna.


"Anna. Kau harus belajar mengenal seseorang sebelum melakukan kerja sama. Jadi jangan tergesa pergi sebelum persiapan." Ujar Arsya memberi peringatan.


"Aku mengerti." Anna mengangguk.

__ADS_1


"Good girls."


__ADS_2