
Tepat jam 10 pagi, Anna menggeliat. Kepalanya menoleh ke samping. Bersamaan dengan Arsya yang membuka mata menatapnya.
"Ka...Kamu...." Anna terperanjak kaget lalu terbangun dengan terduduk. Ia melihat sekeliling dan bisa di pastikan saat ini ia masih berada di kamar hotel.
"Ke..Kenapa kau ada disini?" Tanyanya heran. Karena ia terlalu lelah ia menjadi lupa dengan kejadian semalam.
Arsya mendesis lalu duduk dengan menyandarkan punggungnya di sandaran kepala ranjang. Kepalanya masih terasa pusing. Mungkin obat itu efeknya terlalu kuat jadi kepalanya masih terasa pusing.
"Semalam, aku tak tau kenapa kepalaku sangat pusing. Saat itu Eli membawaku keluar dan memberi kartu kamar. Dan aku gak tau jika kau juga disini. Atau jangan jangan kita dijebak dengan memberiku obat perangsang." Ujar Arsya mengingat sebagian memorinya.
"Apa!" Anna terkaget mendengar cerita Arsya. "Dijebak! Kelihatan sekali semalam Eli terlihat aneh dan waktu di kamar mandi itu. Mungkin ini alasannya. Sial. Kenapa aku juga terlibat." batinnya menggeram.
Setelah itu ia menyadari sesuatu dan segera menundukkan kepalanya melihat dirinya. Anna menggelengkan kepala dengan air mata yang berlinang. Ia mencengkeram selimut dengan kuat menutupi seluruh tubuhnya.
"Aaaaaa!" Anna menjerit karena kesal lalu menoleh dengan tatapan tajam. Sementara Arsya malah menutupi telinganya karena jeritan Anna yang memekakan telinganya. Tampak sekali jika Arsya tidak merasa bersalah.
"Kau..." Anna menudingnya dengan jari telunjuknya. Arsya tersenyum lalu menangkap jemari ramping itu dengan tangannya yang besar.
"Aku pasti akan bertanggung jawab." cicitnya.
"Cih!" Anna langsung menepis tangan Arsya dan ingin membersihkan diri di dalam kamar mandi. Tetapi bagian bawahnya masih terasa sakit jadi ia tak bisa menahan rasa sakitnya sampai ia tak mampu untuk berjalan.
Ia menggeram sebentar sampai sebuah tangan besar menariknya dan seolah dirinya sedang terbang. Arsya menggendongnya dalam dekapannya dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Anna dengan terkejut.
"Pergi mandi." ujarnya pelan.
"Aaaaaaa! Turunkan aku!" teriaknya sambil memukul mukul dada Arsya.
"Aaa!"
"Diamlah. Kupingku hampir tuli mendengar kau berteriak. Jika kau tidak bisa diam. Aku akan menerkammu lagi di dalam." ujarnya sembari berbisik dan mengancam.
Anna pun mengatupkan bibirnya dengan kesal. Pria ini memiliki seribu cara untuk mengancamnya. Tetapi dari pada ia harus diterkam lagi lebih baik ia menurut.
"Anak baik." Ujar Arsya lalu mendudukkan Anna di atas toilet. "Pergilah mandi. Setelah kejadian ini yakinlah padaku jika aku akan bertanggung jawab sepenuhnya kepadamu." Setelah berkata demikian, Arsya segera keluar.
Anna mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Setelah pintu tertutup ia segera berdiri di depan wastafel. Ia melihat dirinya melalui pantulan kaca melihat dengan jelas ada banyak jejak di sebagian dada dan lehernya.
"Cih, sial. Kenapa aku semalam terbujuk dengan rayuannya. Seharusnya aku semalam menolak." ujarnya masih melihat sebagian dadanya yang tampak memerah.
"Kalau begini, bagaimana aku menampakkan diri. Memalukan!" gumamnya. Ia masih melihat tanda merah jejak Arsya semalam. Di bagian lehernya.
"Egh. Tapi semalam dia sempat....ugh,,, apakah kupingku benar mendengarnya atau aku yang tidak waras, tapi Arsya memang mengucapkannya kan?" Anna mengingat ingat kata terakhir Arsya sebelum tumbang di sampingnya.
Tiba tiba wajahnya memanas. Lalu berubah merah padam. Dia mengucapkan kata manis yang tak pernah dia dengar selama bersama Arsya sebelumnya. Dan ini pertama kalinya pria itu mengucapkan kata sesat itu dari bibirnya.
"Na. Kamu tidak apa apa kan?" Tanya Arsya dari balik pintu di sertai gedoran di pintu. Pria itu sangat khawatir jika terjadi sesuatu kepada Anna.
Anna menoleh ke arah pintu. "Tidak. Tidak apa apa. "Sahutnya sedikit berteriak.
"Oh, baguslah." Sahut Arsya dari luar kamar mandi. Ia pun merasa tenang.
Anna segera pergi ke bawah shower dan menyalakan kran air. Terdengar air yang menyala dan membasahi seluruh tubuh Anna.
Sementara di luar. Arsya merasa senang kala melihat noda darah di atas seprai yang putih. Itu artinya dia adalah orang pertama yang memperawaninya. Dia terus menyunggingkan senyuman kebahagiaan sambil membayangkan jika Anna benar benar hamil anaknya.
Pasti Herman tak akan menyalahkannya lagi. Pihak penanam saham juga tak akan ribut soal penerus. Sampai disini ia memikirkan sesuatu. Sejak kedatangan bibinya, ia tak mendengar apapun dari Herman mengenai bibi-nya yang saat ini berada di indonesia.
__ADS_1
Mungkin kakek tua itu sudah menanganinya dengan baik. Jadi ia tidak mendapatkan kabar apapun. Saat ini Arsya kembali tenang dan memerintahkan Danni untuk memberikan set pakaian pria dan wanita.
Danni sempat mengerutkan kening ketika meminta set pakaian wanita. Saat Arsya bilang sesuai ukuran pakaian nona muda akhirnya kerutan di dahi Danni pun menghilang. Itu artinya mereka berdua sedang bermalam di hotel.
Sementara Rendi dan temannya di utus untuk memeriksa cctv kamar hotel dan aula hotel. Perasaannya sedang mencurigai sesuatu. Jadi memerintahkan untuk segera menyelidiki.
Setelah itu Arsya memesan makanan melalui layanan kamar. Ia pastikan setelah kejadian semalam Anna pasti akan sangat lapar begitu juga dirinya yang terlalu mengeluarkan banyak tenaga.
Tak berapa lama, pintu kamar mandi terbuka. Menampakkan Anna yang terbalut dengan kimono kamar mandi hotel. Wajahnya terlihat segar, rambutnya masih basah oleh guyuran air. Ia berjalan ke arah ranjang dengan mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
Arsya meletakkan gagang telepon dan menoleh. "Ada apa?" tanya Arsya dengan mengerutkan keningnya heran. "Masih sakit?" tanya Arsya, takutnya karena ulahnya Anna akan merasakan sakit di bagian bawahnya.
Anna menggelengkan kepalanya. Tetapi sesaat kemudian ia memantulkan dirinya melalui kaca dan memperlihatkan lehernya yang memerah.
"Lihatlah. Bagaimana aku bisa keluar dengan seperti ini." ujarnya dengan lesu.
Arsya tersenyum kecil. Tetapi sesaat kemudian wajahnya kembali datar. "Itu adalah tanda bahwa kau milikku."
"Arghhh sial." geramnya lalu menimpuk kepala Arsya dengan bantal.
Arsya meringis dan menangkap bantal itu lalu membuangnya asal.
"Seharusnya semalam aku melemparkanmu dari lantai ini kebawah." ujarnya.
"Hehe," Arsya tak menanggapi selain hanya tertawa dengan menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Seandainya, semalam bukan kau. Ku pastikan malam ini kakek akan menjemputku dengan paksa lalu melemparku dan membuangnya ke bagian afrika utara. Setelah itu namaku tak akan lagi berada di keluarga Adiyaksa." lanjutnya.
"Jadi kau merasa bahagia sekarang karena sudah melakukannya padaku?" tanyanya kesal.
"Bukan juga. Aku hanya terpaksa kan?" Ujarnya pasrah. Memang yang dikatakan adalah kebenaran.
Sampai disini, sebuah ketokan di pintu membuat mereka terhenti mengobrol. "Mungkin itu Danni." Ujar Arsya.
Arsya merapatkan tubuhnya dan menutupi pandangan Danni. "Apa yang kau lihat. Pergilah tugasmu sudah selesai?" ujar Arsya marah.
"Hehe," Danni mengeluarkan cengirannya. "Baiklah Presdir. Saya sudah bisa menebak. Tuan besar pasti akan bahagia." lanjutnya.
"Pergi!" Ujar Arsya kesal lalu memelototi Danni. Setelah itu pintu ditutup dengan kasar. Danni meringis dan menatap pintu yang tertutup sambil mengusap dahinya.
"Haist, resiko punya presdir galak." gumamnya pelan lalu pergi dari sana.
Sementara Arsya masuk dengan membawa godie bag itu dan menyerahkannya kepada Anna. "Pakaianmu. Setelah ini kita pergi dari sini. Aku masih ada yang harus aku kerjakan." Ujarnya kemudian berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Anna menghela nafas lelah lalu segera membuka godie bag itu. Matanya terbelak kala set pakaian ini juga menyediakan pakaian dalam.
"Sial, Arsya ba***n." umpatnya pelan. Sebelum Arsya selesai mandi. Ia buru buru mengenakan pakaiannya. Tak berapa lama gedoran di pintu kembali terdengar.
Anna berjalan ke arah pintu lalu melihat siapa tamu sepagi ini datang ke kamarnya.Ia mengintip melalui celah pintu dan ternyata dia adalah pelayan pengantar makanan. Ia sebenarnya juga merasa sangat lapar apalagi semalam ia mengeluarkan banyak energi.
Anna lekas membuka pintu dan mempersilahkan pelayan itu masuk sambil mendorong troley makanan. Setelahnya menata di atas meja. Anna memberi tip lalu sang pelayan pun pergi dari sana.
Tak berapa lama Arsya keluar masih mengenakan kimono kamar mandi hotel. Ia melihat ke atas meja ternyata sudah ada makanan.
"Sudah datang? Kau segera sarapan. Semalam kau kehabisan tenaga. Kau juga pasti lelah." Ujar Arsya.
"Hm." sahut Anna dengan berdehem.
Arsya mengangguk dan duduk di sofa panjang sembari menggenggam ponsel. Tak berapa lama, Arsya bangkit dari duduknya lalu menyusul Anna sarapan.
__ADS_1
"Sya, menurutmu siapa kira kira orang yang menjebak kita?" tanya Anna kala teringat ucapan Arsya.
"Belum tau. Rendi masih memeriksa cctv."
"Oh."
Anna melanjutkan sarapannya begitu juga Arsya menghabiskan sarapannya dengan tenang. Seusai sarapan Arsya berganti pakaian dan keduanya segera keluar dari hotel itu.
Disisi lain.
Eli tersenyum senang kala mengingat kejadian semalam yang merupakan sebuah kebahagiaan terindah dalam hidupnya. Ini merupakan sejarah yang tak pernah ia lupakan. Demi menghindari sebuah perjodohan dari ayahnya ia merelakan hidupnya kepada orang yang ia sukai.
Jika dia hamil tentu saja perjodohan ini tidak akan pernah terjadi. Lalu ia akan mengatakan jika dia hamil anak Arsya. Dan saat itulah ia akan memaksa Arsya untuk bertanggung jawab. Sementara ayahnya tidak mempunyai kewenangan apapun terhadap dirinya.
"Mungkin tuan Arsya sudah pergi karena dia adalah orang yang sibuk." batinnya.
Eli pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ellena untuk diajaknya bertemu. Dia akan mentraktir makan siang hari ini karena dengan tanpa bantuannya dia tidak akan bisa melewati malam ini.
"Baiklah kita bertemu di cafe." sahut Ellena menyanggupi.
Sementara Arsya dan Anna sudah kembali ke rumah mereka. Kali ini Arsya tak mau pisah dengan Anna. Ia selalu menempel pada Anna setiap waktu.
"Na, jangan angkat barang berat. Biar aku saja. Letakkan!" ujar Arsya kala Anna menenteng ember berisi bunga mawar yang penuh saat berladang.
"Apa apaan kau ini, Sya. Ini gak berat. Aku masih kuat. Gak lemah seperti yang kau pikirkan." Sahut Anna dengan wajah ditekuk.
Arsya tak menyahut, tetapi langsung mengambil paksa ember berisi bunga mawar itu untuk ia bawa.
"Siapa bilang gak berat. Ini berat Anna! Kau tidak boleh lelah ataupun capek." Ujar Arsya.
Anna lama lama menjadi kesal. Lalu ia meninggalkan Arsya menuju ke rumah penelitian. Sampai di sana ia langsung duduk dan rencana kali ini ia ingin membuat sabun dari ekstrak bunga mawar.
Dia mendengar seminggu lagi akan diadakan bazar di sebuah acara. Ia sangat antusias ingin memamerkan hasil karyanya. Apalagi hasil karyanya bisa laku dan diterima oleh masyarakat.
Dia pun memulai penelitiannya duduk menghadap meja kerjanya dan mulai mengekstrak sabun cair.
Tak berapa lama Arsya datang dengan membawa ember penuh bunga mawar dan ia meletakkan di meja. Satu persatu bunga ia kelompokkan berdasarkan warna. Setelah selesai ia ikut duduk di samping Anna.
"Kau sedang apa?" Tanya Arsya sambil meminum air dari gelas. Apalagi cuaca hari ini sangat panas. Tentu saja ia merasa sangat haus.
"Mengekstrak sabun cair, aku dengar seminggu lagi ada bazar dan semua orang bisa mengikuti. Lumayan kan bisa mendapatkan tambahan." ujarnya tanpa menghentikan aktifitasnya.
Arsya tersedak minumannya. "Untuk apa kau mengikuti bazar, aku masih bisa menghidupimu." Ujar Arsya dengan lirih.
"Kau tak mengerti." Anna memelototinya. Karena tangan Arsya menarik semua benda dihadapannya.
"Aku mengerti. Bukankah kau butuh uang." Sahut Arsya makin garang.
"Terserah bagaimana kau menanggapinya. Yang pasti aku akan tetap pergi ke bazar." Ungkapnya.
"Keras kepala sekali. Pokoknya tidak boleh."
"Cih, lama lama kau sangat menyebalkan." Anna bangkit dari tempat duduknya dan pergi dari sana.
Arsya ingin mengejarnya namun terhenti dengan adanya sebuah deringan telepon masuk ke ponselnya. Ia segera mengangkatnya dan ternyata itu adalah telepon dari tuan Axcel.
"Ya tuan Axcel."
"Sepertinya besok tidak jadi pergi tuan Arsya. Besok ada undangan di kapal pesiar. Bagaimana jika bertemu dikapal pesiar saja?" tanya tuan Axcel.
__ADS_1
"Baiklah tuan Axcel. Kita bertemu dikapal pesiar."
"Baguslah." setelah itu telepon di tutup.