Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 39 Aku Hamil


__ADS_3

Anna terdiam ketika suara Arsya terdengar di telinganya.


"Anna jika kau tidak mengatakan sesuatu aku akan menutupnya, sebentar lagi aku akan melakukan jumpa pers. Masih ada satu jam dari sekarang." Ujar Arsya mendesak.


Dia tidak memiliki waktu. Jadi ingin segera menutup telepon. Anna menggigit bibir bawahnya dan saat mendengar suara Arsya yang mendesak ia segera mengoceh.


"Arsya, aku hamil." Ujar Anna dengan cepat.


Baru saja ibu jari Arsya akan menekan tombol merah, segera terhenti. Ia kembali menempelkan ponselnya berada di telinga kirinya dan lekas bertanya.


"Ulangi sekali lagi?" Ujar Arsya.


"Aku sudah mengatakannya. Apakah kau tuli?" Ujar Anna merasa kesal sekaligus malu mengungkapkannya. Arsya menghela nafas dan kembali membuka mulutnya.


"Benar kau hamil?" mata Arsya berbinar terang. Sudut bibirnya berkedut. Rasa senangnya seakan meluap bagai air samudra.


"Ya." Anna berkata dengan lugas.


"Terima kasih Anna. Aku akan segera mengumumkan hal besar ini. Besok pagi bersiaplah. Aku akan menjemputmu." Ujar Arsya tak bisa membendung perasaannya.


"Eh. Tapi...."


"Dengarkan!" Arsya segera menyelanya. "Perusahaan sedang masa kritis. Sementara penanam saham sedang menantikan penerus keluarga ini. Saat ini para direktur merasa khawatir tentang keadaan ini. Jadi aku perlu kau disisiku untuk menepis segala berita yang beredar."


"Arsya. Jika aku kembali bagaimana usahaku disini?" tanya Anna dengan bimbang.


"Jangan permasalahkan. Aku pasti akan mengembangkan usahamu di sana. Asalkan kau berdiri di sisiku. Semuanya akan berjalan lancar."


"Tinggal satu bulan. Dan parfum ini akan segera dirilis. Jika aku kembali. Tentu saja pekerjaanku akan tertunda." sahut Anna.


Arsya menggaruk pelipisnya. Dia tidak terpikirkan soal ini. Dia perlu berpikir untuk menyelesaikan masalah ini.


"Begini saja. Setelah dua hari tinggal disini. Aku akan mengantarkanmu kembali ke Amsterdam. Dan setelah satu bulan produkmu sudah dirilis. Kau harus kembali ke sini. Aku juga akan mengirim beberapa orang untuk membantumu di sana selama satu bulan itu." Ujar Arsya dengan penawaran.


"Tidak mau. Aku begitu bekerja keras membangun usahaku disini. Mana mungkin aku langsung meninggalkannya begitu saja." Ucap Anna dengan kesal.


"Lalu, aku harus bagaimana. Apakah kau begitu tega melihatku seperti ini. Kita tinggal terpisah. Apakah bisa disebut sebagai pasangan. Semua orang menuduhku bahwa kau kabur karena pihak ketiga. Dan aku akui aku memang salah. Dan setelah menemukanmu aku berjanji untuk terus berada di sampingmu. Tapi aku tidak bisa terus meninggalkan perusahaanku." Arsya merasa dilema.


"Itu...Ach Arsya. Aku juga tidak bisa melepas begitu saja usaha yang aku rintis. Akan terasa sia sia jika aku berhenti disini demi kau."


"Tapi bayimu juga perlu ayah. Apakah kau tega menjauhkan bayi itu dengan ayahnya. Lalu kau saat ini di sana adalah wanita yang tanpa suami. Jika berita itu tersebar bahwa kau hamil tanpa suami. Bagaimana kau menghadapinya?" tanya Arsya.


Sudut mulut Anna berkedut. Benar juga apa yang dikatakan Arsya. Saat ini orang melihatnya dia adalah gadis yang tak bersuami jika dia bersikukuh untuk tinggal, pasti semua orang mencemooh dirinya.


Anna menjadi goyah. Tapi tak rela usahanya sia sia. Ia perlu pertimbangan yang matang untuk kembali.


"Beri aku waktu." Ujarnya menegaskan hatinya.


"Baik. Dua hari. Sudah cukup bagimu untuk berpikir. Saat hari itu tiba. Aku harap kau akan tetap mau kembali." Ujar Arsya lalu ia mematikan sambungan telepon. Anna merasa gelisah dan ucapan Arsya selalu terngiang di benaknya.


Arsya bergegas menuju kantor. Dan pertemuan untuk melakukan jumpa pers sudah disiapkan. Di pintu utama ada banyak wartawan yang meliput. Wartawan ini datang saat hari masih petang.


Mobil Arsya memasuki pelataran perusahaan Adiyaksa group. Saat melihat mobil liumosin melaju. Pengamanan diperketat. Wartawan segera dihadang oleh beberapa pengawal yang selalu berjaga. Hingga mobil yang ditumpangi Arsya dapat melaju sempurna hingga ke parkiran bawah tanah.


Dia dengan santainya berjalan keluar dari mobil hingga masuk ke dalam lift. Pintu lift tertutup dan mengantarkannya sampai ke gedung paling tertinggi.


Sampai di atas. Arsya dengan arogan melangkah keluar dari lift. Nampak di sana ada para direktur yang pergi menyambut.


"Presdir. Masih ada setengah jam untuk melakukan siaran langsung. Kami sudah mengaturnya. Wartawan juga sudah bersiaga sejak petang menunggu anda untuk mengatakan yang sesungguhnya." Ujar salah satu direktur itu.

__ADS_1


"Ya. Masih ada beberapa menit sebelum jumpa pers. Kalian kembalilah. Aku harus membaca dokumen terlebih dahulu." Ujar Arsya.


Para direktur itu kembali. Sebelum melakukan jumpa pers dengan para wartawan Arsya mempelajari sesuatu. Pada saat ini teleponnya berdering. Dia mengerutkan kening ketika nomor itu adalan nomor luar negeri asing.


Dia tidak berpikir negatif langsung mengangkatnya. "Halo." Ujar Arsya dengan suara datar.


"Arsya. Ini aku Elisabeth."


Kening Arsya yang semula berkerut berubah datar. "Ya, nona Eli. Ada apa?" tanya Arsya.


"Mengenai berita itu. Aku butuh bantuanmu."


"Ya, aku pasti membantumu. Saat ini para wartawan sudah mendesakku. Aku juga sedang melakukan jumpa pers sebentar lagi. Nona Eli. Apa yang perlu aku bantu selama siaran berlangsung?" tanya Arsya.


Eli nampak tersenyum sempringah. "Arsya. Aku ingin mengatakan jika aku benar benar hamil. Dan kau hanya perlu membantuku jika itu adalah anakmu." Ujar Eli dengan terbuka.


"Maaf nona Eli. Jika berkata demikian aku tidak bisa membantumu. Aku akan mengatakan yang terus terang."


"Terus terang. Benar! Malam itu kau yang melakukannya padaku. Bagaimana mungkin kau tidak berterus terang." Eli berkata dengan tegas.


"Em. Sepertinya nona Eli salah paham. Maksudku. Malam itu anda tidak melakukannya padaku. Meski aku mabuk berat malam itu, tapi aku masih sadar. Anda harus melihat jelas wajah pria pada malam itu. Aku akan mengirimkan salinan cctv kepada anda."


"Aku yakin bahwa pria itu memang kau Arsya!" suara Eli nampak meninggi. Bibirnya bergetar karena amarah.


"Maaf nona Eli. Anda salah paham." Arsya segera menutup telepon.


Di saat bersamaan Danni mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan.


"Presdir. Semua sudah siap. Tinggal menunggu anda."


"Hem. Danni, aku baru saja mendapat telepon dari nona Eli. Saat siaran berlangsung kau harus mengawasi pergerakan nona Eli. Bisa saja dia memburamkan wajah pria itu dan tetap menuduhku pria itu adalah aku."


"Baik presdir."


Langkah yang tegas dan berwibawa langsung membawanya menuju ruang rapat. Wajahnya terlihat arogan dan sombong. Terdengar suara sepatu yang bergesekan dengan lantai dari arah luar ruangan. Suasana yang awalnya hening menjadi riuh seketika. Saat pintu terbuka Para wartawan langsung mengambil kesempatan dan segera mengambil gambarnya.


Langkahnya yang tepat dan tanpa tergesa memasuki aula. Saat duduk di kursi utama pengawal bergegas menenangkan. Wartawan itu yang awalnya riuh segera terdiam. Mereka tetap memotret sehingga cahaya selalu berkedip di seluruh ruangan.


Arsya melihat seluruh ruangan dan menatap satu persatu para wartawan dia dapat melihat bahwa wartawan itu dari saluran televisi luar dan dalam negeri. Kemudian Arsya membuka mulutnya. Namun dihadang oleh salah satu wartawan dan segera bertanya.


"Pak Arsya. Anda adalah presdir perusahaan ini. Apa benar tentang berita yang beredar bahwa anda menghamili seseorang dan orang itu adalah bule?"


"Ya, pak Arsya adalah keluarga terpandang dan pimpinan perusahaan bukankah ini adalah perbuatan yang tak senonoh. Apakah berita itu benar adanya?"


"Anda juga pernah beristri. Lalu istri anda kabur. Bukankah anda seorang duda? Dan itu disebabkan oleh orang ketiga. Apakah itu juga benar."


Arsya menatap satu persatu wartawan yang melontarkan pertanyaan. Sementara Merlin segera mencatat para wartawan itu dari saluran televisi mana.


Wartawan itu tetap mencecar berbagai pertanyaan. Namun Arsya masih saja bungkam.


"Ya pak. Tolong beri kami jawaban." Setelah wartawan mendesak jawaban. Arsya langsung mengangkat tangannya. Kemudian wartawan yang memberi pertanyaan segera terdiam.


"Apakah kalian sudah selesai. Kalian bertanya tanpa henti bahkan tidak memberi jeda sedikitpun untuk aku menjawab pertanyaan kalian. Sekarang aku akan menjawab pertanyaan kalian dan menjelaskan apa yang tengah terjadi." Setelah berkata demikian dia mengeluarkan sertifikat pernikahan enam tahun yang lalu.


"Ini adalah sertifikat pernikahan yang sah secara negara. Enam tahun yang lalu sampai sekarang aku tak pernah bercerai dengan istriku." ujarnya dengan lugas.


Kemudian salah satu wartawan segera bertanya. "Pak Arsya. Bukankah hubungan kalian retak karena anda pernah berselingkuh dengan teman dekat anda? Lalu istri anda kabur dan anda menceraikannya?"


"Ini adalah sertifikat asli pernikahan kami. Jika kami bercerai tentu saja aku tidak bisa memiliki kartu ini." lalu Arsya memperlihatkan tanda cap negara yang sah. Memgarahkannya kepada kamera dengan jelas.

__ADS_1


"Lalu tuduhan yang mengarah kepada aku yang tengah berselingkuh dengan teman dekatku sendiri itu tidaklah benar. Aku hanya menolongnya karena dia saat itu sedang hamil dan tidak ada yang merawatnya. Dan itu membuat istriku salah paham. Istriku bukan kabur pada tahun itu. Tetapi dia pergi melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Dan dua hari lagi dia akan kembali. Jadi tuduhan anda aku bercerai dengan istriku itu tidak benar." Ujar Arsya.


"Pak Arsya. Lalu apakah benar mengenai berita yang beredar jika saat ini anda telah menghamili wanita lain. Apalagi saat ini anda tidak pernah bersama istri anda. Tentu saja anda perlu kasih sayang yang lebih sehingga anda melakukannya dengan wanita lain?" pertanyaan itu membuat gigi Arsya bergemeletuk. Tetapi ia tetap berekspresi dingin.


"Lihat video ini." Untuk membuktikan berita yang beredar. Arsya memutar video yang ia dapatkan sejak malam panas itu terjadi. Dia hanya memperlihatkan dengan jelas wajah pria itu.


Wajah pria itu terlihat biasa saja. Tapi pesonanya sangat memabukkan. Sementara si wanita dengan jelas bahwa itu adalah wajah Eli. Tidak sama dengan wajah Arsya yang memiliki bibir tipis dan hidung mancung. Alisnya terukir tebal dan rahangnya sangat tegas.


Sangat berbeda jauh dengan wajah pria yang berada dalam gambar. Tubuhnya terlihat kurus. Bibirnya tebal dan alisnya terlihat menukik.


Di detik video terakhir. Arsya langsung menghentikan putaran videonya. "Apakah kalian sudah jelas. Bahwa pria di dalam sana bukanlah diriku. Jika aku melakukan hal seperti itu. Buat apa aku melakukannya dengan wanita lain. Jika menginginkan aku bisa melakukannya kepada istriku."


"Tapi bukankah saat ini istri anda masih diluar negeri seperti yang anda katakan?"


"Cih. Apakah kalian tidak tau. Orang sepertiku bisa pergi kemanapun?" Arsya mencibir.


"Tetapi anda adalah pimpinan perusahaan. Bukankah anda keluar hanya dalam perjalanan bisnis. Itu tidak mungkin jika anda pergi begitu saja tanpa ada tujuan yang jelas?"


Arsya melirik wartawan itu dengan dingin. "Kalian tidak terlalu percaya padaku." lalu dia mengeluarkan sebuah foto saat saat bersama dengan Anna di Amsterdam.


Dia memperlihatkan foto di ladang kebun mawar. Anna yang sedang berjongkok dan dia di sampingnya sedang membantu memotong daun yang menguning. Foto itu di ambil saat Anna yang kesal hanya karena keberadaan Arsya yang berada di ladangnya. Saat itu dia hanya ingin mengembalikan kartu hitam pemberian Arsya.


Dan tanpa sengaja danni memotretnya dari jauh tapi itu dapat terlihat jelas. Dan tampak foto itu sangat intim satu sama lain. Kemudian foto kedua, ketika Arsya memboncengkan Anna dengan sepeda saat pergi ke ladang. Itu pun di ambil secara diam diam oleh danni. Foto yang ketiga, ketika mereka menghadiri acara dihotel yang kebetulan mendapat undangan perjamuan malam itu.


Tampak Arsya mengenakan jas berwarna putih dan celana yang berwarna senada bersamaan dengan Anna yang mengenakan gaun panjang yang berwarna putih senada dengan jas yang dikenakan Arsya. Tampak seperti pasangan yang sangat cocok.


"Apakah kalian masih ragu dengan hubungan kami?" Arsya bertanya dengan dingin.


Para wartawan itu langsung terdiam dan mencatat hasil jumpa pers pagi itu. Mereka saling menganggukkan kepala mereka. Sementara Arsya menyunggingkan senyuman.


"Dan satu lagi berita bahagia yang harus aku umumkan pagi ini." Arsya mengeluarkan sebuah foto yang baru saja dikirim oleh Anna barusan. Sebuah foto tespeck yang bergaris dua terpampang nyata di layar lebar di belakang Arsya.


Seluruh isi ruangan tercengang dengan berita itu. Para direktur itu terkejut sekaligus senang adanya berita ini. Dan satu persatu mereka mengaum menggosipkan hal ini.


"Aku akan menjadi seorang ayah. Dan Adiyaksa group akan memiliki penerus. Jadi kalian bisa membagikan berita bagus ini ke seluruh pelosok negeri." Ujarnya dengan senyuman lebar.


"Wa...." Semua langsung bergumam ceria.


"Karena aku terlalu bahagia. Setelah ini para direktur akan membagikan angpao kepada kalian." Ujarnya lalu menutup sesi jumpa pers. Semua merasa senang dan bahagia. Terlebih CEO dari Adiyaksa group membagikan hadiah secara langsung.


Para direktur langsung mencatat semua wartawan itu lalu membagikan angpao itu secara merata. Arsya langsung keluar dari ruangan dan jumpa pers telah berakhir. Hatinya terasa lega seolah beban yang ia pikul telah lepas.


Danni langsung menyambut ketika Arsya keluar dari ruang rapat.


"Presdir. Sejauh ini nona Eli tidak ada pergerakan. Sepertinya ada seseorang yang tengah mengawasinya sehingga dia tidak berani mengedarkannya." mereka berbincang seraya berjalan masuk ke dalam lift.


"Hem, aku tau. Ayah Eli adalah orang yang tegas. Mana mungkin berita ini bisa tersebar apalagi berita ini merusak nama besar mereka. Jadi mereka segera menutupinya. Jika dibiarkan tentu saja mereka juga akan berperang melawan keluarga kerajaan. Melawan kita saja mungkin itu hal mudah. Tapi dia tidak bisa melawan kerajaan."


"Hah, presdir. Ternyata anda bisa secara detail menyimpulkan suatu masalah. Anda berpikir demikian jadi membuat jumpa pers ini untuk melawan."


"Tentu saja! mereka telah meremehkan ku. Jadi aku harus membuktikan dengan cara seperti ini."


"Haha benar. Anda memang pantas jadi pimpinan."


Setelah itu mereka telah sampai di ruangan teratas tanpa sadar. Sebelum masuk ke dalam ruangan CEO. Danni segera mengucapkan selamat.


"Oiya presdir. Anda selama berada di Amsterdam sudah mendapatkan hati nona muda. Anda juga mendapatkan keberuntungan. Selamat presdir."


"Hem, tapi kau tetap bekerja lebih keras lagi setelah ini." setelah berkata Arsya dengan arogan masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


Wajah danni berkerut sedih. Dia kira setelah ini ia akan sedikit longgar. Apalagi tadi saat selesai jumpa pers, para wartawan mendapat angpao. Tapi ternyata dia dipaksa bekerja lebih keras lagi. Pasti itu karena nona mudanya akan segera kembali. Sementara presdir bermanja dengan istrinya. Dia yang harus bekerja keras menanggulangi perusahaan.


Sungguh nasib Danni kurang beruntung.


__ADS_2