
Keempat gadis itu digiring ke ruang BK. Pak Setyo selaku Guru BK menatap ke empat gadis itu secara bergantian. Penampilan ke empat gadis itu sangat mengenaskan. Selain wajahnya yang lebam akibat pukulan Rambut mereka juga acak acakkan tak karuan.
Leya, Anna, Kesya dan Dea saling menundukkan kepala dan tak berani menatap pak Setyo. Pak setyo menghela nafas panjang.
"Kalian sungguh memalukan!" Geram Pak setyo.
"Bukan saya pak, yang mulai. Tapi mereka!" Kesya secara spontan menunjuk Anna dan Leya.
"Apa maksud kamu. Jelas jelas kamu yang membuat kakiku tersandung dan jatuh." Ucap Anna seraya membela diri.
"Diam!" Pekik Pak Setyo.
Kedua gadis itu langsung diam dan saling melirik. "Kalian ini seperti preman saja." Ujar pak setyo mencebikkan mulutnya.
"Kalian berempat selama satu minggu saya skors membersihkan halaman secara bersama sama." Lanjut Pak Setyo
"Apa!" Pekik Ke empat gadis itu bergantian.
"Pak, saya gak mau bersama sama mereka." Seloroh Anna.
"Iya pak. Saya juga gak mau." Sahut Kesya.
Jawaban Anna dan Kesya membuat kesabaran Pak Setyo meningkat.
"Jika kalian tidak mau bersama sama menjalankan hukuman. Maka saya juga ada batasan kesabaran buat kalian. Ini termasuk hukuman paling ringan. Jika tidak mau. Ana dan Kesya akan saya pindahkan membersihkan toilet. Sementara Leya dan Dea tetap membersihkan halaman."
"Tidak--tidak. Mana bisa saya harus bersama Kesya yang super rese ini pak. Dia hanya akan buat kekacauan jika bersama saya pak." Sela Anna.
"Cukup! Mau tidak mau, keputusan saya sudah bulat. Kalian keluarlah dan mulai besok jalani hukuman kalian. Jika saya tau, kalian tidak melaksanakan tugas dengan baik, terpaksa saya akan mengundang kedua orang tua kalian untuk datang."
"Eh, jangan pak." Ucap Anna buru buru.
Pak Setyo menatap Anna dengan menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Maksud saya, nanti saya akan mendapatkan hukuman lebih berat jika bapak memanggil orang tua saya." Ucap Anna menundukkan kepalanya.
"Saya tidak peduli. Ini adalah peraturan sekolah. Sekarang kalian bubar." Ucap Pak Setyo disertai perintah.
Ke empat gadis itu keluar dengan Anna dan Kesya saling bertatap tatapan. Seolah mereka mengatakan jika mereka tidak ingin bersama dalam hukuman mereka.
"Apa!" Pekik Kesya balas menatap Anna dengan tajam.
Anna ingin sekali mencabik cabik mulut Kesya jika tidak di tahan Leya. "Sudah, lebih baik kita pergi." Leya segera menarik tangan Anna menjauh dari sana.
Lengan Kesya juga ditahan oleh Dea dan menariknya menjauh dari sana. Kesya semakin kesal. "Lepasin!" Pekik Kesya seraya menepis tangan Dea.
"Dea, kita harus ingat. Bahwa kita harus membalas semua perbuatan Anna ini. Dan semua luka ini akibat ulah mereka." Ucap Kesya penuh dengan api dendam.
"Ya, kita bakalan membalas semua perlakuan mereka. Indri juga sekarang entah pergi kemana. Yang penting kita sudah membuat mereka juga merasakan hal yang sama. Sekarang ayo pergi obati luka kita. Dan setelah pulang kita cari indri." Bujuk Dea.
Akhirnya Kesya menurut.
Anna dan Leya tidak segera masuk ke kelas, mereka berdua masuk ke dalam ruangan UKS Untuk mengobati luka mereka yang ada banyak cakaran dan juga lebam diwajah.
"Iya, aku juga lapar." Balas Anna.
"Tapi ngomong-ngomong Kenapa mereka seperti setan yang mengamuk?" Tanya Leya penasaran.
"Mana aku tau. Tiba tiba aja mereka menyerang kita dengan alasan yang tak masuk akal."
"Heh," Leya tertegun sesaat. "Alasan? Memang apa alasan mereka memusuhi kita. Perasaan kita tak pernah membuat permusuhan dengan mereka. Kenapa mereka begitu dendam dengan kita." Tanya Leya penasaran.
"Aku juga tidak mengerti. Selama ini justru mereka yang selalu mencari gara gara sama kita. Entah mereka itu dendam sama kita karena apa, aku juga tidak tau." Balas Anna menggelengkan kepalanya tidak tau apa yang terjadi tapi mereka selalu menganggap remeh dan memercikkan api permusuhan di antara mereka.
"Iya, tapi Tadi aku tidak melihat Indri. Kemana Indri?" Ucap Leya menyadari keberadaan Indri yang biasanya selalu mendominasi setiap pergerakan mereka. Tetapi sekarang tidak ada bahkan Selama seminggu ini Mereka tak pernah melihatnya lagi.
Anna menoleh menatap Leya mengerutkan keningnya. "Mungkin ini ada kaitannya dengan hilangnya Indri jadi menyalahkan kita sebagai penyebabnya." Tebak Anna.
__ADS_1
"Hah! Mana mungkin bisa begitu. Memang apa yang kita lakukan?" Tanya Leya.
"Sebentar, aku ingat. Malam acara ulang tahun Indri waktu itu. Aku hampir di perkosa sama anak buahnya. Saat itu Arsya datang tepat waktu. Dan setelah kejadian itu, Aku menganggap semua baik baik saja. Hingga pada saat itu aku pergi ke kantor Arsya, dia memperlihatkan sebuah rekaman cctv padaku dan menembak orang yang hampir memperkosaku."
"Ugh. Membunuh!" Pekik Leya terkaget. Anna buru buru membungkam mulut Leya yang memekik keras.
"Jangan keras keras!" Ucap Anna memberi peringatan.
Leya menoleh kekanan dan kekiri, sedang tidak ada orang dan menarik tangan Anna yang membungkam mulutnya.
"Arsya orang yang seperti itu. Kejam sekali dia!" Ucap Leya tak percaya.
"Aku juga merasa terkejut dan takut, siapa diri Arsya yang sebenarnya. Aku tidak mengenal dia sama sekali bahkan dia terlalu kejam." Anna hampir meneteskan air matanya.
"Cup cup cup. Kamu jangan sedih."
"Bukan hanya sedih, tapi aku takut jika dia memiliki sikap bagai psikopat. Aku takut jika dia tiba tiba membunuhku."
"Hah." Leya membelalakkan matanya.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Tanya Leya. Anna hanya mampu menggelengkan kepalanya.
"Apakah kamu masih bertahan dengannya sampai sekarang. Kenapa kamu tidak kabur saja." Ucap Leya.
"Itu tidak mungkin. Aku sudah pernah kabur dan dia menindas papa dan mamaku. Jika aku tak kembali Bagaimana nasib papa dan mama." Balas Anna membayangkan waktu itu saat dia pergi keluar dari rumah Arsya, bagaimana dia menindas Papa dan mamanya hingga mamanya sakit keras.
"Anna, aku tidak bisa membantumu!" Ucap Leya lalu meletakkan tangannya dibahu kanan Anna. "Aku hanya bisa menjadi teman di manapun yang kamu butuhkan kapanpun." Ucap Leya memberi senyuman terindah pada sahabatnya itu.
Anna mengusap air matanya yang merembes di kedua pipinya. Ia membalas senyuman Leya dengan tulus. "Terima kasih, kamu memang yang terbaik." Balas Anna dan menarik Leya masuk ke dalam pelukannya.
Mereka berpelukan menyalurkan rasa sedih mereka bersama sama dan akan bahagia bersama sama di masa depan.
"Ayo kita pulang, sudah saatnya pulang." Leya mendorong Anna dengan pelan lalu melihat jam di tangan kanannya.
__ADS_1
"Ya. Ayo kita ambil tas dikelas."
Mereka berdua merapikan pakaiannya dan kembali ke kelas mengambil tas dan merapikan semua bukunya. Mereka terpisah ketika berada di lantai satu. Karena Leya harus mengambil motor matiknya yang ia parkirkan di ruang basement sementara Anna harus pergi ke depan gerbang karena sudah ada sopir pribadi yang menunggu.