
Saat keluar dari Walk in Closet, Anna menemukan Arsya yang terbaring di atas ranjang dengan tenang. Demi tidak mengganggu tidur Arsya, Anna berjalan sangat pelan. Lalu meletakkan bantal guling ditengahnya.
Dengan begini ia akan terasa aman. Ia tersenyum puas dan membaringkan dirinya yang sudah sangat mengantuk.
Semalaman Anna tertidur sangat nyenyak hingga sebuah Alarm di ponselnya berdering begitu nyaring yang mengusik tidurnya.
"Ah, Berisik." Gumamnya pelan.
Tangan kanannya meraba raba ke arah asal sumber suara tersebut. Saat menemukannya ia menyelipkannya di bawah bantalnya.
Ia kembali memejamkan matanya yang masih mengantuk lalu mendekap guling itu dengan sangat nyaman.
Tunggu! Kenapa guling ini terasa sangat berbeda. Anna meraba raba guling itu.
Benda itu sangat kenyal dan.....seperti manusia.
"Ahh.....!" Anna berteriak saat dirinya sadar dengan apa yang ia raba. Dan menemukan Arsya yang membuka mata menatapnya dengan datar. Anna sangat terkejut.
"Cepat lepaskan!" Ucap Arsya yang membuat Anna menjadi salah tingkah karena memegang dadanya begitu erat, bahkan kepalanya begitu nyaman masuk di pelukannya, Dan yang paling membuat ia terkejut adalah menggunakan tangan Arsya sebagai bantalan.
Ia benar-benar sangat malu sekarang. Andai ada lubang di sekitarnya pasti ia akan masuk ke dalam dan mengubur diri di sana.
Anna meringis, saat bantal dan guling itu telah berpindah di belakang punggungnya.
"Hehe!" Anna segera berpindah dari tubuh Arsya.
Arsya tangannya terasa kebas karena semalaman lengannya digunakan sebagai bantalan oleh Anna.
*
"Halo tante!" Linda datang membawa paper bag ditangannya.
Ia menyapa Hanis yang berada di ruang makan. sedang sibuk membaca majalah fashion. Saat mendengar suara Linda, ia segera menyapanya.
"Linda. Hai...." Linda meletakkan paper bag di atas meja makan dan bercipika cipiki dengan tante Hanis.
"Tante, aku bawakan stiek daging yang dimasakkan khusus dari koki dirumahku. Cobalah" Linda membuka paper bag itu dan mengeluarkannya.
Aromanya begitu harum. "Daging ini dari daging sapi berkualitas tinggi dari Eropa." Sambil mengucapkan tangannya membuka tutup wadah dan menyodorkannya di hadapan Hanis.
"Wah, ini seperti hidangan restoran yang biasa aku makan di luar negeri." Balas Hanis begitu senang.
"Tentu saja." Linda tersenyum manis.
"Linda!" Arsya terkejut dengan kedatangan Linda sepagi ini.
"Arsya!" Linda mengalihkan pandangannya ke arah Arsya yang baru datang. "Aku membawakan pangsit kukus untukmu. Dulu kau suka sekali dengan makanan ini. Tapi sekarang entah masih suka atau tidak." Ucapnya. Lalu segera mengeluarkan pangsit kukus itu dari dalam paper bag lalu membaginya ke arah Arsya.
__ADS_1
**
Anna berada di dalam kamar mandi dengan perasaan campur aduk. "Haruskah aku minta maaf? tapi ini terlalu memalukan. Duh Anna kenapa kamu begitu ceroboh seperti ini." Ucap Anna sembari melihat dirinya melalui pantulan kaca wastafel.
Raut wajahnya berubah kemerahan saking malunya. Ia bermonolog sendiri sembari menggosok gigi.
"Tapi bagaimana mengatakannya. 'Arsya, aku minta maaf'---ah ya seperti ini saja."
Anna tersenyum lalu menyudahi dengan berkumur. Ia segera mandi. Seusai mandi dan berganti baju, ia lekas menuruni tangga dan masuk ke ruang meja makan.
Betapa terkejutnya dia saat ada perempuan lain di dalam sana selain mama mertua. Tadinya ia berintuisi untuk segera menemui Arsya, tetapi ia berubah marah saat melihat pemandangan ini.
Linda menyuapi Arsya menggunakan sumpit. Mata Elang Anna memerah. Ia berjalan bagai robot jika berada di dalam kartun dengan mengepalkan kedua lengannya dan menyingsingkan bajunya.
Tetapi itu tak terjadi karena di sana ada Hanis. "Selamat pagi Mama!" Anna menyapa Hanis dengan mengeraskan suaranya.
Hanis yang sedang meminum teh langsung meletakkannya di piring kopi. "Selamat pagi sayang." Anna menghampirinya lalu mencium pipinya.
"Mama sangat cantik hari ini." Ucap Anna memuji kecantikan mama mertua.
"Terima kasih. Kamu juga sangat cantik hari ini. Ayo duduk kita sarapan bareng." Ucap Hanis.
Linda yang mendengar ucapan gadis itu yang menyapanya dengan sebutan mama membeku ditempat. Gadis ini begitu berani memanggilnya mama, memangnya siapa dia.
"Iya mama." Balas Anna tersenyum.
Untuk menuju tempat duduknya Anna melewati tempat duduk Arsya. Ia segera mendekat dengan pikiran jahat di otaknya. Ia tersenyum menyeringai.
Arsya menyadari gerakan Anna yang terlalu posesif. Awalnya ia masih tenang seperti tidak ada apa apa. Tetapi gerakan itu menghidupkan sisi terlemahnya.
Linda yang melihat adegan ini matanya langsung memanas. Terlalu dekat dan sangat intim. Tanpa sadar ia mengeratkan sumpitnya hingga terdengar bunyi 'klik' di genggamannya.
Anna semakin senang melihat Linda yang terlihat muram.
"Ah..." Linda mendesis saat jemarinya terluka oleh patahan sumpit.
Arsya yang tadinya tegang, saat mendengar desisan Linda, ia buru buru sadar. dengan reflek menarik jemarinya yang terluka.
"Kamu tidak apa -apa?" Tanya Arsya lalu melihat jari itu yang hanya tergores.
"Tidak apa apa." Linda tersenyum sembari memandang Arsya yang mengelusnya dengan pelan.
"Oh, ****. Wanita ini pintar sekali akting." batin Anna tidak senang.
Linda seperti diatas angin. Tindakan gadis itu terkalahkan olehnya hanya dengan satu gerakan saja. Diam diam ia menertawakan Anna yang tidak diperdulikan Arsya.
"Ricky! Ambilkan plester!" Ricky yang berdiri dibelakangnya langsung menyerahkan kotak obat kepada Arsya.
__ADS_1
Arsya membuka kotak obat itu dan mengambil plester lalu ditempelkan di jemari Linda. "Seharusnya tidak terlalu serius."
Arsya dengan hati hati menempelkan plester itu. "Duduklah, sudah saatnya sarapan."
Saat ingin duduk, Linda baru sadar jika kursi yang seharusnya ia duduki malah diduduki gadis itu. Linda menatap Arsya yang terdiam di tempatnya. Hanis yang melihatnya langsung menegurnya.
"Duduklah di samping Anna." Ucap Hanis.
Linda tersenyum kaku, ia dengan terpaksa melangkahkan kakinya ke kursi yang berada di samping Anna.
"Gadis ini seharusnya tidak di sana, seharusnya itu milikku." batin Linda semakin muram.
"Ricky, cepat sajikan makanan." Perintah Hanis.
Ricky menepuk kedua tangannya sekali. Para pelayan berhamburan keluar dengan satu orang satu hidangan. Lalu satu persatu hidangan itu tersaji di atas meja.
Kali ini Anna kembali memutar otaknya, agar si perempuan ular ini tidak mengganggu hubungannya dengan Arsya. Jadi ia berinisiatif mengambil sayuran dengan sumpitnya.
"Suamiku, makan sayur akan menyehatkan. Makanlah ini." Anna meletakkan sawi hijau di atas mangkuknya.
Arsya terdiam dan tidak berkata apa apa. Ia langsung memakannya. "Gadis ini pintar merayu dan pandai berakting disaat suasana genting. Harusnya lebih menarik melihat adegan ini." Batin Arsya. Ia diam diam tersenyum tipis sampai orang orang tak bisa menyadari.
"Arsya, Aku akan pergi ke kantor bersamamu saja, tadi sopirku pulang terlebih dulu."
Linda memaksa Arsya untuk berangkat bersama. "Ya." Jawab Arsya datar.
"Perempuan ini sungguh tak tau malu. masih bisa merayu." batin Anna kesal. Tetapi ia hanya diam memakan sarapannya.
Arsya sesekali melirik ke arah Anna yang tidak merespon sama sekali. Di dalam hatinya ia ingin sekali Anna berbuat sesuatu.
"Mama, aku ada ulangan hari ini. Aku akan pergi dulu." Anna merasa ruangan itu sangat gerah.
Jadi ia ingin cepat cepat pergi dari sana. Sebelum pergi, ia mencium pipi Arsya dengan lembut. "Bekerjalah baik baik." Bisik Anna. Lalu menoleh sekilas kepada Linda yang raut wajahnya sudah memerah karena marah.
"Hati-hati sayang." Ucap Hanis memperingatkan.
Anna mencium pipi mama mertuanya lalu segera pergi dari sana. "iya ma."
Linda langsung muram. Betapa hebatnya gadis kecil ini bisa menarik perhatian semua keluarga Adiyaksa. Setelah selesai menghabiskan sarapan. Linda dan Arsya langsung pergi bersama menuju perusahaan.
Wajahnya nampak cemberut. "Ada apa dengan wajahmu?" Meskipun Arsya adalah orang yang dingin tetapi ia tetap memiliki hati yang baik.
"Gak ku sangka. Kau menyembunyikan sebuah pernikahan. Apakah kau tidak menganggapku teman lagi. Andaikan asistenku waktu itu tidak menemukan foto pernikahanmu mungkin selamanya aku tidak akan tau. Dan yang lebih membuatku terkejut adalah gadis itu masih SMA." Ujar Linda dengan kesal.
Arsya memijat pangkal hidungnya. "Mau bagaimana lagi. Semua adalah keinginan kakek. Aku tidak bisa mengelak permintaannya." Sahutnya.
"Si tua bangka itu, ternyata masih hidup setelah sekian lama terkena penyakit jantung. Ku kira sudah mati." Batin Linda.
__ADS_1
"Sekarang lupakan masalah ini. Kita fokus kerja saja." Ujar Arsya membuyarkan lamunan Linda. Wajah Linda berubah dengan senyuman indah.
"Baiklah." kemudian ia membahas mengenai kerjaan yang sebagaimana Arsya adalah seorang mentor bagi Linda.