Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Sembilan


__ADS_3

Anna duduk di tepi danau di bawah pohon besar. Matanya menatap lurus ke depan. Hatinya gelisah dan sedih. Demi mendapatkan sebuah bisnis, kedua orang tuanya tega menukarnya. Bersamaan dengan hal ini dia juga dinikahkan dengan orang yang menabraknya.


Begitu rumit kehidupan seperti ini. Sudah banyak kehidupan pahit yang ia telan. Mengingat surat perjanjian yang telah ia tanda tangani bersama suaminya membuatnya semakin putus asa.


Mungkin masih ada satu tahun ia akan menjalani pernikahan ini. Setelah itu ia statusnya akan berubah bersamaan kehidupannya yang akan berubah. Status baru di masa yang masih muda.


Anna merasa tekanan hidupnya yang begitu berat. Andai saja Anzel masih hidup, mungkin ia tak akan sesusah ini.


"Ehem..." terdengar seorang berdehem di samping Anna yang tengah berdiri menatap lurus ke arah danau.


Anna menolehkan kepala, pria yang berada di sampingnya itu menoleh dan menatapnya kemudian tersenyum lalu kembali menatap lurus.


"Aku lihat kau masih berseragam SMA, apa kau membolos dan pergi ke sini?" Ucapan pria itu begitu menyindir tetapi terdengar santai dan sebuah candaan..


Anna tidak membalas apapun dan tetap menatap danau dengan lurus.


"Apa kau sendirian? Aku bisa menemanimu."


"Namaku Zaelan. Panggil Elan." Pria itu kemudian bergeser dan memberi jarak satu setengah meter dari Anna.


"Kau begitu kesepian." Ujar Elan lagi. tapi Anna tetap tanpa sepatah katapun untuk menjawab.


Terdengar deringan telepon yang cukup keras. Elan merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda pipih itu.


"Ya Res, oke aku kesana!" Elan pun mematikan sambungan teleponnya dan menyimpannya kembali.


"Oke, cewek cantik. Ada hal penting yang aku kerjakan. sampai jumpa." Pria itu melirik sekilas sambil tersenyum. kemudian ia berbalik dan pergi.


Hari sudah semakin sore Jaki merasa khawatir karena sudah seharian ini nona mudanya berada di taman, sementara dirinya menunggunya di dalam mobil. Ia pun keluar mobil dan bergegas pergi ke taman. Tapi saat berada di taman ia tidak menemukan apa apa.


Hanya ada beberapa anak anak dan orang tua yang menemani. Jaki semakin gelisah, jika tuan muda-nya mengetahui hal ini, tamatlah sudah. Anna yang melihat Jaki yang semakin gelisah, Tersenyum miring. Entah setan apa yang merasuki diri Anna.


Anna diam diam pergi dari tepi danau, karena Pak Jaki tidak mengetahui hal danau yang berada di sebrang taman sangat mudah bagi Anna untuk kabur. Kemudian Ia menghentikan taksi yang tak jauh darinya. Kemudian pergi tanpa sepengetahuannya.


Jaki beberapa kali meringis, memukul kepalanya sendiri karena kebodohannya yang membiarkan nona mudanya pergi sendiri. Harusnya ia tadi tidak mematuhi perkataan nona mudanya.


Dan benar saja, apa yang ditakutkan telah terjadi. ponselnya beberapa kali berdering, terpampang jelas nama boss-nya di sana. Bahkan deringan itu hampir selesai, Jaki masih tetap tak berani mengangkat.


"Aduh bagaimana ini?" Gumamnya sedih. Pada saat deringan panggilan dari boss-nya berhenti. Telepon dari Villa masuk. Ricky mengatakan bahwa ia harus menjemput nyonya di Bandara.


Jaki bisa bernafas lega, di saat genting seperti ini masih ada penyelamat yang datang. Ia buru buru pergi dari sana setelah memastikan keadaan sekitar. Namun masih ada rasa bersalah dan takut yang merajai hatinya.


Arsya sangat marah, tak seperti biasanya, Jaki mengangkat telepon begitu lama, Arsya semakin kesal dibuatnya, Hampir saja ia ingin membanting ponselnya. Apalagi ia lupa bertukar nomer telepon dengan Anna. Jadi ia tak bisa menghubungi Anna. Dan yang ada dipikirannya saat ini, Anna sedang bersama pak Jaki.

__ADS_1


Arsya sudah menghubungi pihak sekolah, jika Anna tidak berangkat pagi ini. Menelepon rumah pun, Ricky bilang belum pulang. Arsya semakin kesal.


"Pergi kemana bocah ini." Gumam Arsya.


Di saat sedang diujung kemarahannya pintu kantornya terbuka. Seorang pria masuk ke dalam ruang kantornya dengan santai. Zealan.


"Sore Boss...." Elan menyapa Arsya yang sedang memandangi layar ponselnya.


"Hem, Ada apa kamu kesini?" Arsya meletakkan ponselnya lalu menatap Elan kesal karena ia seenak jidatnya duduk santai di depannya dengan melipat kakinya ke atas.


"Ckckck. kau masih sama seperti dulu. Sangat tidak sabaran." Elan menggeleng bersamaan senyum mengejek di wajahnya.


"Aku sedang sibuk, cepat katakan apa tujuanmu lalu cepat pergi." Desis Arsya.


"No...No...No...Aku sudah lama berada di luar negeri. bahkan kau sedikitpun tidak merindukanku. Aku sangat kecewa." Ucap Elan memasang wajah kecewa.


"Hah, kau baru ingat masih ada aku disini. Ku pikir kau lupa dan bersenang senang bersama wanita disana yang sudah menghiburmu." Ejek Arsya.


"No, aku tidak akan lupa dengan sahabatku yang dingin dan galak ini. Aku dengar kau sudah menikah. Aku ingin bertemu dengan kakak ipar."


"Tidak boleh, Kau ini mata keranjang." Tolak Arsya mentah mentah.


"Ckckck, kau ini sudah 26 tahun tidak pernah bersama wanita, sekalinya bersama sangat bucin sekali." Ejek Elan dengan tertawa lepas.


"Oke baiklah, Aku kesini hanya ingin bertemu denganmu, mengucapkan selamat atas pernikahanmu, sekaligus memberi hadiah untuk pernikahanmu." Elan mengeluarkan sebuah amplop coklat dan menggesernya ke hadapan Arsya.


"Huh, kau pasti sudah bersusah payah." Arsya mengambil amlpop coklat itu dan membukanya.


"Honeymoon!" Arsya menaikkan alisnya.


"Ckckckck. ya, sepertinya kau belum melakukan honeymoon. jadi aku menyarankan agar kau segera pergi dan buatkan aku keponakan yang lucu lucu."


Arsya meraup wajahnya dengan kedua tangannya, Bagaimana mungkin ia mengajak honeymoon, sedangkan istrinya itu masih berstatus SMA. Ia tak akan melakukan hal aneh itu padanya. Lagi pula itu tak akan mungkin mengingat dirinya yang akan berpisah sampai istrinya itu lulus sekolah. Dan dia akan menyandang status baru.


Arsya memasukkan selembar kertas itu ke dalam amplop lalu meletakkannya di atas meja.


"Aku tidak akan pergi." Membuat Elan menaikkan sebelah alisnya.


"Kenapa, kurang bagus. Padahal aku sudah mencari tempat tempat yang bagus dengan susah payah." Elan berpura pura sedih.


Melihat raut wajah Elan yang begitu sedih, Arsya pun tidak tega. "Maksudnya tidak sekarang, tapi entah jika ada waktu. Lagian aku masih sibuk sekarang." Ucap Arsya.


"Oh, oke tak apa." Elan kembali tersenyum kemudian mengangkat tangannya sambil menatap waktu di pergelangan tangannya sudah jam 8 malam. "Sepertinya aku masih ada urusan diluar, jadi aku pergi dulu." Elan beranjak dari kursinya.

__ADS_1


"Oke, terima kasih hadiahnya." Ucap Arsya.


"Ya." Elan segera berlalu dari hadapan Arsya.


Arsya hanya memandang amplop itu tanpa minat. Ah kembali ke topik Anna. Dia lupa menanyakan kabar Anna. Ia pun segera memberesi meja kerjanya lalu mengambil jas di sandaran kursi dan memakainya.


"Pak Arsya!" Danni segera berdiri saat Arsya keluar dari ruangan. Dan tanpa diminta langsung bergegas mengikuti langkah Atasannya.


Sampai di Villa, Arsya memanggil Ricky.


"Dimana Anna?" Tanya Arsya to the point.


"Belum pulang tuan." Jawab Ricky tanpa berani mendongakkan wajahnya.


"Kemana dia? Apa dia memberi kabar padamu. Si jaki saya telepon tidak di angkat."


"Tidak tau tuan, tapi pak Jaki saat ini sedang bersama Nyonya, Hari ini Nyonya pulang."


"Ah, sial. Kenapa kalian tidak memberi tauku." Arsya semakin kesal saja.


"Maaf tuan, kami sudah menghubungi anda tapi kata Nyonya, anda tidak menjawab."


Arsya segera mengeluarkan ponselnya, dan benar saja ada panggilan nomer bernama Nyonya besar sebanyak tiga kali. Arsya mendesah pelan seraya menggaruk pelipisnya yang memang gatal.


"Kumpulkan para pengawal, lakukan pencarian kemanapun untuk membawa Nona muda kemari." Perintah Arsya dengan tegas.


"Baik tuan."


...****************...


Anna berada di sebuah pondok kecil di desa terpencil. Ia tak tau lagi harus pergi kemana untuk menenangkan diri. Jika ia pulang pasti kedua orang tuanya akan marah. Dan ia sendiri tidak ingin pulang apalagi menemui pria itu.


Anna tidak membawa pakaian ganti apapun. Tidak membawa bekal apapun. Seragam SMA masih tersemat di badannya.


Anna duduk didepan jendela sembari menatap keluar jendela. Di sana tampak lampu berkilauan, karena Anna kini tinggal di pinggiran gunung, jelas saja lampu kota akan terlihat dari tempatnya.


"Nduk, kau sudah disini beberapa jam. Ayo istirahatlah dan gantilah pakaianmu." Salah satu penduduk desa datang memperingati.


Anna menundukkan wajahnya, dan memang benar pakaiannya masih berseragam sekolah apalagi ia telah memakainya seharian ini. Rasanya sudah lengket. Penduduk desa itu- bu Sari. Bu sari memberikan baju ganti kepada Anna.


"Terima kasih bu Sari, anda terlalu baik. saya akan pergi mandi dahulu." ucap Anna lalu menerima pakaian itu dan meletakkannya di atas pangkuannya, kemudian bergegas menuju belakang rumah dan mandi air hangat yang telah disiapkan bu Sari sebelumnya.


Bagaimana Anna bisa mengenal bu Sari. Itu karena salah satu dari Art-nya berasal dari desa itu. Art-nya itu setiap enam bulan sekali akan pulang ke sana. Dan Anna sering ikut pergi ke sana. Bu Sari ini adalah sanak saudara jauh dari Art itu, Jadi Anna mengenal baik tentang Bu sari.

__ADS_1


__ADS_2