
Sepulang sekolah, Anna berjalan malas memasuki rumah. Seakan dirumah itu bagaikan surga yang hampa. Ia memindai sekeliling ruangan tengah. Para Pelayan tetap menjalankan pekerjaannya.
"Huft." Anna meniup poninya. Ia pun berjalan malas ke arah sofa. Baru saja melangkah, ia dapat melihat sosok seorang pria tengah bersandar di sandaran sofa.
"Arsya!" Pekiknya merasa senang.
Pria yang tengah duduk di sofa itu seketika mendongak. Di pangkuannya ada laptop yang sedang menyala. Dia segera melepas kaca matanya.
Anna yang melihat Arsya berada dirumah, seketika hatinya merasa senang. Sudah seminggu ia berdiam diri tanpa ada yang menemani terlebih lagi tidak ada teman untuk mengobrol.
Meskipun kebanyakan dari mereka berdua selalu berselisih tetapi jika mempunyai teman suasana akan sedikit terisi. Anna segera merangkul bahu Arsya yang lebar.
Arsya terdiam dan tidak melakukan apa apa, selain membiarkan gadis ini merangkulnya bagai seorang teman. Anna terlihat seperti anak kecil yang polos. Wajahnya terlihat imut.
Dengan jarak sedekat ini, Dapat tercium aroma Lemon yang menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya. Arsya mengulurkan tangan kanannya dengan pelan menepuk nepuk bahu Anna.
"Ma--maaf. Aku terlalu senang karena kepulanganmu." Anna merasa malu karena spontan memeluk pria itu. Ia melepas rangkulannya dan menundukkan kepalanya. Pipinya memerah bagai tomat rebus.
"Gantilah bajumu. Aku akan menemanimu ke tempat kakek." Ucap Arsya membuat Anna terkejut.
"Ah, apakah kakek sudah memberitaumu?" Tanya Anna.
"Tidak, tapi pak Jaki. cepatlah." Ucap Arsya, Anna cemberut kemudian ia beranjak dari duduknya.
"Ah ku kira itu dari hatinya." gerutu Anna seraya menaiki tangga. Seusai bersiap ia segera menghampiri Arsya masih dengan posisi yang sama.
"Ayo buruan!" Seloroh Anna.
Pria itu mendongak menatap Anna yang mengenakan gaun floral selutut. Tak lupa gadis itu selalu memakai tas slingbagnya, gaya yang sesuai di usianya yang masih muda.
Gadis itu berdiri tepat dihadapannya. Arsya memandangi gadis itu secara tak sadar. Memindai wajah Anna yang terlihat cantik alami tanpa mengenakan riasan. Kemudian beralih ke arah bibir ranum itu.
"Hei!" Anna melambaikan tangan kanannya.
"Eh, Ehemm." Arsya mengalihkan pandangannya, meletakkan laptop di meja kopi setelah selesai menutup layar.
"Oke."
Arsya segera beranjak dari duduknya, Pria itu masih mengenakan kemeja berwarna biru navy yang lengannya ia linting sampai siku dan dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam.
Keduanya keluar ruangan bersama sama. Mobil Phantom telah terparkir di depan pintu utama. Para pengawal segera membukakan pintu. Anna dan Arsya masuk ke dalam mobil melalui pintu yang bersebrangan.
"Jalan!" Perintah Arsya.
Pak Jaki segera menginjak gas, perlahan mobil meninggalkan pelataran Villa. Sepanjang perjalanan kedua manusia itu sama sama terdiam. Sehingga Anna ingat tentang video yang di unggah di media.
"Jadi Video itu benar?" Tanya Anna.
__ADS_1
"Huh, Video yang mana?" Tanya Arsya tanpa menaikkan pandangannya dari layar i-pad.
"Kamu bertunangan dengan Linda?"
"Tidak!"
"Tetapi kamu disana? Bukankah kalian pergi bersama sama?"
"Ya, tapi hanya sebuah bisnis."
Anna mengerutkan keningnya, divideo itu jelas terlihat wajah Arsya yang memasukkan cincin ke jari Linda. Wajahnya terlihat sangat mirip dengan pria disebelahnya. Tapi pria itu nampak tersenyum.
Anna menoleh, menatap dengan seksama wajah pria di sampingnya. Merasa di tatap Arsya segera menaikkan tatapannya.
"Kenapa?"
"Bukankah itu kamu! Pria itu mirip kamu." Ujar Anna.
Arsya kembali menatap layar i-pad di tangannya. "Hanya mirip, kenapa begitu risau." Balas Arsya tenang dan datar.
"Bukan risau, tapi hubungan kita hanya sampai aku lulus. Bukankah terlalu cepat harus mengumumkan pertunangan. Terlebih kita belum bercerai." Anna menyimpulkan.
Tangan Arsya yang sedang membulir layar i-pad terhenti. Ia hampir lupa dengan perjanjian pranikah yang ia buat sendiri. Ia hanya membatasi hati-nya agar tidak jatuh cinta pada gadis ini. Tetapi mendengar kata perceraian seakan tak rela.
"Aku hanya tak ingin hubungan kita hancur karena orang ketiga. Aku hanya ingin kita berpisah baik baik. layaknya kamu datang kepadaku dengan cara yang baik-baik." Lanjut Anna.
Mobil phantom memasuki pelataran kediaman Herman Adiyaksa. Ferdi sendiri yang menyambutnya di depan pintu. Anna segera tersenyum setelah turun dari mobil.
"Tuan muda! Nona muda!" Ferdi membungkuk hormat menyambut kedua tuan muda dan nona muda.
"Halo paman Ferdi." Sapa Anna.
"Dimana kakek." Arsya tidak menghiraukan sambutan pria tua itu yang sudah bertahun tahun mengabdikan hidupnya di keluarga Adiyaksa.
"Beliau sedang berada di ruang kerja, aku akan pergi memberitaukan bahwa anda sudah tiba." Ucap Ferdi membungkuk hormat lalu pergi ke ruang kerja tuan besar.
Langkah Ferdi terhenti di depan sebuah pintu berbahan jati berwarna coklat itu, tangan kanannya terulur dan mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
"Tuan, Nona muda dan tuan muda sudah datang." Ucap Ferdi melapor dari balik pintu.
Perlahan pintu terbuka menampilkan Herman dengan tangannya membawa sebuah tongkat untuk menopang tubuhnya yang semakin menua.
"Dimana anak itu!" Geram Herman.
"Di ruang tengah tuan." Ferdi segera menyingkir memberikan jalan kepada tuab besar agar mudah keluar dari ruangan.
Langkah pria tua itu berjalan tergesa gesa sambil tongkatnya mengetuk lantai seirama dengan langkah kakinya.
__ADS_1
"Kakek!" Anna segera berdiri dari tempat duduknya. lalu menatap Kakek yang berjalan ke arahnya.
"Eh hati hati kakek." Ucap Anna segera berlari ke arah kakeknya dan memapah jalannya.
"Tidak apa apa. Tidak apa apa." Herman menepuk nepuk tangan Anna yang menggandeng lengan pria tua itu. Berbeda dengan Arsya yang masih terdiam duduk santai di sofa. Satu tangannya mengangkat cangkir teh yang masih panas.
"Dasar kurang ajar!" Pekik herman kesal lalu mengangkat tongkatnya memukul sandaran sofa di sampingnya. Dadanya naik turun karena marah.
"Tenang kek." Ucap Anna pada sang kakek.
"Aku tak bisa tenang dengan bocah tengik ini. coba jelaskan mengenai video itu." Tatapan Herman menajam menatap pria berbadan proposianal itu, bahkan Arsya tak merasa takut dengan amarah sang kakek yang kian memuncak.
Setelah menyesap teh-nya Arsya dengan elegan meletakkan cangkir itu di atas meja. Seolah tak perduli dengan kemarahan sang kakek.
Anna memapah pria tua itu untuk duduk di sofa. "Kamu memang cucu menantuku! Aku tak tau lagi mengajar dia bagaimana." Setelah memuji, Ia menunjuk Arsya dengan tatapannya.
Ferdi yang mendengar teriakan tuan besar segera tergopoh menuju ruangan tengah.
"Tuan besar, jangan marah. Nanti tekanan darah anda meningkat." Ferdi buru buru menenangkan.
Herman melirik sekilas Ferdi yang ikut menenangkan, tetapi Herman malah menatapnya dengan tajam dan dingin. Ferdi segera mundur. Kini Ferdi melirik Anna yang duduk di sampingnya meminta bantuan.
"Kakek, Lebih baik redakan amarah kakek. Bukankah Anna kemari untuk bertemu kakek. Lebih baik kita bercerita hal lain." Ucap Anna dengan tersenyum.
"Baiklah--Baiklah, Aku tidak akan merusak suasana hatiku dengan bocah busuk ini." Ucap Herman menepuk nepuk tangan Anna yang masih melingkar dilengan Herman.
"Ayo kita menuju gasebo, Dan kau pria tua, segera siapkan makan malam."
"Baik--Baik, akan saya siapkan." Ferdi undur diri untuk memerintahkan dapur untuk menyiapkan makanana.
"Papah Aku." Perintahnya kepada pengawal. Tetapi Arsya menggeleng memberi isyarat kepada pengawal untuk tidak membantunya, Ia beranjak dan membantu memapah Herman.
"Jangan sentuh aku!" Pekik Herman menolak Arsya.
Tetapi Arsya tak perdulikan pekikan itu. Ia terus memapah pria tua itu hingga ke taman belakang dan duduk di gazebo.
Ketiga manusia itu duduk saling berhadapan. Herman merubah wajahnya yang semula merah padam berganti dengan senyuman ringan.
Anna banyak berceloteh tentang sekolahnya. Herman buru buru mendengarkan.
"Bagus sekali. Kamu harus belajar dengan giat." Ucap Herman memuji Anna.
"Ya kakek." Jawab Anna dengan riang.
Tepat disaat ini makan malam sudah siap. "Tuan, makan malam sudah siap."
"Ya, bawalah kesini."
__ADS_1
Ferdi menepuk tangannya dua kali. Pelayan segera keluar dengan membawa nampan di tangannya. Hidangan ditata di atas meja satu persatu. Ketiganya makan dengan tenang.