Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 45


__ADS_3

Anna dan Linda kembali saat waktu hampir gelap. Arsya dan Ken menyambutnya di depan pintu. Ketika Linda melihat Ken menyambutnya , ia segera tersenyum dan menghambur ke dalam pelukannya.


Berbeda dengan Anna, ia hanya berdiri di samping Arsya. Kemudian Ken menyuruhnya untuk segera masuk. Waktu berangsur angsur malam. Setelah makan malam. Arsya dan Anna pamit. Ia segera kembali ke hotel setelah pertemuannya bersama Linda.


Di dalam hotel itu mereka menginap semalam lagi. Di keesokan harinya mereka baru pulang ke negara asal.


Anna tak bisa menyembunyikan rasa kerinduannya pada tanah lahirnya ini. Jadi ia merasa sangat terharu sampai tak sadar meneteskan air matanya melalui sudut matanya. Arsya menyadari jika istrinya itu sedang menangis karena tanpa alasan apapun gadis itu terisak di sampingnya.


"Anna. Ada apa?" Tanya Arsya mengernyitkan dahinya.


Anna menggeleng pelan. Tangannya mengusap air matanya yang ingin kembali menetes. "Tidak ada. Aku hanya merasa rindu. Ternyata sudah lama aku meninggalkan negara ini tetapi tidak ada perubahan sama sekali kecuali cat yang melekat pada tembok itu." Anna menunjuk tembok yang tak jauh dari pandangannya.


Arsya menghela nafas, kemudian menggeleng pelan dan tersenym geli.


Mobil telah sampai di sebuah villa jalan bahagia yang selama ini biasa mereka tinggali. Villa ini tidak ada yang berubah tetap sama seperti enam tahun yang lalu.


Para pengawal segera berbaris rapi di samping kanan dan kiri memberi jalan di tengah. Saat Arsya dan Anna keluar dari dalam mobil mereka segera menunduk hormat.


Anna menatap satu persatu wajah pengawal itu, lalu tertergun pada wajah Ari. Ia berhenti tepat di depan Ari. Arsya menyadari jika istrinya tak lagi mengikuti langkahnya jadi ia menoleh dan melihat jika ia tengah berdiri dan menelisik wajah Ari.


"Anna! Apa yang kau lihat?" Arsya sebenarnya juga panik. Apalagi yang ditatap Anna adalah Ari. Orang kepercayaannya untuk menjaga Anna saat berada di Amsterdam.


"Dia!" Anna menunjuk wajah Ari dengan telunjuknya.


Ari melirik Arsya yang berjalan menuju ke arahnya. Ari juga merasa panik jika saja Anna masih mengingat wajahnya. Untung saja Arsya cepat tanggap apa yang sedang dicemaskan oleh Ari. "Dia adalah Ari. Memangnya ada apa dengannya?" Ujar Arsya lalu meraih pinggang Anna dan membawanya pergi.


"Arsya! Aku pernah melihatnya." Kata Anna mengngat jelas wajah itu.


"Dimana?" Tanya Arsya.


Anna mencari ingatannya saat bertemu dengan pria itu. Tetapi ia lupa. Arsya segera mengalihkan topik. "Sudahlah, mungkin kau terlalu capek. Apalagi kau sedang hamil. Ibu hamil tidal boleh lelah. Lebih baik kau segera istirahat." Ucap Arsya.


Setelah meninggalkan deretan para pengawal. Langkah mereka tertuju pada pintu utama. Di sana Ricky datang menyambut di depan pintu. Wajahnya penuh senyuman ramah dan manis.


Setelah berada di kuil selama seminggu membuat sikap dan perilaku Ricky berubah. Ia selalu bersikap ramah dan selalu tersenyum. Anna merasa aneh kala melihat Ricky yang seperti itu.

__ADS_1


"Nyonya muda. Selamat datang kembali." Ujarnya dengan sapaan hangat.


Anna mengerutkan dahinya. "Ricky!" serunya. "Apa aku salah lihat? Kau terlihat lebih ramah dari sebelumnya." Ucap Anna.


Ricky juga terkejut. Tapi tetap menampakkan senyumannya. "Nyonya muda, anda tak salah lihat. sejak anda pergi saya telah berubah."


"Oh ya?" Anna juga membalas senyumannya. Lalu menoleh ke arah Arsya yang nampak tenang dan acuh.


Sepertinya ada yang tidak beres selama tidak ada Anna disana.


"Sudahlah ayo masuk. Ricky buatkan sup sarang burung walet dan antarkan ke kamar." Arsya mengajak Anna untuk segera masuk lalu memerintahkan Ricky untuk mebuatkan sup kepada Anna.


"Baik tuan." Sahut Ricky lalu memerintahkan pihak dapur untuk membuatnya.


Di dalam villa itu, letak barang barangnya tidak ada yang berubah. Semua cat tembok juga tetap sama. Anna menelisik seisi villa itu dengan seksama.


Hingga sampailah langkah mereka pada salah satu pintu kamar yang terlihat berbeda. Langkah mereka terhenti. Anna menatap pintu itu dan mengerutkan keningnya.


"Arsya, bukankah ini kamar utama?" tanya Anna.


"Tidakmau, kamar ini telah kau pakai dengan Linda." Tolak Anna.


"Aku telah menggantinya dengan produk baru. Semua bekas Linda telah aku buang. Jadi kau jangan khawatir."


"Bagaimana dengan dekorasinya. Aku muak jika masih mengingat akan hal itu." Anna tetap menolak.


Arsya tak menyahut dan langsung membuka pintu kayu jati itu dengan lebar. Anna tertegun karena dekorasi ini lebih terbilang estetik dari tentang apa yang ia bayangkan.


"Aku adalah arsitek. Kenapa kau meragukanku." Gumam Arsya.


Anna segera mask ke dalam kamar itu dan tersenyum. "Karena menurut kepribadianmu, kau tidak akan mngkin mengubah sesuatu yang tidak kau sukai. Dan sekarang aku percaya, jika memang menyukaiku."


"Itu baru benar." Arsya melangkah maju, merangkul bahu Anna dan mencium pipinya.


"Aku juga telah menyiapkan ruangan untuk anak kita jika lahir kelak." Arsya menuntun Anna menuju ke sebuah pintu yang berada di sebelahnya. Pintu itu menembus langsung pada ruangan di sebelahnya.

__ADS_1


Ruangan itu ditata rapi layaknya kamar anak kecil. "Menurutmu, apa jenis kelamin anak kita?" Tanya Arsya.


Anna mengerutkan dahinya lalu menatap wajah Arsya. "Sebaiknya kita jangan memikirkan hal ini dulu. Kita pastikan dulu pernikahan kita." Anna mengingatkan kepada Arsya yang terbawa suasana.


"Tidak apa apa. Masa depan anak kita juga harus kita pikirkan. Aku juga sudah menyiapkan sekolah yang terbaik di sini. Anakku harus tetap terjamin." Balas Arsya.


"Iyach, terserah kau saja." Anna kemudian pergi.


Tepat saat ini pintu kamar di ketuk dari luar. Arsya menoleh ke arah pintu.


"Masuk!" perintah Arsya dari dalam kamar.


Pengawal yang berjaga di luar segera membuka pintu, Ricky segera masuk sambil mendorong troley makanan dan masuk ke dalam.


Terlihat asap masih mengepul di atas mangku sup. Aromanya menyebar ke seluruh ruangan. Anna yang menghirup aroma masakan tak bisa menahan rasa laparnya. Ia segera menoleh dan melihat Ricky menata satu persatu semua makanan ke atas meja.


"Ricky, apa yang kau hidangkan?" Tanya Anna masih terus menghirup aroma wangi pada masakan itu.


"Sup sarang walet. Sangat bagus bagi kehamilan nyonya." Sahut Ricky.


"Em, pasti enak." Balas Anna.


Arsya membuat gestur tangan menandakan Ricky harus segera keluar. Anna tak bisa menahan rasa laparnya, jadi ia segera duduk di sofa dan mengambil sendok.


"Cuci tangan dulu, lalu kita makan." Arsya menahannya dan memerintahkan untuk pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan.


"Tanganku masih bersih. Lihatlah." Anna memperlihatkan kedua telapak tangannya.


"Upayakan untuk hidup sehat meski tanganm tidak kotor. Ayo cuci tangan." Ucap Arsya.


Anna mencemberutkan bibirnya. Namun ia tetap menuruti perintaj Arsya. Arsya juga ikut masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci tangannya. Setelah selesai mereka kembali duduk di sofa dan mengambil sendok.


"Boleh makan kan?" Tanya Anna sembari mengangkat mangkuk dihadapannya.


"Ya. Makanlah." Jawab Arsya.

__ADS_1


Anna dengan senang menuangkan sup sarang walet ke dalam mangkuknya. Sejak dia hamil nafsu makannya semakin bertambah. Ia juga sedikit gemuk karena terlalu banyak makan.


__ADS_2