Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Enam Puluh Enam


__ADS_3

"Sudah-- sudah. Sekarang pikirkan bagaimana caraku keluar dari Villa tanpa harus mengorbankan usaha papa." Ujar Anna sembari menyudahi perdebatan Leya dan Erka.


"Kau temui Arsya secara pribadi. Kau baru bisa keluar dari sana dengan aman." saran Erka dengan logis.


"Ide bagus. Akan nyaman jika terang terangan." Lanjut Leya.


Anna menganggukkan kepala dan meminum jus yang sudah ia pesankan tadi.


"Sudah jam tiga. Kita habiskan waktu kita buat belanja saja." Ujar Leya sembari memasukkan cake yang ia pesan.


"Dasar wanita. Sukanya cuman belanja." Celetuk Erka.


"Terserah kita lah, kamu kalau pulang ya sana." Usir Leya.


"Aih, kupingku terasa berisik. Kalian berdua selalu adu debat. Mending dikawinin aja deh."


"enggak!" ucap Leya dan Erka bersamaan.


***


Saat malam, Anna baru kembali ke Villa. Di tangan kanan dan kirinya begitu banyak belanjaan. Linda yang baru saja menuruni tangga segera menegur Anna yang baru kembali.


"Dari mana saja, Arsya mencarimu sejak tadi." Ujar Linda kemudian melirik tas yang ada di tangan Anna. "Kau menghabiskan uang Arsya ya. Kenapa kau berbelanja sebanyak ini. Kau sangat boros sekali." Ujar Linda mencibir.


Wanita ini, selalu saja mencampuri urusan Anna. Anna memutar bola matanya ke atas. Ia tak menjawab pertanyaan Linda. Dan kembali menuju kamarnya sendiri.


Sampai di anak tangga terakhir kebetulan berpapasan dengan Arsya. "Dari mana?" Tanya Arsya menghadang jalan Anna.


"Dari luar." sahut Anna cuek. Kemudian berlalu melewati Arsya.


Anna segera meletakkan barang barangnya di atas ranjang bersamaan Arsya juga masuk ke kamar dan menutup pintu.


"Kenapa kau masuk. Keluar! Aku butuh istirahat." Ujar Anna.


Arsya segera mencekal lengan Anna dan memutarnya hingga kedua manusia itu saling berhadapan.

__ADS_1


"Anna, kenapa kau berubah?" Tanya Arsya dengan menatap Anna tajam.


"Aku tak berubah, kaulah yang berubah. Bukankah kita sepakat untuk hidup sendiri tanpa harus bergantung sama lain. Ini menandakan kau mengingkari janjimu." ujar Anna seraya melirik Arsya.


Anna berbalik dan mengambil sebuah dokumen yang telah lama ia siapkan.


"Aku sudah menandatanganinya." Ujar Anna seraya memberikan dokumen itu kepada Arsya.


Dari sampul yang ia baca secara sekilas Arsya tau apa maksud dari Anna. Arsya tertawa mencibir. Dia tadinya sangat percaya diri bahwa Anna telah mencintainya tetapi ia salah.


"Aku masih bisa sabar ketika kau masih berhubungan dengan Linda di luaran sana. Bertemu secara diam diam. Aku mengerti. Tapi ini sungguh keterlaluan. Kau bahkan membawanya pulang." ujar Anna seketika menyadarkan Arsya.


"Dan bahkan berani mengusirku dari tempatku sendiri." lanjut Anna.


"Jika aku tidak mau menceraikanmu. Apa yang akan kamu lakukan? Sedangkan kartu As-mu berada di tanganku." Ujar Arsya dengan nada mengancam.


"Terserah kau. Apa yang ingin kau lakukan. Dirimu adalah milikmu. Aku tak perduli lagi. Mau bagaimana kau mengancam. Aku adalah milikku. Jika kau tak mau menceraikanku. Maka aku yang akan menceraikanmu. Malam ini juga Aku Anna Anggitasari Wirawan menceraikan Arsya Widodo Adiyaksa Ceo Adiyaksa Group." Ujar Anna tegas dan tenang.


"Talakmu tidak sah. Maka kau tidak diperbolehkan keluar dari rumah ini."


"Tidak bisa!"


Linda terdiam. Ternyata pria itu tetap mengakui pernikahannya dengan Anna meski di luar Arsya menganggap Lindalah sebagai pasangan serasi. Bahkan Linda mengira jika Arsya juga menyukainya. Jadi berani mengambil resiko sebesar ini. Berharap dengan begini ia bisa dijadikan sebagai nyonya muda Adiyaksa seperti harapannya sejak dulu.


Linda merasa, ia tetap kalah dengan keluarga Wirawan. Dulu ia pernah membunuh wanita yang berada di hidup Arsya dengan cara yang kejam. Setelah itu ia baru leluasa mendapatkan Arsya.


"Arsya! Kenapa kau begitu kejam padaku. Dulu kau yang menginginkan kita segera berpisah di awal pernikahan. Setelah menjalani beberapa kehidupan kau mengingkarinya. Bahkan kau telah mengubah surat perjanjian demi mengikatku. Sekarang aku tak bisa lagi hidup seperti ini. Aku akan tetap keluar dari sini." ujar Anna lirih.


"Kau tak bisa keluar tanpa seijinku." Ujar Arsya tanpa menggubris perkataan Anna.


"Kau." Anna tak bisa lagi mengungkapkan kata lagi. Karena pria ini seakan menutup akses pembicaraannya.


Linda segera menyingkir dan seolah olah baru saja keluar dari kamar. Arsya melirik ke arah kamarnya sendiri.


"Linda! Mau kemana?" Tanya Arsya dan segera mendekatinya. Ia perhatian kepada Linda semata ada janin yang sedang ia kandung.

__ADS_1


"Ayo kita makan malam, sepertinya aku sangat lapar." Linda segera bersikap lembut tetapi di sisinya tangannya mengepal erat. Kenapa Arsya masih menahan perempuan itu. Biarkan saja perempuan itu pergi. Dengan begini ia bisa menguasai Arsya sepenuhnya.


"Ayo!" Asrya menggandeng bahu Linda menuruni tangga. Dan itu tak jauh dari pandangan Anna. Ia sudah mempunyai cukup banyak tabungan jika nanti keluar dari rumah ini. Bagaimanapun ia harus segera keluar dari Villa menjijikkan ini.


Anna melewatkan makan malamnya karena sangat malas harus menyaksikan kemesraan mereka berdua. Lebih baik ia berada di kamar menghabiskan malamnya untuk melihat medsos IG-nya.


Anna menggulir layar ponselnya ke bawah. Ia tanpa sengaja melihat Elan sedang berfoto dengan seorang wanita bule. Tanpa sadar Anna tersenyum ringan. Seolah mengingatkan dirinya saat pertama bertemu dengan Elan.


Sepertinya ini sudah sebulan ia tak bertemu dengan Elan, ternyata dia berada di luar negeri. Pantas saja.


Tiba tiba sebuah pesan masuk di IG-nya. "Hallo gadis cantik." sapa Elan dengan emot tersenyum.


"Hai." jawab Anna.


"Bagus sekali. Aku senang jika kau tampak bersemangat." ujar Elan.


"Ya, aku terus bersemangat."


"Hahahaha. Aku berada di prancis sekarang. Emm, mungkin besok akan segera kembali ke negaramu." ujar Elan yang memberitaukan keberadaannya.


"Ya,"


"Bagaimana jika kita bertemu setelah aku sampai di sana."


"Baiklah."


"Kita bertemu seperti biasa, di toko buku langgananmu sekaligus aku membawakan oleh oleh dari prancis."


"Oke."


Elan menyunggingkan senyuman karena terlalu senang. Sementara Anna menutup ponselnya dan menyimpannya di atas nakas.


Arsya setelah menghabiskan makam malamnya ia bergegas ke ruang kerja. Sementara Linda tetap masuk ke kamar nya untuk beristirahat.


Jo segera menghubungi Arsya karena pria yang ia tahan beberapa minggu itu tetap bungkam. Akhirnya Arsya memerintahkan untuk menyelidiki siapa sekawanan dari kelompok pria itu.

__ADS_1


Arsya termenung di meja kerjanya. Membuka laci dan mengambil bingkai foto yang usang. Itu adalah fotonya bersama Anzel saat dulu masih berkuliah bersama. Bahkan ia tak bisa membalaskan dendam Anzel karena kelemahannya.


"Anzel, meski aku tak bisa melindungimu. Tapi aku berjanji jika aku akan melindungi keluargamu satu satunya." Gumam Arsya pelan. Kemudian ia meletakkan kembali bingkai foto itu ke tempat semula.


__ADS_2