Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Delapan Puluh Dua


__ADS_3

Sesuai dengan janji Arsya bahwa akan membebaskannya setelah dua puluh empat jam. Bramantyo dan Noni segera menjemput putrinya di kantor polisi.


Linda merasa kesal karena semalaman ia harus ditahan di sana. kulitnya yang putih mulus harus terkena gigitan nyamuk. belum lagi para tahanan yang berada di dalam sel bersama dengannya terlihat sangat menakutkan.


"Sudahlah Linda. Papa kali ini memaafkanmu. Dan sekarang ayo kita kembali ke amerika." Ujar Bramantyo.


"Pa, bagaimana dengan pernikahanku dengan Arsya. Aku sudah menyiapkan segalanya."


"Diam! Kau tidak bisa menikah dengan orang yang sudah beristri. Apa kau sudah gila." Bramantyo membentak Linda yang keras kepala.


"Pa. Mereka sudah bercerai." ujar Linda tak kalah meninggikan suaranya.


Bramantyo melakukan gerakan tangan dan menampar Linda. Linda berlinang air mata. Ini pertama kalinya dia dipukul oleh Bramantyo.


"Pa." Noni yang melihat kejadian itu menjerit.


"Linda. Papa tidak pernah mengajarkan kamu berbuat seperti ini. Jika saja Arsya tak bermurah hati, Sudah lama pria itu menjebloskan kamu ke penjara. Beruntung masih ada tuan besar yang selalu menjaga keharmonisan keluarga kita dengan tidak saling mengganggu di masa depan. Tapi apa yang kau lakukan? Kau membuat papa tak punya muka dihadapan mereka." ujar Bramantyo.


"Pa, Aku suka sama Arsya. Tak perlu papa melakukan banyak hal." Linda juga meradang dan mengeluarkan kesalnya.


"Kamu bukan menyukainya. Melainkan kau terlalu terobsesi dengan Arsya. Mulai saat ini berhentilah bersikap seperti itu. Malam ini kita kembali dan papa sudah menyiapkan sebuah pernikahan yang terbaik untukmu. Jadi jangan berbuat ulah." tutup Bramantyo.


"Pa!" pekik Linda. Tapi Bramantyo tak menghirukan pekikan Linda.


Ia membawa Linda pergi ke hotel dan mengurungnya di dalam kamar. Linda merasa gelisah karena usahanya hanya sia sia. Ia mengeluarkan telepon dan bersiap menelepon Ken.


Dari sebrang. Ken segera mengangkat telepon.


"Ken. Aku malam ini akan kembali ke amerika." ujar Linda.


"Apa! Secepat itu. Lalu kita?" tanya Ken.


"Diamlah. Kau sudah ku anggap sebagai teman. Jangan berharap lebih." sela Linda.


"Linda sayang. Kenapa kau berkata demikian setelah kita selalu bermalam di hotel. Apa kau lupa?" ujar Ken di sertai kekehan kecil.


"Ken, jangan katakan lagi. Aku melakukan hal itu karena aku ingin menarik Arsya agar jatuh di pelukanku."

__ADS_1


"Tapi nyatanya tidak bisa kan?" sela Ken.


"Ken,!" lirih Linda agar pria itu terdiam.


"Baiklah, aku mengerti. Tetapi, Linda. Aku adalah pria yang telah menghamili kamu. Aku sangat mencintaimu."


"Tapi aku tidak." sela Linda.


Ken kembali terkekeh pelan.


"Sekarang mungkin iya. Tapi lain kali. Kau akan jatuh dengan pesonaku."


"Terserah." tutup Linda kemudian dengan kesal membanting ponsel di kasur sebelahnya. Ia belum tau apa yang terjadi dengan bayinya. Kemudian ia menatap perutnya yang datar.


Di luar kamar. Bramantyo marah karena mendapatkan laporan analisis kesehatan Linda. "Bagaimana mungkin. Putriku tidak bisa hamil lagi." Bramantyo meremas ujung kertas.


"Pa, ada apa?" Tanya Noni berseru saat kembali dari dalam kamar mandi.


"Ma, lihat ini." Bramantyo menyerahkan hasil kesehatan Linda pasca kecelakaan.


"Apa! Ini. Lalu bagaimana dengan anak kita. Siapa yang mau menerima anak kita yang tidak bisa memberikan penerus buat suaminya kelak."


"Jangan gegabah Ma. Justru ini adalah laporan yang Arsya beritaukan kepada kita. Dulu aku berjasa kepadanya. Tetapi sekarang sudah tidak lagi. Dia juga sudah menyelamatkan nyawa Linda dengan transfusi darah. Ini juga ulah Linda sendiri." Ujar Bramantyo merebut ponsel Noni. Lantas ia menundukkan kepalanya karena semua itu ulah Linda sendiri.


"Pa. Jika begini. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Noni gusar.


"Entahlah." Bramantyo merasa kepalanya pusing. "Lebih baik kita segera tidur. Dan besok pagi kita berangkat. Kita pikirkan nanti saat tiba di Amerika." ujar Bramantyo bersikap tenang.


Noni merasa hatinya kesal karena tak bisa melakukan apa apa. Sekarang ia hanya bisa pasrah terhadap perkataan suaminya. Setelah itu Noni membaringkan tubuhnya dan tidur.


Di Villa kediaman Arsya.


Setelah insiden kemarin. Li Xuyi telah tertangkap oleh polisi. Dia dikenai hukuman lima belas tahun penjara karena perencanaan pembunuhan.


Awalnya ia menjadi saksi atas Linda sebagai dalang dibalik insiden lima tahun lalu. Tetapi Linda mendapat keringanan sehingga ia malah dibebaskan. Sementara Li Xuyi harus mendekam di penjara bertahun tahun.


Para pelayan yang pernah di bawa Linda kini telah di ganti dengan pelayan lama. Hanya saja, pelayan lama tidak sepenuhnya berada di Villa. Karena sebagian sudah ada yang pulang kampung dan memilih hidup bersama keluarganya.

__ADS_1


Hanya ada sepuluh pelayan yang berkerja bersama Arsya. Sementara pengawal juga sudah kembali ke tempat semula. Villa nampak ramai sepetri sedia kala.


Nampak pak Jaki termenung di sudut pos penjaga. Ia menatap lurus ke arah pepohonan yang rindang di sana.


"Pak Jaki. Kau terlihat murung. Apa yang kau pikirkan?" Tanya Ari.


"Sudah hampir dua tahun nona muda tidak berada disini. Meskipun dia mengesalkan, tapi aku sudah terlanjur sayang. Dia seperti putriku." Ujar Pak Jaki.


Ari menepuk bahu Pak Jaki pelan. "Suatu saat pasti kembali." ujar Ari.


"Hah, apa benar?" tanya Pak Jaki.


"Entahlah, itu menurut feelingku saja. Pak Jaki ayo kita kesana." Ajak Ari.


"Tidak. Kau pergi saja sendiri." tolak pak Jaki.


Herman saat ini sudah berada di kediaman villa miliknya sendiri. Saat ini Arsya juga berada di sana untuk meyakinkan kakeknya karena ia tak pernah sekalipun membuat Anna menghilang.


Dia sudah menjaganya seperti yang di amanatkan kakeknya. Tapi, karena gadis itu yang terlalu keras kepala dan memilih pergi.


"Kek, percayalah padaku. Aku benar benar tak pernah menceraikannya. Dia pergi karena...."


"Linda! karena kau memilih Linda. Makanya dia pergi." sela Herman.


"Arsya. Kakek sudah lama hidup dan mempunyai banyak pengalaman. Perempuan mana yang betah jika dirinya di duakan seperti ini. Jika kakek berada di posisi Anna. Kakek juga akan melakukan hal yang sama." Ujar Herman.


"Tapi, itu di karenakan untuk mengungkap insiden lima tahun lalu. Jadi baru berani bersikap seperti ini."


"Dengan cara menyakiti hati Anna." Sela Herman. Arsya kalah telak karena selalu disudutkan dengan perkataan Herman.


"Sudahlah Arsya! Awalnya kakek merasa bangga karena sudah mengungkap insiden lima tahun yang lalu. Penjahat itu sudah tertangkap. Tetapi Linda tetap saja bebas dari hukuman. Kakek sudah mengatakan. Kerja kerasmu tidak akan membawa hasil kan soal hal ini?" Herman menatap Arsya yang termenung dengan ucapan Herman.


"Pada akhirnya kau mengalah dengan Bramantyo. Dan linda bebas dari hukuman. Tapi semua ini ada hikmahnya. Linda setelah ini tak akan sebebas dulu. Bramantyo pasti akan mendidiknya dengan keras. Keluarga Adiyaksa akan tetap berdampingan dengan keluarga Bramantyo. Dan kehidupan kita di masa depan akan seperti ini." Ujar Herman menasehati cucunya itu.


"Lebih baik kau pikirkan masa depanmu bersama Anna." tutup Herman.


"Soal itu..."

__ADS_1


"Kakek yakin jika kau mempunyai rasa terhadap Anna. Kelak dia akan kembali ke pelukanmu. Dan itu tak lepas dari usahamu yang bisa menarik perhatiannya." Ucapan Herman.


Arsya termenung dengan ucapan Herman. Herman segera pergi menuju kamarnya dan dibantu Ferdi memapahnya.


__ADS_2