Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Enam


__ADS_3

Mobil phantom berwarna hitam melesat ke Villa Kediaman Wirawan. Tak berapa lama mobil itu memasuki pekarangan Villa.


"Nona Anna!" Bibi Elsa terkejut dengan kedatangan Anna.


"Bik, dimana Papa dan Mama?" Tanya Anna seraya memajukan kursi rodanya.


"Ke kota Bena Non. Apa ada perlu sama tuan dan Nyonya?"


"Tidak Bik, Saya hanya ingin mengambil beberapa alat yang saya perlukan. Bibi bisa kembali bekerja."


"Baiklah Nona, saya permisi." Anna mengangguk setelahnya Bik Elsa berlalu menuju ke area belakang.


Anna memasuki kamarnya yang berada di bawah. Kamar itu tertata begitu rapi dan bersih. Ia menelisik kamar itu dengan seksama. Kamar bercat putih itu terlihat estetik. Tidak ada banyak barang yang disimpan di sana. Anna mendesah pelan. Mungkin akan merindukan hari hari seperti biasanya dirumah ini.


Kemudian ia menuju meja belajar, mengambil sebuah novel dan buku catatan. Selebihnya telah dipindahkan para pengawal Arsya sebelumnya. Jadi ruangan itu hanya tersisa beberapa helai pakaian.


Sebenarnya ia ingin naik ke lantai atas, karena di sana lebih banyak kenangan, tetapi dirinya tidak bisa bergerak banyak hanya menatap tangga yang langsung berhadapan dengan pintu kamarnya.


Setelahnya ia berbalik dan keluar menuju pintu utama. Di sana Danni masih setia menunggu di depan pintu. Melihat sang majikan mendorong kursi rodanya Danni segera menyambut. mendorongnya hingga ke pintu mobil dan membantunya masuk.


Mobil perlahan meninggalkan pekarangan. Ada rasa sesak yang mendominasi bersamaan laju mobil. Kemudian ia menoleh ke garasi. mobil lamborgini berwarna kuning itu terparkir rapi di sana. Lalu melihat kakinya yang tidak bisa bergerak, perlahan air mata yang ia bendung menetes dengan sendirinya.


Danni menyaksikan hal ini, hatinya merasa pilu. Ia hanya menatap sekilas melalui pantulan kaca spion di depannya dan tetap fokus mengemudi mobil hingga ke salah satu Villa di jalan Pahlawan.


Perlahan mobil phantom memasuki gang dan Danni mengemudikan dengan pelan. kemudian berbelok ke kanan lalu masuk ke area Villa Arsya. Gerbang bercat hitam itu perlahan terbuka saat para penjaga menyadari plat mobil yang dikemudikan Danni.


Mereka membungkuk hormat. Lalu menutup gerbang setelah mobil sudah masuk ke dalam. Pekarangan villa itu terlihat sangat luas bahkan dua kali lipatnya halaman villa yang ia tinggali. Di sepanjang perjalanan pun di jaga ketat oleh para penjaga. Maka tak heran jika keluarga mereka selalu membawa pengawal ke manapun mereka pergi.


Mobil phantom berhenti tepat di depan pintu utama. Danni memerintahkan untuk membawakan koper yang di bawa Anna. sementara dirinya membantu mendorong kursi roda nona muda-nya masuk ke dalam villa.


"Selamat datang Nona muda!" Ada dua puluh karyawan Art yang membungkuk hormat saat masuk melalui pintu utama.


Anna tercengang melihat hal ini. Meskipun dia juga tinggal di villa mewah miliknya tetapi hanya ada enam orang Art yang membantu merawat rumahnya. Tetapi disini begitu banyak orang merawat rumah ini.

__ADS_1


"Ya." Anna mengangguk sopan. kemudian salah satu di antaranya memiliki seragam yang berbeda lalu maju ke depan.


"Nona, dia adalah pelayan di rumah ini. Jika ada perlu panggillah dia." Danni memperkenalkan dan memberitau akan tugas Kepala Art itu.


"Oke."


Kepala pelayan itu menunduk hormat, "Nama saya Ricky. saya adalah kepala pelayan yang mengatur rumah ini. Jika anda butuh sesuatu saya akan siap membantu."


"Terima kasih." Anna tersenyum sopan dan mengangguk.


Danni mengkode dengan dagunya, Kepala pelayan yang bernama Ricky itu mundur satu langkah. Danni mendorong kursi roda Anna menuju ke kamarnya.


Di sepanjang menuju kamarnya, Anna terkagum dengan kemewahan villa itu, ada beberapa patung yang terpajang di sana. Didindingnya pun banyak tergantung lukisan terkenal yang hanya ada dua di dunia. Ia tau karena ia pernah melihatnya saat mengikuti pameran di Negara Gahar.


"Nona, ini kamar anda." Suara danni menyadarkan lamunannya. Pintu itu terbuka lebar jadi ia bisa melihat dalamnya ruangan kamar barunya. Danni pun mendorongnya masuk. "Kamar pak Arsya berada di atas. Jika anda perlu sesuatu anda bisa menekan tombol di samping pintu dan itu akan terhubung dengan pelayanan." Lanjut Danni.


Anna melihat tombol samping pintu lalu mengangguk tanda mengerti. "Nona! Apa masih ada yang lain?" Tanya Danni.


"Baiklah, saya akan permisi dahulu."


"Ya." Danni mengangguk kemudian beranjak keluar dan tak lupa menutup pintu.


Diruangan kamar itu di dominasi dengan cat berwarna biru muda, sesuai dengan karakternya yang periang dan ceria. Tetapi semenjak ia mengalami kecelakaan itu dirinya berubah menjadi pendiam. Ia menekan tombol yang berada di sandaran tangannya dan kursi rodanya bergerak menuju jendela. ia membuka hordeng dan ruangan memjadi terang.


Anna dapat melihat keluar. Kamar yang ia tinggali itu menghadap ke sebuah taman. dan di sisi kanannya terdapat kolam renang.


tok tok tok


Terdengar ada yang mengetuk pintu. "Masuklah!" perintah Anna dengan nada sedikit berteriak agar suaranya bisa terdengar hingga keluar.


Dua orang pelayan masuk. "Nona, anda belum sarapan. Kami sudah memasakkan bubur untuk anda." Salah satu pelayan itu maju kedepan.


"Ya, taruh saja di meja, nanti saya akan makan."

__ADS_1


"Baik."


Kedua pelayan itu menaruh mangkuk bubur di atas meja. lalu membungkuk hormat dan meninggalkan ruang kamar Anna dan menutup pintu kembali.


Hari hari Anna menjadi murung tidak seceria sebelumnya. Ia pun memutar kursi rodanya menuju ranjang dan tertidur sepanjang siang.


Di jerman Arsya merasa gelisah saat sang kakek memarahinya habis habisan. Dia tidak punya pilihan lain selain meneleponnya. tapi ia lupa untuk mencatat nomer telepon Anna jadi ia menelepon telpon rumah.


"Ricky, bagaimana keadaan nona?" Arsya menanyakan kabar sang istri melalui Ricky-kepala pelayan.


"Nona muda hari ini tidak mau makan, bahkan makan siang yang kami siapkan tidak ia sentuh. Ia tertidur sepanjang siang tuan." lapor Ricky.


"Apa dia ingin mati, ****!" terdengar gumaman pelan dari sebrang di sertai helaan nafas panjang.


"Tuan, apa yang anda katakan?" Ricky yang tak begitu jelas mendengarnya pun bertanya.


"Tidak ada, lanjutkan pekerjaanmu, dan laporkan setiap gerakan nona pada saya."


"Baik tuan."


Telepon ditutup secara sepihak. Arsya menjadi tidak tenang. ditambah lagi ia pergi ke jerman kali ini membawa Merin sang sekertaris. Banyak di antara pegawai menggosipkan bahwa si Merin ini adalah pasangan dari sang CEO. Jika hal ini sampai terdengar sampai ke telinga Herman maka riwayat Arsya tamatlah sudah.


Pada malam hari, Anna terbangun. Entah sudah berapa lama ia tertidur. saat terbangun hari sudah gelap. Ia melihat keluar jendela lampu taman sudah menyala. Ia melihat sekeliling yang terasa asing lalu ia tersadar bahwa ia kini sudah menjadi bagian dari Adiyaksa.


Anna merangkak dan duduk di kursi roda lalu menyalakan lampu yang lebih terang. setelahnya ia pergi keluar kamar.


"Nona muda." ricky pergi menyambut saat melihat pergerakan dari pintu kamar. "Makan malam anda sudah siap. Apakah anda akan makan sekarang?" Tanya Ricky.


"Ya." Sahut Anna. Ricky mengkode para pelayan untuk menghangatkan makanan lalu menyiapkan di meja makan.


"Apa ada kabar dari tuan Arsya?" Tanya Anna sembari mengarahkan kursi rodanya menuju ruang makan.


"Ya Nona, beliau menanyakan kabar anda hari ini. beliau berpesan agar anda menjaga kesehatan selama beliau pergi." Ucap Ricky. Dan memang itu kata terakhir sebelum menutup telepon. Anna hanya mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2