Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 9


__ADS_3

Sesampainya Arsya di negaranya. Ia mengambil botol parfum pemberian Direktur Roni. Tanpa sadar ia menyunggingkan senyuman. Ternyata selama ini ia sudah dekat dengan keberadaan Anna. Tapi ia tak menyadarinya.


Legenda selanjutnya adalah bertemu dengan tuan Wiryo dan nyonya Dewi. Ia mengatakan akan segera melamar kembali. Jadi ia membutuhkan dukungan mereka berdua.


Selain itu, lamaran ini atas dasar dari dirinya sendiri. Tak ada pihak manapun yang memaksanya. Kedua orang tua Anna sangat menyetujui rencana Arsya. Ia juga tak lupa mengabarkan hal ini kepada Herman.


"Dasar bocah tengik, kenapa kau memberitauku hal ini yang terakhir. Malam ini Kakek akan segera kembali." Ujar Herman disertai dengan senyuman.


"Hehe, ini masih belum pasti kek. Saat ini Anna masih berada di Amsterdam. Kali ini aku akan berusaha membuatnya jatuh cinta lagi kepadaku. Jadi kakek tak perlu terburu buru kembali. Nikmati waktu kakek di prancis." Ujar Arsya ringan.


"Baiklah, kakek akan kembali satu hari lagi. Kakek juga akan memberitau Hanis soal ini."


"Oke, Aku tutup dulu teleponnya kek. Kakek istirahatlah. Sebentar lagi setelah urusan disini selesai aku akan terbang ke amsterdam lagi."


"Hem, jika kau terus berusaha pasti akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Jangan terlalu lemah."


"Baik." sambungan telepon ditutup.


Ia kembali lanjut bekerja, sebelum pergi ke amsterdam ia harus menyerahkan pekerjaannya kepada direktur Rian. Jadi ia masih mengecek beberapa bagian terpenting.


Setelah semua selesai, ia bersiap pergi ke amsterdam didampingi Danni. Dan membawa dua pengawal yang handal.


Dua belas jam ia habiskan berada di atas awan. Saat ini bibirnya melengkung sempurna saat tiba di bandara internasional schiphol. Danni sudah mengatur kendaraan selama berada disini. Juga mengatur penginapan tiga kamar.


Dan yang terpenting penginapan ini tidak jauh dari perkebunan. Benar benar sebuah perencanaan yang sempurna.


Pada malam harinya. Sebuah pesta peresmian di gelar. Rumah penelitian itu resmi di buka oleh Mr Xander. Juga mengundang banyak tokoh dan tamu penting termasuk Arsya. Selain itu, ia juga mengadakan pesta dansa dan barberqiu.


Arsya sudah selesai bersiap. Malam ini ia mengenakan jas berwarna putih di padu padankan dengan celana yang berwarna senada. Ia tampil malam ini dengan tampak berkilau dan lebih menonjol.


Sementara Anna sendiri, ia mau pergi ke pesta atas ajakan direktur Roni. Direktur Roni ingin membawanya ke pesta itu sebagai pasangannya.


Sesampainya di pesta. Direktur Roni membawa Anna menemui rekan bisnisnya. Ia juga memperkenalkannya sebagai pasangannya. Dan semua itu tak lepas dari pandangan Arsya. Arsya menggoyangkan gelas yang berisi anggur. Danni yang berada disisinya dapat melihat direktur Roni yang sibuk pergi kesana kemari.


Sesaat kemudian, Danni tersadar jika wanita yang di bawa oleh direktur Roni adalah nona mudanya. Ia melirik ke arah presdir Arsya. Pandangannya tertuju pada Anna.


"Cih. Rendahan." Arsya bergumam pelan mencibir. Kemudian ia menenggak minumannya.


Ia kemudian melirik orang orang di sekeliling. Mereka sedang sibuk dengan dunianya. Tak lama setelahnya Mr, Xander datang.


"Presdir Arsya. Anda sungguh datang." Mr Xander berkata dengan senyuman.

__ADS_1


Arsya menyambut kedatangan tuan Xander. "Tentu saja, Mr. Ini adalah hari peresmian. Bagaimanapun juga aku ikut andil dalam peresmian ini."


"Haha. Anda benar benar bisa bercanda?" Mr Xander kemudian mengangkat gelasnya. "Cheers."


Arsya juga mengangkat gelasnya lalu menabrakkan gelasnya ke gelas yang diangkar Mr Xander. Hingga berbunyi ting. Kemudian mereka menenggak minuman masing masing.


"Anda sungguh membuat peresmian yang meriah sekali." Arsya memuji pesta yang diadakan Mr Xander.


"Haha. Karena ini adalah penelitian pertama dari putraku. Bagaimanapun aku harus memeriahkannya kan. Lagi pula penelitian ini adalah yang pertama dimiliki putraku. Aku sangat iri pada kebun mawar di samping. Kenapa aku juga tidak menggunakan kesempatan ini." Ujar Mr, Xander.


Arsya melirik kebun mawar di sampingnya. Kemudian kembali menyesap anggurnya.


"Anda memang berpikiran luas." gumam Arsya.


"Baiklah, anda tetaplah disini. Saya akan menemui rekan yang lain. Nikmati pesta ini." Mr Xander segera menyapa tamu tamu yang lain.


"Cih tua bangka. Katakan saja kalau nilai usahanya takut tersaingi." ujar Danni mencibir sambil menatap si tua Mr Xander.


"Begitulah orang yang selalu tak puas, menginginkan usaha yang dimiliki orang." Gumam Arsya.


Danni segera menoleh ke arah presdir dan duduk di sampingnya. "Presdir, bukankah ini merupakan perampasan nilai pasar nona muda."


Danni mengingat semua kejadian tempo dulu. Memang Anna bukanlah orang yang bisa ditindas. "Anda benar." Danni menganggukkan kepala.


Terdengar iringan musik mengalun indah, tak lama setelahnya lima orang masuk mengenakan pakaian penari. Semua orang langsung memberi tempat dan berdiri mengelilingi. Penari mulai bergerak sesuai dengan alunan musik, tubuhnya yang lentik bergoyang menggerakkan pakaiannya.


Semua orang menyaksikan tarian itu. Lalu ikut bergoyang sesuai alunan musik. Di tengah keramaian itu. Anna dan direktur Roni berdiri di samping, sambil menyesap wine juga ikut melihat penari itu menghibur seluruh tamu.


"Apa kau menikmati pesta malam ini?" tanya direktur Roni yang berdiri di samping Anna.


"Cukup memuaskan." sahut Anna.


Setelah penari itu menyelesaikan lagunya. Musik berganti dengan alunan pelan. Mr, Xander menarik istrinya masuk ke tengah tengah. Kemudian saling menggenggam tangan dan mulai berdansa.


Direktur Roni melihat ke tengah tengah ada orang sedang asik berdansa. Kemudian melirik Anna yang masih tetap berada di sana.


"Sepertinya sedang dansa, apakah kau mau berdansa denganku." ujar direktur Roni sambil menengadahkan tangan kanannya.


"Aku tidak bisa dansa." Anna menolak dengan halus.


"Ikuti saja langkahku."

__ADS_1


Satu lagu dansa sudah selesai di putar. Mr Xander adalah pembuka pesta dansa ini. Setelah menyelesaikan tariannya Para tamu yang ingin dansa langsung membawa pasangan mereka ke tengah tengah dan berdansa.


Anna melirik ke arah tengah tengah pesta. Mereka tampak menikmati pesta dansa itu dengan senang.


"Baiklah, jika aku tak sengaja menginjak kakimu, kau jangan marah." Ujar Anna sembari meletakkan gelasnya.


"Mana berani marah. Asalakan kau mengikuti apa yang aku katakan, pasti tidak akan salah." Sahut Roni.


Anna meletakka tangan kanannya di atas telapak tangan Roni. Mereka langsung berputar dan masuk ke arena dansa.


Arsya melirik ke arah pesta dansa sekilas, melihat Anna yang berdansa di tengah arena. Arsya segera meletakkan gelas anggurnya.


Seorang gadis berwajah oriental maju ke depan, ia duduk di samping Arsya lalu mengambil segelas anggur dan menyesapnya.


"Pesta dansa ini sangat membosankan." Gumam wanita itu.


Arsya melirik sekilas gadis di sampingnya. Jika dilihat dari penampilannya, ia adalah gadis yang memiliki status tinggi.


"Anda sendirian. Maukah kamu berdansa denganku." Arsya bergumam.


"Ach." gadis itu menoleh. Ia melihat di sekitarnya tidak ada orang lain selain dirinya.


"Kau berbicara padaku?" tanya gadis itu.


Arsya menoleh dan memandang gadis di sampingnya. "Apakah ada orang lain selain kau dan aku?"


Gadis itu kembali menatap ke depan dan menyesap anggur. "Pesta dansa ini sangat membosankan. Aku tak ingin berdansa."


Arsya menaikkan sudut bibirnya. "Karena kau tak memiliki pasangan?" tebak Arsya.


"Haha, wanita sepertiku, bagaimana bisa mempunyai pasangan. Mereka hanya melihat dari satu sisi." Gadis itu menertawakan dirinya sendiri.


"Semalam saja, kita anggap sebagai pasangan."


Gadis itu menoleh dan menyipitkan mata. "Kau pria tampan. Tidak mungkin kau tidak memiliki pasangan."


"Cih..." Arsya beranjak berdiri. "Ayo kita dansa." Arsya menengadahkan tangan kirinya.


Gadis itu terdiam cukup lama. Menimang ajakan Arsya untuk berdansa. Terlebih, hal seperti ini sangat membosankan untuk dirinya. Tetapi, jika dilihat. Wajah pria ini cukup tampan. Sangat cocok untuk dijadikan sebagai pasangan. Pada akhirnya ia mengangguk dan mengambil jemari Arsya.


Tangan Arsya menarik tangan gadis itu dan masuk ke dalam arena dansa.

__ADS_1


__ADS_2