Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Tiga Puluh Dua


__ADS_3

Di dalam ruangan ball room hotel bintang lima, Seorang gadis tengah menantikan kedatangan Anna. Ia berdiri dengan membayangkan jika Anna akan mengenakan kostum pasti akan sangat menarik. Ia sudah tak sabar menantikan hal ini.


"Nona Indri, para tamu sudah mulai berdatangan." Salah seorang pengawalnya segera melapor.


Bibirnya menyunggingkan senyuman lebar, ia segera merapikan gaun dan riasannya.


"Oke!" Ia segera keluar dari ruang istirahat. Ketika memasuki ruang ball room sebuah lampu besar menyorot padanya. Bukan, lampu besar itu menyorot di dua arah. Seketika wajahnya muram karena ada orang lain lagi. Siapa dia?


Ketika tatapannya menatap lurus, ia bisa melihat dengan jelas. Itu adalah Anna Anggitasari Wirawan. Wajahnya memerah karena marah. Tetapi ini adalah acaranya. Ia tidak boleh merusak acaranya sendiri.


Semua tatapan para tamu sedang mengarah kearahnya. Meskipun ia sedang muram, ia tetap tersenyum dan berjalan anggun.


Di samping itu. Anna merasa terkejut ketika sebuah lampu menyorot ke arahnya. Pipinya berubah semerah tomat. semua tatapan yang berada disekitar menatapnya. Ia tersenyum canggung.


"Bukankah dia pacar presdir Arsya."


"Huh." dari sebagian orang tercengang mendengarnya.


"Ya diluar aku melihatnya keluar dari mobil yang sama dengan presdir Arsya."


"Ya, Aku juga melihatnya." Tamu yang lain ikut menimpali.


Semua mata langsung mengarah kepadanya. Berbeda dengan Indri yang hanya ditatap sekilas. Ia merasa sangat kesal. Ia merasa dendamnya terasa dalam. Ia mengepalkan tangan sekuatnya di samping tubuhnya.


Mendengar Anna yang dipuji seperti ini, hati Indri merasa terbakar. Ia menajamkan telinganya tentang apa yang sedang mereka bicarakan.


"Tetapi presdir kenapa saat masuk tidak bersama?" Sebagian orang masih penasaran.


"Uh, mungkin dia bukan pacar, mungkin dia selingkuhan." Mendengar kata ini Indri tersenyum senang.


Presdir Arsya tidak mungkin memacari Anna yang hanya pengusaha menengah ke bawah ini, karena disampingnya ada Linda yang tentu saja lebih kaya dan lebih cantik darinya.


"Masa iya?" Tamu yang lain tidak percaya.


"Iya, kalau dia memang pacar mengapa dia masuk seorang diri. lalu di mana presdir Arsya pergi."


Dari penglihatan mereka ada benarnya juga. Jika bukan selingkuhan mana mungkin dia ditinggalkan sendiri. Para tamu itu menganggukan kepala.


Anna yang mendengar bisik bisik para tamu. Tidak mengatakan apa apa selain geram terhadap orang yang telah mengomentarinya.


"Aku ini bukan pacar atau selingkuhan melainkan aku adalah istrinya." Batin Anna. Wajahnya memerah karena kesal. Ia terus berjalan masuk dan mencari seorang sahabatnya. Ia berdiri ditengah tengah aula. Lampu itu sudah padam dan tergantikan dengan lampu ruangan yang cerah.


Anna memperhatikan sekitar ruangan yang tadi menatapnya kini seolah sudah tidak terjadi apa apa. Orang orang itu menggunjingnya dari lirikan mereka. Tetapi ia tak perduli. Sekilas ada siluet pria tinggi masuk ke dalam melalui pintu samping.


Ia tertegun sejenak. Kedatangannya tidak di ketahui oleh orang. Diam diam ia tersenyum di dalam hati. Untunglah! Pikirnya.


"Anna." Terdengar suara itu dari samping. Anna segera menolehkan kepala dan melihat seorang perempuan membawa dua minuman ke arahnya.


"Elsa!" Tebak Anna.


Gadis itu tersenyum. "Kamu tidak lupa?" Ujar Gadis itu yang bernama Elsa.


"Mana mungkin aku melupakan teman semasa SMP dulu." Anna menanggapinya dan tersenyum. Kedua gadis itu saling berpelukan.


"Minumlah." Elsa menyodorkan satu gelasnya kepada Anna. Anna menerima gelas yang berwarna orange itu ditangannya lalu sama sama meneguknya.


"Jus jeruk!" Seru Anna.


"Ya, itu adalah minuman kesukaanmu. Aku melihatmu saat masuk jadi berinisiatif memberimu minuman ini."


"Oh terima kasih." Anna menarik tangannya dan menepuknya pelan.

__ADS_1


Dari sebrang, diam diam Indri melihat kedua gadis itu sedang bercanda ria. Ia menyunggingkan senyuman tatkala minuman itu adalah pemberiannya yang sudah dicampur obat.


Karena rencananya gagal maka ia menyusun rencana kedua. Awalnya ia ingin mempermalukannya dengan mengenakan kostum. Tetapi ia malah datang dengan mengenakan gaun yang tampak indah dan mewah


Ia bahkan terlihat lebih cantik dan menjadi sorotan kedua setelah dirinya.


"Indri ayo kita berfoto." Pikirannya buyar karena salah satu temannya menarik tangannya.


Indri tersenyum dan mengikuti langkah mereka dan melakukan foto selfi. Sementara Anna masih bercerita banyak tentang masa nya dulu saat berteman dengan Elsa.


"Duh sudah lama kok Denis gak muncul sih." Elsa merasa gelisah karena orang yang ia tunggu masih belum datang.


"Kamu masih berhubungan dengan Denis?" Tanya Anna tak percaya.


Elsa tersenyum malu malu, wajahnya tampak memerah. "Hehe. karena Denis cinta pertama ku. Bagaimanapun dia akan tetap setia." Balas Elsa.


Anna tersenyum dan mengangguk ringan. "Sungguh cinta sejati." Anna tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Dua manusia ini saling setia meski hubungan mereka sudah terjalin lama.


"Ya seperti itulah." Elsa menunduk dan menyembunyikan pipinya yang memerah.


Anna tidak mengatakan apa apa lagi selain meminum jus orange seteguk. Tiba tiba matanya agak buram.


"Kepalaku agak pusing." Ucap Anna.


"Ugh."


Anna tetap menatap Elsa dengan senyuman ringan.


"Denismu pasti datang. Tunggu saja. Aku akan kebelakang beristirahat." Anna berbalik badan.


Elsa menatap punggungnya hingga menghilang di kerumunan. Kemudian ia berjalan pergi sedang menunggu Denis.


Anna merasa kepalanya agak berat. Jadi ia pergi agak ke samping dan mencari tempat duduk. Mungkin ia belum sempat makan sehingga penyakit lambungnya kumat dan itu menyebabkan sakit kepala.


"Halo." Ucap Anna.


"Hei Hallo. kamu sudah datang?" Tanya Leya dari ujung telepon.


"Ya."


"Dimana?"


"Di samping patung. Kepalaku agak pusing. kemarilah." Ujar Anna.


Leya menyimpan telepon dan bergegas pergi ke sebelah samping, mencari patung yang di maksud Anna. Setelah menemukan ia berjalan pelan dan menghampiri Anna yang sedang duduk sendiri dengan meminum jus jeruk.


"Anna, ternyata kamu disini." Leya segera berhambur dan memeluknya.


"Kamu datang sendiri? Mana Erka?" Tanya Anna melihat dibelakang Leya.


"Uh. Kakak sepupumu itu tidak mau diajak datang. Ugh menyebalkan sekali." Ucap Leya mengerucutkan bibirnya.


Anna menatap Leya lucu sekali.


"Kalian ini sudah sedekat ini, tapi tidak mau mengakui kedekatan kalian. Sungguh!" Anna tak habis pikir dengan jalan pikiran mereka, selalu dekat tapi tak mau mengakui hubungan mereka.


"Ugh, aku sebagai perempuan gengsi lah. Masa iya harus mengatakan duluan."


"Duh jomblo kasian amat. Dia tidak akan peka jika kamu diam saja." Saran Anna.


"Ya terserah. Pokoknya harus dia duluan." Leya berpura kesal, tapi pipinya memerah dan menundukkan kepala dengan malu malu.

__ADS_1


"Cie....." Anna bersorak.


"Huh, sudahlah! Ngapain kamu malah disini. Seharusnya kamu ikut kumpul temen temen." Ujar Leya.


"Kepalaku agak pusing. Lagi pula pesta belum dimulai, masih banyak tamu berdatangan."


"Oh." Leya mengangguk.


Memang benar pesta belum dimulai, masih ada banyak tamu yang terus berdatangan. Leya menolehkan kepala ke samping, Sebelum pergi, ia belum sempat makan. Aroma masakan itu menusuk hidungnya. Ia sudah tidak tahan. Ia berjalan ke sana dan mengambil piring mengambil makanan yang membuatnya tergiur.


Terdengar dari atas panggung, MC menyapa para tamu.


"Para Hadirin sekalian, selamat datang atas kehadirannya."MC itu lantas tersenyum lalu melanjutkan pidatonya.


Semua tamu segera menatap ke arah panggung. Leya yang tadinya sudah menghabiskan satu piring makanan bergegas menghampiri Anna.


"Yuk kita ke tengah." Ajak Leya.


Anna merasa kepalanya masih pusing. Tetapi ia masih bisa berjalan ke arah tengah dan menikmati pidato dari MC.


Di atas panggung Indri dan kedua orang tuanya berdiri di sana.


"Terima kasih teman teman atas kedatangannya. Ini adalah ulang tahunku yang ke tujuh belas. dan hari ini adalah hari yang paling spesial karena mama dan papa juga berada disini." Ujar Indri menggunakan pengeras suara.


"Dan juga, terima kasih kepada presdir Adiyaksa group yang sudah meluangkan waktunya bisa hadir disini." Tambah Indri bersemangat.


Indri menyampaikan sepatah kata karena terlalu senang dengan kedatangan presdir Arsya. Biasanya setiap kali mengadakan pesta ulang tahun, Adiyaksa group akan dihadiri asistennya dan sekertarisnya sebagai perwakilan.


Tetapi karena kedatangan Adiyaksa group adalah presdirnya sendiri. membuat Indri yang sudah lama menyukainya semakin bahagia. Terpancar dari sorot matanya yang berbinar terang.


Setelah itu MC kembali mengatakan sepatah kata. Dan terdengar suara riuh dari penonton dan memulai acaranya.


Semua para tamu ikut bernyanyi dan bertepuk tangan. Indri tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya bisa bersama kedua orang tuanya dan para sahabatnya. Terlebih ada Arsya yang membuatnya semakin bersemangat.


Lagu itu terhenti bersamaan dengan meniup lilin. Anna merasa kepalanya sangat pusing. Cara berdirinya hampir tidak stabil jika tidak di pegang Leya.


"Anna!" Seru Leya.


"Tidak apa apa, kamu lanjutkan saja, aku akan pergi ke toilet sebentar." Ucap Anna menenangkan kerisauan sahabatnya.


"Ya, jangan lama lama, setelah ini kita pergi mengucapkan selamat dan pulang."


"Oke."


Anna berjalan sempoyongan hingga menuju pintu. Dari atas panggung Arsya dapat melihat punggung yang familiar keluar dari ballroom. Arsya mengerutkan kening. Tetapi dia tidak bisa turun sekarang karena acara masih berlanjut.


Ia melirik Danni yang berada di bawah panggung. Setelah mengatakan lewat mata, Danni mengangguk dan pergi meninggalkan area ball room.


Anna berjalan sempoyongan menuju pintu. Di samping pintu sedang berjaga dua pengawal dan satpam di sana.


Salah seorang wanita yang bekerja sebagai pelayan melihat Anna. Ia bergegas menghampiri dan melirik pengawal melalui kode matanya. Pengawal itu mengangguk.


"Nona." Tubuh Anna hampir terhuyung jatuh ke lantai. Tetapi ditahan oleh pelayan wanita itu.


"Terima kasih." Ucap Anna.


Pelayan itu tersenyum. "Anda tidak apa apa. Disini ada kamar khusus untuk tamu yang ingin beristirahat. Saya akan antar anda ke sana." Ucap pelayan itu.


"Tidak perlu, hanya sakit kepala biasa," Jawab Anna.


Tetapi pelayan itu bersikeras mengantarkan Anna ke kamar yang sudah disediakan.

__ADS_1


Anna dibawa pelayan itu disebuah kamar 204. "Istirahatlah disini." Ujar pelayan itu dan membantu Anna berbaring di ranjang.


Pelayan itu setelah memastikan sesuatu, ia segera pergi dari sana. Anna merasa kepalanya sangat pusing. Jadi ia lebih baik tidur sebentar.


__ADS_2