
Mereka berdua melewati malam yang panjang. Seolah tidak ingin terpisah satu sama lain. Namun waktu tetap terus berjalan. Dan pada akhirnya mereka tetap terpisah. Tepat jam lima pagi, Danni sudah membangunkan Arsya.
Arsya mengelus rambut pendek Anna kemudian mencium keningnya. Ia menulis pada secarik kertas sebelum pergi. Setelah itu ia pergi mandi dan mengganti pakaian.
Sementara Danni sudah menunggu di depan rumah Anna. Tak berapa lama Arsya keluar dengan jas hitam serta mantel tebal sebagai khas dirinya.
"Presdir, kita akan segera check in jam enam. Jadi aku membangunkanmu jam lima. Karena jarak antara bandara dan penginapan memerlukan waktu satu jam." Penuturan Danni.
"Hem."
Mobil melaju dengan cepat ke bandara. Sebelum masuk Arsya menugaskan lima pengawal untuk tetap tinggal juga meninggalkan Ari sebagai ketua.
"Ari. Lakukan penjagaan dengan ketat di sekitar nona muda. Jangan sampai dia tau jika aku yang memberikan pengawal kepadanya."
"Baik, mengerti." Ari mengangguk.
Arsya masuk ke dalam pesawat dan ke lima belas pengawal lainnya termasuk Rendi. Pesawat mulai landing dan meninggalkan Amsterdam.
Tepat jam tujuh pagi, Anna terbangun dari tidurnya. Ia tak kaget ketika dirinya bangun Arsya sudah tidak ada. Tetapi ia menemukan secarik kertas yang tergeletak di atas meja. Ia segera membacanya.
"Jaga dirimu. Jangan nakal. Selagi aku tak ada jaga bayi yang ada dalam perutmu. Setelah masalah selesai. Aku akan segera menjemputmu."
Seketika Anna seolah mempunyai harapan. Pria ini sangat kaku tapi sangat berhati lembut. Dia menyimpan kertas itu dengan menempelkannya di papan pengumuman. Kemudian ia pergi ke dapur setelah mencuci wajahnya.
Setelah melakukan sarapan pagi, Anna langsung mandi dan berganti pakaian. Barulah ia pergi ke ladang. Sesuai dengan perkiraan Arsya jika botol botol itu dikirim sesuai janji. Tepat hari senin tuan Axcel mengirim seribu botol ke ladang mawar.
Anna langsung mengarahkan untuk meletakkan botol itu ke gudang. Kini waktu yang tersisa tinggal satu bulan. Jadi ia akan berkonsentrasi mengekstrak parfum sesuai dengan pesanan.
Di belahan dunia yang lain. Kini Arsya telah sampai di negaranya. Setibanya di bandara internasional dia langsung mengarahkan untuk pergi ke perusahaan.
"Halo keponakanku yang tampan. Akhirnya kau kembali juga. Andaikan kau tidak kembali juga. Maka aku akan mengambil alih perusahaan ini." sebuah suara yang familiar merasuk ke dalam indra pendengaran Arsya. Arsya tak asing lagi siapa pemilik suara itu jika bukan bibi-nya. Ia lanjut tersenyum dalam ketidaksenangan.
Anita duduk di kursi eksekutif yang biasa di duduki Arsya. Dia nampak cantik dan arogan. Ketika pintu di dorong terbuka. Ia sudah menduga jika Arsya akan kembali.
"Bibi tenang saja. Itu tak akan pernah terjadi. Meskipun aku pergi berbulan bulan. Bibi tak akan bisa mengambil alih perusahaan dengan mudah. Para dewan direksi belum tentu setuju akan hal itu." Sahut Arsya membalas kata kata Anita.
Wajah Anita berubah muram. Namun itu hanya sesaat. Anita langsung melengkungkan senyuman di wajahnya.
"Oh ya, benar juga. Aku terlalu lama di luar negeri. Sehingga mereka lupa akan rupa wajahku. Tapi tenang saja. Aku akan melakukannya dengan perlahan." Jawab Anita.
"haha, Tapi semua itu tidak akan aku beri kesempatan." Ujar Arsya dengan tertawa dingin.
__ADS_1
Anita langsung mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya.
"Semua dibawah kendaliku meski kau memiliki saham lima persen. Jadi bibi tak perlu bersusah payah."
Anita menjadi kalah telak akan ucapan Arsya. "Jadi bibi, silahkan anda keluar dari sini. Saya akan mulai bekerja." Usir Arsya.
Arsya membuka pintunya dengan lebar dan itu di saksikan oleh karyawan lainnya. Membuat Anita di permalukan. Anita dengan kesal terpaksa keluar dari ruangan Arsya.
Namun saat berada di ambang pintu, Anita kembali menolehkan kepala. "Keponakanku yang tampan. Aku akan mengingat akan hal ini. Meskipun kau mengawasiku dengan ketat. Tapi sepandai pandainya tupai melompat maka terjatuh juga. Keponakanku! Jadi kau jangan terlalu percaya diri." Ujarnya sambil mengulas senyuman indah nan mengejek di wajahnya.
"Oh ya. Tapi itu tak akan pernah terjadi. Silahkan anda keluar." Ujar Arsya.
Anita melangkah keluar. Dan Arsya langsung menutup pintu. Ia berjalan menuju kursi eksekutif dan membaca banyak dokumen yang perlu persetujuannya.
Namun baru beberapa saat matanya terasa buram dan kepalanya berdenyut nyeri dengan hebat. Dia baru saja kembali, belum beristirahat sama sekali dan langsung bekerja. Mungkin itu efek karena terlalu lelah beberapa hari ini. Apalagi dia belum istirahat di Amsterdam dengan baik. Setelah kembali dia harus mengurus perusahaan.
Dia memijat pelipisnya. Menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Danni masuk dan ingin melaporkan beberapa dokumen yang terbengkalai sejak ia pergi ke Amsterdam tapi melihat presdir yang begitu lelah. Danni merasa khawatir.
"Presdir!" Danni meletakkan dokumen itu di atas meja begitu saja dan menghawatirkan Arsya.
Arsya masih memijat pelipisnya dengan ringan. Danni langsung membantu memijat pelipisnya. Arsya merasa sedikit enakan setelah Danni memijatnya.
"Tidak bisa. Jika aku tidak mengurus perusahaan. Bibi Anita akan sering ke perusahaan lalu mengambil alih segalanya. Jika perusahaan bangkrut bagaimana perasaan kakek." Ujar Arsya dengan kekhawatirannya.
"Tapi kondisi presdir seperti ini. Apa perlu saya memanggil dokter?" Tanya Danni.
"Tidak perlu. Mungkin saya kecapekan selama berada di Amsterdam."
"Baiklah." Ujar Danni.
Setelah merasa lebih baik. Arsya memerintahkan untuk berhenti memijat. Kemudian lanjut bekerja. Saat tengah malam, Arsya dan Danni kembali ke Villa.
Sampai di Villa semua pengawal bergegas menyambut sementara semua pelayan yang dulu di panggil kembali kini sudah keluar lagi. Dan pada akhirnya yang tersisa adalah pengawal.
Mendengar Arsya kembali, Ricky bergegas menyambut di depan pintu. Mobil liumosin melaju dengan kecepatan lambat saat memasuki gerbang. Setelah berhenti di depan pintu utama, Ricky buru buru menundukkan kepala.
"Tuan muda!"
"Hem. Siapkan air hangat untukku." Ujar Arsya memberi perintah.
"Baik!" Sahut Ricky menerima mantel dan tas kerja dari Danni. Sementara itu Arsya masuk ke dalam ruang kerja bersama Danni.
__ADS_1
Saat Ricky selesai menyiapkan air hangat, ia segera mengetuk pintu ruang kerja dan memberi taukan jika air hangat yang di minta sudah siap.
Arsya mengangguk dan mempersilahkan Danni untuk pergi. Sementara dirinya langsung menaiki tangga menuju kamar utama. Di sana Ricky sudah mempersiapkan beberapa wewangian ke dalam bak mandi sehingga aroma itu mampu menenangkan rasa penat yang kini menyelubungi tubuh Arsya.
Baru saja sesaat masuk ke dalam air. Namun wewangian ini seolah membuatnya ingin muntah.
"Ricky!" Teriak Arsya dengan suara kencang.
Ricky yang menunggu di depan pintu bergegas masuk ke dalam dengan langkah tergesa.
"Ya tuan muda." Ujarnya tak berani masuk ke dalam kamar mandi.
"Hoek!" terdengar Arsya muntah. Ricky langsung panik dan ia memberanikan dirinya masuk ke dalam kamar mandi.
Terlihat Arsya berada di depan wastafel dan muntah muntah. Hanya saja, ia tak mengeluarkan apapun dari dalam perutnya. Ia hanya merasa mual dan ingin muntah.
"Tuan muda. Apa yang terjadi?" Tanya Ricky memijit leher belakang Arsya.
"Wewangian apa yang berada di dalam bak mandi itu? Aku merasa mual." Ujarnya dengan wajah memerah.
Ricky memandang bak mandi yang masih hangat itu dengan kening berkerut. "Wewangian untuk penyegar tubuh anda tuan. Seperti biasanya yang tuan muda suka." Jawab Ricky.
"Jangan pakai lagi. Buang air itu dan ganti." ujar Arsya.
"Baik."
Ricky kembali membuang air di dalam bak mandi dan menggantinya yang baru. Sementara Arsya menunggu seraya duduk di atas toilet dan memijit keningnya yang terasa pening.
Beberapa saat kemudian. Air hangat telah selesai di siapkan. Ricky segera keluar dan menunggu di depan pintu seperti biasa. Arsya mencium aroma di dalam air. Dan sepertinya ia sudah tidak menghirup wewangian itu. Ia memasukkan tubuhnya dengan perlahan kemudian ia mulai berendam.
Sepertinya Arsya sudah merasa lebih baik setelah berendam. Ia keluar menggunakan handuk kimono berwarna putih dan duduk di sofa.
Terdengar ketukan di pintu dari luar.
"Tuan muda. Apakah perlu saya memanggil dokter?" itu suara Ricky.
"Tidak perlu. Kau kembalilah. Aku akan segera tidur." Sahut Arsya dari dalam kamar.
"Baik." kedua pengawal langsung berjaga di luar sementara Ricky segera kembali setelah menerima perintah dari Arsya. Namun di dalam benaknya, ia merasa aneh. Ini pertama kalinya Arsya seperti ini. Tetapi dia tidak mau memanggil dokter.
Arsya kemudian bangkit dari sofa setelah mengecek beberapa hal di dalam i-pad nya. Ia mengganti handuk kimono dengan pakaian tidur. Setelah itu ia berbaring di atas ranjang dengan tenang. Karena terlalu lelah, ia cepat masuk ke dalam mimpi.
__ADS_1