
Begitu Arsya keluar kamar Anna. Wiryo dan Dewi segera menyambut. Dewi segera menampilkan senyuman. Begitu juga Wiryo.
"Tuan Wiryo, nyonya Dewi. maaf jika aku membuat kalian terganggu." Ujar Arsya sembari berjalan menuruni tangga.
"Tidak apa apa nak. Sungguh suatu kemuliaan nak Arsya berkunjung kemari." Ujar Dewi dengan tersenyum ringan.
Arsya segera duduk di sofa setelah keduanya mempersilahkan duduk. "Sebenarnya, Anak kami tidak pulang ke rumah." Ujar Wiryo ingin menjelaskan.
"Aku tau. Aku hanya ingin melihat Villa ini saja." Sahut Arsya lalu mengambil teh dan menyesapnya.
Wiryo hanya mengangguk dan mengambil cangkir teh lalu menyesapnya.
"Nak Arsya." Mendengar kata melihat isi Villa. Tiba tiba perasaan Dewi campur aduk. Jika suaminya berpikir tentang perusahaan yang akan di akusisi. Maka mereka akan kehilangan segalanya termasuk Villa ini.
Wiryo melirik ke arah Dewi sekilas. Ia bisa menebak tentang kekhawatiran istrinya itu. Melihat lirikan dari Wiryo, Dewi tak lagi melanjutkan kata katanya. Wiryo meletakkan cangkir teh dengan elegan.
Arsya tak menanggapi kata kata Dewi, terus berlanjut dengan meletakkan cangkir teh di meja.
"Begini nak Arsya. Anak kami memang sangat bandel. Kami tau jika dia memang tidak menerima pernikahan ini. Lalu berpikir secara tidak logis. Jika kedatangan nak Arsya ingin mengakusisi perusahaan. Kami...."
"Tak ada yang perlu kalian cemaskan." Arsya segera menyela ucapan Wiryo. Lalu tersenyum tipis. Tak pernah terpikirkan di benaknya untuk mengakusisi perusahaan. Mungkin dulu ia pernah melakukannya tapi itu hanyalah untuk membuat Anna kembali dengan sendirinya.
"Jika aku menginginkan. Mungkin tak perlu mengatakan."
Wiryo terbelak. Tapi setelah itu ia kembali dengan raut wajah semula. Memang benar apa yang dikatakan Arsya. Jika memang menginginkan. Ia tak perlu datang dan mengatakan. Mungkin ia terlalu takut. Jadi ia memiliki pemikiran seperti ini.
"Ternyata aku sudah lama tidak berkunjung kemari setelah menjadi anak menantu kalian. Sepertinya aku memang sangat kejam. Dengan membawa anak kesayangan kalian ke kediamanku sendiri tapi tidak memikirkan perasaan kalian yang telah membesarkannya." Ujar Arsya melanjutkan dengan melihat sekeliling ruangan itu.
Wiryo semakin tak mengerti. Ia malah bingung dengan Arsya yang berkata demikian.
"Nak Arsya sudah aku anggap seperti anakku sendiri. Nak Arsya tak perlu membicarakan hal ini. Jangan pernah sungkan untuk datang kemari."
Setelah mendengar Wiryo mengatakan hal itu. Hati Arsya seolah tercubit. Ia malah merasa sangat bersalah.
__ADS_1
"Tuan Wiryo. Mungkin karena aku sendiri yang terlalu abai. Sehingga Anna pergi dariku. Dan ini adalah balasanku. Tapi ada satu alasan kenapa aku datang kemari." Ia mengambil sebuah dokumen yang ia simpan di dalam saku mantelnya.
"Ini adalah suatu proyek di jalan Merpati." Ujar Arsya memberikan dokumen itu kepada Wiryo.
"I...Ini..." Wiryo terkejut sekaligus senang.
"Ya, proyek ini sudah mendapatkan persetujuan dari pemerintah." Ujar Arsya. Wiryo membelalakkan mata.
Dewi merasa terharu. "Nak Arsya. Kamu sungguh berhati mulia. Memang benar apa kata orang. Kamu adalah orang yang rendah hati. Kami benar benar merasa bersyukur memiliki menantu seperti nak Arsya." Ujar Dewi dengan meneteskan air mata.
"Benar. Kami kira, dengan kepergian anak kami. Nak Arsya bakal melumpuhkan perusahaan kami. Tapi ternyata membawa sebuah kejutan yang membuat kami sangat terharu." Wiryo menambahkan.
"Kalian tak perlu sungkan." Setelah itu Arsya beranjak dari tempat duduknya. "Aku telah mengganggu waktu kalian. Aku akan segera pergi. Selamat malam." Ujar Arsya.
"Selamat malam." jawab Keduanya dengan bergantian.
Setelah itu Arsya bergegas pergi dari Villa Wirawan. Sungguh keberuntungan yang tak terduga.
Saat di pagi hari. Arsya mengerutkan keningnya saat menuruni tangga. Ada beberapa pelayan yang sedang membersihkan ruangan. Suasana di Villa itu menjadi ribut dan sibuk. Linda berdiri di antara para pelayan yang sedang bekerja.
"Arsya!" Linda menyadari kedatangan Arsya.
"Apa yang terjadi. Kenapa ada banyak pelayan?" Tanya Arsya saat langkahnya sudah sampai di anak tangga terakhir paling bawah.
"Karena pelayanmu tidak menyukaiku. Jadi mereka pergi dengan sendirinya. Villa jadi sepi. Aku tak mungkin membersihkan Villa besar ini sendirian jadi aku membawa pelayanku. Hari ini mereka mulai bekerja. Aku juga sudah membawa koki andalanku kemari." Ujar Linda tersenyum. Seraya berkata seraya menggandeng lengan Arsya.
"Oh." Arsya tak tau harus merespon bagaimana. Yang penting ia tetap bertahan di Villa selama penyelidikan belum selesai. Terkadang musuh di penjara di kandang sendiri tidak akan mudah terlepas. Jadi ia hanya membiarkan Linda berbuat seperti ini.
"Baguslah jika kau tak keberatan. Awalnya hanya ingin mereka bekerja dan setelah selesai mereka akan kembali pulang. Mereka tidak akan tinggal." Ujar Linda lagi.
"Hem."
Karena Arsya tidak merespon terlalu banyak. Linda merasa dirinya berada di atas angin. Pengawal yang melihat merasa muak dengan sikap Linda ini. Mereka dapat menebak pemikiran Linda. Tapi ia tetap diam. Semuanya akan indah pada waktunya. Pikirnya.
__ADS_1
Linda membawa Arsya menuju ke ruang makan. Di sana sudah tersaji makanan khas barat.
"Ini masakan yang di buat oleh kokiku. Kau tak perlu cemas lagi jika aku akan terluka." Ujar Linda lalu membawanya untuk duduk di kursi.
"Benar. Tanganmu belum sembuh. Jadi kau tak perlu susah payah buat memasak. Jika ada koki kau bisa sedikit santai."
"Ya." Linda setuju dengan ucapan Arsya.
Ia kemudian menyendokkan nasi dan lauk yang tersedia lalu memberinya ke hadapan Arsya. Setelah itu baru dirinya mengambil nasi dan lauknya untuk dirinya sendiri. Mereka memulai sarapan mereka.
"Arsya! Ngomong-ngomong soal pernikahan kita. Bagaimana jika aku mempersiapkannya dari sekarang." Tanya Linda seraya memakan sarapannya.
"Masih ada banyak waktu. Kenapa terlalu buru buru. Perutmu semakin hari semakin membesar. Kau tak boleh bergerak sembarangan."
"Tidak akan. Masih ada Elsa yang membantuku." Linda melirik Elsa. Kemudian lanjut berkata. "Lagi pula hanya menyiapkan baju pengantin dan undangan. Setelah itu aku menyerahkan kepada pihak WO untuk urusan dekor dan prasmanan. Soal tempat kau bisa memilihnya sendiri."
"hem. Terserah kau." Ujar Arsya.
Seusai melaksanalan sarapan. Arsya mengelap sudut bibirnya dengan tisu. Disusul dengan menyesap kopinya hingga tandas. Barulah ia mendorong kursi ke belakang. "Aku akan pulang larut. Jadi kau tak perlu menungguku untuk makan malam. Selain itu kau istirahatlah lebih awal."
"Hem baiklah." Jawab Linda dengan tersenyum lebar
Arsya mengisyaratkan Ricky agar pergi mengikutinya seperti biasanya dengan menganggukkan dagunya. Ricky mengangguk mengerti dan segera membawa tas serta mantel Arsya.
Sampai di pintu utama Ricky menyerahkan tas kerja dan mantel Arsya kepada pengawal. Sebelum Arsya masuk ke dalam mobil ia berkata dengan pelan.
"Awasi Nona Linda. Jangan sampai dia keluar masuk dengan bebas. Saat ini masih perlu beberapa petunjuk."
"Baik tuan." Ujar Ricky kemudian menunduk hormat.
Arsya masuk ke dalam mobil dan mobil melesat meninggalkan pekarangan Villa. Elsa melihat melalui celah jendela. Ia juga di perintahkan Linda untuk mengawasi Ricky.
Semua orang yang berada disisi Arsya digantikan satu persatu tanpa Arsya menyadarinya. Hanya tinggal Ricky dan pengawal terlatih yang berada di Villa untuk berjaga. Linda tak bisa mengalihkan semua pengawal itu jadi hanya bisa membiarkannya .
__ADS_1