Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Empat Puluh Enam


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu hampir dua jam, akhirnya Anna dan Leya selesai menyaksikan film bioskop. Semua orang berbondong bondong keluar dari ruangan termasuk Anna dan Leya.


Keduanya sangat menikmati film itu hingga sampai diluar ruangan pun senyum masih terkembang dikedua bibir mereka.


Krukkk


Tiba tiba terdengar suara yang keluar dari dalam perut. Leya mencari sumber suara saat Anna sedang menunduk dan mengusap usap perutnya.


"Astaga!" Leya ingin tertawa jika bukan ini tempat umum. Ia menutupinya dengan satu tangannya.


"Aku lapar!" bisik Anna dengan suara kecil di samping Leya.


"puft....." Leya tersenyum lalu merangkul bahu Anna dan pergi ke restoran yang berada di lantai tiga.


"Aku janji hari ini akan mentraktirmu. Kamu pesan makanan apapun yang kamu suka." ucap Leya dengan bangga.


"Hehe tentu saja. Ngomong-ngomong aku sangat iri padamu." mereka berjalan sambil mengobrol tanpa mereka sadari jika ada Indri di belakangnya.


"heh, kamu itu masih ada Arsya dibelakangmu kenapa kamu iri padaku. Jelas jelas kau lebih kaya dariku." ucap Leya.


Anna menggelengkan kepalanya. Leya mengerutkan keningnya.


"Aku iri karna kamu bisa mendapatkan uang sendiri." jawab Anna dengan polosnya. Leya tersenyum merasa lucu dengan sahabatnya ini.


Indri yang mendengar percakapan keduanya bahwa dibelakangnya masih ada Arsya. Ternyata benar dengan dugaan dan rasa curiganya. Ia segera menyingkir dan menelepon Kesya dan Dea.


Anna dan Leya sudah masuk ke dalam restoran. Tak lupa juga memesan makanan yang ingin dia makan. Setelah itu keduanya duduk dan menunggu pesanan datang.


Tepat di saat ini ada sebuah nomer rumah yang muncul di layar telepon. Anna mengerutkan keningnya.


"Ada apa?" tanya Leya.


"Gak tau, tiba tiba ada telepon dari rumah." jawab Anna.


"Angkat saja, siapa tau penting." saran Leya. Anna mengangguk dan mengangkat telepon.


"Halo." Ucap Anna tatkala telepon sudah tersambung.


"Gawat, nona muda. Seluruh pengawal di jemur dihalaman depan dengan berlutut ke arah matahari." salah satu pelayan berbicara dengan suara tergesa.


"Hah, kenapa?" tanya Anna dengan cemas.


"Kemarahan tuan muda memuncak karena nona muda meninggalkan kediaman." Ucap pelayan memberikan penjelasan.


"Apa!" Anna tercengang. "Baik, aku akan pulang sejam lagi." Anna lekas menutup telepon.


"Ada apa?" Tanya Leya.


"Pengawal dihukum di suruh berlutut. Aku akan pulang." Anna segera memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Hei, lalu bagaimana dengan makanannya?" Tanya Leya menggebu.


"Kamu bungkus saja dan kirim ke alamatku." Jawab Anna lugas.


"Kamu gila, aku gak tau alamat kamu." Jawab Leya.


Anna menghirup udara panjang, dan kembali duduk lalu menuliskan alamat pada secarik kertas menuliskan alamat Villa Arsya kepada Leya. Leya tersenyum lebar.

__ADS_1


"Aku pergi!" Kata Anna dan berlalu.


Indri dibelakang masih membuntuti. Anna keluar dari restoran dan terus berjalan hingga masuk ke dalam mobil.


Satu jam kemudian, ia telah sampai di kediaman villa Arsya. Indri dari kejauhan memotret secara diam diam, saat mobil yang ditumpangi Anna masuk ke dalam Villa.


Indri tersenyum kemudian ia pergi dari kompleks perumahan.


Saat keluar dari dalam mobil, Anna tertegun sejenak. Semua para pengawal sedang berlutut ke arah matahari. Ia segera memdekat.


"Kenapa kalian berlutut. Berdirilah, disini sangat panas." Ucap Anna pada semua pengawal di sana. Tetapi para pengawal itu tidak menggubris perkataan Anna. Mereka tetap berlutut dengan kepala tertunduk.


Arsya duduk di kursi membaca koran dengan arogan. Saat mendengar suara Anna, Arsya membalikkan koran sambil berkata.


"Masih ingat jalan pulang!" Ucap Arsya dengan datar dan dingin.


Anna mengerutkan keningnya dan menoleh. Melihat Arsya yang duduk arogan di kursi, ia segera menghampiri.


"Apa maksudmu?" Tanya Anna dengan menggebu.


"Ku kira, kau lupa pulang dan pergi dengan pria itu." balasan Arsya sangat menohok.


"Pria?" Anna mengerutkan keningnya. Arsya melipat korannya dan memberikan kepada Ricky dibelakangnya.


"Daren?" Anna mengingat lelaki yang selama ini emang selalu mendekatinya.


"Baguslah jika kau ingat!" Balas Arsya seraya mengambil cangkir kopi dan menyesapnya.


"Hah, tidak. Aku tidak pergi dengannya sejak kau memberinya peringatan. Dia bahkan tidak berani mendekatiku lagi." Balas Anna seraya mengingat perkataan Arsya.


"Baguslah!" Arsya tersenyum tipis dan meletakkan gelas secara elegan.


"Itu artinya anda setia pada tuan kami." Ricky menyela ucapannya. Anna mendongak menatap Ricky.


"Setia! Cih." ini sungguh tidak masuk akal. Anna tertawa sebentar kemudian terdiam dan menatap Arsya yang masih dengan santainya duduk sambil mengeluarkan i-pad.


Ricky merasa suasana menjadi panas.


"Kamu terlalu picik Arsya, Kau mengikatku dengan mengancamku berkali kali, sementara kamu sendiri selalu berpacaran dengan Linda." Ucap Anna dengan sinis.


Arsya mendongak dengan mata memerah menatap Anna tajam.


"Kau selalu mengungkit Linda. Aku katakan kepadamu, jika Linda adalah teman masa kecilku. Bagaimanapun aku juga harus membalas budinya. Dan kamu juga tidak perlu mencampuri urusan pribadiku." ucap Arsya dengan marah. Lalu meninggalkan Anna sendirian di sana.


Anna menatap punggung Arsya menghilang di balik tembok, lalu menoleh menatap pengawal yang masih berlutut dibawah teriknya matahari.


"Arsya, jika kamu cemburu katakan padaku dengan jelas. Tapi kamu jangan menghukum pengawal dengan seperti ini. kamu tidak berperikemanusiaan." Ucap Anna dengan berteriak marah.


Sekilas Arsya masih mendengar ucapan Annna, tapi tak ia hiraukan. Ricky yang masih berdiri di sana segera menundukkan kepalanya saat lirikan Anna menyapu kepadanya.


"Nona muda, ini akan percuma. Anda lebih baik bujuk tuan muda agar hatinya melunak, maka hukuman ini akan selesai." bujuk Ricky dengan menunduk dalam.


"Huh! Kau juga. Kamu selalu mengadukanku kepadanya. Jika seperti ini aku yang harus membujuk. Kenapa tidak kamu saja yang berbicara kepadanya!" Ucap Anna merasa kesal sekaligus memarahi.


"Ampun nona muda! Aku hanya sebagai pelayan. Ini....." Wajah Ricky berkerut dengan serba salah.


"Sudahlah, percuma saja!" Anna segera pergi dan masuk ke dalam Villa.

__ADS_1


Ricky ingin sekali menangis, apalagi posisinya sangat serba salah. Ia meringis lalu menatap para pengawal yang tak bersalah harus dihukum. Ia juga bertanggung jawab akan hal ini. Lalu ia menoleh ke arah pintu utama.


Anna menaiki tangga menuju kamar utama dan sekedar mandi dan berganti pakaian. Perutnya berkali kali sangat lapar. Tetapi ia juga memikirkan para pengawal yang tak bersalah harus dihukum. Ia bergegas menuruni tangga menuju ruang kerja Arsya.


Di dalam Arsya sedang meninjau konstruksi di Bena, pekerjaannya hampir 70 persen selesai. Hanya tinggal penyelesaian saja.


Tok tok tok!


"Masuk!" perintah Arsya dari dalam ruangan.


Anna mendorong pintu dan masuk ke dalam. Arsya melirik sebentar dan kembali pada layar datar. Anna masuk dengan membawakan nampan yang berisikan beberapa camilan, ia mendekati Arsya dan meletakkan camilan itu ke atas meja.


"Ada apa?" Tanya Arsya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


Selesai meletakkan camilan, Anna melihat lihat sekeliling ruangan Arsya.


"Tidak ada! hanya ingin melihatmu kerja." Balas Anna.


Arsya tak berkata apapun selain masih tetap fokus pada pekerjaannya.


Ruangan menjadi hening. Anna berjalan kesana kemari, berpura memindai lukisan yang terpajang didinding tetapi ia sebenarnya menata kata yang akan ia sampaikan kepada Arsya. Ia melirik takut takut ke arah Arsya.


"Katakan saja apa keinginanmu?" Tanya Arsya menebak isi kepala Anna.


"Hehe.." Anna menggaruk pelipisnya dan berjalan kemari. Saat hendak duduk disebelahnya secara reflek Arsya menarik lengannya sehingga tubuh Anna terduduk di pangkuan Arsya.


"Eh." Anna terkejut saat sebuah tangan menariknya.


"Coba katakan!" Ucap Arsya dengan suara rendah. Tetapi justru suara itu terdengar dingin dan tajam.


"Ini....soal hukuman pada pengawal di depan. Tidakkah kamu membebaskannya. Mereka...."


"Sudah tau salah, kenapa membela mereka?" sela Arsya memotong perkataan Anna.


"Tapi mereka...." Anna mendongak menatap Arsya.


"Mereka menjalankan tugasnya." Jawab Arsya datar.


"Tugas? Tugas apa sampai harus berlutut di halaman dengan panas panasan seperti itu." Anna tidak mengerti cara berpikir Arsya.


"Tentu saja tugas dariku. Karena kelalaiannya mereka membiarkan kamu pergi keluar dan mereka harus menanggung kesalahannya."


"Loh, ini kan aku sendiri yang pergi dengan keinginanku sendiri. Harusnya aku yang kamu hukum kenapa harus mereka?"


"Bagus! Ternyata kamu mengerti juga." Inilah kalimat yang ditunggu Arsya bahwa Anna mengakui kesalahannya.


Anna tertegun sesaat. "kamu...."


"Diamlah! Jika kamu melakukan kesalahan lagi, maka orang terdekatmu akan mendapatkan hukuman." Balas Arsya yang tak mau dibantah.


Anna : terdiam


Arsya segera menekan telkom yang terhubung dengan Ricky, kemudian memerintahkan kepada para pengawal untuk segera kembali bekerja. Ricky mengangguk dan menyampaikan perintah Arsya.


Di luar para pengawal bernafas lega, dan kembali berjaga seperti biasanya. Arsya menarik dagu Anna agar menatapnya.


"Kamu mengerti sekarang?" Tanya Arsya.

__ADS_1


"Maaf. Aku terlalu terbawa emosi." ucap Anna dengan kepala masih menatap Arsya.


__ADS_2