
Sekembalinya Arsya dari pemakaman. Ia langsung menuju gudang. Dimana Ferdi telah di tahan di sana.
Raut wajahnya tampak sembab. Ia duduk termangu disudut ruangan yang temaram.
Brakk
Pintu di dorong terbuka dengan keras. Ferdi mendongakkan kepalanya. Di sana terlihat Arsya yang didorong masuk menggunakan kursi roda.
Ferdi segera berlari dan berlutut di hadapan Arsya.
"Tuan! Maafkan saya." Bahkan Ferdi sudah menjedotkan kepalanya hingga dua kali.
"Berhenti!" tukas Arsya dengan suara dingin dan suram. Ia tidak ingin melihat Ferdi menyiksa dirinya.
Ferdi terguguk menangis tiada henti. Ia menghentikan gerakannya dan tidak berani menatapnya.
Arsya menyipitkan mata. "Alasan!" dia tidak memiliki suara untuk berkata lebih panjang. Satu kalimat penuh intimadasi sudah cukup baginya untuk menekannya.
Ferdi tidak berkata apa apa selain mengeluarkan lima botol kecil obat dan diperlihatkan kepada Arsya.
Arsya mengerutkan keningnya melihat botol yang diperlihatkan kepadanya.
"Saya sudah menemukan obat penawarnya." Kata Ferdi dengan lirih. "Setiap sehari satu botol. Dan botol ini adalah yang terakhir. Ini memiliki efek panas pada tubuh anda." kata Ferdi menjelaskan sesuai yang di katakan Anita sebelumnya.
Deri segera merampas kelima botol itu dan memeriksanya.
"Ferdi, dari mana kau mendapatkan obat ini?" tanya Deri mewakili pertanyaan Arsya.
Arsya sedikit mengangguk.
"Itulah imbalan yang saya dapatkan dari bekerja sama dengan nyonya Anita." sahutnya seraya menatap perubahan wajah Arsya.
Kemudian pria itu kembali menundukkan kepalanya. "Saya sudah memenuhi tugas saya sebagai pengawal. Karena saya sudah berhianat Saya akan menyerahkan nyawa saya kepada tuan."
Deri melirik Arsya yang tetap berwajah datar. "Tuan!"
Arsya mengibaskan tangannya agar deri tetap diam.
Deri menunduk dan tidak mengatakan hal apapun lagi.
"Seharusnya orang sepertimu sudah harus mati di tanganku. Tapi karena obat yang kau bawakan untukku, aku akan mempertimbangkannya lagi." sahut Arsya lalu mengisyaratkan untuk membawanya keluar.
Arsya kembali ke rumah utama di mana dia dan Anna dulu pernah tinggal disini. Sekarang sudah tidak ada ancaman lagi. Semua pengawal yang bekerja sama dengan Anita telah dijerat hukuman sesuai perbuatan mereka.
Di ruang utama ternyata ada Herman yang telah menunggu.
__ADS_1
"Kakek!" Arsya berkata lirih ketika menemukan Herman duduk di sofa panjang dengan tangan berada di atas kepala tongkat.
Pria tua itu menoleh.
Kursi roda itu didorong mendekati sofa. Selebihnya pria itu berpindah ke sofa yang bersebrangan dengan sofa yang diduduki Herman.
"Bagaimana kondisi tubuhmu?" Tanya Herman. Ia mendengar jika racun ditubuh Arsya sangat mematikan tetapi cucunya ini masih tetap bertahan.
Seluruh dokter sudah mengkonfirmasi jika mereka tidak akan sanggup untuk mengobatinya. Herman merasa cemas dan ia buru buru datang menemuinya meski di larut malam seperti ini.
"Saya sudah menemukan obat penawarnya. Kakek tenang saja. Saya akan segera sembuh." Kata Arsya, deri dibelakang juga memperlihatkan semua botol itu di atas meja.
Asisten tua di belakang Herman segera mengambilnya lalu menyerahlan kepada Herman. Herman melihat seksama semua botol itu. Setelah beberapa saat tatapannya beralih ke arah Arsya.
"Bagaimana kamu mendapatkannya?" tanya Herman penuh selidik.
"Tuan besar. Pengawal kita yang bernama Ferdi yang mendapatkannya." Deri menyahut mewakili menjawab pertanyaan Herman.
Herman menyipitkan matanya.
"Dia yang menghianatiku. Bekerja sama dengan Anita merobohkanku. Tetapi di balik semua itu dia yang mengambil obat itu dan diberikan kepadaku." kini Arsya membuka suara mempertegas.
"Dia berpikir, andaikan aku tidak mempunyai posisi lagi tetapi jika mengkonsumsi obat itu. Maka aku akan sembuh total. Dan setelah sembuh sudah pasti aku akan dapat bangkit lagi dan mengambil alih semua yang sudah pasti akan tetap menjadi milikku." lanjut Arsya menjelaskan maksud dari pengawal itu.
Herman meletakkan obat itu ke hadapannya.
"Lalu, bagaimana dengan acara pernikahanmu?" tanya Herman mengalihkan pembicaraan.
"Aku..." Arsya kemudian menghentikan kalimatnya. Lalu pria itu menaikkan padangannya kepada sang kakek yang tengah menatapnya. "Kakek tidak marah?" tanya Arsya dengan kening berkerut.
"Kenapa harus marah?" tanya Herman tidak mengerti.
"Sebelumnya...." kata Arsya menggantung.
"Kakek sudah tau semuanya. Kakek tidak menyalahkan Anna. Justru kaulah yang seharusnya di salahkan."
Arsya meringis. "Kakek, aku..."
"Diamlah! Bagaimana dengan keadaan Anna sekarang. Apakah dia tau soal ini?" tanya Herman.
Arsya menggeleng. "Aku tidak memberitaunya dan aku tidak memperbolehkan dia kembali sebelum aku normal kembali." Kata Arsya mendesah.
Herman menghela nafas panjang. "Kau seharusnya bisa berpikir lebih dewasa lagi. Umurmu sudah melebihi kepala tiga." Kata Herman menekankan setiap kalimatnya.
Arsya hanya bisa diam menunduk.
__ADS_1
"Hum, sudah larut. Kau pergilah istirahat. Setelah kau pulih. Kau harus membereskan semua masalah dan meyakinkan para dewan itu. Perusahaan sedang merosot tajam. Kakek tidak mau perusahaan yang turun menurun ini binasa hanya karena satu kesalahan." Ucap Herman tegas.
Arsya mengangguk.
Herman pun pulang.
Keesokan harinya. Arsya mulai minum satu botol obat penawar.
Reaksi tubuhnya memanas dan merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Bahkan orang biasa tidak akan tahan setiap penyiksaan ini.
Pada sore hari, dokter keluarga akan datang memeriksa.
"Ini..." Dokter itu tercengang ketika racun di tubuh Arsya sedikit berkurang.
"Dokter, apa yang terjadi?" Deri yang baru saja masuk bertanya dengan heran karena reaksi dokter itu terlihat terkejut.
"Ini sungguh keajaiban. Racun di tubuh tuan Arsya sedikit ternetralkan." kata dokter itu sedikit takjub.
Deri mengernyit. Ia mengalihkan pandangan ke arah botol obat yang sebelumnya telah di berikan.
"Ternyata ini alasan Ferdi berani menyerahkan nyawanya. Sungguh keajaiban Tuhan." batin Deri. Ia juga sedikit takjub.
"Dokter, lalu bagaimana kelanjutannya. Tubuh tuan Arsya demam." tanya Deri.
"Saya akan memberikan obat penurun panas." kata Dokter itu.
Ia mengambil beberapa obat yang dia sediakan di dalam tas kerjanya lalu memberikan obat itu kepada Derri.
"Itu akan membantunya menurunkan demamnya. Jika sekali lagi dia demam lagi. Obat itu bisa terus digunakan." kata dokter.
Deri mengangguk. Setelah itu ada pelayan yang mengantar dokter itu pergi.
"Ternyata Ferdi berani bertaruh karena obat ini. Sungguh tulus." kata pengawal yang lain.
Deri memelototi pengawal itu hingga ia mundur satu langkah dan menundukkan kepalanya.
"Maaf bos." kata pengawal itu. Kemudian ia berlalu pergi dan berjaga di sudut ruangan.
Ketika masalah di dalam negeri telah mereda. Anna mendapatkan kabar yang paling terakhir.
"Apa apaan ini!" Dengus Anna ketika ia melihat berita melalui i-pad miliknya. Kali ini Ari tidak berjaga di sampingnya seperti ulet keket yang selalu menempel padanya. Akhirnya Anna mempunyai me-time.
Dan saat ini ia sedang duduk di dalam ruangan sambil melihat video satu persatu yang berada di dalam topik paling utama.
Ia menangis karena berita itu selalu menyudutkan Arsya.
__ADS_1
"Arsya, meskipun kau kehilangan semuanya tetapi kau masih ada aku. Aku bisa menghidupimu." Lirih Anna seraya bangkit dari duduknya.
Ia diam diam membeli tiket secara online dan esok hari ia kembali pulang.