
"Tuan. Tubuh anda belum pulih betul. Anda harus beristirahat." seorang pengawal datang.
Arsya melirik pengawal itu lalu pergi ke lantai atas. Ia tidak masuk ke dalam kamarnya melainkan ruang kerja.
"Jangan katakan jika aku terkena racun. Katakan pada nyonya jika aku sedang bekerja lembur. Sementara kalian berjaga di luar. Malam ini pasti akan demam lagi." kata Arsya sembari masuk ke dalam ruang kerja.
"Baik tuan."
Pengawal berjaga didepan pintu ruang kerja dua orang.
Kini pengawal kembali bekerja setelah seharian di buat libur.
Anna menikmati sore harinya di dalam kamar. Ia masih ingat betul bagaimana dulu dia memanjat balkon rumah ini dan melewati pagar yang bergerigi tajam ini. Entah apa yang di lakukannya dulu sangatlah konyol.
Anna menggeleng gelengkan kepalanya. Ach bagaimana kabar sepupunya itu. Apakah masih suka berkelana.
Sebentar lagi dia akan menikah ulang. Setidaknya pesta kali ini akan meriah, bukan.
Memikirkan pesta pernikahan itu sendiri Anna menjadi tersenyum sendiri.
Ia kembali memasuki kamarnya. Dulu ini adalah kamar pertama dirinya ketika dia sah menjadi seorang istri.
Dia bisa melihat foto pernikahan yang masih tergantung didinding di atas kepala ranjang. Mengapa dulu Arsya tidak mengizinkannya untuk dipasang. Entahlah.
Tapi sekarang foto pernikahan itu telah dipajang di sana. Anna mengamati lamat lamat foto pernikahan itu.
Dulu wajahnya masih terlihat imut, sangat lucu dan menggemaskan. Pipi cubi dan mata yang berbinar lebar.
Dan sekarang, ia sudah berbeda. Dia sekarang lebih dewasa.
Beralih menuju lemari. Pakaian yang dibelikan oleh Arsya dulu masih tergantung rapi. Betapa pakaian itu ada banyak sekali merek merek terkenal. Dan ia hanya menggunakan beberapa. Masih banyak pakaian yang belum ia coba sama sekali. Dan pakaian itu masih ada label pada bagian belakang.
Disisinya ada beberapa gaun yang bahkan belum pernah ia pakai sama sekali. Selama dia menjadi istrinya ada banyak drama yang sering membuatnya kesal. Selama itu ia hanya tidak ingin pernikahannya terungkap.
Dan justru menimbulkan masalah baru dengan mengundang seorang wanita.
Kenangan itu jelas terukir di dalam pikirannya. Tapi mengingat Linda sekarang, ia merasa kasihan. Dia dideportasi dari negaranya hidup sederhana bersama suaminya dan ujian hidup yang paling tragis adalah tidak bisa memiliki anak selama sisa hidupnya. Sungguh kasihan sekali.
Anna tidak bisa membayangkan andai hal itu menimpa dirinya. Mungkinkah Arsya akan meninggalkannya atau bahkan mencintainya.
Pikirannya menjadi rumit. Ia menutup kembali lemari besar itu. Hanya mengambil pakaian ganti dan masuk ke dalam kamar mandi.
Jam 7.15 menit
Anna keluar dengan aroma mawar di tubuhnya. Sabun yang ia rangkai sendiri dan juga digunakan sendiri.
__ADS_1
Saat memasuki dapur. Ia tertegun kala pengawal yang berada di dapur sedang masak makan malam.
"Selamat malam nyonya?" sapa pengawal yang mengaduk makanan di atas wajan dengan kompor menyala.
"Bukankah dirumah ini begitu banyak pelayan. Kenapa kalian yang harus memasak?" tanya Anna.
"Sudah sejak lama mereka di pecat. Tuan tidak lagi memperkerjakan pelayan lagi."
"Hah, di pecat?"
"Iya Nyonya, satu kesalahan adalah kefatalan. Satu persatu mereka dipecat." jawab pengawal di sebelahnya. Sedangkan pengawal yang berada di depan kompor langsung mematikan kompor.
Pengawal yang sebelumnya menyahut pertanyaan Anna sigap mengambil piring.
Makanan di tata di atas meja. Ada berbagai makanan lezat di sana. Entah pengawal itu belajar dari mana. Mereka benar benar ahli dalam memasak. Rasanya juga tidak jauh dari makanan yang dijual di restoran mahal.
"Nyonya, apakah anda akan makan malam sekarang?" tanya pengawal setelah menyiapkan makan.
"Dimana Arsya? Aku akan menunggunya makan." kata Anna.
Kedua pengawal itu saling pandang.
"Nyonya, tuan muda bilang jika ia akan lembur." kata pengawal itu.
"Lembur? Tidakkah ia tau? kerja dan makan itu saling berdampingan. Boleh kerja lembur. Tapi ini saatnya makan. Jika dia tidak makan. Bagaimana dia bisa bekerja. Aku akan menyusulnya ke ruang kerjanya." kata Anna seraya bangkit dari kursinya.
"Marah? Apa dia berani memarahiku." Ujar Anna datar. Kedua tangannya ia silangkan di depan perut.
Pengawal itu merasakan aura yang kuat. Pengawal itu sedikit bergidik. Tapi bagaimanapun nyonya-nya ini tidak boleh tau jika saat ini Arsya sedang berjuang.
Saat suasana begitu tegang seorang pria datang dengan tergesa. Anna menoleh ke kanan dan mendapati Danni yang berjalan tergesa.
"Danni!" lirih Anna.
Danni yang awalnya terburu buru segera menoleh. Ia melambatkan langkahnya. "Nyonya!" Danni menyapanya dengan sopan.
"Kau sangat tergesa gesa. Apakah ada pekerjaan yang begitu penting?" tanya Anna mendekati Danni yang berdiri tegap menghadapnya.
Danni terlihat gugup tapi ia tetap bersikap tenang. Dia menyembunyikan obat yang berada di tangannya ke belakang. Untung saja dia tidak lupa membawa tas kerjanya saat pupang dari kantor.
"Iya nyonya. Besok ada rapat penting dan harus meminta tanda tangannya sekarang." Kata Danni tersenyum tipis.
Anna mengangguk seraya melihat penampilan Danni dari atas ke bawah.
"Em. Baiklah." Balas Anna mengangguk.
__ADS_1
Danni menunduk hormat dan mengayunkan kakinya menuju lantai dua.
Anna berbalik dan menatap kedua pengawal yang masih tegak berdiri di tempatnya.
"Aku akan makan sendirian saja." Gumamnya yang masih dapat didengar kedua pengawal itu.
Pengawal itu merasa lega. Masih ada dua hari lagi sampai tuan Arsya bisa kembali normal. Dan setelah dua hari itu mereka tidak akan menyembunyikan sesuatu.
Anna menuju kursinya. Mengambil secentong nasi dan beberapa lauk yang tersaji.
Sementara itu, di dalam ruang kerja Danni mendapati tubuh Arsya yang memanas akibat meminum obat penawar.
Ia segera mengambil obat dan meminumkannya. Setelah minum obat pereda panas Arsya bisa sedikit tenang. Perlahan ia memejamkan matanya dan masuk ke dalam mimpi.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Danni pada Deri yang berjaga di sana.
"Dua hari ini racun di tubuhnya semakin ternetralisir. Hanya saja dokter menemukan penyakit lain di dalam tubuhnya. Itu karena terlalu lama tuan menahan rasa sakitnya selama belum menemukan obatnya. Sekarang tinggal menunggu dua obat lagi penggunaan terakhir. Baru dokter bisa menangani penyakit ini." kata Deri menjelaskan.
Danni mengangguk.
"Kita tunggu saja sampai racun itu menghilang sepenuhnya. Baru mencari solusi yang tepat untuk penyakitnya itu."
"Baik bos."
"Oh, ya. Tadi aku bertemu nyonya di bawah. Aku takut nyonya akan mengetahui soal ini."
"Lalu kita harus bagaimana bos?" tanya Deri.
"Setelah dua hari ini. Kita tunggu rencana tuan muda saja."
"Hum, baiklah." Danni pun keluar.
Saat langkahnya sampai di lantai bawah. Danni melihat Anna yang duduk di sofa di ruangan tengah menonton tivi.
"Danni." lirih Anna seraya kepala yang menoleh. Di tangannya ada camilan ciki ciki di tangan kanannya sedang memasukkan makanan jajanan tak bergizi itu ke mulutnya.
"Ya nyonya!" Sahut Danni seraya berjalan ke arah sofa.
"Sudah selesai?" tanya Anna.
Dari sejak kedatangan Danni tadi, ia sudah mengira akan menghabiskan waktu satu jam. Dan ini sudah pukul setengah sembilan. Jika Danni keluar dari ruang kerjanya kemungkinan Arsya juga sudah selesai bekerja.
"Emph. Sudah nyonya." balas Danni mengangguk. Tapi dari pertanyaan itu membuat dia curiga.
"Baguslah." Anna tersenyum sempringah. Ada banyak yang ingin ia katakan jadi ia ingin bertemu dengan Arsya secepatnya.
__ADS_1
Danni segera berpamitan pulang. Namun sebelum pergi, ia berpesan kepada pengawal lain. Kemungkinan nyonya-nya itu akan menyusul ke ruang kerja.
Masih ada setengah jam lagi tubuh Arsya akan kembali normal.