
Arsya duduk di dalam mobil sambil menyalakan rokok. Jendela kaca terbuka sedikit. Asap menyembul keluar diterpa angin.
Terlihat para anak buah Anita memapahnya keluar dari bar. Dan membawanya ke dalam mobil dan mobil itu bergegas pergi dengan beberapa mobil lainnya.
"Presdir, apakah masih ingin mengikuti mobil nyonya Anita?" Tanya Danni.
Arsya mengedipkan matanya. Jam sudah menunjukkan setengah tiga. Saat ini nama Rendi berada di papan layar ponsel. Ponsel berkedip beberapa kali.
"Katakan!" Arsya tak ingin berbasa basi jadi langsung pada intinya.
Rendi di sebrang masih melakukan pengintaian.
"Bos, malam ini para anak buah nyonya Anita banyak minum dan sedang terkapar. Aku sudah membuatnya mereka tak sadarkan diri."
"Bagus. Pagi ini Anita akan datang ke sana. Dan saat itu polisi akan menyergap."
"Baik."
Telepon ditutup.
"Kita pergi ke Villa." Arsya sudah sangat lelah. Jadi pergi ke Villa. Sampai di Villa ia pergi mandi dan mengganti pakaian.
Reimond sudah menunggu di luar. Tepat saat itu Arsya kembali turun dan masuk ke dalam mobil. Kali ini mobil yang digunakan adalah mobil yang tidak terlalu mencolok. Sebagian mobilnya telah dikenali oleh Anita. Jadi ia mengganti mobilnya.
Sampai dirumah tua, ia menunggu di dalam mobil. Keningnya berkerut dalam. Dia menyalakan batang rokok dan menyembulkan asap melalui celah jendela kaca yang ia buka sedikit.
Danni di luar menunggu dengan cemas, lalu melaporkan segala kejadian.
Ada sekitar 10 orang anak buah Anita yang tertangkap. Arsya duduk di dalam mobil sambil melihat situasi. Saat ini Rendi bergegas menghampirinya dan memapah Anna.
Arsya yang melihat Anna tak sadarkan diri langsung keluar. "Anna." Arsya memeluknya lalu menggendongnya ke dalam mobil. Sudah sepuluh hari Anna berada di dalam penyekapan itu. Dia hampir tidak memiliki tenaga dan lemas hampir mati.
Melihat keadaan Anna yang seperti ini, hati Arsya merasa sakit. Dia merasa sangat bersalah waktu itu tidak mengantarnya masuk ke dalam rumah dengan aman. Dia malah mengantarnya ke depan pintu.
"Tuan, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" Tanya Rendi di luar kaca jendela mobil. Para pengawal yang ditugaskan untuk berjaga kembali ke tempat semula untuk pengepungan.
"Kembali ke tempat semula. Aku akan pergi ke rumah sakit."
"Baik."
Rendi bergegas menjauh. Sementara Arsya meninggalkan rumah tua itu dan pergi mengantarkan Anna ke rumah sakit. Di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Anna merintih kesakitan sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
"Ah..."
Arsya menundukkan pandangannya. "Anna." dia memegangi tubuh Anna. Melihat rasa sakit yang di rasakan Anna membuat Arsya tak bisa menahan diri.
"Cepat! Cepat!" Arsya memerintahkan Reimond untuk melajukan mobil lebih cepat lagi.
Darah segar keluar melalui ujung pangkal paha Anna. Anna semakin merintih kesakitan.
Tak berapa lama mobil telah sampai di parkiran rumah sakit. Arsya tak mempunyai waktu, segera menggendongnya masuk ke dalam rumah sakit dan segera berteriak pada dokter.
"Dokter! Dokter!"
Salah satu perawat yang mendengar teriakannya langsung keluar sambil mendorong kursi roda. Hanya saja Arsya menendang kursi roda itu hingga suster itu terhuyung.
Dokter yang bertugas dibagian IGD keluar. Saat melihat kedatangan Arsya yang tergesa langsung membuka pintu dengan lebar.
"Letakkan disana. Kami akan memeriksanya." Ungkap Dokter Arga.
Arya meletakkan Anna di atas brankar. Lalu menarik kerah dokter itu sambil mengancam. "Cepat lakukan pemeriksaan dan selamatkan nyawa anakku." titah Arsya.
Kemudian melepasnya dengan kasar dan keluar IGD.
Wajah dokter itu ketakutan dan tegang. Ia meneguk salivanya dengan susah payah. Pintu IGD pun di tutup. Para dokter segera bekerja sama untuk menangani pasien secara menyeluruh.
Setelah melakukan pemeriksaan dokter mengatakan jika dalam jangka panjang Anna telah meminum bubuk penggugur kehamilan. Arsya tercengang.
Kemungkinan bayi yang dikandung sudah tidak dapat di selamatkan. Kehamilan Anna akan mengalami keguguran. Jadi harus melakukan operasi untuk mengeluarkan janinnya untuk menyelamatkan sang ibu.
Arsya menghela nafas panjang. Seakan dia telah di tampar dengan kenyataan hidup yang sangat pahit. Bayi ini adalah pemersatu antara dirinya dan Anna. Sekarang harus dikeluarkan. Dia seolah tidak memiliki harapan lagi. Dia melihat keadaan Anna yang kritis melalui jendela kaca.
Seorang perawat memberikan sebuah dokumen yang harus ia tanda tangani. Bagaimanapun, nyawa Anna yang lebih penting dia mengambil pulpen dan dokumen itu lalu menandatanganinya di atas namanya dengan berat hati.
Operasi pun di lakukan selama berjam berjam Arsya menunggu di kursi tunggu dengan hati yang sangat perih. Dia telah kehilangan bayinya karena sebuah tekanan dan sebuah obat penggugur kandungan. Tanpa sadar matanya memerah dan mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya.
Hingga jam lima subuh, operasi baru selesai di lakukan. Saat ini Anna masih dalam keadaan kritis. Jadi tubuh Anna masih berada di bawah pengawasan dokter. Anna saat ini berada di ruangan ICU. Arsya melihat tubuh Anna yang terbujur di atar ranjang. Tanpa sadar meneteskan air mata.
Sesaat kemudian Rendi memberitaukan situasi di rumah tua itu. Arsya mengusap tetesan air di bawah matanya. Dia memberikan perintah kepada lima pengawal dan satu perawat untuk menjaganya. Sementara itu. Ia akan bergegas menuju rumah tua di pesisir utara juga menyerahkan segala bukti kejahatan Anita kepada pihak yang berwajib.
…
Anita baru saja terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih terasa nyeri. Dia baru saja menjabat sebagai salah satu pemegang saham. Meski tidak besar tapi ini sangat berarti. Dia akan memiliki cara untuk memggeser posisi Arsya.
__ADS_1
Ia segera pergi mandi dan berganti pakaian. Saat itu, Arin tergesa masuk ke dalam kamarnya.
"Tidak sopan!" Kesal Anita.
Arin menundukkan kepalanya. "Maaf nyonya. Tapi ini masalah di tempat penyekapan itu."
Anita telah selesai, ia segera menoleh dan berjalan ke sofa single. "Kenapa?"
"Sejak tadi aku menelepon, tetapi tidak ada yang menjawab. Aku khawatir ada sesuatu terjadi di sana." kata Arin.
"Kalau begitu. Kau selidiki hal ini."
"Baik."
Arin pun pergi dari rumah. Anita sambil menikmati paginya yang cerah sambil minum kopi. Dia tersenyum sambil melihat cahaya terang di sebelah timur.
Saat tiba di rumah tua, Arin tidak menemukan siapa siapa lagi. Tak ada satu pengawal pun yang berjaga di sana. Ia bergegas berlari ke lantai dua dan memeriksa istri Arsya. Dan saat membuka pintu. Ia tercengang, ada dua pengawal yang diikat tangannya dan mulutnya di sumpal.
"Kalian. Kenapa kalian malah yang terikat. Siapa yang melakukannya."
Dua pengawal itu tidak bisa berbicara. "Ugh...Ugh...."
Anita pun melaju hendak membuka penyumpal mulut itu. Tapi terdengar suara gemerisik dari luar.
"Angkat tangan!" dua orang polisi menodongkan pistol ke arahnya. Arin terpaku sejenak dan dengan panik mengulurkan tangannya ke atas. Seorang polisi maju dan menangkapnya. Dia tidak bisa melarikan diri lagi karena di dalam kamar itu buntu. Kedua tangannya diborgol di belakang tubuhnya.
Kini penangkapan itu telah selesai. Para polisi membawa ke sepuluh orang itu dan di tambah Arin melakukam pemeriksaan dikantor polisi. Arsya pun pergi mengikuti ke kantor polisi dan memberi kesaksian sementara menunggu Anna hingga sadar.
Di satu sisi.
Anita masih berleha leha duduk dengan santai. Seorang pengawal mengetuk pintu dan melaporkan.
"Nyonya, di rumah tua itu telah terjadi penangkapan. Termasuk Arin yang pagi ini datang kesana."
"Sial!" Anita langsung melempar gelasnya ke lantai hingga pecah.
Pengawal wanita itu menundukkan kepalanya dalam dalam dan tidak berani.
"Arsya! Kau menjebakku dengan semalam kau mengajakku berpesta." Anita mengepalkan tangannya dengan erat. Sesaat kemudian ia tersenyum, ia hanya mengorbankan sepuluh pengawalnya dan satu asistennya yang dipercaya. "Tapi tak apa. Hanya bisa mengorbankan Arin saja."
Saat ini ada dering telepon masuk. Anita segera mengangkatnya. Terdengar dari sebrang seorang polisi menelepon.
__ADS_1
"Baik pak polisi. Saya akan datang untuk memberi kesaksian." jawab Anita lugas.
Anita tersenyum. Lalu menenggak kopi yang tersisa. Bagaimanapun, ia tidak tertangkap. Jadi hanya bisa membiarkan Arin yang menanggung ini semua.