Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Bab Enam Puluh Dua


__ADS_3

Sesampainya di rumah, hari sudah gelap. Ia melihat kembali isi foto itu. Foto itu menunjukkan Arsya sedang duduk menunduk melihat sebuah dokumen sementara Linda duduk di sampingnya dengan tangan merangkul lengan Arsya dengan mesra.


Sangat terlihat jelas jika foto itu sengaja di ambil Linda dalam keadaan tak di sadari oleh Arsya. Ia hanya ingin memanasi Anna dengan mengirimkan kemesraan mereka berdua. Dia juga mengatakan bahwa ia sebentar lagi akan segera menikah. Apalagi banyak kliennya itu sudah mengetahui pertunangannya meskipun berita itu yang di buat oleh Linda sendiri. Tetapi mereka banyak yang percaya akan beredarnya berita itu.


Bahkan Arsya juga tak menampik berita yang sedang beredar di masyarakat. Dan netizen juga sangat percaya akan hubungan mereka. Di tambah lagi mereka selalu jalan berdua. Yang tau tentang hubungan pernikahan Arsya dengan Anna hanyalah orang dalam saja.


Anna mendesah pelan dan melempar ponselnya ke ranjang di sebelahnya. Ia berjalan keluar menuju teras balkon. Dia duduk bersandar di pagar besi. Wajahnya mendongak ke atas melihat langit gelap di sana.


*


*


Di keesokan paginya. Anna sudah melupakan rasa gelisahnya. Ia menjalani kehidupan sehari harinya seperti biasa. Hari ujian pun sudah menanti di depan mata. Selama seminggu berturut turut Anna akan menjalani hari yang mendebarkan. Yaitu penilaian terakhir masa sekolah jenjang atas.


"Na. Bagaimana persiapan kamu?" Tanya Leya saat berada di koridor.


Anna tersenyum manis. Dia merasa lebih baik dari sebelumnya. "Aku merasa lebih baik." sahut Anna.


"Bagus. Aku juga merasakan hal yang sama meski belum seratus persen." Leya ikut tersenyum dengan kepercayaannya sendiri.


Bel pertanda sudah waktunya masuk kelas. Semua siswa berduyun duyun masuk ke dalam kelas. Anna dan Leya duduk berdampingan. Para guru pun masuk membawa lembar soal dan kertas jawaban kosong lalu membaginya.


Anna tersenyum ketika membaca sederet pertanyaan secara sekilas. Untung saja ia mempelajari banyak buku sejak Arsya memberinya les privat. Ia sudah banyak kemajuan.


Tanpa terasa hari hari berlalu begitu cepat. Pada akhirnya hari ini adalah hari terakhir mengerjakan soal ujian.


Ia bahkan lupa akan sosok Arsya. Karena ia sendiri juga sibuk dengan kerjaannya. Sementara Anna sendiri juga sibuk dengan ujiannya.


"Gak terasa hari berlalu begitu cepat. Ini hari terakhir kita ujian." Celetuk Leya.


"Em." Anna mengangguk membenarkan.


"Kita harus lebih semangat." Ujar Leya lagi.


"Semangat." Anna mengepalkan tangannya ke atas tanda semangat begitu juga Leya melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Tak berapa lama bel berbunyi nyaring. Anna mengernyitkan keningnya karena ada yang berbeda dengan bel yang berbunyi. Atau mungkin hanya perasaannya saja.


Di dalam kelas. Anna dan Leya sama sama mengerjakan soal ujian seperti biasa. Leya merasa deg degan kali ini. Sementara Anna masih terlihat tenang. Tapi tetap saja perasaannya ada yang mengganjal.


Waktu menunjukkan pukul dua belas siang hari. Akhirnya waktu ujian telah berakhir.


"Semua siswa letakkan alat tulis kalian." Guru yang mengawasi segera memperingatkan untuk tidak mengerjakan soal lagi.


Tak berapa lama bel berdering mengisi seluruh sekolah tandanya waktu ujian telah berakhir. Sebagian siswa secara antusias berkumpul di halaman. Tidak mengira mereka mampu melewatkan ujian ini tanpa hambatan.


"Akhirnya selesai juga." Leya mendesah pelan seraya bernafas dengan lega. Seolah beban dipundaknya telah ia lepaskan. Benar benar sangat lega.


"Benar." sahut Anna.


"Ayo kita keluar." Ajak Leya.


Mereka berdua segera ke halaman sekolah. Seolah itu adalah hari terakhir mereka berada di sekolah ini. Banyak di antara siswa siswi yang memandang sekolah ini tanpa batas. Juga mengingat para guru guru yang telah banyak mengajarkannya pelajaran hingga mereka bisa mengetahui banyak hal.


Mereka seharusnya berterima kasih atas jasa mereka lalu mengingatnya di dalam hati mereka sendiri. Setelah puas mereka satu persatu pergi dari sana.


"Leya. Anna." Lirih Daren. Ia ikut duduk di samping Leya.


"Daren." Leya membelalakkan mata lalu menoleh ke samping. Sepertinya hanya mereka karena pengawal tak terlihat sama sekali.


"Kamu kenapa?" Tanya Anna melakukan hal yang sama menoleh ke sana kemari.


"Kenapa sepi?" Tanya Leya linglung.


Anna terbahak kemudian menepuk pundak Leya. "Aku memerintahkan pengawal ke samping." Anna menunjuk ke arah taman di sebelah kantin.


"Oh." Leya mengangguk.


Kali ini pandangannya ia alihkan ke arah Daren. "Maaf. Aku hanya ingin mengatakan perpisahan. Aku akan pergi keluar negeri." Ujar Daren.


Leya dan Anna melotot karena Daren tak pernah bercerita sebelumnya.

__ADS_1


"Kenapa? Apakah kau tidak terbiasa disini?" tanya Leya.


Daren menggelengkan kepala lalu menatap Anna sekilas dan kembali menatap Leya. "Bukan, aku hanya ingin kuliah ke new york atas pilihanku sendiri. Mungkin kita akan berpisah lagi Leya." Ujar Daren.


Leya menangis karena sedari kecil ia selalu bersama Daren. Tak menyangka lelaki itu akan kembali meninggalkannya. Daren memgusap pipi Leya yang basah.


"Jika liburan nanti aku akan berkunjung. Jangan sedih." Daren menenangkan Leya yang bersedih.


"Bagaimana aku tak sedih. Jika kau pergi siapa yang mentraktirku." Ujar Leya tersedu.


Pletak


Anna menyentil dahi Leya, karena bocah itu bukan bersedih ditinggal Daren karena selalu bersama. Tak di sangka malah memikirkan traktiran makan gratisan.


"Aduh!" pekik Leya mengusap dahinya yang terasa sakit.


"Kau keterlaluan Leya. Kau kan berpenghasilan sendiri. Masih sempat memikirkan hal yang gratisan." Ujar Anna memarahi.


"Eh...meski berpenghasilan juga, aku harus nabung buat masa depan. Lagian penghasilanku juga tak banyak. Kan lumayan jika ada yang traktir. Uangku kan bisa bertambah banyak." Sahut Leya dengan polosnya.


Tangan Anna terangkat kembali ingin menyentil dahi Leya tetapi Daren segera menyelanya.


"Eh, kalian malah bertengkar sendiri." sela Daren yang terdiam sedari tadi.


Pengawal melihat ke sekitar saat menoleh kepalanya sangat awas dan segera mendekat. Daren yang melihat pergerakan segera berbicara.


"Pengawalmu segera kesini. Aku pergi dulu. Leya. Anna. Bye." Daren segera pergi dari sana melompat ke koridor dan masuk ke dalam lift.


Anna dan Leya sama sama menoleh ke arah pengawal yang berlari ke arahnya.


"Nona Anna. Sudah waktunya pulang." Ujar pengawal mengingatkan. Lagi pula semua siswa juga sudah mulai sepi.


"Ah benar. Ternyata sudah jam empat. Ayo pulang." Ujar Leya kemudian beranjak dari atas rumputan dan segera berdiri. Begitu juga Anna melakukan hal yang sama. Mereka berdua segera pergi dari sana dan berpisah.


Leya menggunakan motor matiknya keluar dari sekolah. Anna juga pergi melalui gerbang sekolah dan masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Perlahan mobil pergi menjauh. Namun di bawah pohon besar di sebrang jalan seseorang tengah mengintai. Karena ia paham betul mobil keluarga Arsya akan mengenakan pertanda di mobil mereka. Tentu saja mereka mengingat simbol itu dengan jelas.


__ADS_2