Dijodohkan Dengan Anak SMA

Dijodohkan Dengan Anak SMA
Part 59


__ADS_3

Dalam setengah jam mobil Liumousin telah sampai di depan rumah Villa kediaman Wiryo. Anna melepaskan seat bealt dan hendak keluar, tetapi lengan kanannya ditahan oleh Arsya. Sementara sang sopir dan Danni sudah keluar lebih dulu setelah Arsya memberikan sebuah isyarat melalui tatapan matanya.


Anna memandang tangan kekar Arsya yang menahannya kemudian menaikkan kelopak matanya menatapnya dengan kejam.


"Lepaskan!" Anna meronta ingin dilepaskan. Tetapi pegangan Arsya sangat kuat.


"Coba katakan! Apa salahku?" Tanya Arsya dengan wajah serius.


"Salahmu adalah...." memikirkan tentang alasan apa yang harus dia beritaukan kepada Arsya, dia menjadi bingung. Jadi dia terdiam beberapa saat untuk menentukan jawaban yang tepat.


Arsya masih memandangnya dengan menyipitkan mata dengan serius. Melihat tatapan tajam milik Arsya mau tak mau dia berbohong demi keamanan dirinya. "Karena aku tidak mood lagi. Puas!" Ujarnya seraya menaikkan nada suaranya.


Kemudian menarik lengannya saat Arsya sedikit melonggarkan cengkraman pada tangannya. Anna segera keluar dari dalam mobil.


Pintu terdengar berdenting dengan keras, saat sadar Anna telah menghilang dari pandangan.


"Apa dia lagi pms." Arsya menghela nafas dan bertanya pada udara kosong sambil menatap pintu yang tertutup. Tak berapa lama ia pun menuruni mobil.


Di luar, Danni datang mendekat ketika bosnya telah keluar dari dalam mobil. Itu artinya mereka sudah menyelesaikan masalahnya jadi ia akan segera melaporkan sesuatu tentang kerjaan.


"Presdir."


Arsya sedikit melirik ke arah kedatangan Danni ketika langkahnya akan menaiki tangga. "Wanita saat pms itu seharusnya di berikan hadiah apa?" Tanya Arsya kepada Dani.


"Ugh." Danni tercengang. Apalagi dia juga tidak tau harus menjawab bagaimana.


"Ach sudahlah. Kau tidak memiliki pasangan tentu saja kau tidak tau." Ungkapnya lalu melanjutkan langkahnya memasuki villa.


Danni menggaruk pelipisnya sambil menatap punggung Arsya memasuki Villa.


"Apa yang terjadi pada mereka berdua?" Tanya Danni sambil menatap punggung Arsya yang menapaki tangga menuju pintu utama.



Di ruangan tengah nampak Wiryo dan Dewi sedang menikmati acara televisi. Saat mendengar derap langkah kaki yang berlari dengan tergesa Wiryo dan Dewi sama sama menoleh ke arah sumber suara. Lalu melihat siluet Anna yang tengah berlari.


Dewi segera menegurnya. "Anna!" Lirihnya. Tetapi Anna tak menggubris. Saat ini wajahnya memerah bagai tomat rebus. Sekali saja jika Dewi melihatnya pasti akan mencecarnya dengan seribu pertanyaan. Jadi lebih baik menghindar saja.


Tepat setelah bayangan Anna menghilang dengan menaiki tangga, tak berapa lama siluet Arsya datang mengejarnya. Dewi pun merasa heran dengan tingkah mereka dan ingin bertanya perihal mereka. Tetapi tangannya ditarik oleh suaminya sehingga pandangannya teralihkan kepada suami yang tengah duduk di sebelahnya.


"Mereka pasangan muda. Jangan ikut campur urusan mereka." Ujar Wiryo menasehati.


"Tapi pah, mereka sepertinya sedang bertengkar."


"Ya, aku tau. Biarkan saja mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Mereka sudah sama sama dewasa dalam menangani masalah."


Dewi hanya bisa menghela nafas. Mungkin benar dengan perkataan suaminya, dewi pun tidak lagi berbicara hanya memandang ke atas di mana kamar Anna berada.


"Sudahlah." Wiryo menariknya dan mengeratkan pelukannya pada bahu istrinya. Dewi pun menyerah dan mengikuti nasehat Wiryo dan lanjut menonton televisi.


Sementara Anna sesampainya didalam kamar langsung masuk ke dalam kamar mandi. Menyetabilkan wajahnya yang memerah. Ia membuka air pada kran dan membasuh wajahnya.


Di luar, Arsya melihat Anna memasuki kamar mandi dan terdengar suara gemericik air. Arsya bingung harus bersikap bagaimana saat menghadapi wanita yang sedang pms.


Ia menghela, lalu teringat pada ponselnya. Ia mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku celana dan mengetikkan sesuatu. Tak berapa lama muncul halaman web dengan judul mood wanita yang sedang pms.


Dengan semangat ia membuka laman itu. Terlihat di dalam laman itu menjelaskan,

__ADS_1


Saat wanita sedang mengalami Menstrual Syndrome (PMS) akan memengaruhi kondisi tubuh, tapi juga psikologis para perempuan. Mudah tersinggung, lelah, dan mudah sedih merupakan sejumlah gejala yang datang terlebih dahulu menjelang menstruasi.


Mood yang tak stabil saat PMS membuat para perempuan mudah sekali marah. Mereka dengan mudah memarahi siapa saja bila itu dirasa mengesalkan.


Tapi ada beberapa makanan yang cukup ampuh untuk meredakan mood wanita yang sedang pms.


Arsya terus menggeser laman itu ke bawah. Saat sedang konsentrasi membaca beberapa anjuran dalam menghadapi wanita yang sedang pms, pintu kamar mandi terbuka. Wajah Anna nampak lebih segar dan bercahaya.


Arsya memandang Anna yang baru saja keluar kamar mandi. Ia buru buru menyimpam ponselnya lalu tersenyum ke arah Anna. Tetapi Anna malah bersikap biasa kemudian berlalu menuju walk in closet.


Arsya menghela nafas lalu melunturkan senyumannya sedang putus asa. Ia pun kembali mengeluarkan ponselnya dan membaca laman selanjutnya. Kemudian tersenyum cerah dan mengangguk pelan.


Dia kembali menyimpan ponsel lalu melirik pintu walk in closet masih tertutup. Ia pun segera pergi menuju dapur.


Di dapur terlihat bik Sumi baru saja akan menyiapkan makan malam.


"Tuan muda." Bik Sumi kaget saat mendapati Arsya memasuki dapur.


Arsya tersenyum sambil menggerakkan jari telunjuknya ke depan bibirnya. "Sssttt!"


Bik Sumi pun diam sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Memperhatikan ruangan itu memang sepi. Lalu bertanya dengan suara kecil. "Apa yang tuan muda lakukan di dapur?" Tanya Bik Sumi dengan kening berkerut dalam.


Arsya dengan santai pun menjawab. "Memasak makanan. Bibi. Bisakah anda membantu saya. Saya ingin menyiapkan beberapa makanan."


Bik Sumi melongo ketika Arsya malah berbicara dengan datar. "Memasak makanan?" Bik Sumi mengulangi pertanyaan.


"Ya." Sahut Arsya.


Arsya memperhatikan dapur yang luas itu dengan seksama. Mencari celemek yang tergantung di sudut ruangan. Lalu berjalan kesana mengambilnya dan mengenakannya.


"Bibi siapkan buah buahan saja." Titah Arsya.


Bik Sumi pun melakukan perintah sesuai Arsya menyiapkan buah buahan ke atas keranjang. Sementara Arsya berkutat pada bahan masakan di depan kompor. Selama berada di Amsterdam tempo lalu membuatnya bisa memasak beberapa makanan.


Setengah jam pun berlalu. Seluruh hidangan sudah siap di atas meja. Bertepatan Anna keluar dari kamar lalu turun ke lantai bawah. Dari tangga yang paling bawah tercium aroma masakan yang menusuk hidungnya.


Membuat Anna merasa sangat lapar. Dia memandang ke arah ruang makan tanpa sadar mengikuti aroma masakan yang sangat harum juga menggugah selera. Di dalam ruang makan sudah tertata hidangan mewah.


Anna berdiri sambil melihat satu persatu makanan yang terhidang di atas meja.


"Anna, ayo makan!" Anna terperanjak ketika mendengar suara dari belakangnya.


Arsya tersenyum sambil meletakkan satu hidangan di tangannya ke atas meja. Anna mengerutkan kening sambil melihat celemek yang masih membalut ditubuh pria itu.


"Ini semua kamu yang masak?" Tanya Anna.


Arsya mengangguk. "Ya." bersamaan melepas celemek ditubuhnya dan menyampirkannya pada sandaran kursi. Lalu ia menarik salah satu kursi.


"Mari nuonya, silahkan duduk." Ujar Arsya dengan sapaan hormat.


Anna pun segera duduk di sana. Sementara Arsya menarik kursi di sampingnya dan duduk.


Dia melayani Anna dengan baik. Dengan mengambilkan nasi dan juga lauk pauk yang ia sukai.


"Kamu mau lauk yang mana?" Tanya Arsya masih menyangga piring ditangan kirinya sementara tangan kanannya memegang sendok bersiap mengambil lauk.


"Daging rendang kayaknya enak." Anna menunjuk pada piring yang berisi daging rendang.

__ADS_1


Arsya pun mengambilkannya dan meletakkannya daging rendang ke atas piring. Lalu memberikannya ke hadapan Anna.


"Kamu tidak makan?" Tanya Anna ketika pria itu malah diam sambil memandangnya.


"Melihat kamu membuat perutku kenyang." Ujarnya tanpa sadar dan itu membuat mata Anna malah melotot.


Arsya tersenyum miring lalu meluruskan pandangannya mengambil piring yang ia isi dengan nasi dan juga mengambil lauk daging rendang.


"Ayo makan. Matamu hampir menggelinding jika menatapku seperti itu." Ucap Arsya yang mengambil sendok dan garpu di tangannya.


"Apa!" Anna malah semakin kesal karena Arsya selalu menggodanya.


"Buka mulutmu...Aaaaaa!" Arsya memberikan sesuap nasi dan juga daging rendang ke depan bibirnya.


Anna memutar matanya dan terus menatap wajah Arsya. Arsya menaik turunkan alisnya agar segera membuka mulutnya. Akhirnya Anna pun membuka mulutnya. Satu suap berhasil meluncur ke dalam mulut Anna. Anna pun mengunyah makanan di dalak mulutnya. Tanpa sadar matanya berbinar.


"Ini enak sekali." Ujarnya memberi komentar.


"Terima kasih pujiannya." Jawab Arsya tersenyum bahagia.


Anna dan Arsya menikmati makanan dihadapan mereka dalam kedamaian. Seusai makan. Anna merasa dirinya harus mencuci piring sebagai imbalan. Jadi ia lekas membawa piring kotor itu ke dalam bak cucian. Tetapi bik Sumi melarangnya.


"Udah Non, biar bibi saja yang membereskan." Ucap Bik Sumi.


"Gak pa apa bik. Arsya yang memasak saja dibiarkan kenapa giliran aku mencuci tidak diperbolehkan." Ujar Anna.


Bik Sumi terperanjat, lalu menoleh ke arah tuan muda Arsya yang tengah meminum air.


"Tapi...."


"Sudah bik. Biarkan saja. Itung itung dia belajar mandiri karena harus melayani setiap rumah tangga. Lagian kita juga akan menikah ulang. Nanti setelah kembali ke villa biar dia bisa melakukan pekerjaan ini." Ucap Arsya.


Bahu bik Sumi pun luruh. "Baiklah."


Anna pun tersenyum. Lalu mengambil piring piring itu untuk ia bawa ke dalam bak cucian lalu mencucinya. Selama hidup sendiri di Amsterdam membuat dirinya bisa hidup mandiri. Pekerjaan ini termasuk pekerjaan mudah baginya.



Jam sepuluh malam. Anna sudah kembali ke kamar atas. Dia melihat Arsya bertelpon di teras balkon.


"Pesankan tiket ke Amsterdam besok."


"(…)


"Ya."


Setelah itu telepon ditutup. Ia melirik ke dalam kamar yang ternyata Anna sudah kembali. Ia menyimpan teleponnya ke dalam saku celana. Lalu masuk ke dalam.


"Sudah tidak marah lagi kan?" Tanya Arsya sembari menyusul duduk di sofa panjang.


Anna melirik sekilas kehadiran Arsya di sampingnya. Lalu menggeleng atas pertanyaan Arsya.


"Memangnya aku marah karena apa?" Tanya Anna balik.


"Baguslah." sejenak mereka berdua terdiam. Anna memilih fokus pada layar ponselnya.


"Besok kita berangkat ke Amsterdam."

__ADS_1


"Engh...."


__ADS_2